
Saat ini, Rayan Bunda dan Ibunya sedang berada di mobil. Dan baru saja mereka meninggalkan kediaman Gadis dengan diam yang menemani perjalanan ketiganya.
Rayan serius dengan kemudinya, Bunga yang sejak tadi menatap iba Kakaknya dan Sang Ibu yang nampak diam menatap ke arah luar jendela.
"Apa ada yang ingin menjelaskan sesuatu pada Ibu." Suara ibu membuka percakapan, membuyarkan keheningan yang sejak tadi menemani hampir sepanjang perjalanan.
"Pria itu Ayah dari putrinya Gadis, hanya itu yang bisa aku jelaskan karena setahuku tak ada lagi hubungan keduanya sejak Gadis memutuskan hengkang dari kampus tempatku mengajar.
"Aku juga tak tahu apa-apa tentang kembalinya hubungan mereka. Setahu ku, Gadis tak lagi berhubungan dengan Pak Satria." Sahut Bunga.
"Lalu apa tadi, sebaiknya kamu cari saja wanita lain Rayan. Ibu memang menyukai Gadis, namun jika memang dia memilih kembali pada pasangannya dulu sebaiknya kamu mundur saja biar kamu tak sakit nantinya." Saran Ibu.
"Tap bu,.."
"Kau tak melihat kemesraan mereka tadi, ayolah. Jangan mencintai milik orang lain Rayan, mungkin Gadis bukan jodohmu." Potong Ibu cepat, bukannya beliau tak menyukai Gadis lagi. Hanya saja melihat tatapan dan perlakuan Gadis dan juga Satria tadi, beliau bisa menyimpulkan ada cinta yang begitu besar di antara dua insan itu.
Rayan tak lagi mengomentari jawaban Ibunya, memang benar kata sang Ibu. Tapi cinta yang sudah bersemi untuk Gadis, tak mungkin iya lupakan begitu saja.
Sementara Bunga, dia hanya duduk diam. Tak mau ikut campur dalam percintaan kakaknya, walau dia kasihan dengan sang kakak. Tapi dia bisa apa, kakaknya seorang pria dan tentu dia bisa mengatasi masalah perasaannya sendiri.
***
__ADS_1
Satria dan Gadis kini sudah bergabung dengan Bundanya juga Dimas di ruang depan, ruangan dimana Gadis pernah di tolak mentah-mentah keluarga Satria.
Mengingat itu Bunda menarik nafasnya perlahan saat bersamaan melihat kedatangan Satria dan Gadis dengan saling bergandengan tangan, Bunda pun akhirnya membuka suaranya saat keduanya sudah benar-benar duduk di hadapan beliau.
"Apa kau akan menikahi putriku?" Tanya Bunda langsung ke intinya, beliau tahu putrinya sungguh besar mencintai Satria. Dan untuk sekarang, beliau tak mau menentang hubungan mereka. Terlepas dari restu atau tidak restunya keluarga Satria, beliau tak perduli lagi.
Cukup sudah putrinya mengalami penderitaan dengan hamil tanpa suami. Cukup sudah.
Dimas yang duduk di kursi singgel sebelah sang Bunda saat mendengar kalimat tanya itu hanya menatap Satria dengan tanpa kata, dia menantikan jawaban pria itu.
"Yah, secepatnya Bunda. Aku sudah mengurus semuanya sebelum kesini. Kami hanya butuh restu darimu." Ucap Satria mantap sambil tangannya tetap menggenggam tangan Gadis yang dia letakan di atas pangkuannya.
Gadis, menatap Satria yang sedang berbicara. Dengan hati yang terus berdoa semua yang dia dengar dari pria itu berjalan lancar sesuai harapan keduanya.
"Ini hidupku, aku yang menjalani. Restu atau tanpa restu kedua orang tuaku, aku akan tetap menikahi Gadis. Gadis nyawaku, aku tak mau lagi orang membunuhku dengan memisahkan kami lagi. Cukup sudah aku dan Gadis merasakan sakit yang tak pernah meraka tahu rasanya itu. Aku mencintai Gadis, Gadis mencintaiku itu sudah lebih dari cukup." Ucap Satria dengan yakinnya, sudah tak perduli lagi dengan penolakan orang tuanya terhadap Gadis..
