SATRIA

SATRIA
Bab 31


__ADS_3

Saat keluar dari ruangan Satria, Gadis langsung berjalan cepat menuju taman belakang kampusnya.


Sepanjang perjalanan, Gadis terus menahan dadanya. Sungguh dia sangat terkejut bisa bertemu lagi dengan Satria. Dia tak menyangka jika pria itu bisa ada di kampusnya, bahkan sekarang menjadi Dosen pengampu mata kuliahnya.


Sesampainya di taman, Gadis mendudukkan dirinya di kursi taman sembari menahan dadanya yang sejak tadi terus saja berdetak begitu hebatnya saat dari ruangan Satria hingga kini.


"Hoooh. Tenanglah, berhentilah untuk berdetak ayolah." Ucap Gadis bagaikan orang gila, dia berbicara sambil mengelus pelan dadanya sendiri karena tak nyaman dengan detak jantungnya yang tak stabil biasanya.


Mencoba menghembuskan nafasnya perlahan Gadis pun akhirnya bisa merasakan kembali jantungnya yang sudah mulai kembali normal setelah beberapa saat mencoba mengatur nafasnya. Karena dengan bicara saja jantungnya tetap tak mau mendengarkan dirinya.


"Om, Gadis kangen." Lirih Gadis setelahnya.


Setelah sekian lama merindukan Satria, akhirnya dia bisa melihat pria itu juga.


Sejak kejadian itu, Gadis tak lagi mendapatkan kabar dari Satria. Dia tahu itu akan terjadi, itu sebabnya dia pun menahan diri untuk tak menghubungi Satria juga.


Hubungan mereka tak ada kata pisah yang keluar dari salah satu di antara mereka. Namun Gadis tahu, sejak hari itu hubungan mereka benar-benar berakhir ketika Satria pun menghilang seketika dari hidupnya tanpa kabar. Yah pria itu mengikuti mau sang Papi, dan Gadis menghargai akan hal itu.


Saat sedang asik duduk mengingat kisah percintaannya itu, Gadis tak sadar jika sejak tadi ada yang memperhatikannya.


"Awww." Kaget Gadis sambil mengusap jidatnya saat dia merasa jidatnya itu ada yang menyentil. Tak terlalu sakit, namun kagetnya itu yang membuat Gadis kesal.


"Oh astaga Kak Dewa, kenapa mengagetkanku. Kalau jantungku copot gimana." Omel Gadis saat melihat orang yang menyentil nya tadi.


"Tinggal pasang lagi aja Dis kalau copot, lagian kakak perhatikan kamu melamun saja dari tadi." Ucap Dewa setelah duduk di sebelah Gadis, sambil mengusap kening wanita itu yang tadi di jahilinya.


"Apa ini sakit?" Tanya Dewa selanjutnya sambil mengusap kening Gadis.


"Nggak, jantungku yang bermasalah karena di kejutkan kakak tahu." Ucap Gadis jujur, karena baru saja dia menenangkan jantungnya. Kini malah kakak tingkatnya itu kembali mengagetkan dirinya.


"Hehehe, maaf maaf sini kakak usap." Ucap Dewa jahil.


"Dasar mesum kamu kak." Kesal Gadis membuat Dewa tertawa di buatnya.


"Hahaha, becanda sayang. Lagian kalau mau kakak usap, tunggu jadi istri kakak dulu yah." Ucap Dewa dengan menaik turunkan keningnya.


"Nggak lucu kak, sudah ah aku mau ke kelas dulu. Udah waktunya nih." Kata Gadis sambil beranjak berdiri dari duduknya.


"Yuk barengan, kakak ada kelas juga samping ruangan kamu." Ucap Dewa dan Gadis hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Kakak." Panggil Gadis dengan menghentikan langkahnya sambil menatap ke arah tangannya yang kini di genggam Dewa tanpa permisi.


"Hehehe, lupa lagi kirain kita udah jadian." Ucap Dewa dengan santainya.


"Humm, buru nanti kita telat kak." Ucap Gadis sambil melepas tangan Dewa yang tak kunjung pria itu lepas.

