
Hai gaes.. RedPink kembali lagi... maaf ya typo bertebaran karna ga pakek koreksi, langsung ketik dan langsung di publish.
Happy Reading kawan. 😊
💞 💞 💞 💞 💞
Satria sedari tadi awal nyampek rumah Davit seperti orang linglung. kerjaan nya mondar mandir melulu, pusing sendiri jadi nya Davit yang melihat. Heran, kenapa Satria kayak anak perjaka yang lagi galau mau ditinggal sang pacar, pikir Davit.
Davit pun menggeleng geleng kan kepala nya melihat tingkah laku sahabat nya ini berbeda dari biasa nya.
Davit pun yang awalnya tiduran sambil stalkingin akun medsos nya Tam, hahaha itu kerjaan baru nya Davit yang merangkak akan menjadi hobby nya mungkin ke depan nya, dan sekarang meletakkan hp nya sejenak di atas kasur dan ia mulai berdiri menghentikan kegalauan Satria yang entah apa itu, Davit pun tak mengetahui nya dengan pasti. Apa Satria tak capek melakukan kegiatan itu --mondar mandir? Karna sedari tadi Davit yang melihat nya saja capek sendiri. Davit pun menyeret Satria untuk duduk di atas kasur.
"Eh Bro lu ngapain sih, Mondar mandir kayak setrika -an... Gue dari tadi lihatnya capek sendiri ****." ucap David kesal sambil mendengus nafasnya dengan kasar.
Satria hanya bungkam dia diam, Satria hanya bingung saat ini. memang benar raga Satria saat ini bersama dengan David di dalam kamarnya tapi pikiran Satria jauh Berkelana memikirkan kekasihnya. gimana nanti Satria akan menjelaskan kepada Cala bahwa dirinya akan melanjutkan kuliahnya ke luar negeri bukan di Indonesia. pasti nanti kekasihnya itu akan sedih atau pun kecewa kepadanya. entahlah Satria tidak bisa berpikir lagi, pikirannya lagi penuh.
David yang merasa dicuekin oleh Satria, merasa kesal dan sekarang tangannya langsung melayang ke arah kepala Satria dan itu pun membuat Satria mengaduh kesakitan dan ya itu berhasil membuat Satria menoleh ke arah David.
"Woi..... gue lagi ngomong ya sama elu, lu dengerin gue kan lu nggak budek kan?" Davit makin kesal merasa dicuekin oleh Satria.
"***** sakit monyong....." Tangan kanan Satria mengelus-ngelus dan memegangi kepalanya yang dipukul oleh David tanpa permisi terlebih dahulu.
"Mangkanya kalau ada orang tanya itu dijawab ditanggepin, malah yang punya rumah dikacangin. Cerita deh ke gue sebenarnya lo itu kenapa sih?" David memandang wajah Satria penuh dengan selidik, Sebenarnya apa yang terjadi dan apa yang sedang Satria sembunyiin darinya.
Satria memutar kedua bola matanya dan sekarang Satria malah memandang keatas ke langit-langit kamar David. Satria bingung mau cerita dari mana.
"Walah.. walah... malah bengong, kesurupan baru tahu rasa kau."
Satria menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mulai menghirup nya lagi dengan dalam-dalam.
"Gue ngelanjutin kuliah di luar negeri. " lagi-lagi Satria menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Katanya lu mau kuliah di Jakarta kok tiba-tiba sekarang ke luar negeri?"
"Ya..... Awalnya sih Gitu Rencana gue mah kuliah di Jakarta aja biar dekat dengan Calla." Satria menghempaskan badannya ke atas kasur, dia mulai rebahan sekarang.
"Calla taunya gue ngelanjutin kuliah di Jakarta dan gue harus bilang apa ke dia sekarang, gue bingung gue takut dia sedih gue takut dia kecewa sama gue. Padahal kan gue janji nggak bakal jauh-jauh ama dia gue udah janji bakal lanjutin kuliah di Jakarta dan apa sekarang, gue udah menarik omongan gue. Sumpah pasti dia bakal kecewa banget sama gue." Satria memejamkan kedua matanya dia tak bisa membayangkan nanti melihat kekasihnya sedih dan mungkin juga kecewa terhadapnya.
Satria merasa saat ini dirinya sudah menjadi lelaki pembohong lelaki yang tak bisa dipegang omongannya lelaki pembual lelaki yang cuma omong kosong doang. Satria sangat takut akan melihat Calla kecewa terhadap nya nanti.
