
*He****llo gaes.. RedPink kembali lagi nih.. 😊
Maaf ya gaes baru update,, karna real life ku lagi sibuk banget, masih riweh.
Redpink usahain buat cerita Satria walau pun dengan kesibukan yang padat dan makasih untuk teman teman sekalian yang masih mau mendukung ResPink ya...
Happy reading
• • • • • • • ***•
Satria menuju ke mejanya lagi tapi tetap saja mendiami Calla.
Calla tak tau kenapa Satria tiba tiba berubah....
Tak berapa lama Siska De'Gengs tiba tiba dateng gitu ajja langsung nimbruk di meja tempat duduk Satria, Davit saat ini.
"Aa' Davit....." suara manja Tika yang di buat buat memanggil Davit.
Tika mengambil kursi kosong yang di meja sebelah agar berdekatan dengan Davit dan sekarang tangannya mulai menggelayut di lengan Davit.
Sedangkan Siska, jangan ditanya... dia menggeser tempat duduk Calla dan sekarang malah duduk ditengah tengah sebagai pembatas antara Calla dan Satria.
"King... ooh ganteng ku." Ucap Siska seraya memeluk pundak Satria.
'Dasar mahkluk Halu main srobot.' Calla membatin kesal.
Calla melihat Siska yang main peluk peluk terhadap Satria merasa sangat risih dan tak suka. Ingin rasanya ia memuntahkan semua apa yang telah ia makan tadi.
Tiba tiba dada nya terasa sesak seperti tertimpah benda berat.
Benda berat yang tak kasat mata.
Satria cuek, dan memilih mengibaskan tangan Siska yang bertengger di pundaknya saat ini.
Satria terlihat risih atas perbuatan Siska.
Ya sangat terlihat jelas di wajahnya saat ini.
"Aah King... Jangan kasar. Queen ga suka." Ucapan Siska yang tak kalah dengan ucapan Tika yang manjanya seakan di buat buat agak mendesah dan itu membuat Satria makin risih.
Itu membuat Davit dan Calla tergelak melihat perlakuan Satria terhadap Siska seperti itu.
"kenapa ada 2 cewek uler disini." Dengan gaya sinisnya Siska menunjuk ke arah Calla dan Tam.
Calla dan Tam mendadak melotot.
"Apa loh melotot. Minta di congkel apa tuh mata?" Sarkas Siska lagi.
"Cewek uler apa maksut nya. Tolong jelasin?" Ucap Satria dingin dan dengan tatapan tajam nya pada Siska.
"ga kok ga ada king... udah lupain ajja perkataanku tadi." Ucap Siska gelgapan.
Calla udah ga betah duduk berdekatan dengan Siskah yang tikah lakunya seperti itu yang kehaluannya super super tingkat tinggi.
Tam pun juga merasakan hal yang sama dengan Calla. Udah ga betah lagi untuk berlama lama di tempat yang sama dengan De'Geng nya Siska itu. Apalagi satu meja dengan mereka.
Tam pun mengajak Calla untuk pindah meja.
Untung aja masih tersisa satu meja kosong. mereka pun duduk disana berdua.
Awalnya memang Calla berdua ama Tam, tapi tiba tiba ada 3 lelaki yang menghampiri meja itu dan ingin bergabung dengan Calla dan Tam.
"Hey cantik... boleh gabung disini ya?" Tanya salah satu lelaki itu dengan mata genitnya.
"Maaf tapi kita berdua lagi ga pingin di ganggu" Tolak Calla.
Ketiga mata lelaki itu melihat ke arah Calla dan Tam dengan Mata yang seakan mau menerjang saat itu juga. Tatapan mata penuh dengan nafsu.
"Gapapa, duduk ajja disini." Ucap Tam sambil menepuk kursi yang di samping nya itu.
ketiga lelaki itupun duduk dengan mereka sekarang.
"Gapapa lah Call... biar ga jenuh kale, dapat temen baru, keceh juga." bisik Tam pada Calla.
__ADS_1
Tapi Calla hanya menggeleng.
