Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 21: Tawa Putri Ani


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)*


Dengan berpura-pura tidak mempedulikan keberadaan Joko Tenang atau berpura-pura tidak melihat, Putri Ani Saraswani duduk dengan posisi membelakangi posisi Joko Tenang.


Rincing Kila yang berseberangan meja dengan Putri Ani justru wajahnya menghadap kepada Joko Tenang yang duduk jauh di belakang sang putri.


Adapun posisi duduk Joko Tenang yang menghadap ke muara, menyampingi posisi Putri Ani dan Rincing Kila yang menyampingi muara.


Jarak posisi Joko Tenang dengan sang putri sejauh empat tombak.


“Joko menengok ke sini, Gusti Putri,” kata Rincing Kila setengah berbisik.


“Apa urusanku?” ketus Putri Ani Saraswani.


“Aku hanya memberi tahu. Mungkin Gusti Putri tertarik untuk tahu,” kata Rincing Kila. Dia tidak percaya dengan kecuekan junjungannya.


“Tidak usah membahas orang yang tidak kita kenal,” kata Putri Ani.


Ngiaaak! Ngiaaak!


Tiba-tiba terdengar suara jeritan binatang dari hutan seberang sungai, tapi tidak terlihat wujud binatangnya. Mungkin monyet-monyet itu memiliki rasa malu untuk menunjukkan wujudnya yang berekor.


“Dia pasti sedang memandangi hutan di seberang,” terka Putri Ani.


“Benar, Gusti,” kata Rincing Kila membenarkan.


Memang, saat mendengar suara teriakan monyet bibir putih, Joko Tenang mengalihkan pandangan ke hutan di seberang sungai.


“Karena di hutannya yang ada monyet-monyet pemalu, tidak suka menjerit seperti monyet-monyet kita,” kata Putri Ani.


“Hihihi...!” tawa cekikikan Rincing Kila mendengar perkataan junjungannya yang baginya lucu.


Tawa kencang Rincing Kila membuat Joko Tenang menengok ke arah kedua wanita itu.


“Hap!” Melihat Joko menengok ke arah mereka, Ringcing Kila buru-buru membekap mulutnya sendiri.


“Kenapa kau tertawa seperti perawan?” hardik Putri Ani, tapi menekan suaranya sehingga terdengar pelan.


“Aku memang masih perawan, Gusti,” bisik Rincing Kila.


“Hihihi!” Putri Ani Saraswani jadi tidak bisa menahan diri untuk tertawa pula, membuat pengawalnya itu ikut tertawa, melanjutkan tawanya yang tertahan.


“Si Joko itu terus memandangi kita, Gusti!” kata Rincing Kila sambil merunduk berlindung pada tubuh sang putri.

__ADS_1


“Sudah, sudah. Jangan bicarakan Joko. Nanti kalau dia mendengar, bisa-bisa bibir merahnya tambah tebal,” bisik Putri Ani.


“Hihihi...!”


Bukannya berhenti tertawa, Rincing Kila justru tertawa kian cekikikan. Karena Rincing Kila terus tertawa, Putri Ani Saraswani pun jadi ikut tertawa berkepanjangan. Sifat srikandi keduanya seolah-olah raib entah ke mana, berubah seperti emak-emak yang suka bergosip.


Seorang pelayan akhirnya mendatangi meja Joko Tenang dengan membawa makanan di baki kayu, setelah Joko menunggu agak lama sambil menikmati pemandangan sungai, muara, lautan dan hutan.


Aroma pepes yang terbungkus oleh daun pisang tercium begitu menggugah selera makan Joko Tenang. Perutnya yang sebenarnya tidak lapar, mendadak lapar. Entah kenapa bisa begitu?


Hidangan Joko Tenang hanya nasi, pepes beberapa bungkus dan sambal kunyit. Nasi dan pepes itu masih mengebulkan asap tipis.


Sejatinya, Rumah Makan Muara Jerit itu belum waktunya buka, karena memang masih terbilang pagi. Sehingga rumah makan tersebut masih sepi dari pelanggan. Yang duduk menempati meja hanya Joko Tenang, Putri Ani Saraswani dan Rincing Kila.


“Kisanak, apakah kedua wanita itu pelanggan juga?” tanya Joko Tenang.


“Oh bukan, Pendekar. Itu Gusti Putri Ani Saraswani dan pengawalnya. Rumah makan ini adalah milik Istana. Jadi, Gusti Putri termasuk pemiliknya,” jawab si pelayan muda.


“Apakah Gusti Putri senang membicarakan pelanggannya?” tanya Joko Tenang. Sepertinya dia mendengar apa yang sedang diobrolkan oleh Putri Ani dan Rincing Kila, meski jaraknya cukup jauh. Maklum orang sakti.


“Setahuku tidak, Pendekar. Gusti Putri itu orangnya tegas dan dingin. Aku juga heran, kenapa kali ini Gusti Putri tertawa berlebihan,” jawab si pelayan setengah berbisik, khawatir ucapannya didengar oleh sang putri.


“Mereka sedang membicarakanku,” kata Joko Tenang.


“Terima kasih, Kisanak,” ucap Joko Tenang seraya tersenyum.


“Silakan, Pendekar,” kata pelayan itu.


