
............🌹Happy Reading🌹 ...........
Satria yang terkejut dengan posisi Gadis, langsung jatuh pingsang sakin tak bisa terima melihat kenyataan di depannya, Pria itu bagaikan wanita yang begitu lemah dan rapuh membayangkan orang yang di cintai nya akan kembali meninggalkannya sampai tanpa selesai dia melihat kejadian itu namun tubuhnya sudah lebih dulu limbung menghantam lantai tempat parkiran.
"Kak Rissa!!! Tidak, kenapa kau lakukan ini." Tangis histeris Gadis dengan mata kepalanya sendiri melihat wanita yang baru saja menolongnya dari maut terkapar tak berdaya tepat di sisi jalan lainnya akibar tertabrak truk yang seharusnya dirinyalah yang menempati posisi maut itu.
Baru saja dua hari wanita itu berteman baik dengannya beberapa hari ini, tapi sekarang Tuhan malah memberi kecelakaan terhadap wanita yang baru saja berniat mendekatkan diri dengan Nya sang maha pemberi taubat.
Yah, Larissa tepat dua hari yang lalu di tolong Gadis dari bej*tnya komplotan yang menurut penjelasan Larissa adalah orang suruhan dari pria di masa lalunya untuk di lecehkan hampir sepuluh pria sekaligus di depan mata Gadis ketika wanita itu sedang hendak pergi mengantarkan makan siangnya Satria di perusahaan sang suami.
Seperti biasa Gadis akan duduk santai sebentar di taman sampai Satria selesai dengan pekerjaannya baru dia hendak menjumpai sang suami.
Namun apa yang dia temui di taman itu justru sangat mencengangkan penglihatannya, sekujur tubuhnya lemas menatap ke arah dekat pojok taman yang terdapat se pohon beringin besar yang di jadikan sebagai tempat pelecehan pada seorang wanita yang cukup Gadis kenali.
Larissa, wanita itu yang menjadi korban bej*tnya para lelaki tak berperasaan.
Beruntung Gadis yang selalu di berikan pengawalan bayangan ekstra oleh Satria yang selalu dia protes mengucapkan syukur ketika di saat itu dia mendengar jeritan wanita itu semakin histeris membuatnya dengan segera meminta pengawal rahasianya itu untuk membantu Larissa.
Dan di saat pengawalnya itu menolong Larissa, Gadis sedikit di buat terkejut dengan jumlah pengawal yang di berikan Satria padanya. Dalam kondisi seperti ini, dia entah harus berucap syukur atau bagaimana. Suaminya itu berhasil membuatnya tak habis pikir, setahunya Satria hanya memberikan satu pengawal pendampingnya namun apa ini. Mereka bagaikan pasukan bola, yang benar saja pria posesif itu mau membayar orang sebanyak itu hanya untuk mengintai dirinya yang hanya seorang diri.
"Kau membuatku hampir pingsan Dady." Satu kalimat itu yang keluar dari mulut Gadis ketika melihat kerjaan suami posesifnya itu, namun di akhir kalimatnya dia berucap syukur. Karena berkat mereka, Larissa bisa terselamatkan walau sedikit terlambat.
*Flashback On*
Dua hari yang lalu..
"Jangan melihat kesini, berbaliklah. Dan kamu aku pinjam jaketmu." Ucap Gadis pada orang-orang suaminya dan dia meminjam satu jaket milik orang yang lebih dia kenal.
"Pakai ini Ka, tenanglah mereka sudah tak ada." Kata Gadis sembari memakaikan jaket itu pada Larissa walau tak sepenuhnya menutupi keselurusan tubuh Larissa yang polos.
"Sebentar." Ucap Gadis usai memakaikan jaket itu pada Larissa tanpa protes.
__ADS_1
Wanita itu berlari cepat ke arah celana Larissa yang di buang tak jauh dari tempat mereka. Kembali Gadis membantu Larissa untuk memakai itu.
Tak ada sepatah katapun dari Larissa selain isak tangis yang tak pernah Gadis lihat selama ini selain wajah menyebalkan wanita itu, sungguh sangat mengiris hatinya. Dia tak menyangka bisa melihat Larissa dalam keadaan seperti ini.
"Terima kasih." Ucap Larissa setelah lama tak bersuara selain tangis.
Dari situlah awal mulanya kedekatan kedua wanita beda usia sekaligus beda kepribadian itu.
*Flashback Off*
"Nona, apa anda baik-baik saja." Seru seseorang mengagetkan tatapan serta tangis Gadis yang terus histeris melihat ke arah Larissa.