Dari meja lain, Mata Satria dan Davit tak lepas dengan pandangan ke meja Calla dan Tam.
"Brow nie anterin ajja tuh do'i pulang dari pada luh tersiksa melihat pemandangan kayak gitu. Gue tahu dan paham betul, eluh sebenernya ga suka kan Calla ditatap cowok lain, apalagi dengan tatapan ingin menerjang kayak mereka mereka semua. Udah sana gih keburu di samber cowok lain." Ucap Davit pada Satria dengan menyodorkan kunci mobilnya pada Satria.
"thanks ya Vit, eluh sahabat terbaik. Iya sebenernya dari tadi gue ga suka liat Calla memakai baju kayak gitu, mengundang mata mata lelaki genit untuk menikmati setiap inci pemandangan ditubuhnya itu. Ingin ku bunuh saja tiap lelaki yang memandang Calla seperti itu. Terus eluuh entar pulangnya gimana kalo mobil luh gue bawa."
"Itu mah gampang... udah sana." Davit segera mendorong pugung Satria agar pergi menuju ke meja Calla saat ini.
Satria langsung berjalan menuju meja Calla saat ini.
Setiba di meja itu, Satria tiba tiba menarik tangan Calla dan sontok membuat Tam dan ketiga lelaki itu kaget melihatnya.
Satria menarik dan membawa Calla keluar dari cafe itu.
Di luar cafe.
"Kak... sakit kak." Calla merasa sakit pada pergelangan tangannya karna terlalu keras digenggam oleh tangan Satria.
"Tolong lepasin, sakit ini." Calla meringis menahan sakit.
Satria tetap tak menggubris perkataan Calla.
"Kak Satria tolong lepasin. Kak satria kenapa sih." cicit Calla lagi.
" K A K S A T R I A . . . . . S A K I T" Teriak Calla dan itu sukses membuat Satria menghentikan langkah nya tepat di sebalah mobil Davit.
Satria menoleh kearah Calla dan saat ini terlihat mata satria sudah merah mengkilat menahan marah. Tatapan tajam ditujukan pada Calla.
Calla bergidik ngeri dan takut di tatap oleh Satria.
Badan Calla mulai menggigil karna takut.
Calla menunduk, menahan air matanya agar tak jatuh, tapi itu tak berhasil. Air mata Calla sudah terjatuh dipipi kenyalnya itu.
Tetap Calla menunduk agar Satria tak mengetahui jika saat ini ia sedang menangis.
Perlahan genggaman Satria dilepas dari pergelangan tangan Calla.
"Maaf..." Ucap Satria pelan dan penuh penyesalan.
"Maafin kakak... Maaf... "
Satria menarik tubuh Calla ke dekapannya dan mulai memeluk Calla. Calla meronta mencoba melepaskan diri dari dekapan Satria, tapi tak berhasil. Karna tutuh Satria mendekap dengan sangat rapat.
Calla menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang Satria. Calla semakin menangis dalam pelukan Satria dan itu membuat Satria semakin khawatir.
Satria mengusap usap punggung Calla dan sesekali ia juga mengusap puncak kepala Calla.
Satria mencium ubun ubun kepala Calla beberapa kali.
"Maafin kakak... kakak emosi, kakak tadi marah. Maaf... maaf Calla." kata maaf berulang ulang kali terucap pada mulut Satria.
Mereka berpelukan lama sekitar 20 menitan. Isak tangis Calla pun udah mulai mereda dan tak terdengar lagi. Hanya sesengguk.an saja.
Mata Calla merah dan sembab sehabis nangis dari tadi, air mata tadi yang kini masih tersisa di pipi Calla.
Satria mulai melepas pelukannya. Memberi sedikit jarak pada keduanya. Tangan nya menakup dagu Calla dan menarik ke atas. Mata mereka saling bertemu saling memandang.
"Maafin kakak ya." ucap Satria lembut dan di barengi tangan kanan beralih ke pipi kanan Calla dan mengelus pipi Calla dengan ibu jarinya. Satria tersenyum.
"Sakit kak." keluh Calla dengan suara serak sehabis nangisnya tadi.