"Lah terus kenapa Lu nggak kuliah di Jakarta malah sekarang ke luar negeri." David ikut-ikutan menjatuhkan badannya di atas kasur miliknya perselisihan dengan badan Satria yang rebahan juga.
"Enggak bisa.... gue kuliah di sana itu dibayarin dari perusahaan, ya dari mama lu itu. kata Mike gue harus kuliah di luar negeri dan masalah kerjaan juga bakal di lakuin semua di sana. "
"Gitu aja gaya lo kayak anak perjaka yang hilang keperjakaannya, mondar-mandir gelisah, capek gue lihatnya dari tadi geli tau nggak."
David pun berdiri dari posisi rebahannya, dia pun akan beranjak menuju pintu dan langkahnya terhenti saat terdengar suara Satria berseru.
"Woi kampret Lo mau ke mana gue kesini tuh Minta pendapat ke Lu kasih solusi kek ini mau ditinggal. David pun berbalik berjalan menuju tempat tidur dan sekarang dia menjatuhkan pokoknya di tepi ranjang.
"Ya Lu jelasin lah ke Calla, ngomong apa adanya kalau lu dapat beasiswa dari perusahaan gitu aja galaunya Setengah Mati. gue yakin Doi bakal ngerti kok karena Doi sayang lo, Doi cinta lo dan gue yakin Doi nggak bakal kecewa kok dengan keputusan yang elu ambil nanti, Doi bakal dukung elu." David menepuk-nepuk bahasa Satria dua kali.
"Elu yakin.... lu yakin Calla ga bakal kecewa dan dia bakal dukung Gue, padahal sebelum nya kan gue janjiin dia bakal ada di deket dia walau pun kita ga satu sekolahan lagi."
David mengangguk dan berkata "iya ya gue yakin 1000% malah. "
kini sudut bibir Satria mulai terangkat ke atas.
💞 💞 💞 💞 💞
Semilir angin di Puncak menerpa wajah cantik Calla, rambut kala mulai menari-nari terkena sapaan angin sepoi sepoi. udara saat ini sangat dingin lebih dingin dari biasanya. kedua anak manusia yang dilanda penuh dengan kebahagiaan untuk menghabiskan waktu bersama nama. ralat.... tidak tidak kedua nya, hanya satu saja yang merasa bahagia. dia Calla yang berbahagia, tidak untuk Satria.
Satria tak bahagia bukan karena berduaan dengan kekasihnya tapi inilah kali terakhir Dia menghabiskan waktu berdua dengan kekasihnya karena besok dia harus memulai harinya tanpa berdekatan dengan kekasihnya dan dia harus membiasakan itu dan harus bisa. mau tak mau itu harus dilalui hingga nanti mereka berdua dipertemukan kembali.
Calla mulai merasakan ada gurat-gurat keresahan di wajah kekasihnya itu wajah Satria karna sedari tadi Satria seakan akan memaksakan senyuman nya itu di depan Calla.
" kakak..... kenapa? Kakak nggak suka ke Puncak berdua sama aku aku? apa Kakak capek hari ini, Kalau capek ya udah ayo kita pulang." Calla merangkul lengan Satria dan menuntunnya ke arah mobil untuk pulang.
Satria menahannya dan Calla pun berbalik menghadap Ke arah satria.
" Kakak enggak capek dan juga Kakak senang kok bahagia malah bisa menghabiskan waktu berdua denganmu sayang.... pasti momen seperti ini bakal aku rindukan kedepannya nanti." tangan kanan Satria menarik tangan kanan Calla dan membawa tubuh Calla ke dalam pelukannya. Ya dekat dengan tubuh Calla, dia merengkuh dengan posesifnya seakan-akan dia tak mau melepasnya lagi dan kenyataan tak bisa dipungkiri bahwa ini Pelukan Terakhir untuk mereka berdua.
"Pelukan seperti ini, memelukmu seperti ini sayang, dekapanmu, Canda Tawamu, kelakuan manjamu, ciumanmu, suaramu wangian aroma tubuhmu, semua itu bakal aku rindukan mulai sekarang." Suara Parau Satria menusuk pendengaran Calla saat ini. suara itu terdengar penuh dengan kesedihan yang dalam.
Calla tiba-tiba bingung dengan semua ucapan yang terlontar dari mulut Satria saat ini. Kenapa Satria nya pucat seperti itu seakan-akan dia ditinggalkan olehnya ke tempat yang jauh.