__ADS_1


Lepas mengatakan itu, Gadis langsung melangkah duluan meninggalkan Dewa yang sedang protes karena genggaman tangannya di lepas Gadis..


"Aduh kok udah masuk sih." Gerutu Gadis saat dia melihat sosok Dosen yang dia kenal masuk di ruangan kelasnya.


"Kakak sih, aku jadi telat kan jadinya." Lanjut Gadis lagi saat Dewa menyamai langkah lebarnya.


"Dih, kok aku yang salah." Ucap Dewa menunjuk dirinya sendiri.


"Iya lah." kesal Gadis dan langsung melangkah pelan ke arah pintu masuk ruang kelasnya.


"Aku duluan yah." Kata Dewa sambil mengusap kepala Gadis tepat pas di depan kelas membuat Gadis terkejut di buatnya. Pasalnya kini seisi kelas sedang menatapnya, tak terkecuali Dosen yang tadi baru dia temui.


"Permisi Pak, maaf terlambat." Ucap Gadis sambil menunduk tak mampu menatap Satria yang kini sedang menatapnya Dingin.


"Lain kali jika saya sudah di ruangan, bagi siapa saja jangan coba-coba untuk masuk lagi. Kamu kali ini saya maafkan tapi tidak untuk besok, silahkan masuk." Ucap Satria sambil dia menaruh barang bawaannya di atas meja.


"Makasih Pak." Lirih Gadis pelan sambil berjalan masuk.


"Ok, semuanya kalian pasti baru melihat saya kan?" Ucap Satria saat memulai kelasnya.


Mendengar itu semua yang di dalam kelas langsung mengiyakan ucapannya.


"Baiklah, saya adalah pengganti Pak Teo yang mengajar kalian sebelumnya. Sebab memang saya yang seharusnya mengajar di kelas ini, namun karena saya beberapa bulan yang lalu ada sedikit kerjaan di luar kota. Itu sebabnya Pak Teo mengambil alih kelas ini. Dan sekarang, saya mengambil alih kembali kelas kalian." Ucap Satria menjelaskan.


"Saya Satria Bima Kusuma, Panggil saja Pak Satria."


Setelah itu, Satria langsung melanjutkan materi yang pernah di bawa Dosen sebelumnya.


Sepanjang Mengajar, Satria sering sekali mencuri tatap ke arah Gadis namun tak di sadari gadis itu karena lagi sibuk sendiri dengan Bunga sahabatnya. Namun Satria tetap menunjukan raut dinginnya, hingga membuat kelas pun nampak tak ada yang bersuara.


"Aww." Aduh pelan Bunga sahabat Gadis. Wanita itu nampak tak memperdulikan Gadis saat wanita itu mulai dari duduk di sebelahnya hingga sampai pelajaran sudah di mulai kini.


"Kenapa di cubit Dis, sakit tahu." Lanjut Bunga lagi sambil mengusap pahanya yang di cubit Gadis.


"Habis biasa aja kali lihatin dosennya. Aku masuk aja kamu nggak nanya seperti biasanya." Bisik Gadis merasa aneh dengan tingkah sahabatnya itu. Padahal jika dia terlambat sedikit saja, pasti Bunga akan banyak bertanya kepadanya.


"Bagaimana mau biasa Gadis. Tuh lihat wajahnya Pak Kasatria sudah mengalihkan duniaku tahu. Dan bukan aku aja yah tuh lihatin semua cewe-cewe kelas ini, tuh pada nggak kedip lihatin tuh dosen baru. Cakepnya keterlaluan, Ah pantes nggak ada dosen yang cakep di sini. Orang cakepnya udah di borong semua sama Pak Kasatria." Jelas Bunga berbinar, namun pandangannya tak mau lepas dari Satria. Dia juga tak menanggapi ucapan Gadis tentang keterlambatan wanita itu tadi.


"Pingin peluk." Lanjut Bunga lagi.


Mendengar itu Gadis hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis pikir, bisa bisanya Bunga berbicara seperti orang kena sihir seperti itu.


