SATRIA

SATRIA
Bab 41


__ADS_3

Maaf jika Update nya belakangan ini sering lama🙏, soalnya ada saja kejadian tiap harinya yang buat Author nggak bisa nulis.


Terima kasih yang sudah setia baca cerita ini, makasih juga buat yang sudah sering like komen dan kasih hadiah🤗


Sehat-sehat yah kalian semua🙏🥰🥰


Peluk jauh dari Author buat kalian yang masih setia di lapak Author ini🤗🤗🤗🥰🥰


..............Happy Reading..............


Taman kampus..


Gadis setelah sampai di kampus, gadis itu langsung menuju taman. Mengingat kelasnya yang masih dua jam lagi baru di mulai.


"Hmm, apa Om Satria tadi menciumiku hanya untuk membalas wanita tadi?" Batin Gadis mengingat kembali perkataan Adila saat memergoki dirinya di cium Satria tadi.


"Apa sekarang kamu mulai meragukan Satria Gadis." Ucap Gadis pada dirinya sendiri saat batinnya tarus terarah pada kejadian yang sedikit membuat dia merasa rendah di perlakukan pria itu tadi.


"Tidak... Apa yang aku pikirkan, mungkin saja Om Satria tadi hanya ingin memberitahu wanita itu jika Om sudah memiliki kamu Gadis. Pasti seperti itu. Yah pasti seperti itu." Ucap Gadis sekali lagi untuk meyakinkan keraguannya yang tiba-tiba saja memenuhi pikirannya.


Hingga beberapa menit pikirannya terarah pada Satria dan Adila barulah setelah merasa cukup memikirkan pria pemilik hatinya itu, Gadis pun memutuskan untuk menelfon Bunga. Dia tak mau duduk sendiri dan berakhir dengan berpikir yang tidak-tidak tentang Satria. Apalagi sejak tadi dia terus mengabaikan panggilan Pria itu demi kebaikan hatinya sendiri pikirnya.


"Halo Nge, kamu dimana?" Ucap Gadis tanpa basa-basi.


"Bagus, akhirnya lo ingat juga buat telponin gua Gadis. Mentang-mentang di gandeng Dosgan Kasatria terus lo lupa sama gua, jam segini baru kasih kabar. Lo tahu nggak gua hampir mati penasaran sejak tadi tahu nungguin di telfon lo, dan lagi lo nggak kasihan sama kak Dewa tadi. Dia sudah seperti burung beo yang melongo menatap lo di bawa kabur pa Dosgan, untung gua cepat-cepat nyadar in tu Kating Ganteng kalau nggak sudah penuh tu meja makan kita sama ilernya tuh Kating." Ucap Bunga panjang lebar membuat Gadis yang tadinya Bad mood, kini jadi tertawa keras dengan celotehannya.


"Hahahha, Berhenti Nge perutku sakit, jangan terlalu di tambahin bumbu Nge kalau cerita. Kasian anak orang di fitnah kamu."


"Ini nyata Gadis, nggak gua tambahin bumbu kok . Sumpah, ini fakta. Untung yang nyadar gua duluan, biar bisa menyadarkan kak Dewa. Kan malu kalau yang nyadar Kak Dewa duluan, terus air liurku yang ngeces di lihat dia. Iuuuww memalukan." Ucap Bunga dengan dramatisnya di akhir kalimatnya.


Bisa Gadis bayangkan jika Bunga bercerita di hadapannya bagaimana. Mengingat betapa lebai nya sahabat satu-satunya itu jika menanggapi sesuatu.


"Hahaha, lo bisa aja Nge." Ucap Gadis seadanya, sebab sahabatnya itu berhasil membuatnya tak bisa mengontrol tawanya sekarang.


