SATRIA

SATRIA
Bab 51


__ADS_3

Usai mendengar cerita Gadis tentang kisah empat tahun lalu yang tak dia ketahui itu, Satria pun membawa Gadis dalam dekapannya, mereka berdua seakan diam tanpa suara untuk beberapa waktu dengan Satria yang selalu mengusap punggung Gadis lembut.


Mencoba menyalurkan perasaan bersalahnya untuk kejadian empat tahun lalu.


Hingga sampai dimana Satria merasakan tarikan nafas halus teratur dari Gadis bertanda wanita itu telah terlelap tidur.


"Hmm, putri kita menuruni gaya tidurmu sayang." Ucap Satria sembari tersenyum mengintip sebentar wajah Gadis yang sudah terlelap tidur dengan mata bengkaknya usai di pakai menangis tadi.


Satria jadi teringat kembali dengan Arsyila yang tadi bisa tertidur dengan mudahnya hanya dalam dekapannya yang sebentar.


"Aku janji padamu sayang, siapapun itu kedepannya tak akan aku biarkan se ujung kuku pun mereka memisahkan kita lagi. Tidak dengan Papi sekalipun. Cukup sudah kamu dan aku hidup tersiksa karena keegoisan keluargaku, tidak lagi untuk kedepannya." Ucap janji Satria sambil mencium sayang puncak kepala Gadis dengan tangannya yang tak henti hentinya mengusap punggung Gadis.


Dia berjanji, akan membayar semua kesusahan kesedihan Gadis empat tahun lalu dengan bahagia yang akan dia ciptakan kedepannya untuk keluarga kecilnya itu.


Usai puas dia mencium Gadis. Satria pun langsung membawa Gadis nya itu ke tempat tidurnya untuk menidurkan wanita itu di sana dengan nyaman. Saat dia hendak membaringkan Gadis di sana, dengan dia melepas dirinya perlahan dari Gadis. Namun Gadis malah menahannya.


"Jangan pergi Om." Lirih Gadis dengan begitu sedihnya di telinga Satria, padahal wanita itu masih terlelap dalam tidurnya.


"Aku di sini sayang, nggak akan pernah ninggalin kamu." Ucap Satria dengan mata berkaca-kacanya dan dia langsung merebahkan dirinya bersamaan dengan Gadis.


"Maafkan aku, untuk empat tahun terberat mu sayang. maafkan aku tak ada di sisimu kala itu." Kata Satria sedih melihat Gadis yang tertidur, namun kesedihan terlihat jelas dalam wajah tidurnya.


"Apa sebegitu menderita kah dirimu sayang." Batin Satria.


Pria itu, memeluk erat Gadis yang nampak tetap nyaman dalam tidurnya itu. Sampai beberapa saat dia menemani Gadis tidur, dirinya pun sampai ikut terlelap tanpa sadar.


Sampai dimana Satria merasakan ada sebuah tangan kecil yang menoel noel hidungnya berulang kali, membuat Satria membuka matanya dan langsung tersenyum saat melihat putri kecilnya yang nampak tersenyum memamerkan deretan gigi putih mungilnya menatap dirinya. Dia pun langsung beralih menatap Gadis yang masih tertidur pulas dalam pelukannya.


"Kukira hanya mimpi." Batin Satria tersenyum dan kembali menatap putri kecilnya, dia berpikir jika tadi dia bermimpi tentang pertemuannya dengan Gadis juga putrinya itu.

__ADS_1


"Cila sayang." Panggil Satria namun Arsyila putrinya itu langsung menaruh jari telunjuknya di hadapan bibir mungilnya dengan sedikit ucapan suuut, pertanda Satria harus berhenti berbicara.


"Danan belicik Dady, tata Bunda danan belicik talau Mami ladi bobo." Ucap Pelan Arsyila di dekat Satria.


Dan dengan perlahan, Satria langsung bangun dan melepas tubuhnya yang sedang merengkuh tubuh Maminya Cila itu.


Satria langsung menggendong Arsyila keluar kamarnya dan membawa bocah kecil itu ke arah ruang tamu.


"Cila bangunnya dari tadi yah?" Tanya Satria sambil dia menduduki bokongnya pada sofa dengan Arsyila yang masih dalam gendongannya.


