Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 76: Penyergapan di Pinggir Sungai


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Sudah satu hari satu malam, lima ribu Pasukan Kaki Gunung pimpinan Panglima Perbatasan Selatan Kidul Segara melakukan perjalanan. Mereka sedang menuju wilayah timur untuk bergabung dengan Pasukan Kaki Gunung di Kadipaten Senengek.


Saat ini, pasukan itu sedang rehat sejenak di pinggiran sebuah hutan tanpa berkemah. Mereka berhenti untuk memberi kesempatan kepada pasukan pembawa air untuk mengambil air di sungai. Berbekal air perlu mereka lakukan karena wilayah selanjutnya yang akan mereka lalui akan jauh dari air, demi cepat sampai ke Kadipaten Senengek.


Sebanyak lima puluh gerobak pembawa gentong dibawa oleh seratus prajurit menuju sungai besar.


Ketika mereka tiba di pinggir sungai dan belum sempat mengambil air, mereka dikejutkan oleh pemandangan yang tidak lazim di tengah sungai.


Mereka melihat ada banyak rakit kayu sederhana, tetapi jumlahnya banyak berbaris dari hilir sampai ke hulu, mirip rangkaian ular yang sangat panjang. Jika hanya rentetan rakit, mungkin hanya akan membuat heran dan tanda tanya. Namun, di atas setiap rakit ada sepuluh prajurit bersenjata lengkap yang mengenakan seragam hijau gelap, yang pada bagian bahu dan dada ada sulaman hitam berpola sisik ular. Para prajurit Pasukan Kaki Gunung tidak pernah melihat pasukan model itu. Jelas itu adalah pasukan asing yang telah masuk ke wilayah Kerajaan Pasir Langit, yang arti lainnya itu adalah pasukan musuh.


Semua rakit dinaiki oleh prajurit, sehingga jumlah mereka akan ada ribuan jika ditotal. Terlebih ujung dari armada rakit itu tidak kunjung tuntas. Setiap berlalu ratusan prajurit, ada rakit yang membawa bendera seperti panji pasukan.


Sekedar bocoran sebelum masa ujian. Itu adalah penampakan Pasukan Ular Gunung, salah satu dari lima pasukan perang milik Kerajaan Sanggana Kecil selain Pasukan Gajah Besi, Pasukan Rajawali Awan, Pasukan Kuda Angin, dan Pasukan Buaya Samudera.


Sebenarnya jalur air lebih tepatnya dilalui oleh Pasukan Buaya Samudera. Akan tetapi, Permaisuri Ginari alias Permaisuri Tangan Peri ketagihan perang, sehingga dia mengajukan diri untuk memimpin perang bersama Panglima Bidar Bintang lewat jalur sungai, mengikuti jejak pengiriman kayu yang sukses.


Posisi Permaisuri Ginari dan Panglima Pasukan Ular Gunung sudah ada jauh memimpin di hilir.


Melihat ada puluhan prajurit berseragam cokelat-cokelat di pinggir sungai yang sejarak sejauh lesatan anak panah, sejumlah prajurit Pasukan Ular Gunung justru melambai say hello dan fresh smile.


“Pasukan musuh! Pasukan musuh! Ayo cepat pulang, lapor ke Gusti Panglima!” teriak pemimpin pasukan pengangkut air itu.


Agar tidak merepotkan, mereka berlari meninggalkan tepi sungai dan gerobak-gerobak mereka.


“Wuahh!” pekik para prajurit Pasukan Kaki Gunung terkejut sambil mengerem mendadak.

__ADS_1


“Hahaha...!” tawa sebagian besar puluhan pendekar yang sudah berdiri menghadang jalan lebar para prajurit itu.


Hadangan para pendekar itulah yang mengejutkan seratus prajurit pengangkut air. Di belakang puluhan pendekar itu ada Murai Manikam yang berkuda sendirian. Sementara yang berdiri di paling depan adalah Lengking, Wakil Ketua Pasukan Hantu Sanggana. Dia sudah menggenggam kuat tongkat sabit besarnya.


Semua pendekar yang bersenjata sudah menyiapkan senjatanya masing-masing di tangan. Mereka menertawakan keterkejutan pasukan musuh yang siap mereka cukur.


“Serang!” perintah Murai Manikam tegas dan singkat.


“Heaaat!” teriak Lengking dan puluhan anak buahnya dengan penuh kegarangan, seperti makhluk-makhluk yang haus darah dan nyawa.


Sebagai pasukan yang bukan kelas pasaran dan merasa menang jumlah, maka pasukan pengangkut air itu tidak kabur.


