
Usai berbicara pada Bunda Gadis kini. Tinggallah Satria juga Gadis sendiri di ruang depan setelah tadi Bunda pamit untuk istirahat, karena memang waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam..
"Om mau nginap apa langsung balik?" Tanya Gadis, sebab Satria seperti tak ada niatan untuk pulang. Tubuhnya selepas kepergian Bunda terus di peluk Satria erat dengan betahnya.
"Aku nginap yah? Bunda kan yang minta tadi, apa kamu lupa?" Ucap Satria, memang tadi Bunda memintanya untuk nginap saja karena memang waktu yang sudah larut. Dan dia dengan suka rela tanpa di paksa akan menerima tawaran berharga menurutnya itu.
"Ya udah yuk, aku antar ke kamar tamu yah. Kasian Cila tidur sendiri sekarang, aku harus segera ke kamar." Kata Gadis sembari melepas tangan Satria yang seakan menempel pada tubuhnya itu dan tak mau di lepas oleh pria itu..
"Kenapa kamar tamu, aku mau tidur sama kamu juga Cila sayang." Protes Satria, karena dia sudah bermimpi sejak tadi akan menghabiskan malam pertamanya tidur di rumah ini bersama Gadis juga Cila setelah sekian lama tak jumpa mereka..
"Tapi.."
"Nggak ada tapi tapian, aku kangen kamu Dis. Apa kamu tega. Please yah, boleh yah." Ucap Satria mengiba dengan raut sok sedihnya, padahal di awal kalimat dia seolah tak mau di bantah wanitanya itu.
"Tapi apa Om nggak malu sama Bunda, kita tidur bareng?"
"Apa tadi Bunda melarang kita tidur bersama? atau memintaku tidur di ruang tamu?" Tanya balik Satria dan Gadis hanya menggelengkan kepalanya. Memang benar Bundanya itu tadi tak mewanti-wanti mereka untuk tidur bersama.
"Ya udah ayo, aku udah ngantuk." Ucap Satria dan tanpa menunggu jawaban Gadis, Satria langsung menggendong Gadis dalam dekapannya dan melangkah pergi membuat Gadis dengan spontan melingkarkan kedua tangannya di leher Satria.
"Ah, jangan gitu Om. Geli." Ucap Gadis saat Satria masih sempat-sempatnya berjalan sambil mencium seluruh wajahnya dengan gemas.
"Makanya jangan Gerak, nanti kita jatuh."
"Hahaha, makanya Om juga berhenti menganggu aku. Kita bisa jatuh, karena ulah Om sendiri."
"Hahaha, iya juga yah. Ah, aku sangat merindukanmu Gadis."
"Aku lebih merindukanmu Om, asal kau tahu." Ucap Gadis dan mereka hilang di balik tembok menuju ruang belakang.
"Semoga setelah ini kebahagiaan selalu ada untukmu nak, Bunda tak akan pernah putus mendoakan kebahagian mu juga Cila sayang." Ucap Lirih Bunda, sebenarnya sejak tadi Bunda tak lantas meninggalkan tempat itu. Sejak tadi beliau memperhatikan Satria juga Gadis dari tembok pemisah ruangan itu.
__ADS_1
Obrolan serta tawa dari keduanya tadi beliau saksikan semua tanpa terlewatkan sedikitpun, sungguh sudah sejak lama Bunda tak pernah melihat lagi senyum luas Gadis seperti tadi saat bersama dengan Satria. Putrinya itu seakan kembali seperti Gadis yang ceria seperti dulu. Gadis periang nya.
Usai mengatakan itu, Bunda langsung pergi menuju kamarnya.
***
"Hah hah hah, apa kau mau membunuhku Om." Protes Gadis sembari mengatur nafasnya selepas ciumannya bersama Satria berakhir dan bersandar pada pundak Satria yang juga sama sedang mengatur nafasnya sembari pria itu bersandar pada pintu kamar Gadis.
"Maaf, kau juga menikmatinya. Habis nafas baru protes." Ucap Satria Sembari melangkah ke arah tempat tidur dan merebahkan Gadis di sebelah Arsyila yang masih terlelap.
"Iss, sana minggir. Berat tahu." Ucap Gadis, sebab Satria kini sedang menindih tubuhnya dengan kepala pria itu yang bersandar pada dadanya.
"Oh astaga." Kaget Gadis karena kini Satria malah dengan cepat merubah posisi mereka dengan dirinya yang kini sudah berada di atas tubuh pria itu.
"Pelan kan suaramu Sayang, kalau nggak mau Arsyila melihat kita seperti ini." Ucap Satria sembari satu tangannya yang bebas memeluk Gadis, dia gunakan untuk memperbaiki rambut Gadis yang menutupi wajah cantik gadisnya itu.
