Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit

Sanggana 6 Perjanjian Muara Jerit
Pemuji 48: Amukan Reksa Dipa


__ADS_3

*Perjanjian Muara Jerit (Pemuji)* 


 


Setelah menghancurkan formasi pengepungan Pasukan Kaki Gunung dengan hantaman energi ledak empat sinar merah, yang merenggut nyawa sejumlah prajurit, dua sosok duplikat Reksa Dipa kembali menghilang.


Serangan tingkat tinggi Reksa Dipa itu membuat formasi pengepungan berantakan.


Prajurit Wira Glalapan sebagai pemimpin pasukan itu, melompat dan berkelebat ke arah Reksa Dipa. Sebelum mencapai sosok Reksa Dipa, lebih dulu Glalapan menyabet-nyabetkan pedangnya di udara agar tidak mudah terdeteksi arah tebasannya.


Ini baru pemimpin, tidak seperti Ulakan yang penakut.


Set set!


Dak! Paks!


“Hukk!”


Dalam satu tarikan napas, Glalapan melakukan dua tebasan cepat kepada Reksa Dipa. Namun, Glalapan tidak tahu bahwa Reksa Dipa adalah pemimpin lebih seratus pendekar Pengawal Bunga.


Dengan gerakan tenang, Reksa Dipa menghindari kedua tebasan, meski pedang itu hanya berjarak satu jari dari kulit wajah saat melintas. Reksa Dipa langsung membalas dengan satu pukulan telapak bertenaga dalam tinggi yang masuk ke dada Glalapan. Namun, sang prajurit wira menghadang pukulan itu dengan pukulan segaya dari tangan kirinya.


Glalapan kalah tenaga dalam. Dia terdorong dan jatuh terjengkang. Untung dia pakai celana.


“Badak Berduri!” teriak Glalapan berkomando.


Breg breg breg!


Para prajurit Pasukan Kaki Gunung segera bergerak. Seperti robot transformer yang sedang berubah bentuk, pasukan itu memecah menjadi tiga kelompok dan saling merapat. Masing-masing kelompok berkumpul dan menutupi dirinya dengan tameng-tameng besarnya.


Hasilnya, ketiga kelompok prajurit itu membentuk seperti binatang jenis badak, ataulah sapi, ataulah gajah yang didesain dari lapisan tameng-tameng. Memiliki kepala buatan juga. Sementara para prajuritnya berlindung di dalam lapisan tameng. Dari sela-sela tameng itu terjulur tombak-tombak panjang seperti duri raksasa, terutama pada bagian depannya.


Ketiga kelompok itu benar-benar seperti robot binatang klasik berduri yang siap menyerang. Ternyata cara menyerangnya adalah para prajurit di dalamnya berlari cepat dengan langkah yang kompak. Terbukti tidak ada yang saling injak kaki seperti saat menonton layar tancap di gang sempit.


Ketiga formasi Badak Berduri itu berlari maju dari tiga arah, mengarahkan tombak-tombaknya yang menjulur panjang kepada tubuh Reksa Dipa.


Pendekar Serat Darah itu cepat melompat naik mengudara.


Set set set!


Syuf! Tes tes tes!


Tidak disangkanya, seiring naiknya tubuh Reksa Dipa, dari dalam ketiga formasi itu melesat tombak sinar warna hijau yang mengejar ke udara.


Reksa Dipa yang semula ingin menyerang dengan ilmu Sukma Bayang Wujud, memilih melindungi tubuhnya dengan memasang ilmu perisainya yang bernama Dinding Baja Merah, yaitu selapis bidang sinar merah yang muncul di depan tubuh Reksa Dipa.


Hasilnya, ketiga tombak sinar hijau mentah. Mereka hancur sendiri saat menusuk dinding sinar merah. Sementara Reksa Dipa tetap mengudara. Seiring ilmu perisainya lenyap, dia menghentakkan kedua tinjunya ke arah bawah.


Jes jes jes...!

__ADS_1


Bong bong bong...!


“Akk! Akh! Akk...!”


Masing-masing dari tinju Reksa Dipa melesat sepuluh sinar merah beruntun. Sepuluh sinar merah menghujani satu Badak Berduri. Jadi ada dua Badak Berduri yang menjadi sasaran. Formasi kedua Badak Berduri itu hancur pecah dengan tameng dan prajurit-prajurit di dalamnya berpentalan dan berjeritan.


Set!


Sementara satu Badak Berduri yang tidak ditarget kembali melesatkan tombak sinar hijau menyerang Reksa Dipa yang meluncur turun.


Blar!


Sambil mendaratkan kakinya di tanah, Reksa Dipa menghantamkan satu sinar merah kepada tombak sinar tersebut. Terciptalah ledakan energi yang membuat Reksa Dipa agak sempoyongan ke belakang. Itu hanya masalah tidak siapnya kuda-kuda Reksa Dipa.


Jes jes jes...!


Bong bong bong...!


“Akk! Akh! Akk...!”


Setelah peraduan kedua energi itu, Reksa Dipa kembali menghentakkan tinju kanannya yang melesatkan sepuluh sinar merah beruntun, menghantami tameng-tameng formasi Badak Berduri ketiga.


