
"Baru juga mulai." Batin Satria sambil membenamkan wajahnya di bahu Gadis setelah mereka saling melepaskan. Dia tak marah, namun sedikit gemas karena kegiatan yang sudah lama dia rindukan itu harus terhenti di saat dia baru mau menikmati rasa nikmatnya dari aktifitas kesukaannya itu.
Sementara Gadis, wanita itu juga merasakan hal yang sama dengan Satria. Namun dia sedikit memakluminya, karena kegiatan mereka itu di hentikan oleh putri mereka sendiri. Dan mungkin ini akan menjadi kebiasaan yang harus dia maklumi karena mereka kini tak sebebas dulu lagi, karena kini ada anak di antara mereka.
"Sayang, sudah bangun yah." Ucap Gadis yang sedikit merasa gugup padahal hanya di pergoki anak mereka sendiri, setelah dia tadi mengelap setiap sudut bibirnya yang belepotan.
"Mami nda papa,?" Tanya Arsyila sambil mengucek matanya berjalan mendekati Gadis.
"Nggak, Mami nggak kenapa kenapa kok sayang." Sahut Gadis sambil dia mendorong pelan kepala Satria yang mulai menganggu tengkuknya.
"Mami tenapa dendon Ancel?, Cila tan juda mau." Tanya Arsyila, padahal Satria hanya merasa bersandar pada Gadis saja. Namun Arsyila melihat Satria seperti sedang di gendong Maminya, di lihat dari Tangan Satria yang memeluk pinggang Gadis serta satu kaki pria itu yang bertengger di atas paha Maminya.
Mendengar perkataan Arsyila Pria itu langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Gadis dengan menahan senyumnya. Namun satu kakinya yang bertengger di paha Gadis belum dia sadari, begitupun juga dengan Gadis.
"Mana bisa Mami mu menggendong Dady sayang, Dady kan berat." Ucap Satria sambil menatap Gemas Arsyila.
"Dady." Ulang Gadis terkejut dengan panggilan Satria pada dirinya sendiri itu.
"Ancel namana Dady?" Tanya Arsyila sebab dia mendengar pengulangan Maminya yang menyebut Dady pada Satria.
"Bagaimana jelasinnya yah." Batin Satria sambil menggaruk belakang kepalanya bingung.
"Gini sayang, sini Dady jelasin." Ucap Satria sambil menepuk pahanya dan merentangkan tangan, mengisyaratkan agar Arsyila mendekatinya.
"Oh astaga, pantas di kira aku menggendong Satria." Batin Gadis yang sadar saat Satria menepuk pahanya yang berada tepat di atas paha Gadis.
"Kenapa?" Tanya Satria saat Gadis mencolek pahanya.
"Turunin pahanya Om." Lirih Gadis sambil Menatap paha Satria.
"Eh, pantas Cila pikir aku di gendong kamu sayang. Apa ini sakit? aku nggak sadar, maaf." Ucap Satria dan langsung menurunkan kakinya dari paha Gadis sambil mengusap paha Gadis yang tadi dia tindih.
__ADS_1
Gadis hanya menggelengkan kepalanya saja, karena Arsyila sudah berada tepat di hadapan mereka sambil menahan rasa yang entah apa itu saat pahanya di sentuh Satria.
"Tenapa Ancel Dady?" Ucap Arsyila membuat Satria menatapnya dan membantu Arsyila yang hendak menaiki pahanya sesuai dengan yang dia instruksi tadi.
"Uncel ini bukan Uncel kamu sayang, tapi Dady kamu nak." Jelas Satria yang nampak bingung harus menjelaskan bagaimana pada putrinya itu.
"Matuna?" Tanya Arsyila sambil mengerutkan kedua keningnya menatap bingung Satria karena dia yang tak mengerti maksud dari pria itu.
"Sudahlah, Om.." Ucap Gadis terhenti saat dia hendak menyela obrolan Ayah dan Anak itu.
"Om?" Protes Satria tak terima, Gadis memanggilnya di hadapan Arsyila dengan sebutan Om.
"Maksudnya, sudahlah Dady. Cila pasti nggak akan ngerti, dia masih kecil. Biarlah lama-lama dia mengerti sendiri." Ralat Gadis, dia bingung harus memanggil Satria apa. Jadilah dia menyebut pria itu dengan sebutan Dady saja biar Arsyila putrinya itu terbiasa dengan sebutan itu juga.
"Ah Sayang." Sahut Satria tanpa permisi dia langsung mencium bibir Gadis, dia lupa jika Arsyila ada di pangkuannya saat ini.
"Haaahh, dasar kamu yah." Protes Gadis setelah dia berhasil melepas diri dari Satria.