“Lawaaan! Jumlah kita lebih banyaaak!” teriak pemimpin pasukan pengangkut air sambil hunus pedang masing-masing.


Lengking langsung merenggut dua nyawa musuh dengan sabetan tongkat bersabitnya.


Seorang pendekar pendek berbadan kekar cukup mencabut lima bambu-bambu kecilnya seperti sumpit tiup, bukan sumpit maka mie ayam. Jangan salah paham. Kelima bambu kecil itu dia tiup ujungnya bergantian, masing-masing melesatkan jarum beracun. Bayangkan jika satu jarum satu prajurit, berarti empat orang yang mati sekaligus karena satu orang hanya kena di rambut. Itulah kehebatan pendekar yang bernama Dengkul Baga. Itupun belum main pencak dan ilmu kesaktian.


Itulah contoh tiga pendekar Pasukan Hantu Sanggana yang bertarung. Puluhan pendekar lainnya bertarung dengan gayanya masing-masing.


Meski jumlah pasukan pengangkut air itu jumlahnya dua kali lipat dari pasukan pendekar, tetapi level ilmu olah kanuragan dan kesaktian mereka jauh berbeda. Terlebih sebagai pasukan pengangkut air, mereka mengenakan pakaian pengaman yang terbuat dari kulit tidak selengkap prajurit tempur mereka.


Pertarungan terjadi begitu ramai. Satu per satu prajurit Pasukan Kaki Gunung bertumbangan meregang nyawa dengan berbagai kondisi.


Ada yang mati dengan senjata tajam, ada yang mati dengan luka dari senjata tumpul, ada yang mati dengan tulang remuk atau patah, ada yang mati dengan racun, ada yang mati dengan cakaran, ada yang mati dengan pukulan atau tendangan bertenaga dalam tinggi, dan ada pula yang mati tanpa napas.


Sementara itu, Murai Manikam hanya menyaksikan pembantaian tersebut.

__ADS_1


“Munduuur! Munduuur!” teriak satu prajurit panik setelah melihat lebih dari separuh rekannya bergeletakan tanpa kenal tempat.


Namun, para pendekar itu bisa berkelebat dengan cepat mengejar prajurit yang berusaha kabur.


“Kami menyerah! Kami menyerah!” teriak prajurit yang sama ketika paham bahwa mereka tidak akan selamat meskipun sangat ingin lari. Dia langsung berlutut sambil angkat tinggi kedua tangannya tanpa senjata.


“Kami menyerah! Kami menyerah!” teriak prajurit Pasukan Kaki Gunung yang lain sambil melakukan tindakan yang sama. Mereka sudah ketakutan dengan napas yang tersengal-sengal. Beberapa di antaranya meringis menahan luka yang sudah mereka derita.


“Berhentiii!” teriak Murai Manikam lantang dan keras.


Perintah itu seketika membuat para pendekar berhenti menyerang dengan tatapan yang masih buas kepada para prajurit yang menyerah. Ada lebih dua puluh prajurit yang menyerah.


“Totok tangan mereka dan buang ke sungai!” perintah Murai Manikam dari atas kudanya.


Terkejut para prajurit Pasukan Kaki Gunung itu mendengar perintah tersebut. Namun, tidak apalah, setidaknya mereka masih punya kaki untuk bisa berjuang di air sungai, daripada mati dibunuh saat itu juga. Seperti itulah kira-kira isi pikiran mereka.


Maka para pendekar itu menotok kedua tangan setiap prajurit, kemudian menyuruh mereka berjalan sendiri menuju ke pinggir sungai.


Ternyata, ketika mereka tiba di pinggir sungai yang tadi, Pasukan Ular Gunung yang naik rakit ramai-ramai sudah terlihat ujungnya di arah hilir.


Buk buk buk...!


Jbur jbur jbur...!


Para pendekar itu dengan seenaknya menendang para prajurit itu agar melompat ke sungai.


“Hahaha...!” tawa puluhan pendekar tersebut.

__ADS_1


Para prajurit tersebut terpaksa berusaha berenang di air sungai dengan hanya mengandalkan gerakan badan dan kaki. Mereka semua terbawa oleh arus. Sebagai prajurit kerajaan pesisir, mereka semua handal dalam berenang. Namun, entah jadinya dalam kondisi tangan tidak berfungsi.


Pasukan Hantu Sanggana kembali kepada pemimpinnya untuk melakukan operasi berikutnya. Tugas mereka adalah menghalangi laju Pasukan Kaki Gunung menuju timur. (RH)


__ADS_2