SATRIA

SATRIA
Bab 38


__ADS_3

"Ajak ke sini langsung saja Bi." Ucap Bunda sambil menatap Gadis dengan tatapan penuh pertanyaan, membuat Gadis yang di tatap hanya bisa menelan saliva nya.


"Lo masih berhubungan dengan Satria Gadis, apa lo nggak punya malu udah di tolak mentah-mentah sama keluarganya dia?" Tanya Dimas dengan tatapan tak sukanya, pasalnya dia masih merasa sedih dengan keadaan Gadis yang beberapa bulan ini nampak murung semenjak keluarga Satria menolaknya. Apa lagi Satria nampak menghilang tanpa kabar sebelumnya, membuat dia benar-benar merasa sedih dengan keadaan sang Adik waktu itu.


"Benar begitu Gadis? Sejak kapan? kenapa Bunda nggak di beri tahu?" Timpal Sang Bunda tak habis pikir dengan pemikiran sang putri yang ternyata sudah melanggar ucapannya sendiri.


Pasalnya Gadis sendiri yang mengatakan padanya jika gadisnya itu tak akan mendekati pria itu lagi setelah dapat penolakan telak dari keluarga Satria di depan dan rumahnya langsung.


"Aku, aku.." Ucap Gadis sedikit gugup..


"Tepatnya kami baru kembali menjalani hubungan lagi, maaf jika aku menyela. Selamat pagi Tante, pagi Dim." Ucap Satria saat dia baru masuk di ruangan makan dimana kekasihnya itu sedang di interogasi keluarganya.


Satria sempatkan meraih tangan Bunda Gadis untuk di ciumnya, tak peduli Bunda gadisnya itu nampak acuh padanya.


"Duduklah." Ucap Bunda.


"Sebaiknya kalian jangan melanjutkan lagi hubungan kalian Sat, kamu bisa mendapatkan gadis yang lebih dari adikku. Jangan lagi buat dia di tolak untuk yang kesekian kalinya lagi. Lo tahu kan gimana perasaannya jika adik lo di posisi seperti Gadis bagaimana?." Ucap Dimas dengan raut tak bersahabat nya. Dia memang menghargai Satria yang pernah menolong keluarganya, namun untuk masalah sang adik, sungguh dia tak terima sama sekali.


"Benar kata Dimas Satria, Bunda bukan menolak atau tak suka dengan kamu. Hanya saja sebaiknya kamu turuti permintaan orang tuamu, jangan buat mereka kecewa dengan kamu melanggar perintah mereka." Bunda berkata dengan raut sedihnya, takut putrinya mengalami penolakan lagi karena masa lalu dirinya itu.


Satria jadi merasa bersalah dengan kejadian hari itu setelah mendengar penuturan kedua orang terpenting dalam hidup gadisnya itu.


"Maafkan aku, aku tak bisa menuruti permintaan kalian. Aku minta maaf juga atas nama keluarga besar ku, tapi aku mohon tolong beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan mengusahakan restu dari keluargaku, terkhusus Papi ku. Aku nggak akan melepas lagi Gadis untuk kali ini." Jelas Satria bersungguh sungguh.


"Itu berarti lo nggak sayang Gadis Satria dengan kalian masih bersama, mengertilah keluarga lo sampai kapanpun tak mungkin menerima Gadis."


"Lo salah Dim, karena aku sangat mencintai Gadis. Itu sebabnya aku nggak akan melepas Gadis lagi sekalipun aku akan ditentang keluargaku lagi aku nggak peduli. Maafkan aku yang baru menyadari jika aku nggak bisa tanpa Gadis. Kumohon berilah aku satu kesempatan lagi." Mohon Satria.


Mendengar itu Dimas tak angkat suara lagi, sementara Bunda juga tak bisa menolak lagi jika berhubungan dengan hati. Dia tak mau membuat keputusan yang akan membuat sang anak tak bahagia nantinya.


"Gadis ada yang mau kamu bicarakan tidak.?" Tanya Bunda ketika melihat sang anak hanya diam sejak tadi.


"Maafkan Gadis Bun, Gadis mencintai Satria." Ucap Gadis membuat sang Bunda dan Dimas menghembuskan nafas mereka pelan.


"Baiklah, Bunda harap kamu bisa menyelesaikan ini Satria. Dan satu yang perlu kamu tahu, Bunda tak pernah merebut suami Tante mu. Tapi Bunda istri pertama dari suami Tante mu waktu itu. Kalian makanlah, Bunda harus pergi sekarang." Ucap Bunda dan beliau berlalu pergi, kemudian di susul Dimas selanjutnya.


"Aku juga pamit." Dimas menatap Satria sekilas dan dia pun meninggalkan Satria dan Gadis yang nampak mengiyakan ucapannya.


***

__ADS_1


Parkiran kampus..


"Sayang." Panggil Satria ketika Gadis hendak keluar mobil.