"Kakak kok bilang kayak gitu sih sebenarnya Ada apa Calla gak ngerti, bener aku nggak ngerti apa yang kakak bilang barusan Apa maksudnya semua itu Kak, tolong deh Kakak perjelas agar aku bisa mencernanya." mereka berdua tetap dengan posisi berpelukan Malah semakin rapat.
" Maaf........ Maafkan aku sayang. " suara Satria bergetar ya bergetar.
"Maaf..... sekali lagi aku minta maaf Kalau akhirnya aku akan membuatmu kecewa dan sedih. " lagi-lagi suara Satria bergetar menahan isak tangis yang sekarang air matanya sudah mengenang di pelupuk mata Dan ia tahan agar air mata itu tak jatuh lolos ke bawah ke pipinya.
" Kak, sekarang aku tanya, hal apa yang yang membuat aku kecewa dengan kakak dan apa yang akan membuat aku sedih. aku nggak kecewa dengan kakak selama ini dan aku malah bahagia dan enggak pernah aku sedih selama dengan kakak. bahagia......... banget!" cerocos Calla.
" Kenapa kata-kata Kakak seperti itu seperti akan meninggalkan ku sendirian di sini. jangan bilang kakak bakal tinggalin aku disini." Mata Calla mencari sebuah jawaban ke arah mata Satria.
"Iya..... Kakak pamit. Kakak gak jadi kuliah di Jakarta, kakak bakal lanjutin kuliah ke luar negeri sayang. maaf..... sekali lagi maaf, Maafkan Aku, aku yang tak bisa menemanimu Disini. Sekarang Kakak pamit padamu Sayang." Air mata Satria lolos terjatuh menyusuri permukaan pipinya dan begitu pun juga Calla air matanya mulai terjatuh tanpa ia sadari dan suara Isak kecil melolong dari mulut Calla.
"Maaf.... Maafkan Aku, aku yang telah menjadi lelaki pembual dan aku udah mengecewakanmu sayang. " dikecupnya kening wanita yang dia dekap itu dengan perlahan dan agak lama.
__ADS_1
Calla masih terisak dengan pelan tapi masih didengar oleh Satria.
"Kakak dapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. beasiswa itu dari Agensi kakak bekerja. maaf sekali lagi maaf. "
Calla melepaskan pelukan Satria dan memundurkan badannya memberi jarak sedikit kepadanya untuk melihat wajah kekasihnya itu.
"Berapa lama. Berapa lama Kakak di sana dan kapan kembali pulang?" Suara Parau Calla terdengar sangat memilukan di pendengaran Satria saat ini. suara itu membuat hati Satria ngilu dan sakit merasakannya. Sangat menyesak kan dada dan rasanya sulit untuk bernafas.
"kurang lebih Kakak di sana 4 tahunan setelah itu kakak bakal pulang kembali padamu sayang. Apa kamu kecewa padaku? Apa kamu marah padaku? Kalau kamu marah dan kecewa pada kakak, Kakak bisa ngerti kok kakak bisa terima itu." Satria mulai menundukkan wajahnya tak tak sanggup melihat wajah kekasihnya itu.
"Tidak Kak..... tidak aku tidak kecewa ataupun marah kepadamu. aku tak sanggup marah padamu Kak karena aku sangat mencintaimu. Enggak apapa kakak ke luar negeri karena itu untuk kuliah. Tapi ingat aku di sini menunggu kakak untuk pulang padaku. Ingat kak bahwa ada orang yang nungguin kamu untuk pulang maka jangan lupa untuk kembali pulang." Cicit Calla untuk mengingatkan kekasih nya itu untuk kembali pulang kepada nya.
Satria mendongak ke atas melihat wajah kekasihnya itu dan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar bahwa kekasihnya itu tak marah ataupun kecewa terhadapnya. Ya... Ya memang benar apa yang dikatakan David kemarin kepada nya, bahwa kekasihnya itu bakal ngerti dan ngedukung keputusan Satria.
kedua tangan Satria meraih pipi kekasihnya dan ibu jarinya menghapus lelehan air mata yang bersarang di pipi itu dan ibu jari itu mulai menghapus dengan kelembutan penuh dengan kehati hatian, seakan-akan ia takut akan melukai pipi mulus itu dengan telapak tangannya.
"Udah.... udah ah sayangku jangan nangis lagi ya ya... " Satria mengangguk-angguk dan Calla pun ikut mengangguk-angguk.
