
*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*
“Ringkus orang ini!” perintah Prajurit Wira Bagi Taweng kepada pasukannya sambil menunjuk Joko Tenang.
“Heaaa!” teriak separuh dari pasukan itu maju serentak dengan mata tombak terhunus menuju Joko Tenang.
Meski menyerang, para prajurit itu tetap terapkan SOP keamanan. Selain pakaiannya yang memang dilengkapi lapisan tebal di sejumlah anggota tubuh, termasuk helm kulit yang tebal, para prajurit itu tetap berlindung di balik tameng besarnya yang terbuat dari logam ringan berlapis kulit.
Joko Tenang lalu mengatur energinya hingga terkumpul di pusar yang ada di perut. Setelahnya, dia genggam kencang kepal tangan kirinya.
Seeet!
“Haaah!” kejut para prajurit yang menusukkan mata-mata tombaknya ke tubuh Joko Tenang.
Yang mereka saksikan dengan mata kepala sendiri, tombak-tombak itu menusuk jelas tubuh Joko Tenang, tetapi raga lelaki berbibir merah itu seperti setan yang terlihat, berwujud tapi tidak tersentuh.
Meski terlihat tombak mereka menusuk tubuh Joko Tenang, tetapi mereka bisa merasakan bahwa tombak mereka seperti tidak menyentuh sedikit pun zat padat.
Ketika mata tombak itu menusuk masuk ke perut atau dada Joko Tenang, bagian lancip itu masuk hingga tidak terlihat, tetapi tidak terlihat perut Joko Tenang terluka atau berdarah. Bahkan ujung tombak bisa digerakkan dengan mudah mengutak-atik tubuh Joko Tenang tanpa merusaknya sedikit pun.
Mereka semua jelas bingung melihat fenomena yang mereka hadapi. Ilmu apa yang dimiliki Joko Tenang? Itu salah satu pertanyaan yang mendominasi di benak Bagi Taweng dan pasukannya.
Bugg bugg bugg...!
“Ukr! Hukr! Hukk...!”
Belum lagi Bagi Taweng dan para prajurit bawahannya searching di Google, Joko Tenang sudah bergerak secepat koneksi internet di Singapura. Meski ada banyak tombak yang menjulur mengenai dirinya yang seperti hologram tapi senyata asli, Joko Tenang bisa bergerak bebas tanpa terkendala sedikit pun oleh senjata-senjata itu. Namun anehnya, Joko Tenang bisa meninju tameng-tameng para prajurit itu satu per satu dalam kecepatan hanya dua tarikan napas saja.
Para prajurit itu pada mengeluh dengan tubuh terlempar jauh ke belakang satu demi satu. Tameng-tameng itu sampai penyok seperti dandang yang dihantam martil baja.
Sebanyak lebih dari sepuluh prajurit terkapar dan menggeliat dengan mulut berdarah. Mereka tidak bisa bangun lagi. Senjata dan tameng mereka berserakan.
Terbeliak ketiga prajurit berkuda yang berpangkat Prajurit Wira itu melihat dengan mudahnya sebagian pasukan mereka ditumbangkan dalam waktu singkat.
Namun sayang bagi Putri Ani dan Kalawit, mereka tidak bisa melihat jelas apa yang terjadi di dalam pengepungan. Mereka tahu-tahu melihat para prajurit itu terpental satu per satu dengan ritme yang cepat.
__ADS_1
Wusss!
Blak bluk blak bluk!
Tiba-tiba Joko Tenang menghentakkan lengan kanannya. Serangkum angin keras menerpa ketiga kuda plus penuggangnya.
Ketiga kuda dan penunggangnya terhempas jatuh tanpa bisa mengotrol dirinya untuk bergaya. Apesnya Bagi Taweng, sudahlah jatuh, terduduki pula wajahnya oleh kudanya sendiri. Maklum, si kuda juga tidak bisa mengontrol dirinya.
“Seraaang!” teriak rekan Bagi Taweng sesama Prajurit Wira. Dia lebih cepat menguasai diri setelah jatuh, karena tubuhnya tidak tertindih badan kuda.
“Seraaang!” teriak prajurit yang masih bugar ramai-ramai sambil maju bersama pula menusukkan mata tombaknya tanpa lalai dalam perkara keamanan.
Kali ini, Putri Ani Saraswani dan Kalawit bisa melihat aksi Joko Tenang. Keduanya hanya bisa terbeliak melihat kesaktian Joko Tenang yang aneh.
Bugg bugg bugg...!
“Ukr! Hukr! Hukk...!”
Kejadian pertama terulang kembali. Sosok Joko Tenang tidak bisa disentuh, tetapi dia dengan bebasnya menonjoki tameng-tameng milik pasukan itu. Satu per satu prajuit itu terpental ke belakang.
