
............Happy reading🌹 ...........
Usai menjalani rangkaian acara pernikahan dari haru hingga tawa bahagia menghampiri. Kini tibalah saatnya proses pengucapan selamat dari para undangan kepada kedua mempelai.
Saat sudah dalam setengah tamu yang usai bersalaman, kini tibalah seseorang yang seketika membuat Satria mengeraskan rahangnya marah. Dia bahkan mencoba keras agar wajahnya tak terlihat menyeramkan, sebab dia sadar keberadaannya saat ini.
"Si@l!!!! siapa yang mengundangnya. Awas kau Titan." Batin Satria merasa kesal karena kehadiran orang itu. Dia bahkan menatap nyalang ke arah Titan Sang asisten pribadi yang baru bekerja bersamanya setelah dia melebarkan sayapnya di dunia properti serta bisnis lainnya selain Cafe yang menjembataninya berkipra dalam dunia bisnis yang lebih luas lagi. Titan dia tugaskannya untuk undangan yang hadir malam ini, itu sebabnya dia begitu menatap marah pada sang Asisten pribadi.
Sedangkan orang yang di tatap hanya bisa menelan saliva nya susah payah. Baru saja dia kehilangan sikap marah Satria dalam satu minggu lebih ini setelah bertemu dengan Gadis. Namun apa ini, dia malah kembali di tatap dengan tatapan membunuh seperti sebelumnya.
"Aduh, apa yang salah ini." Batin Titan menatap sekitar namun menurutnya semua baik-baik saja. Dia pun pasrah atas apa yang terjadi setelah ini, karena dia tahu bagaimana Tuannya jika marah.
"Hay, selamat yah." Ucap orang itu ketika sampai di depan Satria, membuat Satria yang sedang menatap Titan menutup matanya sejenak demi meredam emosinya yang mulai tak terkendali.
Satria tak menjawab, bahkan dia enggan menatap wanita yang sedang memberi selamat padanya itu.
Sementara Gadis yang melihat itu langsung menggelitik tangan Satria yang sedang menggenggam tangannya dengan tiba-tiba, membuat pria itu menatap ke arah Gadis dan mendapat kode agar melihat ke arah tamu itu. Dengan dongkol Satria pun terpaksa meladeni wanita itu.
"Sepertinya aku tak pernah mengundangmu. Apa kau tak punya malu, datang tanpa undangan." Ucap Satria menatap tajam wanita itu tanpa memikirkan ucapannya itu menyakiti orang itu atau tidak, bahkan Gadis yang mendengar perkataannya seketika melotot tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya itu.
"Dad." Tegur Gadis namun tak di hiraukan Satria.
"Yah, aku memeng tak di undang. Hanya saja aku mewakili suamiku yang tak bisa hadir Alex. Alex Hansend. Dia menitipkan selamat untukmu teman bisnisnya." Ucap Wanita itu dengan senyum manisnya dengan tatapan aneh pada Satria.
"Kau menikahi orang yang tepat." Ucap Satria yang kenal Alex pengusaha mudah salah satu rekan bisnisnya yang belum lama ini mereka menjalin kerja sama di bidang properti yang dia Geluti beberapa tahun belakangan ini. Dan dia tahu betul bagaimana Alex, itu sebabnya dia mengatakan hal itu.
Tanpa aba-aba wanita itu langsung memeluk Satria dangan eratnya, Satria hendak mendorong tubuh wanita itu namun perkataan wanita itu membuatnya terdiam sebentar.
"Istrimu cantik, semoga saja dia bisa memuaskan dirimu sehebat Aku." Ucap Wanita itu sembari mengecup sekilas Pipi Satria dan melepas pelukannya, sadar sebelum dia di dorong pria itu.
Satria ingin sekali menonjok wanita itu kalau saja tak mengingat ini acara penting baginya.
"Hay, kau cantik. Satria memang pintar memilih istri. Selamat yah, semoga saja kau betah dalam pernikahanmu." Ucap Wanita itu Pada Gadis dengan mengusap lengannya tanpa salaman dan tak berselang lama dia langsung pergi.
__ADS_1
"Dady, kenapa berbicara kasar seperti itu." Ucap Gadis tak suka dengan sikap Satria tadi.
"Memang aku tak mengundangnya. Sudahlah jangan membahasnya lagi. Lihatlah siapa yang ada di sana." Ucap Satria mengalihkan pembicaraan saat dia melihat Sahabat Gadis yang berjalan ke arah mereka.
"Nge." Ucap Gadis saat melihat Bunga berjalan tersenyum ke arahnya.
Bunga membalas sapaan Gadis dengan melambaikan tangan gemas pada sahabatnya itu. Namun sampai di hadapan Satria dia menjadi kikuk sendiri, bukan mengapa. Satria dulu pernah dia gilai sebagai dosen tampannya sebelum akhirnya dia tahu pria itu adalah kekasih sang sahabat.
"Pak, selamat yah atas pernikahannya. Bapak nggak pernah berubah tampannya, masih sama." Ucap Bunga tanpa di saring, namun setelah sadar dia langsung membekap mulutnya sendiri. Sementara Gadis dia hendak tertawa lepas namun di tahannya.
"Hehe, maaf ya pak." Ucap Bunga dan dia langsung mengalihkan tubuh dan tatapannya pada Gadis dengan menunjukkan raut ngeri-ngeri sedapnya sampai mata dan mulutnya ikut miring kiri kanan sakin malunya.
