
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Setelah kedua pihak merevisi beberapa poin dan sempat terjadi saling tawar-menawar, akhirnya disepakatilah tuntutan dari kedua belah pihak.
Dalam Perjanjian Muara Jerit, Putri Ani Saraswani bertindak sebagai Penuntut Pertama yang poin-poin tuntutannya sebagai berikut:
Pertama, gulingkan Prabu Galang Digdaya tanpa membunuhnya dan tidak membunuh permaisuri dan pangeran.
Kedua, culik Mahapatih Olo Kadita.
Ketiga, menyerahkan tahta Kerajaan Pasir Langit kepada Putri Ani Saraswani.
Keempat, berikan keamanan bagi calon ratu sampai menjadi Ratu Kerajaan Pasir Langit.
Kelima, Prabu Dira Pratakarsa Diwana menikahi Putri Ani Saraswani saat menjadi ratu tanpa kehadiran istri yang lain.
Itulah lima tuntutan Puri Ani kepada Prabu Dira.
Adapun Prabu Dira sebagai pihak pelaksana tuntutan Penuntut Pertama, juga mengajukan tuntutan yang harus dilaksanakan oleh Ani Saraswani setelah menjadi Ratu Kerajaan Pasir Langit. Beberapa tuntutan Prabu Dira sebagai berikut:
Pertama, Prabu Dira diperlakukan sebagai raja dan suami dari Ratu Ani Saraswani.
Kedua, Kerajaan Sanggana Kecil diizinkan membangun angkatan lautnya di perairan Kerajaan Pasir Langit.
Ketiga, Kerajaan Pasir Langit wajib membangun benteng laut.
Keempat, Kerajaan Pasir Langit membayar upeti tahunan kepada Kerajaan Sanggana Kecil dengan jumlah yang disepakati kedua kerajaan.
Kelima, Ratu Ani Saraswani harus mengubah hukum yang tidak adil bagi rakyat Kerajaan Pasir Langit.
Perjanjian dibuat dua rangkap sehingga kedua pihak masing-masing memegang surat perjanjian itu. Pada kedua surat ditandatangani oleh Prabu Dira dan Putri Ani. Prabu Dira memberi cap jejak kaki kucing dari ilmu Tapak Kucing. Sementara Putri Ani menulis namanya dengan tinta.
Setelah penandatanganan Perjanjian Muara Jerit tersebut, mereka lalu makan daging burung panggang. Namun, suasananya kurang asik bagi Putri Ani. Keberadaan Permaisuri Yuo Kai membuatnya jadi pendiam dan sangat kikuk.
Akhirnya Putri Ani memutuskan untuk segera pergi.
“Aku harus kembali ke Istana. Aku khawatir kepergianku dari Wisma Keputrian membuat Ayahanda Prabu menggeledah wismaku,” ujar Putri Ani.
“Baiklah,” ucap Joko Tenang yang bisa membaca ketidaknyamanan Putri Ani. “Yang pertama aku lakukan adalah menculik Mahapatih dan akan aku tawan di sini. Setelah itu, barulah aku akan menggulingkan Prabu Galang Digdaya.”
__ADS_1
“Baik,” ucap Putri Ani. Dia lalu menjura hormat, “Aku pamit diri, Gusti Prabu, Gusti Permaisuri.”
“Jangan sampai surat perjanjian itu jatuh ke tangan orang lain,” pesan Joko Tenang.
Maka pergilah Putri Ani dan Rincing Kila dari tempat itu.
“Sepertinya dia tidak nyaman dengan keberadaanku. Seharusnya Kakang Prabu mengajak Ratu Tirana bukan aku,” kata Permaisuri Yuo Kai setelah Putri Ani pergi.
“Hahaha!” tawa pendek Joko Tenang mendengar perkataan istri pertamanya itu. “Riskaya, temani Permaisuri Negeri Jang untuk mempersiapkan kedatangannya besok. Jika terjadi penundaan, kabari aku di sini!”
“Baik, Gusti Prabu,” jawab Riskaya.
“Ayo, jangan membuang waktu!” kata Permaisuri Yuo Kai. Lalu ucapnya kepada sang suami, “Aku pergi, Kakang Prabu.”
Joko Tenang lalu menghampiri istri tercintanya dan memberi kecupan di bibirnya, membuat Riskaya tidak tahan, tidak tahan lama-lama menunggu disahkan menjadi selir. Apa hendak dikata, semua keputusan ada di tangan Prabu Dira.
Permaisuri Yuo Kai melesat meninggalkan suaminya dengan senyuman yang manis. Riskaya segera mengikuti lesatan tubuh Permaisuri Yuo Kai.
Kedua wanita itu seperti dua burung yang melesat terbang dari satu pijakan ke pijakan lainnya di antara pepohonan hutan.
Setelah cukup jauh kedua wanita cantik itu melesat, akhirnya mereka berhenti di satu titik, tepatnya di bawah sebuah pohon raksasa yang masih di dalam lingkungan hutan, tapi hutannya sudah tidak seliar di Muara Jerit.
“Bangkitlah!” perintah Permaisuri Yuo Kai. “Laporkan apa yang kalian dapat!”