"He'em, dali tadi Dady. Cila.... Cila cali-cali Mami cali-cali Dady, Dady na tama Mami na nda ada. Ya cuda cila... Cila te tamal itu aja, tapi pintuna cuca buta. Untun Cila pintal, pelna di adalin Dada Dim tala butana." Jelas Arsyila dengan banyak kalimat yang dia berpikir lama untuk mengucapkannya membuat mata Satria gemas menatap bibir mungil nan lincah itu ketika berceloteh walau agak sedikit lama selesainya..


"Bagaimana caranya?" Tanya Satria yang sungguh gemas dengan gaya bicara serta kaliamat kalimat lucu yang Arsyila lontarkan.


"Bedini, Dady. Cini Cila tunduin." Ucap Arsyila karena dia tak bisa menjelaskan bagaimana cara dia melakukannya, itu sebabnya dia langsung turun dari pangkuan Satria dan berlari menuju pintu kamar untuk mempraktekan secara langsung cara dia membuka pintu kamar Satria.


Sementara Satria dia mengekor di belakang Arsyila yang menarik tangannya .


"To cuca ya, tadi Cila bica." Ucap Arsyila karena beberapa kali iya mencoba tetap saja pintunya tak bisa terbuka, padahal tadi dia bisa melakukannya dengan cepat.


"Nah ini bisa." Ucap Satria setelah mendorong pelan pintu yang tak Arsyila dorong tapi dia tarik itu.


"Hahaha, ahilna bica Dady. Tadi Cila butana tepelti itu. Ucpcccc." Ucap Arsyila berteriak dengan tawa senang, namun saat matanya tertuju pada Maminya yang nampak bergerak dalam tidurnya di dalam sana. Arsyila langsung membekap mulutnya.


"Ampil caja." Ucap Arsyila setelah dia menatap lama Maminya yang nampak tak terganggu dengan teriakannya tadi.


Bocah itu langsung menarik tangan Satria untuk pergi dari depan kamar itu, agar mereka tak mengganggu tidur Maminya..


"Cila lapal Dady." Ucap Arsyila sambil berjalan dan menarik tangan Satria.

__ADS_1


"Ayo kita cari makan, ke mall depan mau?" Tanya Satria semangat, entah kenapa dia ingin jalan dengan Arsyila sekarang ini.


"Mau, Cila mau. Ayo Dady." Ucap Arsyila tak kalah semangatnya. Dia bahkan langsung menarik tangan Satria ke arah pintu.


"Kita bangunin Mami dulu, biar sama-sama kita pergi makannya." Saran Satria yang entah kenapa, dia tak mau meninggalkan Gadis barang sejenak sekalipun.


"Danan, danan banunin Mami. Tata Bunda nda boleh dandu Mami talau ladi bobo." Larang Arsyila membuat Kening Satria berkerut.


"Memangnya kenapa?" Tanya Satria, karena sejak tadi Arsyila selalu saja khawatir jika obrolan atau gerakan mereka bisa membangunkan Gadis yang sedang tidur.


"Mami Dis dalan tidul Dady, matana talau Mami tidul nda bole di dandu tata Bunda." Jelas Asrsyila membuat Satria terkejut.


"Apa separah itukah dirimu tanpa aku sayang." Batin Satria mendengar penuturan Arsyila.


"Hmm, anak pintar. Sayangi Mami Dis selalu ya sayang." Ucap Satria sambil berjongkok dan mengusap sayang kepala Arsyila yang sungguh pengertian dengan Maminya.


"Ote Dady." Sahut Arsyila.


"Kalau gitu, Cila tunggu sebentar yah. Dady lihat Maminya sebentar dulu yah." Ucap Satria sambil dia menggendong Arsyila dan menduduki putrinya itu di sofa.


"Baitlah Dady, danan lama. Cila lapal." Kata Arsyila dan di iya kan Satria.


Pria itupun langsung berjalan ke arah kamarnya, berjalan menuju tempat dimana wanita kesayangannya nampak tertidur dengan damainya.


Satria menatap wajah Gadis yang nampak menempel pada bantal sambil tangannya mengusap sayang surai indah milik Gadis.


Tanpa berucap Satria menunduk memeluk Gadis dengan mata berkaca kacanya menahan tangis yang entah kenapa ingin keluar saat memeluk wanita itu.


Hingga beberapa saat, Satria pun melepas Pelukannya yang nampak tak mengganggu tidur Gadis.

__ADS_1


"Apa secapek itukah dirimu sayang, sampai pergerakan ku pun tak membangunkan dirimu." Lirih Satria.


__ADS_2