"Gadis selamat sayang, ah aku pikir kau akan menjadi kakak ipar ku. Tapi apa ini, kasian kak Rayan pria malang itu sampai sakit saat membaca undangan pernikahanmu." Ucap Bunga sambil memeluk Gadis erat. Lagi-lagi Bunga tak bisa mengontrol ucapannya membuat Gadis melirik Satria sebentar yang nampak membuang pandangannya. Bukan karena marah pada Gadis, namun pria itu masih memikirkan wanita tadi yang sudah merusak moodnya saat ini.
"Kau bisa membuat Satria salah pahan Nge. Aku akan bertemu kak Rayan nanti, sampaikan salam ku untuknya moga cepat sembuh." Bisik pelan Gadis agar Bunga tak lagi membahas Rayan.
Bunga yang mendengar itu seketika menepuk jidatnya, ah tak bermaksud seperti itu. Hanya saja mulutnya yang tak bisa bekerja sama dengannya.
"Baiklah, selamat sekali lagi yah. Semoga cepat memberikan aku ponakan baru. Oh iya ngomong ngomong di mana Cila, aku nggak lihat dia sejak tadi." Ucap Bunga.
"Oh, yaudah deh. Aku pamit yah." Ucap Bunga dan dia pun pamit juga pada Satria.
Usai kepergian Bunga, keduanya pun melanjutkan salaman yang tak berkesudahan hingga dimana semua rangkaian acara pernikahan yang di lalui terselesaikan dengan bahagia walau tadi sempat mood Satria yang sedikit rusak namun untuk keseluruhan berjalan sesuai dengan yang di harapkan.
...****************...
"Sayang, aku keluar sebentar yah. Ada yang harus aku urus bersama Titan." Ucap Satria ketika usai membersihkan diri. Kini Dia dan Gadis sudah berada di kamar pengantin mereka setelah sepanjang hari tadi meraka melangsungkan pernikahan.
Pria itu memeluk Gadis dengan eratnya sambil menghirup aroma harum tubuh Gadis yang juga sudah selesai membersihkan diri dahulu.
"Ada masalah?" Tanya Gadis sambil dia membalikan dirinya menghadap Satria. Namun pelukan pria itu tak di lepaskan.
"Sedikit, dan aku harus mengurusnya sekarang. Kamu nggak papa aku tinggal sebentar?" Tanya Satria, sebenarnya dia tak ingin meninggalkan Gadis sekarang, hanya saja bertemu wanita masa lalunya tadi membuat dia sedikit tak tenang jika harus menunggu lebih lama lagi untuk mengurusnya.
__ADS_1
"Penting atau tidak?"
"Tidak terlalu penting, tapi aku harus mengurusnya. Sebelum menimbulkan masalah baru di kemudian hari sayang." Ucap Satria membuat Gadis mengerutkan keningnya.
"Baiklah, semoga semuanya berjalan lancar." Balas Gadis walau dia sedikit penasaran dengan urusan penting Satria itu sampai-sampai di malam pengantin mereka itu Satria masih harus bekerja.
"Aamiin. Cium dulu dong buat semangat." Ucap Satria dan Gadis melebarkan senyumnya.
Wanita itu langsung berjinjit mensejajarkan tingginya dengan tubuh Satria dan mulai memberikan apa yang pria itu inginkan. Saat Bibir Gadis baru saja menempel di bibirnya, Satria langsung mengambil kendali membuat Gadis kaget dengan respon cepat Satria, namun dia menikmatinya hingga ciuman yang awalnya biasa menjadi lebih dari biasanya.
"Sakit Dad." Ringis Gadis mendorong pelan Satria yang tanpa sengaja menyakitinya dalam ciuman mereka.
"Maaf, aku terlalu bersemangat." Ucap Satria sedikit berbohong, nyatanya dari ciuman tadi dia mengingat kejadian tadi di pelaminan yang membuatnya kesal. Sehingga tanpa sadar menyalurkan kemarahannya tadi pada Gadis, sungguh dia tak bisa mengontrol dirinya tadi.
Satria langsung melihat keadaan bibir Gadis yang tadi dia lukai namun Gadis menepisnya halus.
"Pergilah Dady, aku tak apa-apa. Aku hanya kaget tadi." Ucap Gadis beralasan. Gadis menyadari tadi ada kemarahan saat Satria menyentuhnya, dan itu sangat teramat kentara tanpa dia harus bertanya pada pria itu perkiraannya benar atau tidak.
"Maaf sayang, maaf sudah menyakitimu." Ucap Satria merasa bersalah.
"Apa sih Dad, aku tak apa-apa. Hanya kaget ini."
"Baiklah, aku pergi yah. Pulang nanti aku akan menggantinya dengan yang lebih lembut." Ucap Satria dan mendapatkan senyum manis Gadis.
"Yah, akan aku tagih itu." Seru Gadis dan setelahnya Satria mencium kening Gadis sebelum akhirnya dia meninggalkan kamar mereka.
Gadis menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup dan dia menghembuskan nafasnya perlahan.
"Apa ini ada hubungannya sama wanita tadi Dad, sikapmu aneh setelahnya." Lirih Gadis sembari dia sedikit meringis sakit karena ulah Satria tadi.
...Btw, Jangan lupa like komennya yah🥰...
...Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗...
__ADS_1
...Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...