
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
Benar-benar apes Pasukan Kaki Gunung peninggalan Panglima Kidul Segara. Di saat mereka sibuk memperebutkan posisi pemimpin tertinggi sementara dalam pasukan itu, tiba-tiba mereka sudah dalam posisi terkepung dan tersudut.
Di malam ketika di wilayah timur Pasukan Kaki Gunung dikerjai oleh Pasukan Gajah Besi, Pasukan Kaki Gunung wilayah selatan mendapat kejutan.
Jika ada yang berkeyakinan “Cahaya akan selalu mengusir kegelapan”, maka yang terjadi pada malam ini terhadap Pasukan Kaki Gunung adalah “Cahaya mengundang pemangsa”.
Kemah Pasukan Kaki Gunung dijaga dengan ketat. Di setiap pinggiran kemah terlihat dengan jelas keberadaan prajurit jaga, bahkan ada prajurit yang bertugas patroli keliling. Obor yang tersedia pun banyak, sangat cukup untuk bisa melihat seekor kecoa yang melintas.
Namun, di saat pertemuan antarkomandan sedang memanas di tenda utama karena begitu alotnya untuk memilih panglima sementara, tiba-tiba....
Set set set...!
“Akk! Akh! Akk...!”
Tiba-tiba para prajurit jaga berjatuhan sambil berjeritan, seolah-olah tidak disebut jatuh jika tidak menjerit. Namun, yang jadi masalah, mereka jatuh dengan tubuh yang sudah ditancapi oleh satu atau dua anak panah.
Bukan hanya para prajurit jaga yang terkena hujan panah dari dalam kegelapan segala arah, tapi juga secara acak mengenai pasukan yang sedang beristirahat atau beraktivitas, bahkan ada yang jatuh masuk ke dalam tenda pertemuan para komandan.
Teb!
“Santet janda!” pekik salah satu komandan yang latah saat satu anak panah tahu-tahu masuk manancap di atas meja pertemuan. Mereka semua kompak melompat mundur sambil cabut pedang masing-masing. Semua tegang.
“Aak! Akk! Akh...!”
Mereka semua terkejut saat mendengar ramainya suara jeritan di luar sana. Segera mereka berlarian ke luar tenda dan melihat apa yang terjadi.
Tsuk tsuk!
“Aaak!” jerit salah satu komandan yang ketika keluar langsung dipatuk oleh dua anak panah dari langit yang gelap.
Ting ting ting!
Sementara komandan yang lain lebih sigap dengan menjadikan pedangnya sebagai senjata tangkis.
Lebih dua puluh komandan itu terkejut melihat para prajurit mereka bertumbangan, berjeritan dengan tubuh ditancapi anak panah yang jatuh dari langit yang gelap.
Kejap berikutnya, hujan anak panah berhenti. Yang tersisa tinggallah jerit-jerit prajurit yang menuju kematian dan teriakan-teriakan para prajurit yang panik sambil membawa senjata dan tameng siap perang.
“Pertahanan Atap Gunuuung! Pertahanan Atap Gunuuung!” teriak beberapa komandan cepat memberi intruksi kepada pasukannya yang kocar-kacir kebingungan.
Mendengar perintah itu, para prajurit segera bergerak merapat seperti magnet yang menarik serbuk besi.
Namun, di saat ribuan pasukan itu sedang dalam proses mengatur diri, para komandan dibuat terbeliak ketika melihat ada kemunculan ribuan api-api kecil di kejauhan yang megeliling posisi kemah mereka.
Set set set...!
Kejap berikutnya, sungguh indah. Ribuan api kecil melesat naik ke langit dari segala penjuru. Namun, keindahan itu berubah menjadi menyeramkan ketika melewati titik puncak lengkungannya dan menukik ramai-ramai menuju ke perkemahan.
Teb teb teb...!
__ADS_1
“Akk! Akk! Akh...!
Tidak perlu menghitung jari tangan untuk menunggu karena ribuan panah api itu telah tiba menghujani perkemahan. Kembali ratusan prajurit menjadi korban panah, puluhan tenda terbakar. Namun kabar baiknya, semakin banyak prajurit yang berlindung di bawah payung tamengnya yang besar.
Semakin kacaulah perkemahan itu dengan adanya puluhan tenda yang terbakar. Ancaman hujan panah membuat tidak ada prajurit yang berusaha memadamkan api. Akibatnya, kebakaran semakin menjadi-jadi, terlebih api dibelai-belai oleh angin malam yang kencang.
Ribuan prajurit Pasukan Kaki Gunung kini membentuk satu formasi, yaitu berkumpul satu dengan menempatkan tameng-tameng mereka di atas kepala, menjadikan tameng-tameng itu sebagai payung pelindung.
Set set set...!
Terbukti, ketika hujan panah api gelombang kedua datang menyerang, panah-panah itu banyak yang menancap di tameng-tameng mereka, meminimalisir jumlah korban.
Ehehehe...!
Namun, masih saja ada kekacauan tambahan ketika ratusan kuda pasukan mengamuk karena ketakutan. Para kuda itu lepas dari ikatan dan berlari ke sembarang arah tidak karuan, menjauhi api.
Sejumlah kuda juga terkena panah. Hujan panah ternyata tidak memilah dan memilih jenis makhluk.
Drap drap drap...!
Di saat serangan hujan panah dari pihak yang belum diketahui identitasnya terus berlanjut, tiba-tiba terdengar suara lari kaki orang banyak yang terdengar samar di antara hingar bingar teriakan-teriakan prajurit Pasukan Kaki Gunung.
