SATRIA

SATRIA
Bab 45


__ADS_3

"Dada, Mami itu Dada." Ucap Arsyla saat dia melihat Dadanya datang.


"Iya nak, tunggu saja di sini." Jawab Gadis menahan Arsyla, saat bocah kecil itu ingin menghampiri Dadanya..


"Baitlah Mami." Patuh Arsyla.


"Buna." Seru Arsyla lagi saat melihat Bunda Gadis datang dari arah belakang pria yang di panggi Dada oleh Arsyla itu.


"Dada, Buna." Teriak Arsyla lagi saat kedua orang itu sudah berada di hadapan mereka.


"Hay sayangnya Bunda, makan apa sih?" Tanya Bunda.


"Sayang." Ucap Dada Arsyla dan mencium puncak kepala bocah itu.


"Cila matan entan Buna." Ucap Arsyla sambil memasukan kentang dalam mulutnya.


"Makan yang banyak yah sayangnya Bunda." Ucap Banda sambil mengusap kepala Arsyla.


"Ote Buna."


"Bunda sama kak Dimas barengan?" Tanya Gadis pasalnya tadi dia hanya janjian dengan Sang kakak yang sering Arsyla panggil Dada itu.


"Iya, Bunda minta jemput sekalian pas aku bilang mau ketemu kalian. Makanya lama nyampenya." Ucap Dimas sambil mencium puncak kepala Gadis.


"Iya sayang, Bunda udah selesai kerja soalnya." Ucap Bunda sambil mencolek Arsyla yang nampak serius dengan makannya.


"Buna mau?" Tawar bocah kecil itu saat Bunda mencoleknya.


"Buat Cila aja, nanti Bunda pesan yang lain."


"Ote deh."


"Sayang? Kata Dimas kamu di tawar ngajar sama Rayan yah?" Kepo Bunda saat mendengar kabar baik itu dari sang anak.


"Hmm, tapi aku belum menerimanya Bun. Aku belum siap kalau ketemu dengan Satria Bun, dia kan ngajar di sana juga." Jujur Gadis, sebenarnya sudah lama sejak setelah dia pulang dari kuliahnya di luar beberapa bulan yang lalu, Rayan langsung menawarinya tawaran mengajar itu. Namun Gadis belum mengiyakan atau menolaknya sampai saat ini.


Dia ingin menghabiskan banyak waktunya dahulu yang telah hilang dengan sang putri karena dirinya yang melanjutkan kuliah setelah melahirkan putrinya itu.

__ADS_1


"Dia sudah masa lalu kamu sayang, mungkin juga dia sudah menikah sekarang. Lupakan dia sayang, belajarlah untuk menerima Rayan nak, dia pria yang baik. Dan lagi kamu harus menyibukkan dirimu dengan bekerja, biar tuh nggak ingat lagi pria tak bertanggung jawab itu.."


"Bun aku nggak mau bahas ini lagi, aku nggak bisa lupain Satria Bun. Dan lagi dia bukan pria yang tak bertanggung jawab, aku sendiri yang meninggalkan dia atas keputusanku sendiri. Mengertilah Bun." Seru Gadis tak suka jika Bundanya itu selalu menyalahkan Satria dan membujuknya untuk menerima Rayan. Dia tahu pria itu baik, namun hatinya tak bisa di paksa.


"Tapi Arsyla butuh sosok Ayah nak, kamu jangan egois."


"Sudah ada kak Dimas Dadanya Cila Bun. Tolong, jangan bahas ini lagi Gadis mohon." Pinta Gadis sambil memijit pelipisnya.


"Sudahlah Bun." Tegur Dimas mengerti dengan perasaan sang adik, walau dia sangat kesal dengan Satria yang sudah menghamili Gadis namun dia bisa apa. Adiknya itu sangat mencintai pria itu hingga katanya dengan suka rela dia yang memberikan tubuhnya untuk Satria hingga Arsyla hadir di antara mereka.


Dia tak tahu jalan pikiran sang Adik seperti apa, yang telah dihamili dan dia sendiri yang memutuskan untuk meninggalkan pria itu tanpa alasan yang jelas padahal hubungan mereka baru saja berbaikan. Namun perpisahan kembali mereka pilih.


"Terus saja kamu membela adik keras kepala kamu itu, Bunda lakukan ini untuk kebaikannya juga Arsila. Tapi dia selalu saja keras kepala, hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memikirkan Arsyla. Arsyla juga butuh Ayah, dia tak bisa menganggap kamu sebagai Ayahnya terus." Ucap kesal Bunda membuat Gadis bertambah pusing.


Untung ponselnya berdering menyelamatkan dirinya dari obrolan yang tak ingin dia bahas itu.