"Berhenti tertawa Gadis, lo punya hutang penjelasan sama gua. sekarang jelaskan, ada hubungan apa lo sama tu Dosgan Kasatria gua.? Lo tahu nggak, gua hampir patah hati berat tahu lo di gandeng Kasatria gua. Hah bukan hampir lagi, tapi emang udah patah hati berat nih gua. Tega lo." Ucap Bunga penuh pertanyaan, membuat Gadis bukannya menghentikan tawanya. Namun Tawa Gadis makin di buat parah oleh penuturan sahabat lebai nya itu.


"Gadis, gua serius nanya ini." Kesal Bunga karena Gadis tak berhenti menertawakan dirinya.


"Hehe, Entar aja kalau ketemu aku jelasin, kamu di mana?" Tanya Gadis masih dengan sisa tawanya, sebab dia malas kalau harus menjelaskan by telfon.


"Di rumah, habis lo ninggalin gua sih. Jadinya gua langsung balik tadi."


"Sekarang ke kampus, aku tungguin."

__ADS_1


"Sip dah, meluncur sekarang nih By."


"Dih main tutup aja tuh orang." Ucap Gadis sambil melihat ponselnya, pasalnya Bunga langsung menutup panggilan mereka begitu saja.


"Nge nge, bisa aja buat mood aku baik lagi." Ucap Gadis tersenyum mengingat tingkah Bunga tadi.


"Seru banget sih." Ucap Seseorang membuat Gadis langsung menoleh ke arah belakangnya.


"Eh Pak." Kaget Gadis spontan berdiri saat melihat Dosen Brayan kakak nya Bunga yang kini ada di hadapannya usai dia berbalik ke arah sumber suara.


"Kok Pak sih, aku kan nggak ngajar kelas kamu. Rayan saja yah."


"Boleh gabung?" Lanjut Dosen Rayan lagi membuat Gadis terkejut di buatnya.


"Eh, bo-boleh Pak eh Kak." Ucap Gadis yang nampak sedikit canggung dengan kakak Bunga itu, sebab ini kali pertamanya dia di sapa Pria itu. Ingin menolak juga takut tak sopan, memperbolehkan juga membuatnya jadi canggung sekarang.


"Boleh juga kakak, terima kasih yah." Ucap Rayan dan langsung berjalan memutari kursi dan duduk di sebelah Gadis yang nampak sudah kembali duduk.


"Iya kak." Sahut Gadis, sedikit merasa risih duduk berduaan dengan duda tampan di sebelahnya itu, dia sedikit tahu tentang Kakaknya Bunga itu. Sebab sudah beberapa kali dia bertemu pria itu saat berkunjung ke rumah Bunga.


Yang dia tahu tentang Rayan dari Bunga, Pria itu adalah duda yang di tinggal istrinya meninggal karena sebuah kecelakaan. Selain itu, dia tak terlalu tahu lagi. Sebab dia tak pernah sedekat seperti sekarang ini dengan pria itu, untuk saat ini saja dia sedikit bingung kenapa pria itu bisa mendekatinya sekarang.


"Apa aku mengganggu?" Tanya Rayan saat melihat raut gugup Gadis.


"Nggak usah gugup Gadis, itu kentara sekali tahu. Anggap saja aku kakakmu sendiri, sama seperti Bunga." Ucap Rayan sambil mengelus kepala Gadis, dan lagi-lagi Gadis di buat gugup karenanya.


"Bisa mati aku kalau di lihat Om Satria ini mah." Batin Gadis sambil dia merapikan kembali rambutnya yang di acak Rayan.


"Hehehe, kentara yah kak. Habis ini kali pertama kakak menyapaku." Ucap Gadis basa-basi.


"Iya yah, maaf yah. Kemarin-kemarin mau nyapa tapi nggak sempat melulu, tahu kan sibuknya Dosen gimana?" Ucap Rayan sambil menatap intens Gadis.


"Hehe, becanda kok kak."


"Oh ya kamu ada hubungan apa sama Dosen Satria, kalian sedang hangat-hangatnya tuh di kalangan Dosen." Ucap Rayan membuat Gadis melotot, mengingat kembali kejadian dia dan Satria tadi.