Dan lagi, dia juga merasa aneh teman-teman wanita di kelasnya itu. Mereka semuanya bertingkah seperti Bunga, apa mereka tak pernah melihat pria tampan sebelumnya hingga melihat Satria se begitunya. Bahkan pandangan mereka seperti pandangan wanita yang haus akan ketampanan pria, pikir Gadis.


"Dih ganjen kamu Bunga, dan lagi tuh Dosen namanya Satria bukan Kasatria." Ketus Gadis dia kesal karena Satria jadi bahan perhatian banyak wanita kini. Kalau saja mereka masih berhubungan, sudah pasti Gadis akan melarang keras Satria untuk mengajar dikelasnya kalau seperti ini kejadiannya..

__ADS_1


"Emang kamu nggak pengen di peluk tuh Dosen cakep apa?" Tanya Bunga.


"Udah sering." Ucap Gadis tanpa sadar karena sakin kesalnya.


"Lo udah sering peluk Dosen Kasatria, kalian saling kenal." Tanya Bunga penasaran saat mendengar perkataan Gadis itu.


"Mana ada, orang ketemunya baru ini. Dan jangan melebihkan nama orang Bunga, Pak Satria bukan Kasatria."


"Diih, aku kira beneran. Dan lagi panggilan sayang aku tuh buat Dosgan kita itu, Ah Kasatria." Jawab Bunga sambil memangku dagunya menatap kembali Satria yang nampak serius menerangkan.


"Terserah lo dah." Pasrah Gadis.


***


Usai menerangkan Satria langsung menutup kelasnya.


"Kalian berdua tetap di sini." Ucap Satria pada Gadis juga Bunga.


"Hah." Ucap Gadis shock namun tidak dengan Bunga yang nampak semangat.


"Siap Pak." Jawab Bunga semangat empat lima. Sementara yang lainnya keluar ruangan dengan perasaan kesal karena bukan mereka yang di minta Satria untuk tetap stay di ruangan bersamanya.


Setelah kelas kosong, kini Satria langsung berjalan ke arah Gadis juga Bunga.


"Silahkan meringkas buku halaman seratus sampai lima ratus, dan besok kumpulkan di ruangan saya tepat pukul delapan pagi. Ingat tulis tangan. Lain kali jika kalian diskusi lagi di kelas saya seperti tadi, silahkan tawar mata kuliah saya tahun depan." Ucap Satria yang tadi saat mengajar dia melihat Gadis juga temannya itu nampak mengobrol asik.


"Baik pak, siap laksanakan." Ucap Bunga semangat, sementara Gadis nampak tak percaya dengan yang di ucapkan Satria barusan.


Usai mengatakan itu, Satria langsung pergi meninggalkan mereka dengan menahan tawanya saat melihat keterkejutan Gadis atas perintahnya tadi.


"Lo koh main nerima-nerima aja sih. Itu banyak banget tahu, 100-500 halaman. Oh tidak, dasar gi*a tuh dosen, mana nulis tangan lagi. Bisa lepas semua sendi jari-jari aku yang ada." Gerutu Gadis.


"Sudah entar aku ajarin triknya, kan di minta ringkas kan bukan nulis semua." Ucap Bunga dengan entengnya.


Mendengar itu Gadis jadi paham, dan dia langsung mengembangkan senyum jahilnya saat sebuah ide tiba-tiba terlintas.


Sementara Satria saat melangkah keluar, pria itu langsung mengembangkan senyumnya saat mengingat kembali wajah terkejut Gadis. Sungguh sangat menggemaskan sekali pikirnya.


Kalau saja tadi tak ada Temannya Gadis tadi. Ingin sekali Satria mencubit pipi merah gadis itu yang kini nampak lebih berisi dari sebelumnya.


"Aku sangat merindukan kamu sayang." Batin Satria saat kini dia sudah tiba di ruangannya.


"Tapi tadi siapa yah." Ucapnya saat mengingat pria yang mengusap kepala Gadis tadi di depan kelas.


Memikirkan itu Satria jadi kesal sendiri.

__ADS_1


"Awas saja kalau kamu berani macam-macam Gadis." Geram Satria yang sudah memikirkan yang tidak-tidak.


__ADS_2