
............Happy reading🌹 ...........
"Anakmu sungguh tampan, mungkin jika anakku masih hidup mereka pasti tak bedah jauh umurnya. Dan mungkin mereka akan sama-sama tampannya seperti Ayah mereka." Lanjut Tante Mia melihat ke arah Bunda Gadis yang nampak tak enak hati menatapnya.
"Iya dan tentu saja itu akan terjadi, kalau tak ada pelakor yang merusak rumah tanggamu dan dengan lancangnya merebut suamimu dan sekaligus menyebabkan kematian calon keponakanku di rahimmu." Ucap Papi Darma menimpali, beliau tak bisa menahan emosinya saat mendengar ucapan sang adik. Hingga membangkitkan kembali kebenciannya.
Suasana yang tadinya baik-baik saja kini berubah jadi mencekam akibat perkataan menohok Papi Darma yang seakan menyudutkan Bunda Gadis.
"Papi." Ucap Mami Eka dan Satria bersamaan, mereka tak menyangka Papi Darma bisa mengatakan hal itu.
Sementara Dimas, dia sudah mengepalkan tangannya marah. Namun saat kemarahannya ingin meledak, Suara Tante Satria sudah menyela terlebih dahulu.
"Tak ada yang merusak pernikahanku, atau merebut suamiku Kak." Ucap Tante Mia, kini beliau ingin meluruskan semuanya. Setelah beliau sadar dan berdamai dengan Masa lalu setelah sekian lamanya.
"Jangan mendadak amnesia Mia, aku bahkan masih mengingatnya dengan jelas. Betapa rapuhnya dirimu selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun lamanya setelah di khianati hingga berujung kematian pada putra mu yang belum sempat kamu lahirkan itu." Teriak Papi Darma membuat semua pelayan dan asisten rumah tangga di rumah Gadis berlari keluar melihat kejadian tak terduga ini.
Mendengar itu, Bunda Gadis menundukkan pandangannya dengan berlinang air mata. Beliau tak mau berucap sepatah kata pun demi putrinya.
Gadis dengan cepat beralih ke kursi sang Bunda dan memeluk wanita itu erat, dia pun ikut meneteskan air matanya melihat sang Bunda yang di katakan sebagai pelakor.
"Buna, Mami. hikz hikz hikz." Arsyila ikut menangis histeris mendengar bentakan Papi Darma. Membuat Satria dengan cepat menggendongnya.
Sementara Sky, bocah laki-laki itu langsung menyembunyikan dirinya di belakang kursi Satria yang tak ada seorangpun yang menyadari itu.
"Papi, jika Papi tak ikhlas merestui pernikahanku. Pulanglah, tapi tolong jangan membuat keributan di sini." Tegas Satria, namun dia berusaha menahan suaranya agar tak mengagetkan sang putri yang ada dalam dekapannya itu.
"Kak, benar kata Satria. Dan lagi aku tak pernah di hiyanati siapapun. Tapi aku yang sudah masuk di hubungan mereka dan merusak segala rencana hidup mereka demi perjodohan yang seharusnya dari awal tak aku terima." Lantang Tante Mia membuat Papi Darma menatap sengit sang adik.
"Yah kak, aku yang sudah masuk dan merusak pernikahan mereka. Aku hanya istri kedua yang sudah salah paham, atas kedudukan ku sendiri di antara mereka. Bunda Gadis sudah lebih dulu menikah dengannya sebelum akhirnya perjodohan itu terjadi." Ucap Tante Mia, mencoba tegar mengingat kembali penjelasan sang mantan suami tentang kejadian itu. Kejadian yang sempat tak bisa iya terima meski sudah tahu masalahnya dari penjelasan mantan suaminya kala itu.
__ADS_1
Papi Darma tersentak kaget mendengar penuturan sang adik, beliau tak habis pikir dengan sang adik yang baru memberitahukan kebenaran ini setelah sekian tahun lama iya memendam kebencian.
"Lalu kenapa kau tak memberitahuku Mia." Bentak Papi Darma.
"Papi sudahlah." Ucap Mami Darma menenangkan Papi Darma, hingga membuat pria itu terduduk lemas kembali di kursi makannya.
"Maafkan aku." Ucap Papi Darma yang entah beliau mengatakan itu untuk siapa, tak ada yang memahaminya karena beliau mengatakan itu dengan menundukkan pandangannya.
"Sudahlah, mungkin ini sudah jalannya Tuhan membuka semuanya agar tak ada lagi salah paham antara kedua keluarga ini." Sahut Mami Eka.