“Anak Halus memimpin lima puluh Pasukan Hantu Sanggana untuk menghalangi lima ribu Pasukan Kaki Gunung bergabung ke wilayah timur, Gusti. Permaisuri Tangan Peri dan Pasukan Ular Gunung sudah memasuki sungai wilayah Pasir Langit,” lapor salah satu telik sandi.
“Pengiriman kayu sudah melewati Kadipaten Ombak Lelap dan titik pembuatan kapal dilakukan di Pantai Pendek, Gusti,” lapor telik sandi yang lain.
“Pendekar Bo Fei sudah sampai kepada Pasukan Gajah Besi, Gusti. Namun, mereka terhalang oleh sekitar tujuh ribu Pasukan Kaki Gunung di perbatasan Kadipaten Senengek,” lapor yang lainnya.
“Pasukan Angkatan Laut Pasir Langit sudah naik ke darat dan sedang menuju ke Kadipaten Senengek, Gusti. Sekitar tiga ribu tentara,” lapor yang lainnya lagi.
“Istana Pasir Langit dan ibu kota Digdaya juga sedang membangun benteng berlapis karena perang sudah sampai di Kadipaten Senengek, Gusti,” lapor lelaki yang kelima.
“Apakah ada lagi?” tanya Permaisuri Yuo Kai.
Sejenak kelima lelaki itu terdiam. Lalu katanya kompak, “Cukup, Gusti!”
“Besok aku ingin masuk ke Ibu Kota bersama pasukan. Karena Pasukan Gajah Besi terhalang oleh pasukan musuh, aku akan memakai pasukan yang dipimpin oleh Anak Halus. Segera sampaikan perintahku kepada Anak Halus,” kata Permaisuri Yuo Kai.
__ADS_1
“Baik, Gusti,” ucap prajurit telik sandi terkait.
“Pelajari posisi Pasukan Ular Gunung dan pasukan Angkatan Laut Pasir Langit. Jika Pasukan Ular Gunung bisa melakukan penghambatan laju pasukan Angkatan Laut, lakukan!” perintah Permaisuri Yuo Kai.
“Baik, Gusti,” ucap prajurit terkait.
“Kembalilah ke tugas kalian masing-masing. Aku akan menunggu di kebun bambu!” perintah Permaisuri Yuo Kai.
“Baik, Gusti!” ucap para prajurit telik sandi itu lalu menjura hormat. Setelahnya, mereka segera pergi dengan berbagi arah.
Permaisuri Yuo Kai yang sangat jarang menempuh perjalanan berlari, kembali melesat untuk menuju ke kebun bambu, dimana Joko Tenang telah membangun satu basecamp tersembunyi untuk permaisurinya.
Sementara itu di sisi lain, beberapa waktu sebelumnya.
Drap drap drap...!
Si cantik Murai Manikam terus menggebah kudanya. Dia baru saja mengintai pergerakan lima ribu Pasukan Kaki Gunung yang dari wilayah selatan menuju ke timur.
Murai Manikam menghentikan kudanya di dekat banyak para pendekar yang sedang beristirahat. Di sisi lain, ada banyak lelaki sedang bekerja memikul gelondongan kayu bersama-sama. Mereka menganut slogan “berat sama dipikul, ringan jinjing sendiri”.
Para pendekar yang sedang beristirahat atau bersenda gurau seperti anak dewasa adalah para pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana. Adapun mereka yang bekerja otot adalah para kuli panggul yang memang tugasnya angkat-angkat kayu gelondongan yang panjang dan besar.
Para pendekar itu sempat terkejut melihat kedatangan si cantik Murai Manikam yang mereka tahu masih jomblo dengan kadar kemurnian seratus persen. Apalagi Murai Manikam punya status istimewa di mata Prabu Dira, yaitu sebagai murid dari Anai Layang yang berjuluk Putri Bibir Merah. Anai Layang adalah bibi dari ibunya Prabu Dira dan merupakan leluhur bibir merah yang paling dekat dengan Prabu Dira.
“Perintah dari Gusti Permaisuri Tangan Peri!” seru Murai Manikam lantang kepada para pendekar sambil menunjukkan gulungan kain merah bagus di tangan kanannya.
Seruan itu membuat semua pendekar berdiri dan menghadap kepada Murai Manikam dan kudanya. Ketua dan wakil ketua Pasukan Hantu Sanggana, yaitu Delik Rangka dan Lengking, maju paling depan.
“Pasukan Hantu Sanggana siap menerima perintah!” seru Delik Rangka yang bertubuh gendut bulat sambil turun berlutut tidak jauh di depan kuda.
Lengking dan puluhan pendekar lainnya ikut berlutut.
“Untuk mencegah lima ribu pasukan musuh bergabung di medan perang timur, lima puluh pendekar Pasukan Hantu Sanggana aku ambil alih!” seru Murai Manikam.
“Perintah hamba terima dan laksanakan!” teriak Delik Rangka.
“Ambil surat perintahnya!” perintah Murai Manikam.
Delik Rangka bangkit dan menerima gulungan kain merah di tangan Murai Manikam dengan penuh hormat. (RH)
__ADS_1