SATRIA

SATRIA
Perasaan David


__ADS_3

Selamat malam, maaf ya RedPink baru update. udah lama istirahat. hehe semoga masih banyak yang nungguin cerita ini.


Happy Reading 😘😘😘


¤ ¤ ¤


c a l l a sangat merindukan Satria, padahal baru satu hari Satria meninggalkan Indonesia rasa rindu itu semakin penuh, sungguh menyesakkan dada , rasanya sulit sekali untuk bernafas. hari ini c a l l a sepertinya tidak semangat. jelas.... terlihat di wajahnya.


Dikelas Calla hanya bengong saja.


"Wooi.... ngapa dah bengong muluk lo. Kesambet nanti." Tam ngagetin Calla dari samping, padahal Tam dari tadi ngajak ngomong Calla tapi tak ada respon sedikitpun.


Benar.. Calla terlihat kaget. sampai dia memegang dadanya karena kaget.


"Tam jangan sukak ngagetin gitu ah. kalok gue punya sakit jantung gimana. mau tanggung jawab." Ucap Calla agak sewot.


"Ya maaf deh. Lagian elo ya diajakin ngomong diem mulu kagak ada respon. Gue ngerasa kayak sales panci yang nawarin panci ke ibuk-ibuk komplek tapi kagak ada yg ngrespon mau beli alias dikacangin."


"Ya maaf Tam, gue kurang semangat." suara Calla lemah.


"Napa... lo sakit Call? Apa perlu gue anter ke UKS?"


Tam berdiri sejenak untuk membantu Calla berdiri, tapi Calla menghentikannya.


"Enggak Tam.. enggak. Gue gak sakit. Gue gak semangat karena ditinggal Kak Satria kuliah di luar Negri."


Tam yang baru saja mendengar informasi itu pun kaget, karena setau Tam dulu Calla pernah cerita kalau Satria itu bakal kuliah di Jakarta, biar deketan ama Calla gitu. Malah ini keluar Negri.


"Looh... kata lo dulu Kak satria kuliah di Jakarta aja biar barengan terus ama loh. Gimana sih Satria itu, wah... pembual tuh anak."


Tam tak mau melihat sahabatnya sedih, Tam merasa sahabatnya itu telah dipohongi oleh pacarnya sendiri.


Calla menggelengkan kepalanya.


"Tidak Tam.. Kak Satria bukan pembual, Kak Satria tak bermaksut bohongin gue ataupun ngecewain gue.."


Cala tak terima jika sahabatnya itu mengecap kekasihnya itu jelek apalagi pembual ataupun pembohong. Calla tak mau sahabatnya itu salah paham tentang kekasihnya itu. Calla mencoba menjelaskan pada Calla tentang ini tapi belum selesai Calla menjelaskan Tam seenaknya memotong ucapan Calla.


"Kalok ga ngecewain atau bohongin loh, terus apa namanya. Kan dia sendiri yang bilang ke elo kalok dia gak bisa jauhan ama loh dia bakal kuliah di jakarta. Faktanya sekarang dia kuliah di luar Negri." Tam bersungut-sungut marah.


"Dengerin dulu Tam penjelasan gue, Kak Satria gak seperti yang lo bayangin, Jangan asal potong aja orang yang lagi ngomong." Calla gemas melihat sahabatnya itu


"Iya terus... ada apa sebenernya." Tam menoleh melihat ke arah Calla.


"Kak Satria dapat Beasiswa ke luar Negri Tam. Beasiswa dari Agensinya, ini Beasiswa dari Ceo di Agensinya." Calla terdiam sejenak.


"Jadi tolong jangan nuduh Kak Satria yang enggak-enggak."


Tam pun ngerasa bersalah pada Calla. Akhirnya Tam meminta maaf pada Calla dan mereka berdua saling berpelukan.


¤ ¤ ¤


Sore hari ditemani gemericik hujan gerimis yang agak lebat, ada sepasang remaja berlawanan jenis sedang duduk di meja pojok kafe, layaknya mereka berdua ini pasangan kekasih seperti pasangan lainnya yang ada di dalam kafe tersebut, tapi sebenarnya mereka berdua bukan, bukan pasangan kekasih.