Seketika Gadis tersadar dan langsung memegang perutnya ketika mendengar kalimat baik-baik saja dari orang itu.
"Ya a-aku baik, bayiku baik." Ucap Gadis spontan sambil mengusap perutku.
"Ta ta tapi wanita itu." Lanjut Gadis setelahnya saat melihat banyak yang mengerubungi tubuh Larissa.
"Dady." Ucap Gadis terkejut saat melihat Satria yang sedang di bantu orang dalam keadaan tak sadarkan diri dan Gadis langsung meminta orang di sana untuk mengangkat Satria ke mobil mereka.
Kini Gadis sedang menyetir ke arah rumah sakit dimana Larissa di bawah.
Meski dalam keadaan tubuh bergetar, namun sebisa mungkin dia berusaha rileks. Demi lancarnya perjalanan mereka.
Sesampainya di rumah sakit, Satria langsung di tangani. Sementara Gadis menuju ruangan Larissa yang juga sedang di tangani, tak hentinya ibu hamil itu mengucapkan doanya demi keselamatan wanita yang sudah menolongnya itu. Hingga dimana seorang suster mendatangi Gadis dan meminta wanita itu menemui Larissa.
"Permisi, apa anda Nyonya Gadis.?" Ucap suster dan Gadis dengan cepat menganggukkan kepalanya seolah mulutnya tak bisa merespon ucapan suster itu.
"Pasien ingin bertemu." Ucap Suster lagi dan dengan tanpa menjawab Gadis melangkah ke arah pintu dimana Larissa di rawat.
Setibanya di dalam, dia langsung di sambut senyum oleh Larissa dengan air mata wanita itu yang ikut menyapa.
__ADS_1
"Kak Rissa." Ucap Gadis sambil mendekati Larissa dengan badan gemetarnya.
"Maafkan aku, maaf untuk semuanya." Lirih terbata Larissa.
"Kita sudah berteman apa yang harus aku maafkan. Dan kenapa kakak menolongku dan membahayakan dirimu sendiri." Ucap Gadis..
"Kau berdua, aku sendiri. Bukankah dua nyawa lebih di utamakan di banding satu." Kekeh Larissa membuat Gadis meneteskan air matanya.
"Sampaikan maaf ku untuk pria baik yang kini menjadi suamimu. Maaf jika sampai sekarang suamimu masih bertahta tinggi dalam hatiku, salahkan saja pria itu yang terlalu baik hingga membuatku sulit melupakannya. Dan maaf untuk semua gangguan ku di awal pernikahan kalian, maaf.."
"Jangan teruskan kita sudah membahasnya kak, kau harus sembuh. Demi Tuhan Kak Rissa aku akan hidup dalam penyesalan jika kau kenapa-kenapa." Kata Gadis dan mendapatkan gelengan kepala dari Larissa.
"Dengar, ini adalah takdirku. Kita impas Gadis, kau menolongku dan aku menolong mu. Dan satu lagi, karena mu aku mengeri arti penyesalan. Terima kasih, dan berbahagialah. Ini takdirku yang Tuhan atur sedemikian rupa. Jangan merasa bersalah dengan ini demi aku teman dua harimu. Aku bahagia." Kata Larissa dengan dua kalimat terakhir di ujung sisa nafasnya.
...****************...
"Selamat jalan Kak Rissa." Kata Gadis melihat tempat peristirahatan terakhir Larissa sebelum mobil mereka meninggalkan pemakaman, rumah terakhir manusia..
"Mih." Panggil Satria membuat konsen Gadis beralih pada sang suami.
"Ya Dady."
"Terima kasih masih bersama Dady." Kata Satria sembari memeluk Gadis, keduanya pergi menggunakan supir karena Satria yang ingin selalu memeluk wanita itu dalam keadaan apapun selepas kejadian kemarin yang hampir membuat Satria tak lagi bernafas itu.
"Berkat Kak Rissa Dady, wanita itu yang sudah membuat ku tetap bersamamu."
"Jangan lupakan Tuhan sayang, Kau hanya sebab tapi itu sudah takdirnya Larissa. Tuhan tahu, jika kau yang pergi maka akan ada dua nyawa menyusul mu." Kata Satria membuat Gadis mendongak melihat Satria yang setia memeluknya.
"Bayi yang kamu bawa di perutmu, serta aku suamimu." Kata Satria yang tahu tatapan tanya sang istri.
...****************...
__ADS_1
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...