"iya... iya... kakak bakal pulang. Kakak nggak akan lupa untuk pulang karena kamu adalah rumah untuk aku pulang." Ucap Satria mantap.
Satria mulai mendekatkan wajahnya ke arah wajah kekasihnya itu semakin mengikis jarak di antara mereka berdua Dan sekarang nafas mereka Saling bertabrakan.
Cup....
Bendah kenyal Satria menyapu bibir Calla dengan tiba tiba, dengan kelembutan penuh dengan kehati hatian tanpa menuntut.
Satria melepaskan ciuman nya itu.
"Jadi... kamu harus sabar nunggu Aku pulang." Perkataan Satria lebih terdengar sebuah perintah terhadap Calla bukan permintaan. . "Itu bukan permintaan, itu perintah ku."
Calla mengangguk angguk saja dan tersenyum.
"kapan berangkat?" Tanya Calla.
"Nanti tengah malam jam 12." Ucap Satria sambil memeluk kembali tubuh kekasih nya itu.
"Kok malem Kak, napa gak besok aja sih." tiba tiba melepas kan pelukan Satria lalu ia mencebik kan bibirnya kesal.
"Ya gimana lagi sayang, jadwalnya udah kayak gitu dari sananya."Satria mengacak acak puncak kepala Calla.
"Nanti Calla ikut anter Kakak ke bandara aja ya."
"No. Kakak gak setuju Sayang, bahaya. lagian udah tengah malem itu, anak gadis ga boleh keluyuran tengah malem. Aku gak suka ya punya pacar yang kelunyuran tengah malam." Satria sangat menentang keinginan Calla untuk ikut mengantarnya ke bandara.
Tiba tiba Calla menangis lagi, ia terisak kembali.
"Kakak jahat.. bener bener jahat. Calla benci. Benci banget ama kak Satria." Calla kesal dan membuang muka ke arah samping agar tak menatap wajah kekasih nya itu.
Satria menghirup nafas dalam dalam dan membuang nya lagi dengan keras. Tangan kanan Satria beranjak ke dagu Calla dan menarik nya ke arah nya agar wajah Calla berhadapan dengan nya.
Oh tuhan... air mata ini udah terlalu banyak terjatuh hari ini karna kelakuan ku pada nya. Oh aku lelaki yang tak baik sudah membuat wanita ku menangis lagi. Batin Satria ikut menangis melihat air mata Calla yang mengucur deras di pipi mulus itu.
Satria tiba tiba menghapus semua air mata yang bersarang di pipi Calla dengan mulut nya itu, saat ini.
Calla dibuat terdiam terpaku dengan aktifitas Satria saat ini.
"Udah, plis jangan keluarin air mata ini lagi ya. Sungguh ku tak kuat melihat nya Sayang, hati ini merasa sakit saat air mata mu jatuh. Aku mohon pada mu jangan pernah menangis lagi, karna aku berjanji akan memberikan kebahagian terhadap mu dan bukan kesedihan seperti ini."
"Mangkanya, bolehin aku anter kakak ke bandara, karna mulai besok kan kita udah jauhan ga bisa ketemu lagi." Ucap Calla pelan, takut Satria marah dan tak mengizin kan nya ikut ke bandara.
Satria diam, masih memandang wajah cantik di hadapan nya itu. Wajah yang akan membuat hari hari nya kosong dan akan merindukan wajah itu. Wajah yang mengisi seluruh ruang hati nya saat ini ataupun untuk saat esok di masa depan. Lalu Satria tersenyum kecil.
Satria mengangguk kecil. "Iya... untuk kali ini aku izinin kamu keluar malam. Tapi.. "Satria menaikan satu alis nya keatas.
"Tapi apa?"
"Ditemenin ama Jason ya, nanti aku telpon dia agar ke bandara. Aku lebih percaya ama Jason karna dia sepupu aku dari pada lelaki lain."
💞 💞 💞 💞 💞
Bandara Sukarno Hatta.
23:30 WIB
Satria sedang duduk dengan Calla di kursi tunggu untuk menunggu keberangkatan pesawat nanti tepat jam 12 tengah malam.
Tangan kanan Satria merangkul pundak Calla dan menarik nya hingga Calla menyandarkan kepala nya ke pundak Satria. Tangan nya kini mulai mengelus elus rambut kekasih nya itu.
"Kakak janji jangan genit genit disana, jangan buat skandal ama temna artis disana." Ucap Calla merengek.
