
............Happy reading🌹 ...........
"Mami." Panggil Gadis saat dia tersentak kaget melihat Mami Eka sedang mengusap air matanya. Gadis sekarang sudah sering memanggil Mami Eka dengan sebutan Mami, karena beliau sendiri yang meminta hal itu.
"Ya sayang."
Buru-buru Mami Eka langsung menghapus sisa air matanya karena ketahuan di lihat calon mantu sekaligus besannya itu.
"Sudah lama Mbak, maaf tak menyadari." Ucap Bunda Gadis sembari beliau berdiri menyambut Maminya Satria, setelah sebelumnya beliau juga merapikan diri buru-buru agar tak terlihat berantakan usai perbincangan penuh air mata antar ibu dan anak itu.
"Lumayan, maaf sudah lancang mencuri dengar percakapan kalian. Sekali lagi maaf untuk luka yang keluarga kami berikan." Ucap tulus Mami Eka.
"Ah Mbak bicara apa, yang berlalu tak perlu lagi di ungkit. Sekarang kita harus menyambut masa depan yang sebentar lagi akan kita mulai raih bersama. Anggap saja sebelumnya hanya angin lalu." Sahut Bunda, beliau tak mempermasalahkan yang tadi di dengar calon besannya itu. Karena itu hal wajar bagi orang tua yang akan melepas sang anak untuk kehidupan barunya. Itu sebabnya beliau hanya mengomentari kalimat terakhir dari sang calon besannya itu.
"Hmm, terima kasih kalian orang baik. Keluarga kami sungguh sangat beruntung bisa masuk manjadi keluarga ini." Ucap Mami Eka sembari memeluk Bunda Gadis, mencoba menyalurkan rasa bahagia sekaligus rasa bersalahnya secara bersamaan.
"Kami pun begitu." Balas Bunda membalas pelukan Mami Eka. Beliau bahagia kini, hubungan antara kedua keluarga yang sejak lama renggang kini kembali membaik.
Sementara Gadis dia hanya tersenyum haru melihat kedua ibunya itu dengan perasaan menghangat. Sungguh Tuhan begitu teramat baik padanya, pikir Gadis berucap syukur atas apa yang dia miliki sekarang.
"Gadis!!" Panggil Mami Eka beralih pada Gadis setelah usai melepas pelukan dengan Bunda calon menantunya itu ..
"Kau sangat sangat luar biasa cantik Nak, Satria beruntung bisa memiliki kamu sayang. Mami yang wanita saja jatuh cinta dengan wajahmu sayang." Lanjut Mami Eka
Bukan tanpa alasan Mami Eka mengatakan itu karena dalam wajah basah sehabis menangis Gadis pun, wanita itu masih terlihat amat sangat cantik manis dengan wajah imutnya yang tak berubah sedikitpun. Apa lagi di tambah polesan ajaib di wajahnya membuat Gadis bertambah terpancar keluar aura sempurnanya, wajah mudahnya begitu mendominasi hingga mungkin siapa saja yang melihatnya tak akan percaya jika wanita itu bahkan sudah memiliki putri kecil saat ini.
Mendengar itu seketika wajah Gadis jadi bersemu merah menambah kegemasan Mami Eka di buatnya.
"Mami." Arsyila yang baru memasuki kamar bersama tante Mi, membuat semua atensi di ruangan itu beralih padanya.
"Hey sayang." Jawab Gadis hingga dia tak sempat membalas lontaran pujian dari calon mertuanya itu.
"Mami." Seru Gadis pada Mami Eka, membuat wanita dewasa itu menatap tersenyum Gadis dan beralih pada sang cucu.
"Cila sayang, kok cucu Oma kesini sih. Katanya tadi mau nemenin Dady." kata Mami Eka mengingat tadi dia mengajak bocah itu untuk ikut bersamanya namun di tolak Cila dengan alasan ingin bersama Dadynya.
"Dady bitin Cila pucin Oma, Dady telus tesana temali mutel mutel. Tan Cila pucin lihatnya, iya tan Oma Mia." Ucap Arsyila sembari dirinya memperagakan gaya mondar-mandirnya Satria d seluruh ruangan besar itu dengan mengunakan gaun senada seperti yang di kenakan Maminya.
__ADS_1
Seketika semua yang ada di sana tersenyum di buatnya. Sungguh Bocah itu berhasil membuat semuanya seketika jadi menggelengkan kepala melihat tingkah dewasanya.
"Oh anak Buna pintar sekali siih." Ucap Bunda yang gemas dengan tingkah lucu sang cucu.
"Eman pintal Buna, tapi buat pucin Cila tahu." Ucap Arsyila, dan lagi lagi membuat semua gemas dengannya.