Joko Tenang sengaja menghajar tameng karena dia tidak ingin membunuh para prajurit itu, tetapi hanya ingin memberi mereka pelajaran.
Wusss!
Joko Tenang kembali melepas angin pukulan yang bertenaga kencang. Angin itu tidak membuat para prajurit yang tersisa terpental seperti rekan-rekan mereka, tetapi cukup membuat mereka terjengkang ramai-ramai.
Joko Tenang lalu melompat ringan dan mendarat di depan ketiga Prajurit Wira yang dipimpin oleh Bagi Taweng. Setelah menghancurkan pasukan elit itu, Joko Tenang sudah berhenti mengandalkan ilmu Hijau Raga. Jadi, raganya sudah bisa disentuh oleh orang lain.
“Heaaat!” teriak dua Prajurit Wira rekan Bagi Taweng sambil menyerang Joko Tenang dangan kedua tangan membara biru.
Bak! Dak!
Namun, serangan berkesaktian mereka mentah bagi Joko Tenang. Mudah bagi Joko Tenang menghindari serangan itu, lalu mendaratkan satu pulukan ke dada rekan Bagi Taweng dan satu tendangan keras ke wajah rekannya yang lain.
Setelah dua rekannya dibuat jatuh, kini giliran Bagi Taweng yang menyerang. Serangannya sama karena tingkat level mereka sama. Bagi Taweng hanya menang di umur dan di utang, jadi dituakan.
__ADS_1
Tap!
“Aaak...!” jerit Bagi Taweng kencang dan panjang.
Itu terjadi ketika serangan tangannya yang bersinar biru ditangkap oleh Joko Tenang, dengan cara mencengkeram pergelangan tangan.
Ketika Joko Tenang mencengkeram pergelangan tangan kanan Bagi Taweng, lawannya itu merasakan dirinya seperti ditusuk jarum yang sangat panas dan menyakitkan, membuatnya mengejang hebat dengan tenaganya terkuras drastis.
Meski tangan kirinya bebas dan kedua kakinya tidak tersandera, tetapi Bagi Taweng tidak bisa melakukan serangan susulan karena dia terlalu kesakitan dan menjadi lemas. Kedua kakinya bahkan menekuk dan jatuh terlutut dengan pergelangan tangan tetap dicengkeram oleh Joko Tenang.
Itulah kehebatan ilmu Sentuh Lebah Neraka.
“Siapa yang memberi perintah?” tanya Joko Tenang dengan tenang.
“Brabean akkk!” jawab Bagi Taweng sembari terus menjerit kencang dengan wajah yang basah oleh air mata. Dia tidak terharu, tetapi tidak kuat menahan sakit.
“Siapa itu Brabean?” tanya Joko Tenang lagi sambil sedikit memperdalam cengkeramannya.
“Aaakk...!” jerit Bagi Taweng lebih kencang. Lalu buru-buru dia menjawab agar berhenti disiksa, “Wakil Kepala Keamanan Ibu Kotaaakk!”
Joko Tenang lalu melepas cengkeramannya, membuat tangan Bagi Taweng jatuh terkulai lemah. Selanjutnya badan Bagi Taweng yang roboh, tapi tidak pingsan, mungkin mau pingsan.
Dua rekan Bagi Taweng yang mendapat pukulan dan tendangan biasa, sudah tidak berani menyerang lagi. Mereka tidak mau bernasib seperti Bagi Taweng.
“Joko!” panggil Putri Ani Saraswani sembari berlari kecil mendekati Joko Tenang, seperti gelagat sebuah film akan tamat tayangannya.
“Gusti Putri?” sebut ulang Joko Tenang yang sebelumnya memang tidak mendeteksi kehadiran sang putri.
Sementara itu, Kalawit tidak ikut memunculkan diri. Entah, apakah dia sudah pulang atau masih bersembunyi di balik kegelapan.
“Gusti Putri!” sebut Bagi Taweng dan pasukannya terkejut bukan main.
“Sembah hormat kami, Gusti Putri!” ucap mereka kompak dengan kondisi semampunya. Ada yang menghormat dengan sempurna, tapi ada juga yang menghormat separuh jadi karena mereka menderita luka oleh pukulan Joko Tenang.
Jelas mereka dilanda ketakutan, takut akan dihukum. Namun, Putri Ani Saraswani tidak peduli dengan penghormatan mereka. Gadis berjubah kuning itu memilih fokus kepada lelaki pujaannya.
__ADS_1
“Gusti Putri, kenapa ada di sini?” tanya Joko Tenang sedikit tidak tenang karena seharusnya sang putri tidak ada di situ saat itu.
“Aku diserang lagi di Wisma Keputrian,” jawab Putri Ani. (RH)