"Ada apa, kok loe tiba-tiba ngajakin gue ketemuan. Apa yang lo bilang penting itu, cepet.. gue ga punya banyak waktu."


"Tam... yang minggu lalu itu,..."


David pun ragu untuk meneruskan apa yang dia ucapkan.


Tam pun juga penasaran apa yang akan Davit bicarakan kepada dirinya.


"Yang minggu lalu itu gue serius. Gak tau kenapa ada perasaan sayang dihati gue ke loe. Jujur hampir tiap malem gue ga bisa tidur, loe terus aja bermunculan dipikiran gue. Gue entar gak mau nyesel kalok ga memperjelas ini semua."

__ADS_1


David tiba-tiba meraih dan memegang kedua telapak tangan Tam di taas meja.


"Gue serius ama loe Tam, selama ini gue ga pernah ngerasain perasaan seperti ini di perempuan lain selain loe Tam, ya.. loe yang pertama yang membuat hati gue terus berdebar, membuat gue tak bisa brentih mikirin loe."


Tam masih tak bergeming....diam. Tam mencoba mencerna semua perkataan David padanya sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


"Ya.. mungkin gue dapat karmanya karena selama ini gue mempermainin hati perempuan. gue gak pernah tergila-gila seperti ini sebelumnya."


Tam masih bingung, Tam tak tahu harus menjawab apa, terlihat jelas Tam gugup. Sekarang keringatnya sebesar biji jagung telah bermunculan di dahi Tam dan David menyadari itu.


"Jangan gugup." Davit menghapus keringat di dahi Tam dengan tangan kanannya


"Gue cuma mau omong jujur aja ama loe tentang perasaan gue, Loe bisa jawab perasaan gue sesiap loe aja. Gue gak mau maksain sekarang. loe pikirin baik-baik umungan gue tadi. Gue akan nunggu loe Tam." Ucap Davut tulus.


Tam makin canggung dalam posisi seperti ini.


"Hemmm... Vid." belum selesai Tam bicara telunjuk davit menghentikan bibir Tam untuk bicara


"Sutttss.... udah, tugas loe saat ini cuma dengerin gue ngomong." Davit tersenyum manis pada Tam.


Tam lagi-lagi hanya bisa mengerjapkan kedua bola matanya.


"Oiyah,, kapan pun loe siap jawabnya, loe tinggal hubungi gue. Selama apa pun itu gue akan nunggu loe Tam."


Tam menggelengkan kepalanya pelan.


Davit tersenyum lagi, seketika tangan kanan Davit mengelus kepala Tam dengan lembut.


"Loe jangan masang wajah terbebani gitu ah, kan gue merasa gak enak." Canda David mencairkan ketegangan di wajah Tam.


"Gue gak apapa nunggu loe siap Tam. yakin." Sekali lagi-- David mencoba menyakinkan Tam tentang perasaannya itu.


"Tam sekalian ini pertemuan terakhir kita." Ucap davit parau tapi tak menghilangkan senyum di bibirnya.


Tam makin kaget dan bingung apa yang barusan David ucapkan. Apa dia salah dengar, mungkin pendengarannya yang agak terganggu. Apa dia salah dengar, pikir Tam.


Sore itu Tam merasa ada yang aneh didirinya,


Hatinya tiba-tiba terasa nyeri.


Entah apa penyebabnya.


Jantungnya tiba-tiba berdegub sangat cepat dan kencang.


Entah apa penyebabnya.


Tam masih bingung.


¤ ¤ ¤


Tam malam ini tak bisa tidur, ia masih teringat ucapan David padanya tadi di kafe. Apa benar Davit mempunyai perasaan pada dirinya? Tam masih belum begitu yakin.


ya kalian semua tahulah alasannya kenapa. Davit sang playboy. Pikir Tam, itu mungkin salah satu trik seorang playboy menjalankan missinya.


Entahlah... Tam masih bimbang. Dia gelisah memikirkan itu semua. Tam masih bingung dengan dirimya, sedari tadi sore dia gelisah saat mengetahui David akan pergi ke luar Negri untuk melanjutkan pendisikannya.


"Aduuhhh... napa sih dari tadi ga bisa tidur, selalu ajja kepikiran yang tadi." Racau Tam kesal.


"Apa gue minta pendapat Calla ya besok." Tam sambil berfikir dan memandang langit-langit kamarnya.