Hingga beberapa saat mereka mendengar curhatan Arsyila, sampai tiba dimana mereka di beri kabar jika sebentar lagi acara pernikahan akan segera berlangsung. Mengingat Jam sudah menunjukkan acara akan di mulai.
Gadis pun kembali dirias karena tadi ada adegan menangis yang hingga membuat mereka harus sedikit memperbaiki riasan di wajah Gadis.
***
Kini, tepatnya di ruang aula pernikahan sudah di penuhi dengan para undangan. Termasuk seluruh keluarga besar kedua mempelai. Papi Mami Satria sudah berada di sana juga mendampingi. Sementara Gadis dan Bundanya belum nampak di sana, hanya Dimas yang sudah duduk manis sebagai wali nikah adik perempuannya itu.
Karena memang adat dari keluarga Gadis yang mereka pakai, dimana ketika mempelai Pria sudah mengiklar janji pernikahan terlebih dahulu dengan hanya di saksikan oleh mempelai wanita dari layar yang sudah di siapkan di ruangan mempelai.
Setelah kata sah yang terdengar bergema di ruangan, yang juga di dengar dan di saksikan Gadis dan Bundanya. Barulah Gadis di persilahkan untuk di bawa masuk menuju Satria yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
***
"Selamat Sayang." Ucap Bunda memeluk Gadis yang berada di sampingnya, sementara Gadis bibirnya serasa keluh setelah mendengar kalimat Sah yang baru saja terucap.
Tak berselang lama, Dimas memasuki ruangan setelah tadi dia yang menjadi wali nikah sang adik. Pria itu berjalan tersenyum sambil sesekali menghapus jejak air mata yang kembali jatuh, padahal sebelum masuk tadi dia sudah memberi waktu sejenak untuk air mata itu jatuh. Namun ternyata, dia tak bisa mengontrolnya lagi saat ini.
"Dek." Panggil Dimas mengagetkan kedua wanita kesayangannya itu.
"Sayang." "Kak." Ucap Bunda dan Gadis bersamaan, sambil keduanya menghapus air mata masing-masing.
Namun sayang saat mereka saling melempar tatapan. Air mata mereka kembali mengalir deras hingga dimana Dimas membuka kedua tangannya meminta kedua wanita kesayangannya untuk memeluk dirinya. Dan tanpa lama dia mendapatkan hal itu.
"Berjanjilah kalian akan bahagia setelah ini." Ucap Dimas sambil mencium kening Bunda dan Gadis bergantian.
"Dan untukmu Gadis, selamat atas pernikahanmu yah. Kakak mendoakan agar kebahagiaan selalu menyertaimu, jika ada apa-apa beri tahu kakak yah. Kakak masih Dadanya Arsyila, jangan lupakan itu." Ucap Dimas dengan sedikit candaan di akhir kalimatnya agar suasana sedih itu tak terus berlangsung.
"Yah, Kakak adalah Dada terbaik yang Arsyila miliki. Tenanglah, kau nomor satu setelah Dady kandungnya." Ucap Gadis sedikit terkekeh.
"Yah, aku memeng yang harus nomor satu bukan. Jangan menggeser posisiku, ingat itu.." Balas Dimas dan Gadis membenarkan hal itu. "Kau Dada terbaik putriku sekaligus Kakak terhebat ku. Terima kasih sudah selalu mencintai adik nakalmu ini. Posisimu tak akan tergantikan, tenanglah." Ucap Gadis sambil tertawa kecil karena kalimat terakhir sang kakak.
__ADS_1
Dimas langsung melepas pelukan pada Bundanya setelah tadi tersenyum pada sang Bunda. Dan pria itu langsung mendekap erat tubuh sang Adik seorang tanpa bersuara. Menyalurkan segala rasa yang tak bisa iya ungkapkan selama ini.
"Tuhan, tolong berikanlah kebahagiaan selalu pada adik kesayanganku ini. Aku tahu dia pernah mengecewakanmu, dan kau langsung menghukumnya. Untuk itu, kumohon limpahkanlah kebahagiaan yang sudah lama kau tunda untuknya. Dan jangan lagi membuatnya terluka untuk kesekian kalinya. Karena aku tahu dia hanya wanita lemah, dan aku tahu kau lebih tahu dirinya di banding diriku." Batin Dimas sembari memeluk erat tubuh adik perempuan satu-satunya itu.
"Sudah yah, tunda dulu tangisnya. Kamu sudah di tunggu semuanya. Kakak kesini mau menjemput kamu sayang." Ucap Dimas setelahnya pria itu meminta periaa untuk melihat kembali wajah Gadis takut saja jika ada yang kurang dari adiknya setelah menangis barusan.