Satria mendengar nya itu pun tersenyum bahagia, ia sangat senang mendengar itu. Karna sama saja Calla takut kehilangan nya dan pasti nya Calla cemburu jika ia deket ataupun sampai mempunyai skandal dengan cewek lain di luar sana.
"Kakak Janji, ga bakal kayak gitu." Satria menautkan jari kelingking nya ke arah Calla tanda ia berjanji dan Calla menautkan jari kelingking nya ke jari kelingking Satria. Mereka berdua lalu tersenyum bersamaan.
Ini adalah moment detik detik terakhir mereka saling mencurahkan rasa sayang nya masing masing, menyalurkan rasa cinta satu sama lain. Bersikap semanja mungkin untuk terakhir kali nya. memeluk untuk terkahir kali nya, memandang wajah satu sama lain untuk yang terakhir kali nya. Dan itu bukan yang terakhir untuk selama nya, tapi untuk sementara dan nanti akan terulang kembali saat Satria nanti pulang pada waktu nya tiba.
"Iya dech, tau.. tau.. jangan mesrah mesrah an gitu ah. jones nih aku, kakak Ga kasian apa ama aku dari tadi liat kalian berdua seperti itu. Apalah seorang Jones ya allah, lindungi lah mata ku ya allah agar tak melihat hal hal yang membuat hati ini iri." Celoteh Jason memelas mungkin untuk menggoda Calla dan Satria.
Satria dan Calla pun tertawa melihat kekonyolan Jason.
__ADS_1
"Mangkanya cari pacar biar ga jones. Dasar jombloh ngenes." Cemooh Satria pada Jason.
"Aku bukan jones Kak, tapi aku single. Single itu lebih terhormat dari jones. Jones itu takdir tapi kalau single itu pilihan." Ucap Jason sedikit angkuh.
"Ya sama aja. jones ama single sama sama gak punya pasangan kan." Ucap Satria dengan tawa nya.
"Tau ah.. terserah kakak aja deh." Jason mendengus kesal.
"Udah jangan marah. Kakak bercanda saja." Satria berdiri dari duduknya dan menghampiri Jason untuk memeluknya, tangan nya menepuk nepuk punggung Jason.
"Kakak pamit ya Jas.. Selagi Kakak di luar negri, Kakak nitip Calla tolong jagain dia dari cowok cowok genit yang godain dia. Kakak percaya ama kamu. Kakak berhadap sama kamu Jas, ga ada lagi yang bisa dimintain tolong selain kamu adik ku." Ucap Satria tenang.
"Siap BosQue." Jason meragakan sikap hormat ke pada Satria.
"Kakak jangan khawatir, kakak fokus aja disana agar cepet nyelesaiin kuliah disana dan cepet kembali pulang. Jangan lama lama disana nanti Calla aku ambil kalau Kakak gak pulang pulang." Ucap Jason menggoda Kakak nya.
Satria langsung aja menjitak kepala Jason saat mendengar kata kata terakhir Jason tadi.
"Enak aja kamu. Disuruh jagain aja, bukan untuk diambil kampret." Sungut Satria seperti nya udah mulai muncul.
"Hahhahaha.. kan bercanda Kak. Mangkanya cepet pulang ya. Kasian anak gadis orang nungguin lama."
"itu yang aku bakal lakuin, sebisa mungkin aku akan mempercepat kuliahku disana nanti."
Drap.. drap.. drap..... suara langkah kaki terburu buru terdengar sangat keras.
"Wooiii.....Satria."
Suara teriakan Davit menggemah sampai ke telelinga Satria, Jason dan Calla. Seketika itu ketiga nya menoleh ke arah sumber suara.
Davit berlari ke arah Satria sang Sahabatnya itu. Nafasnya ngos-ngosan. Keringet nya sudah bersarang di muka nya sebesar biji jagung.
"Ah... mampuus Gue. Butuh napas Gue. pengap."
"Ah.. aah.. aah.. " Suara Davit mengambil nafas yang banyak.
"Kenape Luh. kayak dikejar setan aja." Ucap Satria terkekeh.
"Sialaaan Luh. Luh tuh setan nya bangkeek." Ucap Davit tak mau kalah.
"Luh mau berangkat ga bilang bilang ke Gue Luh. Sahabat macam apa Luh hah. Sahabat bangsaad Luh." davit sangat marah karna Satria tak memberi nya kabar jika keberangkatan nya ke luar negri itu saat ini.