"Astaga, sakit yah. Maafin Dady yah. Apa Cila mau bobo lagi, biar Dady temenin." Ucap Satria sempat lupa Arsyila saat dia mencium Gadis. Hingga timbul keinginannya untuk melanjutkan kegiatan mereka lagi.
"Oh tidak, jangan tidur ya sayang. Mami takut dengan Dady mu." Batin Gadis, jadi takut dengan tatapan aneh Satria padanya saat pria itu berucap sambil melirik sekilas dirinya.
"Enda, Cila mau pelut Dady aja. Cila cutka pelut Dady." Sahut Arsyila, dia langsung memeluk Satria dengan erat dan di sambut peluk balik Dady nya dengan pelukan lembutnya.
"Mati aku." Batin Gadis, sebab dia tahu jika Arsyila di peluk. Putrinya itu akan cepat tertidur jika terasa nyaman. Dan itu sungguh berbahaya baginya jika dirinya di tinggal tidur Arsyila.
"Hmm, nyaman sekali." Nyaman Satria dan dia langsung menyandarkan punggungnya di sandaran Sofa, hingga dia dan Arsyila merebah di sana.
"Sayang, bisa buatkan aku secangkir kopi." Pinta Satria pada Gadis, sebab dia terlalu merasa nyaman dengan memeluk Arsyila.
Dia takut saja jika dia ketiduran dengan kenyamanan ini, itu sebabnya dia meminta di buatkan kopi pada Gadis. Dia taku jika dia tertidur nanti, dan ketika bangun semua yang dia alami ini hanya mimpi. Atau ini nyata namun, Gadis kembali meninggalkan dirinya. Tidak, dia tak mau jika itu sampai terjadi.
__ADS_1
"Baiklah." Sahut Gadis dan dia langsung beranjak menuju dapur, yang sudah lama tak dia sentuh itu.
"Masih sama." Ucap Gadis ketika dia sudah sampai ke di dapur mini Satria.
Gadis, tak langsung membuatkan kopi untuk Satria. Wanita itu malah membersihkan peralatan makan pria itu yang nampak teronggok di tempat pencucian.
Setelah itu barulah dia membuatkan kopi untuk pria itu dan membawakannya pada Satria.
Namun sesampainya di ruang tamu, Gadis mendapati Satria yang sudah tertidur pulas bersamaan dengan Arsyila.
Ditaruhnya kopi yang dia buat untuk Satria di atas meja, Gadis pun menatap intens kedua orang berharga di hidupnya itu. Hingga tanpa terasa air matanya menetes tanpa permisi.
Dengan pelan, Gadis terisak tanpa suara. Hanya, tarikan pelan cairan di hidungnya dengan bahu yang sesekali terangkat naik turun karena tangisan tak bersuara nya itu.
"Tuhan, terima kasih engkau masih mempertemukan kami lagi. Terima kasih atas rasa yang selalu kau jaga di antara aku dan Om Satria. Sungguh, ini adalah hari terbaik yang empat tahun ini aku nantikan." Lirih Gadis sambil menatap dua orang yang sedang tertidur pulas itu.
Dia sesekali, menahan isak nya yang hampir saja kelepasan. Takut jika hal itu akan mengganggu tidur dua orang tersayangnya itu.
Gadis langsung merebahkan dirinya di sebelah Satria, menaruh kepalanya di pundak kiri pria itu karena pundak kanannya sedang di sandra kepala Arsyila.
Namun pergerakannya malah membuat Satria terbangun, namun tak dia sadari.
"Maafkan aku yang sudah meninggalkan kamu, kau tahu aku sakit melakukan hal itu. Tapi itu harus aku lakukan untuk kebaikanmu juga, aku tak mau jika hubungan kita membuat dirimu jauh dari orang tuamu. Kau tahu malam itu? Malam dimana kau menjadi pria pertama yang melihat tubuh polos ku sekaligus memilikinya, itu adalah malam terbaik sepanjang hidupku dan sekaligus juga malam terberat untukku untuk memutuskan meninggalkanmu." Ucap Gadis sambil mengusap tangan Satria yang memeluk Arsyila.
Sementara Satria, pria itu nampak menahan air matanya mendengar ucapan Gadis serta tangis tertahan wanita itu. Bahkan getaran pelan tubuh Gadis bisa dia rasakan, bagaimana sesaknya perasaan wanita itu.
"Sayang, kau membasahi bajuku." Ucap Satria dengan air mata yang sudah terjatuh bebas. Dia sengaja menjahili Gadis, sebab dia tak sanggup lagi menahan dirinya mendengar isi hati Gadisnya itu. Walau basah yang dia maksud memang benar adanya.
Maaf yah, dua hari kemarin nggak Up lagi. Soalnya dalam perjalanan pulang mudik dan baru bisa Up lagi sekarang.
Entar Author ganti Up yang dua hari kemarin hari ini yah, namun di jam yang berbeda.
__ADS_1