
............Happy reading🌹 ...........
Keesokan pagi, masih di kediaman Gadis...
"Pagi sayang, cucunya Bunda udah bangun niih. Makan apa sih?" Ucap Bunda yang baru saja memasuki ruang makan dan mendapati Arsyila, sang cucu yang sedang makan di temani asisten rumah tangga mereka.
Cucunya itu selalu bangun lebih awal di banding Gadis juga Bunda sendiri. Namun Arsyila selalu terbiasa langsung menuju dapur, dan selalu meminta makanan pada Bibi yang memang subuh lagi sudah beraktifitas di dapur. Dan itu sudah menjadi kebiasaan bocah kecil itu beberapa bulan belakangan ini.
"Padi Buna, Cila matan nati dolen dadin. Iya tan Bibi?" Ucap Arsyila sambil menatap Bibi yang sejak pagi sudah melayaninya itu.
"Iya sayang, nasi goreng toping daging sepesial buat non Cila yang super cantik." Jelas sang Bibi membenarkan ucapan Arsyila.
"Oh enaknya, makan yang banyak yah sayang." Ucap Bunda sembari mengacak rambut Arsyila yang nampak fokus dengan makanannya, karena memang dia sudah di biarkan sejak setahun yang lalu untuk makan sendiri.
"Ote Buna."
"Bi, Maminya Cila dimana? apa sudah bangun? Tanya Bunda pada Bibi.
"Mami macih tidul cama Dady Buna." Jawab Arsyila cepat hingga membuat Bibi menunda ucapannya.
"Hmm, makasih ya sayang. Bunda tinggal sebentar yah." Ucap Bunda dan beliau langsung menuju rumah belakang kawasan Gadis dan sang cucu Cila.
Bunda langsung masuk saja ke kamar Gadis yang memeng sudah di buka Arsyila sang cucu seperti biasanya. Ibu dua anak itu menatap tersenyum Gadis yang sedang di peluk posesif Satria di ranjang sang putri, namun senyumnya langsung memudar ketika Satria yang baru saja terbangun dan menatap beliau.
"Bunda." Ucap parau Satria.
"Suttt, pelan-pelan jangan sampai Gadis bangun. Ayo sarapan bersama, putri kalian sudah sarapan duluan."
"Baik Bund, aku segera ke sana." Ucap Pelan Satria sembari dia meletakan kepala Gadis yang sejak semalam berbantal kan lengannya berpindah ke bantal yang di pakannya.
"Ya udah, Bunda tinggal yah. Biarkan saja Gadis tidur dulu, jangan di bangunin. Biarkan dia bangun sendiri, jarang-jarang dia bisa tidur senyaman itu." Ucap Bunda dan setelahnya beliau keluar dari kamar itu.
"Hmm." Ucap Satria sembari dia menatap Gadis, ada penyesalan besar di benaknya saat mendengar kalimat calon mertuanya itu. Dia tahu apa maksud dari Bunda, dan semua itu pasti karenanya.
"Sudah separah itu kah, akibat dari perpisahan kita sayang. Maafkan aku, kuharap tak akan ada lagi luka yang menghampirimu." Batin Satria, dia juga mendoakan dirinya agar selalu bisa ada untuk Gadis sepanjang umurnya, agar tak ada lagi kesedihan di hidup gadisnya itu. Dia pun berjanji pada dirinya sendiri, tak akan membiarkan seujung kuku pun luka luka menghampiri Gadis selagi ada dirinya di samping wanita itu.
Puas menatap Gadis, Satria pun langsung beranjak ke kamar mandi dan dia langsung membersihkan dirinya sejenak. Setelahnya dia kembali memakai pakaiannya semalam yang dia lepas sebelum tidur berhubung dia yang memang tak membawa pakaian gantinya.
Sampai dirinya keluar dari ruang Ganti setelah bebersih diri, Gadisnya itu masih dalam tidurnya. Membuat Satria tersenyum menatapnya.
__ADS_1
Usai itu, Satria pun mendekati Gadis dan mengecup kening wanita itu dan setelahnya dia pun langsung keluar menuju ruang makan dimana Dimas Bunda dan Arsyila sudah stay lebih dulu di sana.
"Ayo sarapan nak." Ajak Bunda saat melihat kedatangan Satria
"Aku nanti sarapannya bersama Gadis saja Bun, aku belum lapar."
"Ya udah, Bunda duluan ya nak. Udah selesai soalnya." Pamit Bunda, karena memang tadi beliau lebih dulu makan sebab beliau ada janji temu dengan klien nya pagi ini.
"Aku juga pamit." Ikut Dimas yang memang juga sudah selesai dengan sarapannya.
Setelah kepergian Calon mertua juga kakak iparnya pergi Satria pun langsung mengajak Arsyila yang sudah selesai dengan makannya untuk kembali ke kamar mereka.
"Sayang, sudah bangun?" Sapa tanya Satria ketika mereka baru memasuki kamar dan mendapati Gadis yang sedang membereskan tempat tidur.
"Ya Dady, maaf yah aku telat bangun. Jam berapa kita berangkat Dad?" Tanya Gadis karena memeng tadi saat dia bangun dia mengingat janji Satria jika mereka akan berangkat pagi ini ke kota calon suaminya itu.
