
............Happy reading🌹 ...........
"Terima kasih sudah jujur." Ucap Gadis setelah Satria menceritakan semua tentang Larissa. Tak ada satupun yang pria itu lewatkan dalam ceritanya, bahkan bersetubuh dengan wanita itu pun Satria utarakan dengan jujur. Dan hal itu bukan membuat Gadis marah melainkan dia sangat bahagia Satria mau berkata jujur padanya, karena baginya dalam sebuah hubungan keterbukaan kejujuran adalah yang paling utama untuknya.
"Apa kau tak jijik atau marah padaku sayang?" Seru Satria yang kini mulai merasa malu dengan masa lalunya. Pria itu bahkan berkata sambil menundukkan pandangannya, malu melihat sang istri dengan semua masa lalunya yang penuh dengan keburukan.
Mendengar itu, Gadis langsung menyentuh wajah Satria dengan kedua telapak tangannya. Gerakannya seolah meminta Satria untuk menatapnya, dan dengan tak percaya diri Satria pun memberanikan diri menatap manik indah milik Gadis membuat wanita itu tersenyum manis sambil menggelengkan kepalanya.
"Hey, buat apa marah hmm. Semua orang punya masa lalu dan aku menerima semua masa lalu mu itu. Tak peduli seberapa banyak wanita yang sudah Om sentuh dan Om rasakan, asalkan aku yang terakhir itu sudah lebih dari cukup. Tapi ingat jangan lagi menyentuh tubuh yang lain setelah ini. Kau sudah resmi suamiku sekarang, milikku hanya milikku aku tak suka berbagi." Ucap Gadis jujur, dia mencintai Satria dengan semua masa lalunya sungguh. Bukan sekali dua kali dia mengatakan ini, dulu pun dia sudah selalu menyakinkan Satria akan hal itu tapi mungkin pria itu melupakannya.
"Terima kasih, terima kasih sayang. Aku beruntung memiliki kamu sayang. Sungguh sangat beruntung. Dan maaf untuk malam pertama kita yang biasa-biasa saja ini." Tutur Satria, dia sadar diri sudah merusak malam pertama mereka dengan pergi keluar tadi. Dan perasaan beruntung memiliki Gadis sungguh luar biasa. Dia tak menyangka Tuhan begitu teramat baik padanya.
"Hey, ini bukan malam pertama buat kita. Menurutku malam pertama kita sudah usai, tuh lihat hasilnya dari malam pertama kita yang lagi tidur nyenyak. Manis sekali." Seru Gadis sedikit terkekeh mengingat malam pertama mereka yang sudah mereka cicil duluan empat tahun lalu.
"Heh, kau ini. Tapi ini kan malam pertama kita setelah resmi jadi suami istri. Apa kau tak mau mengulangnya seperti waktu itu." Ucap Satria menggoda membuat pipi Gadis jadi merona merah di buatnya...
Tentu saja Gadis juga menginginkan hal itu, sungguh dia merindukan semua sentuhan memabukkan Satria yang teramat lembut terhadapnya kala itu. Hingga sampai detik ini pun dia masih bisa membayangkan rasanya seperti apa. Katakanlah mungkin dia sudah tertular otak mesum pria yang kini sudah resmi berstatus suaminya itu, hingga sampai begitu lamanya dia merindukan sentuhan memabukkan serta penuh air mata kala itu.
"Hahahha, iya juga yah. Tapi, ada cila Om. Aku masih mengingat jelas giman suara Om kalau lagi timbul mesumnya. Dan aku yakin putri kita pasti terbangun dari tidurnya nanti. Dan maaf aku tadi yang membawa Cila ke sini untuk menemani aku selama kau pergi."
Habis kalimat terakhir Gadis bersamaan pula dengan bunyi suara bel kamar mereka membuat Satria tak bisa membalas ucapan Sang Istri..
"Biar aku saja yang, tunggu sebentar yah." Ucap Satria sembari dia menurunkan Gadis dari pangkuannya.
Satria pun berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu lebar, sebab dia sudah melihat siapa di balik pintu itu.
"Ah Satria kau sudah balik nak, maaf mengganggu waktu kalian yah. Bunda hanya mau mengambil Arsyila biar kalian bisa menghabiskan waktu berdua malam ini." Seru Bunda, beliau sejak tadi kepikiran dengan Arsyila yang di bawa Gadis. Tapi bukan hanya itu, ia juga memikirkan kenapa Satria masih sibuk sementara ini malam bahagia mereka. Itu sebabnya iya ingin menanyakan hak itu pada sang putri, tapi rupanya beliau sedikit lega karena sang menantu sudah kembali.
"Iya Bun, Tadi aku ada urusan mendadak dan sudah usai. Soal putriku biar saja Arsyila tidur bersama kami. Ayo masuk Bun." Ucap Satria yang tak sedikitpun merasa keberatan Arsyila tidur bersama mereka, dia bahkan sangat senang bisa tidur sekamar dengan kedua wanita yang dia cintai itu.
__ADS_1
"Bunda." Sapa Gadis berjalan mendekati Satria juga Bunda.