Tidak berapa lama, muncul bayangan barisan manusia yang berlari cepat. Bukan datang masuk menyerang ke dalam kemah, tetapi datang berlari mengelilingi sisi luar perkemahan.
Barisan bayangan manusia bersenjata tombak dan bertameng itu terlihat mengalir terus tanpa putus. Pergerakan itu bukan hanya terjadi di satu sisi, tetapi di empat sisi luar perkemahan.
“Kita dikepung!” kata Komandan Awur Abang yang sebelumnya selamat dari serangan Pasukan Hantu Sanggana.
“Pasukan siapa ini?” tanya komandan yang lain saat samar-samar melihat warna seragam pasukan musuh yang hijau gelap.
Untuk sementara para komandan dan prajurit Pasukan Kaki Gunung hanya bisa melihat keadaan sambil berlindung, karena hujan panah yang berhenti berganti ke hujan panah biasa.
Set set set...!
“Aak! Akh! Akk...!” Masih ada para prajurit yang terkena panah, bahkan dua komandan kembali gugur.
Serangan panah biasa justru lebih berbahaya karena kedatangannya tidak terlihat dari atas.
Drap drap drap!
Di tengah-tengah kekacauan itu, terdengar ada suara lari serombongan kuda, tapi tidak terlalu banyak.
Tidak perlu menunggu sampai punya waktu untuk menyeka keringat kepanikan, sepuluh penunggang berkuda datang berlari memasuki perkemahan yang tanpa penjagaan, karena semua prajurit berkumpul satu di tengah-tengah. Kesepuluh penunggang kuda itu berpakaian ala pendekar.
Kelompok berkuda itu dipimpin oleh seorang wanita cantik jelita berpakaian serba hitam. Warna kulitnya yang putih, bersih dan terang membuat wajah cantiknya seolah-olah bercahaya di bawah penerangan cahaya lautan api yang membakar tenda-tenda. Mata beningnya yang indah tapi tajam dalam memandang, seolah-olah menjadi cermin yang sempurna bagi kobaran api.
Wanita yang terlihat sangat srikandi itu tidak lain adalah Permaisuri Ginari alias Permaisuri Tangan Peri.
Kesembilan pendekar yang berkuda di belakangnya adalah para Pendekar Pengawal Dewi Bunga. Mereka antara lain:
1. Lintang Salaksa
__ADS_1
2. Gagu Pelirik.
3. Jeruk Penggoda Mok Nong.
4. Teriak Cadas.
5. Setan Kerdil.
6. Pendekar Tikus Tanah Surik Jarang.
7. Bidadari Senyum Lelembut Ina Gemis.
8. Peneguk Air Suci Reka Balaya.
9. Ki Goyang.
Mereka seharusnya ada sepuluh. Yang tidak ada adalah Murai Manikam, pemimpin mereka yang sedang memimpin Pasukan Hantu Sanggana untuk mengawal Permaisuri Yuo Kai.
Saat kelompok berkuda itu masih berlari menuju posisi Pasukan Kaki Gunung dan para komandannya yang tersisa, pendekar wanita bertubuh mungil bernama Lintang Salaksa menonjokkan tinju kanannya ke udara.
Sess! Ctar!
Satu bola sinar kuning berekor monyet melesat lurus ke langit yang kemudian meledak nyaring di puncak naiknya.
Setelah ledakan sinar kuning di langit, serangan hujan panah berhenti. Sepertinya awan hitam telah berlalu.
Sinar tadi adalah tanda perintah kepada pasukan panah untuk berhenti.
Drap drap drap...!
Setelah itu, terdengar suara lari banyak kaki dari kejauhan dan di belakang posisi pasukan bertombak yang mengepung perkemahan.
Para komandan dan Pasukan Kaki Gunung hanya bisa melihat dan menunggu dengan tegang.
Tidak berapa lama, muncul satu lapis pasukan yang berseragam hijau gelap, berdiri di belakang pasukan tombak, tetapi busur dan anak panah siap dilepas ke arah pusat perkemahan.
Pasukan Kaki Gunung hanya bisa memandang ke sekeliling. Ke arah mana mereka memandang, mereka melihat barisan pasukan musuh. Sementara perkemahan mereka telah menjadi lautan api, banjir anak panah dan mayat prajurit sendiri.
Permaisuri Ginari mengangkat tangan kanannya seiring dia menghentikan kudanya beberapa tombak di depan para komandan Pasukan Kaki Gunung. Tanda berhenti itu diikuti dengan berhentinya para pendekar di belakang permaisuri Ginari.
“Pasukan Ular Gunung dari Kerajaan Sanggana Kecil telah mengepung kalian. Menyerahlah. Jika memaksa melawan, tidak ada ampun bagi kalian semua!” seru Permaisuri Ginari mengancam.
“Dengan siapa kami berhadapan saat ini?” tanya salah satu komandan yang memendam rasa kagum terhadap kejelitaan wanita berkuda itu.
“Kalian berhadapan dengan Permaisuri Tangan Peri Kerajaan Sanggana Kecil!” jawab Permaisuri Ginari lantang.
“Kami menyerah!” seru salah satu komandan sambil melempar senjatanya ke tanah.
“Kami menyerah!” ucap komandan yang lain dengan nada yang cenderung terpaksa.
Semua komandan lalu menjatuhkan senjata dan turun berlutut.
__ADS_1
Akhirnya, semua prajurit Pasukan Kaki Gunung turut menjatuhkan senjata dan tamengnya. Mungkin pasukan itu masih tersisa tiga ribu prajurit, termasuk yang terluka.
“Kami tidak akan menahan kalian, tetapi kami akan mengikat kalian dengan perjanjian!” seru Permasiuri Ginari lagi. (RH)