Badak Berduri itupun pecah berantakan dengan para prajuritnya berpentalan tidak karuan. Ada yang jatuh dengan kaki patah, ada yang jatuh bokong duluan, bahkan ada yang bergaya wajah lebih dulu mendarat.


“Panggil bantuaaan!” teriak Glalapan.


Set set!


“Hiaaat!” teriak Glalapan sambil berkelebat kepada Reksa Dipa. Tangan kanannya menyabet-nyabetkan pedang dan tangan kiri membara biru gelap seolah-olah mengandung racun ganas.


Ternyata Glalapan tangguh juga. Kali ini dia banyak menyerangkan pedangnya kepada Reksa Dipa, meski tidak ada yang mengenai sasaran. Reksa Dipa sempat banyak menghindar karena serangan tangan kiri yang membara biru gelap cukup membuat ngeri jika terkena.


Babak bubuk!


“Hukr!” keluh Glalapan sambil terdorong dengan mulut menyemburkan darah kental.


Itu terjadi setelah Reksa Dipa memahami gaya tarung Glalapan. Dua pukulan telapak tangan Reksa Dipa menghantam dada Glalapan. Disusul dua tonjokan keras ke perut Glalapan. Itulah kenapa Glalapan terdorong sambil menyemburkan darah kental.


“Hiaaat!” teriak beberapa prajurit Pasukan Kaki Gunung yang masih kuat untuk bertarung. Uniknya, kali ini mereka datang menyerang dengan kedua telapak tangan membara biru gelap.


Setiap prajurit Pasukan Kaki Gunung memang wajib menguasai ilmu Pukulan Laut Tenggelam. Jangan ditanya kenapa nama ilmunya sulit dipahami?


Jes jes jes...!


Bong bong bong...!


“Akk! Akh! Akk...!”


Belum lagi para prajurit itu sampai kepada lawannya, Reksa Dipa melesat mundur sambil menghentakkan tinju kanannya. Maka sepuluh sinar merah beruntun itu menghantam langsung tubuh-tubuh prajurit tersebut. Maka tidak ada pilihan lain selain kematian.

__ADS_1


Drap drap drap...!


“Seraaang!” teriak sekumpulan pasukan berseragam kuning-cokelat sambil ramai-ramai berlari ke arah posisi Reksa Dipa. Selain asik jika beramai-ramai, itu membuat semua menjadi berani.


“Lempaaar!” teriak pemimpin pasukan yang sepangkat Ulakan.


Set set set...!


Wusss!


Puluhan prajurit itu melemparkan tombak mereka ramai-ramai dengan satu target, yaitu Reksa Dipa.


Dengan cepat Reksa Dipa mengibas-ngibaskan kedua tangannya yang memunculkan angin kuat, menghadang tombak-tombak itu. Namun, hadangan angin kencang itu hanya bisa membelokkan separuh tombak yang terbang.


Hal itu membuat Reksa Dipa harus melompat bersalto demi menghindari sebagian tombak yang bergeming.


Teb teb teb...!


Tombak-tombak itu bertancapan di tanah tanpa ada yang mengenai target.


Puluhan prajurit dari Pasukan Keamanan Ibu Kota itu terus datang berlari memungut tombak-tombak mereka tanpa ada yang berebutan. Mereka tidak berhenti. Mereka terus mengejar posisi Reksa Dipa.


Drap drap drap...!


Pada saat yang sama, dari arah lain, muncul pula puluhan prajurit dari Pasukan Kaki Gunung yang dipimpin oleh seorang Prajurit Wira yang berkuda seorang diri.


Melihat kondisi yang semakin ramai, Reksa Dipa menimbang sesuatu.


“Jika pasukan yang datang semakin banyak, aku bisa terjebak,” pikir Reksa Dipa.


Maka Reksa Dipa pun memutuskan untuk mengakhiri pertarungannya.


Wes wes wes...!


Dari dalam tubuh Reksa Dipa tiba-tiba keluar berlesatan lima sosok duplikat dirinya. Setiap duplikat itu membawa dua sinar merah di tangannya.


Kelima sosok kembaran Reksa Dipa melesat mengudara ke lima arah. Dari ketinggian itu, kelima Reksa Dipa membanting sinar-sinarnya ke arah pasukan yang berdatangan.


Zess zess zess...! Bluar bluar bluar...!


Sepuluh ledakan hebat terjadi menghancurkan dua pasukan yang baru saja datang.


Hasilnya, belasan prajurit harus mati dan puluhan lainnya menderita luka ringan hingga berat.


Setelah itu, ternyata sosok asli Reksa Dipa telah menghilang dari tempat itu, membuat pasukan celingak-celinguk mencari orang yang telah mengalahkan mereka.


“Cari orang itu! Cepaaat!” teriak Prajurit Wira marah.


Namun, Reksa Dipa telah memilih untuk tidak masuk ke Ibu Kota yang ternyata penuh oleh pasukan kerajaan. Dia akhirnya memilih untuk kembali menemui istri dan rekan-rekannya di Pantai Segadis. (RH)

__ADS_1


__ADS_2