Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 36: Serangan Manusia Kalong


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


 


“Jokooo! Tolooong!” teriak Putri Ani Saraswani histeris, ketika seekor ular sebesar batang pohon kelapa berwarna hitam melilitnya dengan keras, di atas pucuk sebatang pohon jengkol yang tumbuh menduda di atas sebuah gunung.


Presss!


Tiba-tiba saja dari atas langit melesat sinar hijau besar menyilaukan mata. Sinar itu meluncur jatuh seperti meteor ke arah posisi ular dan Putri Ani. Silaunya sinar hijau itu membuat Putri Ani harus memejamkan mata.


Bluarr!


Meski sudah memejamkan mata, tetapi Putri Ani tahu apa yang terjadi. Dia seperti melihat dalam kondisi mata terpejam, seolah-olah dia sedang menyaksikan dari jauh apa yang sedang menimpanya.


Ledakan itu begitu dahsyat. Sinar hijau menyilaukan tersebut tidak menghantam ular hitam atau Putri Ani, tetapi menghantam tanah di dekat pohon jengkol tersebut tumbuh.


Hasilnya, pohon jengkol itu hancur berkeping-keping. Buah jengkolnya melesat ke mana-mana seperti serpihan bom.


Sementara sosok ular besar dan Putri Ani terlempar dalam kondisi sang putri telah lepas dari lilitan.


Ledakan itu sungguh dahsyat, membuat ular dan tubuh Putri Ani terlempar jauh mengudara.


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada sosok lelaki gagah bertelanjang dada yang melesat terbang di udara seperti Suparman dan menyambar tubuh indah Putri Ani.


Ketika lelaki itu datang dengan terbang, Putri Ani terkejut karena wajahnya adalah Agi Lodya. Meski pemuda itu adalah kekasihnya di masa lalu, tetapi kedatangannya justru tidak membuatnya bahagia. Putri Ani mengharapkan Joko Tenang yang datang, bukan mantannya.


Namun, seketika Putri Ani dilanda kebahagiaan yang tiada tara yang memberi sinyal denyutan yang indah alias enak, ketika wajah lelaki yang menggendongnya telah berubah menjadi wajah tampan Joko Tenang yang berbibir merah. Tidak hanya itu, Putri Ani mencium aroma wangi tubuh Joko Tenang yang tajam tetapi menggelorakan gairah.


Ini benar-benar momentum yang sangat membahagiakan Putri Ani Saraswani. Harapannya terwujud dengan sempurna.


“Hihihik...!” tawa Putri Ani Saraswani cekikikan karena merasa geli.


Dalam kondisi terbang di udara seperti burung bersayap, Joko Tenang menciumi telinga kiri Putri Ani. Itulah kenapa Putri Ani tertawa kencang, tapi terkesan genit. Putri Ani tidak bisa menolak kebahagiaan yang menikam itu.


Bluarrr!


Tiba-tiba ular besar hitam meledak dahsyat dan hancur sendiri. Seketika itu, sepasang mata Putri Ani terbuka dan dunianya langsung lenyap, berganti dengan suasana kamar yang biasa-biasa saja.


Meski demikian, kebahagiaan Putri Ani Saraswani tidak langsung hilang. Meski itu hanya mimpi, tetapi rasa bahagianya masih sangat membekas di hati.


“Kenapa hanya mimpi?” ucap Putri Ani lirih, antara kecewa dan bahagia. “Tapi suara apa tadi yang membangunkan aku?”


Blar blar blar...!


Tiba-tiba terdengar suara ledakan beruntun di luar Wisma Keputrian. Itu mengejutkan Putri Ani yang langsung membuatnya bangun terduduk. Dia langsung menduga bahwa suara itu adalah suara pertarungan.


“Pagari Wisma Keputriaaan!” terdengar suara teriakan Komandan Ati Urat di kejauhan.

__ADS_1


Kejap berikutnya, sosok Rincing Kila muncul di depan dinding kamar Putri Ani yang lost. Dia melihat junjungannya sudah bangun.


“Gusti Putri, Wisma Keputrian diserang oleh kelompok tidak dikenal!” seru Rincing Kila tegang.


Putri Ani Saraswani segera meninggalkan ranjangnya dan menyambar satu jubah warna kuning, sehingga warna penampilannya seperti telur rebus yang kuningnya ada di sisi luar.


Putri Ani berjalan cepat keluar ke teras.


Dari teras itu, Putri Ani melihat seagian besar personel Pasukan Pengaman Putri sudah berbaris rapat berjaga di depan wisma.


Di sisi lebih jauh ke depan, Komandan Ati Urat dan sebagian pasukannya sedang mencoba mengatasi gempuran sejumlah orang terbang.


Yang mereka lihat, ada enam orang bersayap buatan model sayap kalong, terbang di angkasa malam dengan ketinggian yang sulit dijangkau oleh serangan kesaktian dan senjata lempar Pasukan Pengaman Putri.


Keenam orang berpakaian gelap-gelap di angkasa yang gelap, bisa bergerak ke sana ke sini dengan leluasa.


“Lempar dengan tenaga penuh!” teriak Komandan Ati Urat mengomandoi pasukannya.


Set set set...!


Serentak belasan personel Pasukan Pengaman Putri melemparkan senjata berupa paku-paku besar.


Sebanyak puluhan paku besar melesat naik ke udara. Namun sayang, senjata-senjata itu tidak sampai pada ketinggian kelompok penyerang. Paku-paku besar itu kemudian jatuh kembali karena penarikan gaya gravitasi.