"Ya Sayang." Balas Bunda dan kemudian membalas ucapan Satria. "Tadi Gadis sudah mengatakan juga pada Bunda, biarlah malam ini Arsyila tidur sama Bunda dulu. Kalian butuh waktu berdua sekarang, ini malam kalian. Nanti malam-malam berikutnya, kalian bisa menghabiskan waktu sepuasnya tidur bertiga. Tapi tidak malam ini yah." Seru Bunda sembari berjalan ke arah ranjang dan langsung mengangkat dan menggendong Arsyila.
"Baiklah kalau gitu Bun, titip Cila yah." Seru Satria sembari dia mendekat dan mencium kening Arsyila dan mengusap sayang puncak kepala sang putri yang masih tertidur lelap.
"Tak ada kata titip, Cila juga putri sekaligus cucu Bunda."
"Hehehe, makasih yah Bun." Kali ini Gadis yang menyahut karena Satria seperti merasa tersentil dengan ucapan sang mertua walau tak ada niat sedikitpun Bunda menyinggung sang menantu. Tapi memang begitulah beliau menganggap Arsyila jauh sebelum Satria menampakkan batang hidungnya.
"Hm kalian ini, Bunda pamit yah. Ngantuk." Seru Bunda dan beliau lantas melangkah ke arah pintu, namun sebelum benar-benar keluar. Bunda masih sempatnya berkata pada Gadis hingga membuat wanita itu menggelengkan kepalanya mendengar kalimat nakal sang Bunda.
"Oh iya Gadis, berikan yang terbaik untuk suamimu yah." Seru Bunda dengan menahan tawanya lalu bergegas keluar.
Sementara Gadis dia melotot tak percaya dengan ucapan jahil sang Bunda, sampai-sampai dia malu untuk sekedar melihat ke arah Satria.
"Ah nggak, tidur yuk capek." Seru Gadis sembari dia melepas diri dari Satria dan berjalan cepat ke arah ranjang dan naik ke atasnya. Sungguh jantungnya seperti sedang mengajak bentrok dirinya. Detak nya sangat meresahkan hingga dia tak tahu harus berbuat apa dan memilih melepas diri dari Satria. Malu saja jika bunyi jantungnya di dengar Satria sedang bernyanyi nyaring di dalam sana, memalukan pikirnya.
Sementara Satria dia di buat tersenyum, dia tahu Gadis bergetar saat dia sentuh tadi. Nafas Gadis itu pun sampai di tahan saat bibirnya menyapu tengkuk Gadis tadi. Sungguh sangat menggemaskan sekali, dia menyukainya.
Tapi tahukah Gadis, Satria pun merasakan hal yang sama. Sama-sama Dag dig dug, hanya saja dia pintar menutupi rasa gugupnya.
"Perasaan tadi biasa saja ini jantung, kenapa mendadak jadi over gini detaknya. Menyebalkan." Ucap pelan Gadis sembari dia menenggelamkan wajahnya di bantal sampai tak sadar tingkahnya itu di lihat gemas Satria.
Dengan perlahan Satria berjalan, merangkak naik ke atas ranjang mendekati Gadis. Dengan jahilnya Satria meniup telinga Gadis membuat Gadis sontak berbalik menghadapnya sakin gelinya.
"Apaan sih Ompppmmmptt.." Ucap Gadis terhenti karena Satria sudah membungkam mulutnya dengan ciuman pria itu membuat Gadis terkejut setengah mati. Hingga cukup lama barulah Satria melepaskan dirinya.
"Itu hukuman untuk kamu, berhentilah memanggilku Om. Aku merasa tua Gadis." Seru Satria sembari dia mengusap bibir bengkak Gadis akibat hukuman yang dia berikan itu.
__ADS_1
"Kebas bibir aku ini, kenapa lama sekali." Kesal Gadis sembari mengatur nafasnya..
"Namanya juga hukuman, hukuman yang manis." Kata Satria dengan tawanya.
"Isss.."
"Hahaha."
Satria paling suka jika mengerjai Gadis, melihat wajah cemberutnya entah kenapa membuatnya senang bukan main.
Tapi siapa sangka, tawa Satria kini terhenti karena Gadis yang kini membalas perlakuannya seperti yang tadi dia katakan hukuman itu. Sungguh dia sangat terkejut akan hal itu, namun yang di lakukan Gadis hanya sebentar dan melepaskan dirinya setelahnya.
"Itu hukuman buat orang yang suka tertawa puas." Seru Gadis.
"Oh oh oh, kau menggodaku Gadis." Satria malah menggoda Gadis dengan kalimat sengaja mengerjai wanita itu.
"Hey, siapa yang menggoda. Itu hukuman tahu." Sangkal Gadis tak terima dia di bilang menggoda oleh Satria.
"Tak ada hukuman yang terasa nikmat, itu godaan sayang. Jelas-jelas kau menggodaku, jangan menyangkal." Seru Satria sembari dia menatap Gadis lekat sambil mengikis jarak di antara keduanya hingga sampai tak terasa dia sudah menindih Gadis sekarang.
"Si-siapa yang menggoda." Ucap Gadis gugup.
"Siapa lagi kalau bukan kamu, jadi jangan salahkan aku jika aku terpancing godaan kamu. Maka terimalah hasil goadaan ini, kau berhasil sayang." Ucap Satria dengan suara beratnya membuat Gadis menelan salivanya susah paya.
...Btw, Jangan lupa tekan tombol like dan komennya yah🥰...
...Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗...
...Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
__ADS_1