Hanya sebentar saja perias memperbaiki riasan Gadis dan setelahnya Dimas membawa mereka keluar menuju tempat acara berlangsung.
Dengan Satria yang menggandeng Gadis di ikuti Bunda dan Arsyila di belakang keduanya.
Sorak kagum serta tepukan tangan dan suara Mc serta musik adat, mengiringi langkah masuk Gadis dan keluarga kecilnya saat mereka baru saja melangkah masuk ke tempat berlangsungnya pernikahan.
Dari Jauh Satria tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Gadis yang juga berjalan dengan menatap ke arahnya.
Satria berdecak kagum dengan penampilan sempurna Gadis yang walau dirinya baru melihat dari kejauhan.
Ada rasa haru yang menyeruak saat menatap langkah demi langkah wanita yang sudah resmi menjadi istrinya beberapa menit lalu. Hingga sampai dimana Gadis sudah dua langkah di hadapan dirinya, dia seakan tersihir dengan raut Gadis. Sungguh benar-benar sempurna batinnya.
Satu langkah berikutnya, Dimas menghentikan langkah mereka. Menatap Satria dan Gadis bergantian. Dimana kedua suami istri itu seakan terkunci dalam tatapan yang entah apa. Namun dari air mata yang jatuh secara bersamaan, sudah jelas mengartikan segalanya.
Pria itu langsung melangkah kecil, memposisikan dirinya berada di antara keduanya namun tak menghalagi pandangan mereka. Dimas pun mengambil tangan Gadis dan kemudian meminta tangan Satria. Menyatukan kedua tangan itu. Menatap Satria dengan tatapan harapnya, kemudian mengatakan sesuatu membuat hati Gadis menghangat di buatnya.
"Dulu Gadis adalah tanggung jawabku, dia adik sekaligus putri kecilku." Ucap Dimas sembari dia menatap Gadis sekilas kemudian kembali lagi menatap Satria masih dengan dia yang menggenggam kedua tangan pasangan itu.
"Sekarang, aku serahkan Gadis untukmu. Karena kini dia sudah resmi menjadi tanggung jawab mu. Tolong, bahagiakan dia sebisa mu. Jangan lagi biarkan ada luka yang menghampirinya. Dan tolong jika nanti suatu saat kau menyerah mengurus Gadis. Cari aku, cari aku dan serahkan dia kembali baik-baik kepadaku seperti sekarang aku menyerahkan dia baik-baik untukmu." Lanjut Dimas kemudian berhenti sejenak lagi saat mendengar isak tangis sang adik perempuannya itu.
Dia tersenyum walau, air matanya menerobos jatuh. Membantu menghapus air mata sang adik walau dengan senyum bergetar nya.
"Tugas kakak sudah selesai, tapi kapanpun di manapun kau memerlukan kakak. Datanglah, kakak akan selalu ada untukmu sayang. Jangan menangis yah, masa udah cantik gini ada ingusnya." Ucap Dimas jahil, mencoba menghentikan tangis dirinya juga Gadis.
"Kakak." Hanya itu yang bisa Gadis katakan, sementara Satria. Pria itu langsung memeluk Dimas yang masih dalam menatap Gadis hingga membuat pria itu tersenyum dan membalas pelukan sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Terima kasih sudah menjaganya, terima sudah selalu mempercayai aku. Aku tak akan berjanji tak membuat Gadis menangis, karena menangis bukan hanya perkara terluka. Namun bahagia pun kadang ia menangis. Tapi percayalah Gadis adalah separuh ku, dan aku tak akan membiarkan bagian dariku terluka sedikitpun. Karena lukanya adalah lukaku dan bahagianya adalah bahagiaku.." Ucap Satria yang entah kenapa dia kehabiasan kata-katanya hendak melukiskan bagaimana posisi Gadis dalam hidupnya.
"Terkadang kita berpikir Tuhan seperti suka bercanda dalam mempermainkan perasaan seseorang. Kadang Tuhan menghadirkan benci di detik ini, namun detik berikutnya Tuhan pun membalik keadaannya yang tadinya benci menjadi cinta kemudian. Tuhan pun kadang memberikan luka pada orang yang sedang mencinta, namun di keadaan berikutnya Tuhan pun menyembuhkan luka itu dengan menghadiahkan banyak obat cinta. Hingga luka yang tadinya besar mulai sembuh namun tak lantas hilang bekasnya. Ada yang tahu kenapa?"
...Btw, Jangan lupa like komennya yah🥰...
__ADS_1
...Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗...
...Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...