Ses ses ses...!


Blar blar blar...!


Kegesitan para prajurit itu membuat serangan dari atas tersebut bisa dihindari. Serangan bola-bola sinar itu menimbulkan suara ledakan yang keras, tetapi uniknya tidak menghancurkan tanah yang dikenainya.


“Formasi gunung!” teriak Komandan Ati Urat.


Dengan cepat, para prajurit khusus itu berkumpul dan membentuk lingkaran delapan orang yang saling berpegangan. Lalu empat orang naik berdiri di atas bahu-bahu rekannya dan saling berpegangan bahu dengan kuat. Kemudian dua prajurit menyusul melompat tinggi dan dengan ringan mendarat di bahu keempat prajurit di tingkat dua. Kedua prajurit itu saling berhadapan dan saling pegang bahu. Ada pula satu prajurit yang berdiri dengan kuda-kuda yang kuat di dekat posisi gunung orang tersebut.


Formasi gunung itu dilakukan dengan cepat.


Sementara itu, Komandan Ati Urat sudah menyalakan kesepuluh jari tangannya dengan sinar kuning. Buru-buru dia berlari kencang mendekati formasi, sebelum keenam orang terbang melakukan serangan lagi.


Komandan Ati Urat melompat kepada seorang prajurit yang sudah siap. Satu kakinya menginjak bahu prajurit, menjadikannya sebagai tolakan untuk melompat lebih tinggi naik ke puncak gunung manusia.


Sresss!


Komandan Ati Urat berhasil naik ke puncak formasi gunung. Satu kakinya mendarat pada salah satu bahu dua prajurit paling atas. Bahu itupun dijadikan tolakan oleh sang komandan, sehingga lompatannya bisa semakin tinggi mengangkasa. Pada saat itu, Komandan menghentakkan kedua tangannya yang melesatkan sepuluh tali sinar kuning ke angkasa tinggi.


Bletss!


“Aaakkh!” jerit salah satu lelaki terbang saat kedua kakinya berhasil terjangkau dan terlilit oleh tali-tali sinar kuning dari ilmu Garis-Garis Pengikat.

__ADS_1


Ses ses ses...!


Di saat satu rekannya terjerat oleh kesaktian Komandan Ati Urat dan ditarik jatuh, lima lelaki terbang yang lain kembali melesatkan bola-bola sinar biru. Serangan sinar biru itu menarget dua sasaran, yaitu ke arah Komandan Ati Urat dan formasi gunung.


Sambil menarik jatuh korban tali-tali sinarnya, Komandan Ati Urat bisa menghindari dua bola sinar yang mengancamnya. Namun, tidak bagi anak buahnya yang pergerakannya jadi agak terhambat.


Dua prajurit teratas segera melompat meninggalkan formasi, tetapi yang lainnya terlambat menghindar.


“Heaaat!” teriak satu prajurit sambil menghentakkan kedua lengannya dengan telapak terbuka.


Suass! Bluaarr!


Wow! Terlihat keren. Dari gerakan itu, muncul lapisan sinar merah tipis yang bergerak cepat menghadang tiga bola sinar yang melesat mengancam para prajurit. Namun, hasilnya tidak sekeren visualnya.


Ledakan energi terjadi di udara. Prajurit yang menghadang serangan dari udara itu terpental keras lalu jatuh terguling-guling.


“Bagooong!” teriak para prajurit yang telah dilindungi oleh rekan mereka yang ternyata bernama Bagong.


Memang, penghadangan yang dilakukan oleh Bagong membuat beberapa rekannya yang berada dalam formasi gunung selamat dari serangan. Namun, Bagong sendiri harus tewas setelah sempat menggeliat kesakitan di tanah halaman Wisma Keputrian. Ilmu Penghadang Badai itu adalah ilmu penangkal serangan, tetapi levelnya tergolong rendah. Hanya bisa diadu untuk serangan level menengah ke bawah.


Drap drap drap...!


Terdengar suara lari kaki yang ramai dari kejauhan, dari luar lingkungan Wisma Keputrian. Ratusan prajurit Pasukan Keamanan Istana datang dengan berlari yang dipimpin oleh Panglima Banta Ufuk.


“Fiiit!”


Tiba-tiba terdengar suara suitan panjang dan nyaring di angkasa. Sepertinya itu kode bagi kelompok orang terbang tersebut.


“Pasukan panah!” teriak Panglima Banta Ufuk dari luar pagar Wisma Keputrian.


Pasukan panah Istana segera memasang posisi dengan busur langsung diarahkan ke langit gelap.


“Panah!” teriak Panglima Banta Ufuk.


Set set set...!


Maka puluhan anak panah melesat ke angkasa gelap berusaha menyerang kelima lelaki terbang yang seperti binatang terbang. Namun pada saat itu, kelima orang terbang sudah bergerak terbang menjauh.


Satu pun anak panah tidak ada yang menjangkau target.


Slasss!


“Aak! Ak! Akh...!”


Tiba-tiba semua dikejutkan oleh munculnya sinar kuning menyilaukan di angkasa tinggi. Sinar menyilaukan itu muncul tepat di atas posisi kelima lelaki terbang yang sudah cukup jauh. Sinar kuning tersebut mengeluarkan lidah-lidah sinar yang menyengat kelima lelaki terbang dari atas, sehingga mereka berjeritan lalu meluncur jatuh seperti burung kena tembak pemburu.


“Ayahanda!” sebut Putri Ani yang segera mengenali kesaktian ayahnya yang bernama Murka Langit. (RH)

__ADS_1


__ADS_2