Dia sudah mengira hal itu akan terjadi, sebab perlakuan Satria kepadanya terlalu terang-terangan. Dia tak mempermasalahkan itu, bahkan bersyukur Satria mengakuinya di hadapan umum. Hanya saja resikonya yah seperti ini, jadi bahan pembicaraan orang.


"Emm, itu.." Ucap Gadis terjeda.


"Dia calon istriku Pak Rayan." Ucap Suara yang di kenal Gadis.


"Om." Batin Gadis sambil melihat ke arah Satria yang nampak berjalan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Calon istri?" Ucap Rayan sambil berdiri melihat Satria.


"Yah calon istriku, bukan begitu sayang." Ucap Satria sambil menggenggam tangan Gadis dan menatap Gadis dengan senyum yang nampak aneh di lihat Gadis.


"Iy-iya Pak, saya calon istrinya Pak Satria. Doakan kami ya Pak, semoga semuanya di lancarkan." Sahut Gadis yang nampak merasakan tangannya sedikit sakit di remas Satria.


Dia tahu Satria pasti tak suka dia berdekatan dengan pria manapun.


"Apa tadi Om Satria melihat semuanya, kapan datangnya sih. Bukannya tadi masih di restoran, habis sudah kamu Gadis." Batin Gadis yang nampak pasrah akan menghadapi kemarahan Satria padanya.


Setelah mendengar ucapan Gadis, Satria langsung merenggangkan genggaman tangannya tak lupa juga dia mengusap tangan Gadis yang dia remas tadi.


"Oh, yah. Semoga di lancarkan, aku turut bahagia untuk kalian. Selamat ya Pak." Ucap Rayan sambil tersenyum.


"Terima kasih, kalau gitu kami pamit dulu. Ayo sayang." Ucap Satria tanpa menunggu sahutan dari Rayan, pria itu langsung menarik tangan Gadis dengan terlebih dahulu dia mengambil tas milik Gadis yang teronggok di atas kursi sebelah Rayan.


"Permisi Pak." Ucap Gadis pada Rayan saat tangannya di tarik Satria, dia tak mungkin menyebut kakak di hadapan Satria.


"Kok Bisa Gadis mau sama tuh si kaku." Batin Rayan sambil melihat kepergian Satria juga Gadis.


***


"Om Sakit." Lirih Gadis saat tangannya di genggam kuat Satria sepanjang jalan menuju parkiran.


"Masuk." Tegas Satria dengan raut marahnya saat membukakan pintu mobilnya untuk Gadis.


"Kita mau kemana Om? Aku ada kelas sebentar lagi." Ucap Gadis masih belum menuruti perintah Satria.


"Aku bilang masuk Gadis!!!" Tegas Satria dengan sedikit menaikan nada suaranya membuat Gadis terkejut di buatnya. Tanpa mau membantah lagi Gadis langsung masuk, dan Satria langsung menutup pintu mobilnya dengan begitu kasar.


"Hoh, sabar Gadis." Batin Gadis sambil Mengelus dadanya sakin terkejut dengan tindakan Satria barusan.


Dengan pelan Gadis langsung menyibukkan dirinya dengan seatbelt saat Satria masuk ke dalam mobil dengan muka marahnya.


"Kita harus membicarakan pernikahan kita secepatnya, biar perlu besok kita akan menikah. Aku nggak mau tahu." Ucap Satria seketika membuat Gadis terkejut di buatnya.


"Om."


"Apa? kamu mau protes, mau menolak karena sudah nyaman di dekati banyak pria hah." Ucap Satria dengan emosinya tanpa menunggu lanjutan ucapan Gadis lagi.


Plaaakkk


Gadis yang mendengar apa yang di ucapkan Satria barusan langsung menatap Satria dengan tatapan tak percayanya, hingga tanpa sadar dia menampar keras pria yang kini sedang menatap marah dirinya itu.

__ADS_1


__ADS_2