"Kau sudah memberi tahu mereka?" Tanya Bunda yang ikut merasakan bagaimana keadaannya dulu, kini di hadapi putrinya juga. Sama-sama tak di restui keluarga dari pihak pria. Dan itu rasanya sungguh menyakitkan.
"Tepat di hari pernikahan kami, aku akan memberi tahu mereka." Jawab Satria yang memang sudah memikirkan segalanya, dia berniat setelah menikah barulah mengabari kedua orang tuanya sakin takut jika Gadisnya di tolak lagi dan kembali menambah luka pada wanita itu.
"Pulanglah, setidaknya kabari orang tuamu sebagai rasa hormatmu terhadap mereka. Lepas dari di tolak atau di terimanya keputusanmu. Sisanya kau yang mengurusnya, Bunda tak mau lagi ada halangan. Jika tidak, lamaran Rayan tadi akan ibu terima.." Ucap Bunda mengingat tadi keluarga Rayan yang datang memang membicarakan tentang niat Rayan yang ingin mempersunting Gadis.
__ADS_1
"Maaf jika Bunda egois, sudah terlalu sakit putri Bunda nak. Cukup sudah, Bunda tak sanggup lagi melihatnya." Batin Bunda saat selesai mengatakan kalimatnya untuk Satria.
"Pulanglah. Bunda merestui kalian, dan tolong bahagiakan putri Bunda. Sudah cukup dia menangis di setiap malamnya." Lanjut Bunda membuat Gadis langsung beralih mendekati sang Bunda dan memeluknya. Karena Bunda tak bisa lagi membendung air mata yang sudah merembes jatuh saat mengatakan kalimat terakhirnya
"Bunda mengetahui itu?." Tanya Gadis tak percaya tangisnya di setiap malam di ketahui oleh sang Bunda, dia menyesal sudah ikut menorehkan kesedihan di hati Bundanya itu dengan masalahnya.
"Aku Bunda mu nak, Apa yang tak aku ketahui tentang kamu."
"Bahagialah nak, kau berhak mendapatkan itu. Cukup sudah hidupmu penuh dengan kesedihan empat tahun ini. Bunda sedih nak, melihat putri Bunda yang sedih sepanjang waktu." Ucap Bunda dengan tangis yang tak bisa lagi iya bendung.
Sementara Dimas, dia langsung beranjak berdiri mendekati Satria dan memegang pundak pria itu dan berkata.
"Ini kesempatan terakhirmu, tolong jangan kecewakan adikku lagi." Ucap Dimas dan setelahnya dia langsung beranjak dari sana sebelum embun di matanya jatuh.
Dia tak bisa terus di sana, melihat dua wanita kesayangannya itu menitihkan air mata kesedihan mereka. Cukup sudah dia berpura-pura kuat dia depan mereka. Untuk kali ini, dia benar-benar tak kuat lagi. Dia mengaku lemah ketika melihat orang kesayangannya lemah di hadapannya. Itu sebabnya dia memilih meniggalkan tempat itu, sebelum dia menjadi perhatian utama karena tangisnya yang bisa saja menjadi perhatian seketika.
"Maafkan aku yang sudah mengukir kesedihan di keluarga ini." Batin Satria merasa bersalah sudah membuat luka dalam di keluarga Gadis.
Satria langsung beranjak dan duduk di hadapan kaki Bunda juga Gadis membuat kedua wanita yang nampak berpelukan itu melerai pelukan keduanya dan menatap Satria.
"Maafkan aku Bunda, sudah membuat kesedihan di keluarga ini. Maafkan aku yang tak tegas dengan hidupku sendiri. Maaf sudah membuat putrimu terluka berulang kali karena kelemahanku yang tak bisa tegas. Maaf sudah menorehkan begitu banyak luka di keluarga ini, tolong maafkan aku. Maafkan aku." Ucap Satria sembari dia berlutut dan membenamkan wajahnya di kedua kaki Bunda Gadis, sementara Gadis dia langsung sigap membantu Satria agar berdiri.
__ADS_1
"Ayo berdiri nak, tak perlu lagi menyesalinya. Sekarang Bunda percayakan Gadis untukmu, tolong bahagiakan dia. Bunda merestui kalian nak, berbahagialah." Ucap Bunda sembari memeluk Satria juga Gadis bersamaan.