"Mana yang sakit." Satria meraih pergelangan tangan Calla tadi yang ia tarik dengan paksa.
"Apa ini yang sakit..." kata Satria sambil mengelus elus pergelangan tangan Calla yang memerah itu dan seketika Satria mencium pergelangan itu.
Pipi Calla memerah, malu.. bercampur senang.
"Kita pulang. ayok kakak antar Calla pulang." Ajak Satria pada Calla.
Satria membukaan pintu buat Calla dan setelah itu Satria berlari kecil mengitari mobil dan membuka pintu disebelah pengemudi dan masuk.
__ADS_1
"Ini mobil siapa?" tanya Calla pada Satria saat Satria menyalakan mobil ini.
"Mobil Davit." Jawab Satria singkat.
Calla ber oh ria saja mendengarkan jawaban Satria.
Seketika hening... mereka diam tanpa kata.
"Kakak gak suka." suara Satria tiba tiba membuyarkan keheningna yang ada di dalam mobil itu.
Calla yang mendengar itu menoleh ke Satria.
"Kakak gak suka Calla memakai gaun ini. terlihat sexy. apa emang sengaja untuk mempertontonkan ini semua pada laki laki di cafe tadi." keluh Satria.
'Demi apa ini... apa kak Satria cemburu. Aah... tidak mungkin' batin Calla
"Ingin rasanya kakak marah, tapi kakak tahan dari tadi. ingin rasanya kakak membunuh semua laki laki yang menatap genit ke kamu tadi tapi kakak tahan. Jangan di ulangi lagi. kamu pahm kan" ucap Satria panjang lebar.
Calla mengangguk angguk saja.
"Jawab dong jangan mengangguk saja." keluh Satria lagi.
"iya.. Calla ngerti." Jawab Calla singkat.
'Senangnya melihat Kak Satria marah, bener emang dia lagi cemburu ke aku. ayok dong kak bilang jika kamu tuh suka ama aku, sayang ama aku, cinta ama aku. Buruan kak tembak Calla kak.' Batin Calla lagi dan penuh harap.
Calla senyum senyum sendiri mengingat apa yang tadi Satria katankan.
• • • • • • •
Di waktu yang sama di tempat lain di Cafe Bintang.
Tam masih asyik mengobrol dengan ketiga cowok tadi.
Tam terlihat asyik sampai ketawa ketiwi.
tiba tiba ada suara cowok lain yang membuyarkan obrolan mereka.
"Boleh pinjem bentar si Tam nya."
Tam menoleh dan didapati Davit di sampingnya.
"Bentar ya gaes, temen gua ada perlu kayaknya." ucap Tam pada ketiga cowok itu.
" Santai ajja, silahkan Tam." Ucap salah seorang dari ketiganya itu.
Davit mengajak Tam agak menjauh dari meja tadi.
"Ada apa." tanya Tam agak kesal.
"gue nebeng ya pulangnya. Soalnya mobil gua dipakek Satria nganter Calla pulang." bujuk Davit pada Tam memelas.
Ya.. sengaja Davit memasang wajah memelas pada Tam agar Tam yang melihat merasa kasian dan iba mungkin.
"Lah minta anterin noh.. san nooh ama cewek cacing loh noh." Jawab Tam judes.
Davit paham apa yang dimaksut Tam, tak lain tak bukan yaitu si Tika yang dijuluki cacing kepanasan sama si Tam.
"Tika ga bawa mobil. Do'i nebeng bareng Siska kemari. Boleh ya.. boleh ya... pliisss." Davit memohon penuh dengan wajah yang memelas.
ya.. aksi Davit sukses. Tam menyetujuinya.
Akhirnya Davit pulang bareng ama Tamara.
Bersambung . . . 😊
• • • • • •
Tungguim kisah selanjutnya ya..
Jangan lupa like, klik favorite dan komen jika kalian suka ama cerita Satria ya.
Tolong kasih rating bintang dong buat RedPink agar RedPink makin semangat lagi update nya...
__ADS_1
Makasih 🤗🤗
Salam Sayang dari RedPink 😘😍🤗