"Aku pamit Kak Bun, ada yang harus aku urus sebentar."


"Cila sayang, mau ikut Mami atau Bunda sama Dada?" Tanya Gadis pada Arsyla.


"Itut Mami, Cila mau itut Mami Dis." Ucap Arsila dengan Mulut yang terisi makanan.


"Kami pamit." Ucap Gadis dan dia langsung beranjak pergi setelah mencium tangan sang Bunda.


"Cepat lah pulang, Arsyla butuh istirahat. Jangan kamu ajak jalan terus." Peringat Bunda.


"Iya Bun, Kak Kita pergi dulu."


"Hati-hati bawa mobilnya, jangan nakal ya Cila. Jaga Mami yah." Ucap Dimas sambil mencium Gadis juga Cila bergantian.


"Ote Dada." Kata Arsyla semangat.


Kedua orang itu pun langsung meninggalkan Restoran itu, tanpa melanjutkan lagi janjian makan bersama mereka.


"Selalu saja kabur dari pembicaraan penting seperti itu, udah punya anak tapi nggak nikah. Apa dia nggak kasian sama Cila yang nggak punya status yang jelas apa." Keluh Bunda, beliau kasihan sama putrinya itu yang terus saja terjebak dengan masa lalunya. Tapi tak mau meminta pertanggung jawaban dari Ayah kandung Cila cucunya itu.


"Sudahlah Bun, jangan terlalu mengekang Gadis. Dia sudah bisa menentukan pilihannya sendiri. Kita tak bisa memaksakan kehendak kita untuk dia Bun, dia tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri." Jelas Dimas.

__ADS_1


"Bunda pulang saja." Ucap Bunda dan langsung meninggalkan Dimas begitu saja.


"Hmmm." Gumam Dimas, dia pusing dengan kedua wanita tersayangnya itu. Belakangan ini mereka tak pernah akur, karena Bundanya yang selalu memaksa Gadis untuk cepat-cepat menikah.


***


"Satria, kamu mau kemana nak?" Tanya Mami Eka saat Satria keluar kamarnya sudah dengan keadaan rapi, tak acak-acakan seperti awal mereka datang tadi.


"Ada urusan sebentar Mi." Ucap Satria.


"Satria ingat, Papi sudah berikan tanggung jawab untuk kamu mengurus perusahaan yang di sini." Peringat Papi Darma, sebab Satria suka seenaknya sendiri mangkir dari tanggung jawabnya belakangan ini.


"Berikan saja pada Rizki Pi, sebagai bagian untuk Melodi. Aku punya usaha sendiri Pi, aku nggak bisa urus semuanya secara bersamaan. Namun jika sesekali diperlukan aku akan selalu ada." Tegas Satria, dia akan membantu jika memang di perlukan, namun untuk menekuninya sepertinya dia tak bisa. Kecintaannya menjadi pengajar tak bisa dia tinggalkan. Dan lagi dia punya usaha restoran dan Cafe yang cukup menyita waktunya.


"Aku pamit." Ucap Satria dan dia langsung mencium kedua tangan Mami Papinya dan setelahnya dia pun berlalu pergi.


"Anakmu sungguh keras kepala Mi." Ucap Papi Darma.


"Sudahlah Pi, dari awal kan dia sudah mengatakan itu. Dan lagi setiap Papi membutuhkan bantuan Satria dia selalu ada kan. Jadi biarkan dia berkembang dengan usahanya sendiri."


"Kamu selalu saja membelanya." Kesal Papi Darma mendengar pembelaan dari Istrinya..


***


"Selamat Siang Pak." Sapa para karyaman Restoran ketika Satria memasuki Restoran miliknya.


"Hmm." Gumam Satria, dia memang terlihat dingin. Namun semua karyawannya nampak memujanya karena kebaikannya.


"Cila jangan lari sayang." Teriak suara dari arah belakang Satria, suara yang Satria rindukan beberapa tahun ini.


Pria itu tak lantas berbalik walau dia penasaran dengan pendengarannya itu, namun kakinya yang di tabrak seorang anak kecil membuatnya langsung melihat ke arah kakinya.


"Eh." Ucap Satria dan dia langsung menangkap tubuh bocah kecil yang hampir jatuh karena menabrak kakinya itu.


"Kamu nggak papa nak, Udah Mami bilang kan jangan lari."


"Maafkan putri saya Tuan dan terima kasi...."

__ADS_1


"Om Satria."


"Gadis." Batin Gadis dan Satria bersamaan saat tatapan mereka bertemu hingga membuat ucapan Gadis pun terhenti karena terkejut melihat pria yang teramat dia rindukan itu.


__ADS_2