"Apa Om, kita udah telat hampir setengah jam Om." Ucap Gadis dan dia hendak turun, namun gerakannya terhenti dan menatap seatbelt nya yang masih terpasang apik di tubuhnya.


"Maksud aku ini sayang." Kata Satria sambil membantu membukanya untuk Gadis.


"Kenapa nggak bilang dari tadi." Ucap Gadis untuk menutupi rasa malunya.


"Salah lagi aku." Lirih Satria saat Gadis sudah berlalu pergi meninggalkan dirinya.


Gadis, berjalan cepat ke arah ruangan yang ternyata belum ada dosennya.


"Oh untung-untung." Ucap Gadis lega sambil duduk disebelah Bunga.


"Lo kenapa ngos-ngosan gitu, di kejar setan gorila atau apa?" Tanya Bunga bingung.


"Gua lari lah dari parkiran, eh ternyata dosennya belum ada." Gerutu Gadis sambil mengatur nafasnya yang nampak masih belum normal.


"Kenapa lari segala, kan emang belum waktunya. Masih ada dua puluh menit lagi." Ucap Bunga membuat Gadis menatapnya bingung.


"Maksud kamu, bukannya jam kita harusnya mulai setengah jam yang lalu."


Kenapa dia bisa lupa jika Satria yang mengajar hari ini, dan lagi bisa-bisanya Satria tak memberitahunya tadi soal hal ini sampai dia berlarian seperti orang gila.


Dengan cepat Gadis langsung berdiri dan berjalan cepat keluar kelas. Tak perduli dengan teriakan Bunga yang memanggil namanya, dia harus menemui Satria sekarang juga.


Sesampainya di depan ruangan Satria, Gadis langsung mengetuk pintu namun Satria malah mengagetkan dirinya dari arah belakang.


"Ngapain kamu gedor-gedor pintu saya, ada urusan apa?" Tanya Satria menjahili Gadis dengan wajah datarnya karena sedikit kesal di tinggal Gadis tadi.


Mendengar itu, Gadis yang hendak protes jadi mengurungkan niatnya.


"Masuk." Ucap Satria lagi saat dirinya sudah lebih dulu masuk ruangannya.


Gadis langsung masuk mengekor di belakang Satria.


"Kenapa Om nggak beritahu aku sih kalau Om yang ngajar. Kan aku nggak harus berlarian tadi."

__ADS_1


"Bagaimana mau beritahu sayang, kalau kamu nya main kabur aja ninggalin aku."


"Yah harusnya pas perjalanan kan bisa bilang Om." Gerutu Gadis.


"Iya iya aku yang salah, maaf yah." Ucap Satria yang hendak memeluk Gadis namun langsung di hentikan Karena ada yang mengetok ruangannya.


"Ya udah aku balik ke kelas dulu, cuman mau bilang itu saja soalnya." Ucap Gadis.


"Baiklah, sebentar lagi aku susul sayang."


"Humm." Setelah mengatakan itu Gadis langsung beranjak keluar dan bertemu seorang mahasiswa yang tadi mengetok pintu.


"Permisi." Ucap Gadis dan meninggalkan orang itu yang juga nampak masuk ke ruangan Satria karena pria itu yang memintanya.


***


Usai urusan dengan mahasiswanya, Satria pun langsung menuju ruangan kelas Gadis.


Dia sedikit melemparkan senyum ke arah Gadis, membuat seisi ruangan merasa dia melempar senyuman itu pada mereka masing-masing...


Setelah enam puluh menit berlalu, Satria pun langsung meninggalkan ruangan setelah dia usai menyelesaikan materinya.


"Uhh, makin tampan aja tu Dogan Kasatria gua." Ucap Bunga sepeninggal Satria.


"Kantin yuk, tadi aku sarapannya nggak tahu lari kemana." Ajak Gadis tanpa menghiraukan ucapan Bunga karena perutnya yang nampak mendemo minta jatah.


"Gas ken lah."


Mereka berdua pun langsung beranjak pergi ke kantin kampus..


"Boleh gabung." Ucap Dewa yang langsung duduk di samping Gadis yang kini nampak menikmati makanannya yang baru saja di antar.


"Sejak kapan kakak minta ijin, biasanya juga main duduk aja." Cicit Bunga.


Sementara Gadis dia langsung menatap kiri kanan, takut jika Satria melihat Dewa bersamanya kini.


Namun baru juga dia mengangkat kepalanya untuk melihat, Satria sudah ada di hadapan nya..


"Mati aku." Batin Gadis..

__ADS_1


"Ayo ikut." Ucap Satria dengan wajah datarnya.


Sementara Bunga dan Dewa nampak menatap bingung kedekatan Gadis juga dosen mereka itu. Apalagi Satria tanpa basa-basi langsung mengambil tangan Gadis dan di genggamnya erat.


__ADS_2