Satria hanya cengar cengir dengan watados nya juga dia besikap bodoh dengan menggaruk nggaruk belakang kepala nya sendiri yang tak gatal itu.
"Untung ya Gue di kasih tau nyokap Gue kalok Luh berangkat nya tengah malem ini. Asal Luh tau yah, gue enak enakan dugem yeh terus ada telfon dari nyokap, dikira gue di bandara ama eluh. Coba aja nyokap gak telpon Gue, ga bakal Gue disini sekarang." Davit masih kesal.
Satria langsung memeluk Davit sahabat nya itu.
"Hehehe maaf brow.. seharian ini Gue ama Calla saking asyiknya gue ampe kelupaan. Sumpah, gak sengaja Bruw."
"Iya, gue ngerti kok. Luh atti atti ya di sana, jangan lupain sahabat Luh ini."
Satria dan dan Davit memang sama sama kuliah diluar negri tapi beda negara.
"Eluh kapan berangkat nya." Tanya Satria pada Davit.
"Gue Lusa berangkatnya. Masih mau nyelesaiin urusan yang belum kelar disini." Senyum serigai Davit.
"Gue pamit Bruw... Semangat buat Luh, semoga urusan cinta Luh sukses." Satria pun juga menampak kan senyum serigai nya di depan Davit.
Sekarang Satria berganti untuk berpamitan ke Calla kekasih nya itu. Satria menarik Calla ke dalam pelukan nya, ia dekap dengan erat untuk yang terakhir kali nya, ia cium kening Calla cukup lama.... tiba tiba air mata Calla lolos dipipinya. Jemari Satria menghapus lelehan air mata itu.
"Sayang.. udah jangan nangis, kamu kan udah janji gak akan nangis lagi, Aku ga sanggup, aku sakit juga sayang ninggalin kamu. Plis jangan nangis. Kakak hanya beberapa tahun saja disana. kakak hanya sementara, ku pastikan aku pulang kembali pada mu sayang." Ucap Satria parau.
Calla menganggukan kepalanya pelan. Calla memang sudah berjanji pada Satria gak bakal nangis lagi. Ya.. dia ga bakal nangis lagi, tpi tadi itu memang tak disengaja ia tak sadar air mata nya lolos begitu saja di pipi nya.
"Sayang... Aku pamit mau pergi sementara waktu. Tolong jaga hati mu untuk ku, kamu baik baik ya disini jangan nakal, jangan tergoda lelaki lain. Ingat ada hati ku yang bakal kembali pulang ke rumah nya yaitu kamu" Ucapan Satria membuat Calla senang dan rasa nya didada membuncah penuh ingin keluar.
"Iya Kak, Calla bakal jaga hati ini untuk kak Satria, Calla bakal nunggu kakak pulang."
"Makasih sayang. Asal kamu tau, sejauh apa pun aku pergi pasti aku akan kembali padamu Calla, kamu adalah rumah tujuan terakhir ku untuk pulang. Kakak pamit ya Sayang." Sekali lagi Satria merengkuh tubuh Calla untuk ia peluk.
"Boy... ayok kita harus berangkat boy, tuh dengerin udah ada panggilan untuk keberangkatan yu." Ajak Mike ke Satria untuk bergegas masuk ke pesawat.
Kini Satria dan Mike berjalan meninggalkan mereka bertiga untuk menuju ke pesawat yang bakal take of 10 menit lagi. Langkah Satria semakin jauh meninggalkan Calla disana.
Calla maupun Satria harus mempersiap kan hati nya saat menahan rindu pada sang kekasih yang berjauhan.
Calla maupun Satria harus membiasakan sementara waktu tak berjumpa dalam beberapa tahun kedepan.
Calla maupun Satria harus bisa menjaga hati agar tak goyah dengan godaan godaan yang akan menghampiri mereka masing masing.
Karena mereka yakin bahwa perpisahan ini hanya sementara saja, pemilik hati meraka akan kembali saat berjumpa lagi dengan pemilik hati aslinya. Yaitu pemilik hati Calla Aurora Azarine adalah Satria Dirgantara, dan begitu pun sebaliknya pemilik hati Satria Dirgantara adalah Calla Aurora Azarine.
Bersambung.... 😢
💞 💞 💞 💞 💞
RedPink Sedih.. Satria dan Calla bakal LDR an.. huhuhu ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
Apa kalian juga sedih??