"Cila sini sayang, mandi sama Mami." Lanjut Gadis.
"Dimana kamu udah siap, kita bisa berangkat sayang?" Jawab Satria.
"Emang bisa begitu?"
"Ah lebay." "Ayo mandi mandi." Ucap Gadis seusai dia membuka baju Arsyila dan menggendong putrinya itu ke arah pintu keluar langsung rapi mereka itu.
"Aku serius sayang." Ucap Satria namun Gadis sudah lebih dulu hilang di balik pintu.
***
"Dady, lalu mobil Dady gimana?" Tanya Gadis yang sudah mulai membiasakan dirinya memanggil Satria di hadapan Arsyila dengan sebutan Dady.
Kini mobil mereka baru saja memasuki bandara, karena memang penerbangan mereka sebentar lagi.
"Udah ada orang ku yang sudah menunggu di dalam, dia yang akan mengurus mobil ini." Ucap Satria dan Gadis hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanda paham.
Sesampainya mereka di dalam, Mobil Satria langsung di tangani. Berhubung mereka tak membawa barang, karena memang Satria yang memintanya. Satria juga Gadis dan Arsyila yang dalam gendongan Satria langsung di arahkan menuju tempat kenaikan pesawat sebab semua urusan sudah di urus oleh orang-orangnya untuk itu mereka hanya tahu siap naik pesawat saja.
Perjalanan pesawat mereka hampir empat jam lebih, dan kini tibalah mereka di kota kelahiran Satria.
"Sayang, mau ke hotel untuk istirahat dulu atau langsung ke rumahku?" Tanya Satria ketika mereka sudah di mobil yang tadi menjemput mereka.
__ADS_1
"Langsung saja, biar aku nggak kepikiran." Ucap Gadis jujur, soalnya sejak dalam perjalanan tadi dia terus memikirkan bagaimana tanggapan orang tua Satria nantinya. Dia ingin mereka tak menundanya lagi, agar pikirnya yang sejak tadi cepat mendapatkan jawabannya. Entah itu di tolak atau di terima, dia sudah mempercayakan semuanya untuk Satria.
"Baiklah." Sahut Satria, sembari dirinya memeluk lengan Gadis. Mencoba untuk menyakinkan wanitanya itu, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Satu jam perjalanan, kini mereka sudah tiba di depan rumah mewah keluarga Satria.
Gadis tak terlalu terkejut akan kemewahan rumah Satria, karena memang rumahnya juga sebelas dua belas sama mewahnya dengan pria itu hasil kerja keras dari Bunda juga Sang Kakak.
"Anteng banget sih nih putri kita, di peluk dikit aja langsung tidur." Ucap Satria sembari dirinya keluar mobil dan di ikuti Gadis.
Satria langsung menggenggam tangan Gadis saat Keduanya sudah di luar mobil.
"Semua akan baik-baik saja, percaya padaku yah." Ucap Satria sebab saat dia menggenggam tangan Gadis, dia langsung merasakan keringat pada telapak tangan gadisnya itu.
"Hmmmm, hooh. Yah, semua akan baik-baik saja." Gadis mencoba merilekskan dirinya,menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang akan dia terima sebentar lagi.
"Aden." Sapa penjaga rumah Menyambut kedatangan Putra rumah itu, yang sudah sangat lama tak iya jumpai. Karena memang Satria yang jarang bahkan hampir beberapa tahun tak dia ijakan kakinya di rumah itu.
"Iya Pak, Papi sama Mami ada? Tanya Satria dan Gadis hanya melemparkan senyumnya menatap pria yang menyapa Satria.
"Kebetulan, Ibu sama Bapak baru saja datang."
"Baiklah, terima kasih yah." Ucap Satria dan di langsung melangkah kan kakinya dengan Gadis yang berjalan sejajar dengannya.
Baru saja mereka memasuki ruangan tamu, mereka sudah mendengar suara Papi Darma juga Mami Eka yang sedang berbincang khas suami istri di ruang keluarga.
"Semua akan baik-baik, saja." Ucap Satria lagi dan lagi sembari mengeratkan genggaman tangannya saat mereka sudah berada di balik sofa yang diduduki kedua orang tua Satria.
"Dady, Cila haus." Ucap Arsyila saat Satria hendak mau menyapa kedua orang tuanya. Membuat kedua orang tuanya itu langsung berbalik ke arah mereka, karena mendengar suara Arsyila.
Mau tak mau, Satria pun mengurungkan niatnya itu. Dan lebih memilih meladeni Sang putri.
"Putri Dady haus yah." Tanya balik Satria sengaja menyebutkan Arsyila putrinya dan Arsyila hanya menganggukkan kepalanya.
"Satria." Ucap Mami Eka terkejut. Bukan hanya terkejut akan kehadiran sang putra, namun beliau sangat terkejut dengan kedatangan Gadis juga bocah yang di gendong Satria. Apalagi, bocah itu memanggil Satria dengan sebutan Dady. Itu sungguh sangat mengejutkan, dan hal itu pun juga di rasakan Papi Darma.
...Jangan lupa like komennya yah🥰...
...Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗...
__ADS_1