"Om sih, bergerak nggak kira-kira. Lepasin, aku berat tahu. Apa Om nggak sesak nafas, aku tindih gini." Tanya Gadis sedikit beralasan karena posisi ini mengingatkan dia akan kejadian empat tahun lalu, yang membuatnya kini jadi malu sendiri.
"Terserah kalau gitu." Pasrah Gadis sembari dirinya mengulurkan tangannya mengusap legan Satria yang sedang memeluk erat tubuhnya sembari dirinya melantunkan doa harapannya pada sang pencipta yang sudah mengabulkan doanya.
"Terima kasih Tuhan, kau telah mendengar dan mengabulkan doaku. Terima kasih atas Satria yang telah kau kembalikan." Batin Gadis tanpa terasa air matanya kembali menetes hingga membasahi baju Satria
"Apa aku harus tidur dengan baju basah ini." Ucap Satria ketika tersadar ada rasa basah di dadanya.
"Kenapa menangis lagi hmm." Lanjut Satria sembari merubah posisi mereka menjadi saling bersampingan dengan dua tangannya dia gunakan untuk menagkup wajah Gadis.
"Aku hanya bahagia." Ucap Gadis sambil menundukkan pandangannya.
"Tatap aku sayang, Apa benar begitu?" Tanya Satria.
"Yah, terima kasih sudah kembali Om." Ucap Gadis dan dia langsung masuk, menyusupkan wajahnya di dada Satria.
__ADS_1
"Hm, aku kira apa sayang. Terima kasih juga karena tak membenciku dan masih menungguku sayang. Tapi apa boleh kau mengganti bajumu ini, aku bisa merasakan seluruh punggungmu dan ini berbahaya untukmu." Ucap Satria yang sedang membenamkan kepalanya di punggung terbuka gadis, yang entah sejak kapan tali tali baju di punggung Gadis terlepas dan memperlihatkan punggung terbuka nan mulus wanita itu.
Dengan cepat, Gadis langsung melepas pelukan mereka. Dan benar saja, bahkan saat tubuhnya dan tubuh Satria terpisah baju bagian depannya pun sudah sebagian terlepas.
"Oh astaga." Ucap Gadis cepat dia langsung memasangkan kembali tangan baju satunya yang sudah terlepas.
"Makanya kalau ada dalaman bajunya itu di pakai, jangan ngeyel. Dimana kamar mandinya, panas niih aku mau mandi sebentar sayang." Ucap Satria sambil mendudukkan dirinya menghadap Gadis yang sedang sibuk dengan bajunya.
"Sana, di balik pintu itu." Ucap Gadis cepat, dan dirinya lebih dulu ke arah pintu yang dia tunjuk untuk mengambil baju tidurnya. Karena memang, tempat pakaiannya terhubung langsung ke arah kamar mandi.
"Kamu juga mau ikut mandi?" Tanya Satria bingung, karena kini Gadis yang sudah berjalan ke arah pintu itu.
"Jangan mesum, aku hanya mau mengambil baju tidur." Ucap Gadis sembari mendelik kan matanya mendengar ucapan Satria.
"Haha, aku kira. Barengan juga nggak papa kok aku ikhlas.." Sahut Satria sembari mengekor di belakang Gadis.
"Itu maunya kamu." Ucap Gadis sembari dia membuka lemari pakaiannya ketika sudah di dalam ruang gantinya.
"Memang maunya aku, oh iya sekalian siapin baju kamu sama baju Cila buat besok kita ke kota orang tuaku ya sayang. Dua-dua helai saja, soalnya kita nginap sehari saja langsung balik lagi." Ucap Satria sembari dia menyandarkan lengannya di lemari samping Gadis sambil dia melihat Gadis.
Mendengar itu Gadis langsung menghentikan aktifitasnya dan menatap Satria.
"Apa aku akan di tolak lagi Om?"
"Di terima atau di tolak, semua tak akan menghentikan aku menikahi mu sayang. Jangan khawatir."
"Janji, tak akan meninggalkan aku lagi Om.?" Ucap Gadis tiba-tiba merasa khawatir ingin menjumpai keluarga Satria. Tiba-tiba saja dia trauma mengingat penolakan keluarga prianya itu.
"Kamu yang harus berjanji tak akan meninggalkan aku, apapun yang terjadi? Sebab tak ada niatan ku kembali melepas dirimu sampai kapanpun itu."
Mereka berdua pun saling tatap dan mengucapkan kalimat yang sama.
__ADS_1
"Aku berjanji tak akan meninggalkanmu dalam situasi apapun." Ucap keduanya dengan Satria yang memimpin, setelah itu mereka pun saling memeluk menguatkan satu sama yang lainnya.