"Aaahhhhh entahlah... bisa gilak gue mikir ini semua. Belum-belum udah pusing nih pala mikirin ini." Tam menjambak sendiri rambutnya karena merasa pening di kepala.


¤ ¤ ¤

__ADS_1


05:30 Pagi di rumah Calla.


Pagi-pagi Tam udah menghebohkan kamar Calla. Tak biasanya Tam main ke rumah Calla pagi-pagi seperti ini. Apalagi ini termasuk hari libur. Sunggguh pemandangan yang sangat jarang sekali.


"Wooiii Calla, bangun woooii. Dah siang nih... Ayok bangun." Teriak Tam di dalam kamar Calla untuk membangunkan sahabatnya itu.


Calla tak menghiraukan panggilan Tam, malah Calla merapatkan selimut serta menutupi wajahnya juga dengan selibut tebal berbulu berwarna biru itu.


Tam tak habis akal untuk mengganggu Calla agar dia bangun dari bobok cantiknya itu.


"Calla ayok bangun." Teriak Calla dan menarik selimut itu.


"Dah siang tuh liat mataharinya dah nongol."


"Apaan sih Tam, Gue ngantuk jangan ganggu gue." Calla tetap memejamkan matanya.


"Anak gadis jangan bangun siang." Tam menarik kaki Calla agar terjatuh.


"Aaauuwwwhh sakit." calla terjatuh ke lantai dan itupun ulah sahabatnya sendiri. Siapa lagi kalok bukan Tam yang narik kakinya.


Dasar Tam siaaalaan pikir Calla. Sedangkan Tam lari keluar kamar.


¤ ¤ ¤


Calla pun akhirnya mandi karna ulah Tam tadi dan sekarang berada diruang tengah dengan Tam.


"Woi.. kenapa loe pagi-pagi udah ngacoo dirumah gue. Kesambet apa loe tumbenan banget." Ucap Calla heran sambil memandang Tam di depannya itu.


"Mau ngajak jogging loe apa gimana, Sebenernya gua capek ga mau kalok diajak jogging. pingin rebahan ajja seharian mumpung libur." Keluh Calla.


"Bukan jogging." Tam menggigit bibir bawahnya.


Tam agak ragu mau menceritakan semuanya pada Calla tentang David dan dia waktu kemarin sore.


"Lah terus apa kalok ga ngajak jogging. pagi-pagi loe udah mencak-mencak dalam kamar gue, ngisengin gue agar gue bangun."


"Ini tentang gue dan Davit." Ucap Tam pelan.


Calla mengerutkan sebelah alisnya ke atas, makin heran dan tak mengerti apa yang diucapkan barusan oleh Tam.


David.. Tam... emang apa yang terjadi pada kalian. Pikir Calla.


Tam pun menceritakan semuanya pada Calla dan Calla hanya mengangguk angguk saja mendengarkan Tam yang bercerita.


"Yah loe harus kasih kejelasan Tam, jawab sekarang aja sebelum Kak David pergi. Samperin dia. Kalok loe ga suka ama dia ya jawab dengan jujur biar dia gak berharap terlalu besar terhadap loe. Kasian Tam hati orang kalok digantung."


Tam pun mengangguk saja. Dia sebenernya masih bimbang. Mau menerima Davit apa enggak.


Perasaan hati serumit ini ternyata pikir Tam.


Sebenarnya perasaan gak begitu rumit. kadang pikiran kita sendiri yang membuat itu rumit. kalok suka ya bilang suka, kalok enggak ya bilang enggak.


Pikiran yang terlalu banyak memikirkan sesuatu hal-hal yang bisa merumitkan perasaan itu sendiri dan akhirnya kita akan menyesal pada akhirnya saat kita baru menyadari perasaan yang sesungguhnya.


**Bersambung... 🤗


¤ ¤ ¤ ¤ ¤ ¤ ¤


Kira-kira Tam akan nerima David apa kagak ya??


Ah Author juga penasaran...


Oiyah Author mau ucapin makasih kalian yang masih mau nungguin cerita ini update dan maaf sekali lagi karna RedPink baru update novel ini. Mohon dukungannya ya...

__ADS_1


Salam Sayang


RedPink 😘😘**


__ADS_2