"Maafkan aku." Kali ini Tante Mia yang bersua, yang jelas iya tujukan untuk sang kakak juga Bunda Gadis tentunya.
"Maafkan sikap suamiku." Ucap Mami Eka menimpali sambil menatap Bunda Gadis yang masih dalam dekapan Gadis putrinya.
Sementara Papi Darma sangat malu, mencoba mengangkat kepalanya menatap Bunda Gadis. Beliau bukan tipe orang yang kalau salah akan tetap menahan ego karena kesalahannya. Tapi beliau akan mengakui
kesalahan jika memang beliau sudah menyadarinya dengan jelas penuh penjelasan seperti sekarang ini.
Papi Darma pun tak menyalahkan sang Adik, beliau tahu betapa beratnya menjadi Mia. Hanya saja, kini beliau cukup senang sang adik sudah bisa mengungkapkan segalanya setelah sekian lama memendam semua ini sendiri.
Satria dengan lega, kembali mendudukkan dirinya di tempatnya kembali sambil menenangkan sang putri yang masih terus menagis..
"Sayang, ada Dady disini. Sudah yah jangan menangis lagi." Bujuk Satria, sembari dia mengusap Sayang rambut Arsyila.
"Sky, kamu nggak papa?" Taya Satria, melihat bocah laki-laki itu yang nampak sejak tadi berdiri bersembunyi di belakangnya.
Mendengar itu, Papi Darma merutuki sikapnya tadi yang sampai tak sadar ada kedua cucunya yang menyaksikan sikap kerasnya tadi.
"Sky, sini sayang sama Opa. Opa minta maaf, tadi hanya masalah orang dewasa." Ucap Papi Darma menatap Sky yang sedang mengintip menatap beliau takut.
__ADS_1
Bocah itu tak bergeming, dia tak menjawab sedikitpun ucapan Papi Darma. Membuat pria paruh baya itu menghembuskan nafasnya menyesal.
Papi Darma pun, berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Sky yang nampak bersembunyi di balik kursi sang Uncle.
"Ayo ikut Opa, kita hanya sedikit mengeprank kamu sayang. itu yang kaya sering kamu nonton." Ucap Satria, mencoba membujuk sang ponakan. Dia tak mau hal tadi di anggap serius oleh bocah kecil itu.
"Benar begitu Opa?" Tanya Sky yang tahu betul kata prank, seperti yang sering dia curi nonton bersama sang Oma Ami ibunya orang yang sudah mendonorkan jantungnya pada sang Dady. Yang sudah dia kenal sebagai Omanya sejak masih bayi. (Yang belum tahu cerita selengkapnya tentang Mami Dady nya Sky, kalian bisa baca di cerita aku yang judulnya Terpaksa Menikahi Teman Baikku. Ada Satria juga di cerita itu☺️).
"Yah, seperti yang Uncle mu katakan." Sahut Papi Darma.
Sky pun langsung melangkah mendekati sang Opa.
"Opa keren, lihatlah semua sampai takut atas prank Opa. Aku pun begitu." Ucap Sky polos membuat Papi Darma tambah merasa bersalah.
"Yah, tapi jangan di tiru yah. Itu tidak baik, lihat kan semuanya jadi menangis karena Opa .. umm Opa, apa tadi namanya?"
"Prank Opa, Opa ini." Ucap Sky menepuk jidatnya.
"Yah itu dia, Prank." Sahut sang Opa.
"Mba, maafkan suamiku yah." Kini Mami Eka sudah berdiri di sebelah Bunda. Beliau ikut merasa bersalah dengan perlakuan suaminya tadi.
"Yah maafkan aku juga." Timpal Tante Mia, beliau begitu malu pada Bunda Gadis karena sudah menutupi segalanya. Hingga membuat Gadis dan Satria menanggung segalanya selama ini.
"Sudahlah, tak ada yang salah dan harus meminta maaf dan di maafkan. Ini sudah skenario Tuhan, dan aku yakin hari ini pun sudah di atur nya sedemikian rupa. Yang berlalu biarlah berlalu, kita tidak perlu mengingat sesuatu yang akan menyakitkan satu sama yang lain. Kita hanya korban keegoisan keluarga, dan tanpa sengaja mewariskannya pada putra putri kita yang tak seharusnya mereka menanggungnya. Tapi saya berysukur semuanya sudah terselesaikan sekarang." Ucap Bunda Gadis sembari beliau menghapus air mata, mencoba tegar melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
...Jangan lupa like komennya yah🥰...
...Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗...
__ADS_1
...Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...