Si pelayan lalu kembali pergi menuju dapur rumah makan. Terlihat sejumlah pelayan sedang melakukan bersih-bersih dan perapian, karena sebentar lagi rumah makan itu akan dibuka.


“Badur! Bawakan minuman ini untuk Gusti Putri!” perintah Pantri Ewa yang membuatkan sendiri minuman segar untuk Putri Ani Saraswani dan Rincing Kila.


“Baik, Gusti,” jawab pelayan yang bernama Badur.


Badur lalu membawakan minuman yang ada di sebuah kendi keramik lengkap dengan dua gelasnya.


Setibanya di meja sang putri, kedua wanita itu masih menyisakan tawa-tawa cekikikannya.


“Silakan, Gusti Putri,” ucap Badur sambil meletakkan kendi dan dua cangkirnya.


“Terima kasih, Badur,” ucap Putri Ani.


“Sepertinya Gusti Putri sedang bahagia. Sedang membicarakan pendekar berbibir merah itu ya?” tanya Badur ingin tahu sambil tersenyum sapi.

__ADS_1


Agak terkejut Putri Ani dan Rincing Kila mendengar terkaan Badur. Sebenarnya Badur hanya ingin membuktikan perkataan Joko Tenang yang katanya mendengar apa yang diperbincangkan oleh Putri Ani


“Bagaimana kau bisa tahu, Badur?” tanya Rincing Kila curiga.


“Pendekar itu yang bilang. Katanya dia mendengar Gusti Putri membicarakan tentang dirinya,” jawab Badur.


Seketika terbeliak dan terdiam Putri Ani Saraswani dan Rincing Kila mendengar jawaban Badur.


“Cepat pergi kau, Badur!” usir Rincing Kila.


“Baik, Gusti,” ucap Badur lalu segera pergi. Meski dia seorang pelayan, tetapi dia mengerti apa yang sedang terjadi terhadap Putri Ani. Karenanya, Badur pergi lalu tersenyum kemudian.


“Kenapa kau tersenyum seperti itu, Badur?” tanya Pantri Ewa saat melihat pelayannya tersenyum sendiri tanpa lawan tanding.


“Sepertinya Gusti Putri sedang jatuh cinta, Gusti,” jawab Badur sembari tersenyum lebar.


“Apakah itu mungkin? Tapi, jika melihat pendekar itu, dia memang sangat tampan dan memesona. Pantas saja jika sejak tadi Gusti Putri tertawa terus,” komentar Pantri Ewa. “Tapi setidaknya itu bagus bagi Gusti Putri agar tidak terkurung dalam kenangan kelamnya.”


Memerah wajah cantik Putri Ani Saraswani seperti udang ketemu api. Jelas-jelas memalukan jika Joko Tenang benar-benar bisa mendengar percakapannya dengan Rincing Kila. Sungguh dia tidak menyangka jika Joko bisa mendengar percakapannya dalam jarak sejauh itu.


Bukan hanya sang putri yang merasa malu, Rincing Kila juga memendam malunya, terlebih dia yang berhadapan wajah langsung kepada Joko Tenang.


Kabar dari Badur itu sukses membuat Putri Ani dan Rincing Kila tidak berani berbicara, takut percakapan mereka terdengar oleh Joko Tenang. Namun kemudian, kedua wanita itu jadi saling senyum sendiri di dalam ke-maluannya.


Sementara Joko Tenang sudah kusyuk menekuni makanannya seperti kucing rumah diberi makan oleh majikannya, tidak pakai acara tengak-tengok lagi. Pepes telur ikan perut emas terasa sangat lezat di lidahnya. Dia merasa, makanan itu layak direkomendasikan masuk dalam menu santap di Istana Sanggana Kecil.


“Dia sedang asik makan,” bisik Rincing Kila berbisik pelan.


“Lebih baik kita pindah lebih jauh,” kata Putri Ani, juga berbisik sangat pelan, tapi terdengar oleh Rincing Kila.


“Ke mana?” tanya Rincing Kila.


“Ke alam kubur!” jawab Putri Ani berbisik tapi mendelik kepada pengawalnya itu.


“Hihihi!” Rincing Kila tidak bisa menahan tawanya lagi mendengar jawaban junjungannya itu. Di saat dia bertanya serius, Putri Ani malah berseloroh.


Tiba-tiba Joko Tenang berhenti mengunyah. Dia cepat menengok ke arah Putri Ani dan Rincing Kila. Dia menengok cepat bukan karena mendengar suara tawa kedua gadis itu, tapi karena mendengar suara air yang tidak wajar di sisi bawah lantai.


Cprak! Cprak! Cprak!


Sing!


Terkejut Putri Ani Saraswani dan Rincing Kila saat tiba-tiba dari dalam air di bawah lantai rumah makan, berlompatan sosok-sosok berpakaian serba putih yang langsung naik mendarat di pinggiran lantai papan. Rincing Kila langsung mencabut pedangnya dan berdiri menjaga sang putri.

__ADS_1


Ada enam orang berpakaian putih yang menutupi separuh wajahnya dengan lilitan kain putih. Keenamnya juga berpedang di tangan kanan dan tangan kiri membara biru. Mereka langsung menyerang Putri Ani Saraswani dan Rincing Kila. (RH)


__ADS_2