
............Happy reading🌹 ...........
Malam hari setelah Satria, Gadis dan Arsyila balik dari rumah sakit menjenguk Melodi juga putrinya.
"Sayang." Panggil Satria saat Gadis baru selesai berpakaian setelah tadi dia mandi yang paling terakhir setelah dirinya juga Arsyila.
"Ya Om." Jawab Gadis, sebab sang putri sudah tertidur pulas di sebelah Satria yang kini nampak menatapnya dalam posisi bangkit dari berbaring nya.
"Kita ngobrol di luar yuk, ada yang ingin aku bicarakan." Ajak Satria, sebab dia tak mau perbincangan mereka akan mengganggu tidur nyenyak sang putri.
"Ayo." Jawab Gadis, dia langsung membalikan badannya hendak melangkah keluar. Namun dia sedikit terkejut ketika merasa pergerakan cepat di belakangnya, berakhir dengan dirinya yang di gendong Satria tanpa permisi.
Tak ada pemberontakan atau protes penolakan yang Gadis lakukan, dia bahkan langsung melingkarkan kedua lengannya tanpa di minta pada leher Satria sambil menatap pria itu dengan senyum dan tatapan lembutnya.
"Apa aku berat?" Tanya Gadis.
"Tidak sedikitpun sayang. Hanya saja jantungku seperti sedang berada di club malam saat ini, cenat cenut tak jelas seperti lampu disko yang kedap kedip.." Ucap Satria jujur, karena Gadis terasa entang dalam gendongannya namun jantungnya seolah sedang habis lari maraton tanpa berhenti menimbulkan bunyi yang mungkin saja Gadis mendengarnya..
"Ah, lebai nya kamu Om." Ucap Gadis namun Satria hanya tersenyum saja menanggapi.
Setelah sampai di ruang depan, Satria langsung menduduki Gadis di sofa dan di ikuti dirinya yang duduk di sebelah Gadis.
"Bagaimana sayang soal tadi di rumah sakit? Apa kita beritahu Bunda Saja sekarang?" Tanya Satria membuka percakapan di antara mereka.
Tadi saat di rumah sakit, mereka banyak mendapatkan pertanyaan soal Gadis juga putri mereka dan di jawab borong keseluruhan oleh Satria semuanya. Dia tak mau membuat Gadisnya tertekan dalam menghadapi keluarganya, itu sebabnya dia yang mengambil alih jawab menggantikan Gadis. Namun dirinya tak menjelaskan soal sang Papi yang menyebabkan perginya Gadis dari hidupnya melainkan dia dan Gadis sedang ada masalah yang tak dia jelaskan masalahnya apa kepada mereka.
Hingga pembahasan mereka meluas sampai ke acara pernikahan yang sedang Satria rencanakan dalam waktu dekat ini.
"Besok baru kita ke rumah Bunda untuk memberitahu semuanya yah, termasuk rencana keluarga Om tadi. Aku nggak mau membahas ini lewat telfon Om.." Sahut Gadis, sembari dirinya merebahkan kepalanya di dada bidang Satria.
"Apa Bunda bakalan nggak papa sayang?" Tanya Satria hati-hati, sebab tadi Sang Mami mengajak Bunda Gadis untuk sama-sama berdiskusi soal baju seragam yang bakalan mereka kenakan.
"Aku nggak tahu, tapi Bunda jika demi aku. Apapun pasti Bunda lakukan." Sahut Gadis yang tahu bagaimana Bundanya kalau soal dirinya juga Arsyila.
"Syukurlah, semoga saja dengan begini keluarga kita bisa saling dekat dan melupakan masa lalu yang memang seharusnya sudah mereka lupakan." Kata Satria sembari dirinya mengusap sayang rambut Gadis.
"Oh iya sayang, aku mau tanya dong." Lanjut Satria ketika dia mengingat sesuatu saat tadi dia tak sengaja melihat chat spam dari kontak bernama Rayan di ponsel Gadis yang sejak tadi menggelitik mata juga hatinya yang penasaran.
__ADS_1
"Apa?"
"Kamu, waktu kita pertama kali bertemu itu sedang apa janjian sama Rayan sayang?" Tanya Satria yang ingin dia tanyakan sejak kemarin namun dia melupakannya karena aktifitas padat mereka.
"Oh itu, aku ingin membahas soal tawaran Kak Rayan soal dia yang menawarkan kerjaan untukku jadi dosen di kampus." Jelas Gadis.
"Kamu mau jadi dosen sayang. Kalau gitu, biar aku saja yang mengurusnya. Ku mohon mau yah, dan tolong jangan berhubungan lagi dengan Rayan. Kamu tahu kan aku bagaimana." Ucap Satria serius, dia tahu Rayan datang beserta keluarganya di rumah Gadis waktu itu bukan tanpa alasan.
Dia bisa merasakannya saat diamnya Rayan ketika melihat dirinya dan Gadis bersama lagi setelah sekian lama berpisa. Dan dia berucap syukur bisa datang di saat yang tepat sebelum apa yang dia pikirkan akan menjadi kenyataan, dan jika sampai itu terjadi mungkin dia akan menjadi pasien rumah sakit Jiw@ pikirnya.
Dengan tersenyum, Gadis langsung mengeratkan pelukannya pada Satria.
"Baiklah Dady, siap laksanakan." Sahut Gadis menirukan gaya bicara sang putri membuat Satria langsung mencium gemas dirinya.
"Ahh terima kasih, aku nggak sabar sayang. Aku nggak sabar kita resmi menikah nanti." Kata Satria sembari dirinya memeluk erat Gadis.
"Aku pun sama sayang." Sahut Gadis membuat Satria mendadak diam mencerna perkataannya..
"Apa tadi kamu bilang?" Tanya Satria dia sampai berdiri dan merenggangkan pelukan mereka demi melihat wajah Gadis dengan tatapan senang tiada tara nya.
"Sayang." Kata Satria.
"Iya Om sayang. Kenapa?"
"Boleh minta nggak pake Om nggak Sayang. Panggil sayang aja, itu lebih enak di dengar." Pinta Satria.
"Kalau hilangin panggilan Om, berarti aku juga nggak mau panggil sayang." Ucap Gadis berusaha bersikap tegas, namun dalam hatinya dia ingin tertawa lepas melihat wajah cemberut Satria.
"Ya udah nggak papa, Om juga nggak jelek kok. Aku suka." Ucap Satria pasrah, setidaknya Gadis mau memanggil dirinya sayang itu sudah lebih dari cukup pikirnya.
"Hehehe, gitu dong sayang." Kata Gadis menghadiahkan elusan lembut di kepala Satria.
"Lagi." Pinta Satria yang merasa nyaman dengan elusan Gadis di kepalanya.
Alhasil, mereka berdua ketiduran di sofa sambil saling memeluk dengan Gadis yang tangannya berada di kepala Satria.
***
__ADS_1
Pagi harinya..
Saat Satria, Gadis juga putri mereka kini sedang dalam perjalanan ke rumah Gadis.
Selama perjalanan, Satria tak kunjung berhenti tersenyum sambil melirik Gadis yang kini nampak sibuk dengan sang anak yang sepanjang jalan bertanya ini dan itu pada Gadis. Namun dengan sabar Gadisnya itu menjawab semua yang di tanya Cila putrinya.
Dia bahagia mereka kini sudah seperti keluarga lengkap yang sebentar lagi benar-benar akan menjadi keluarga yang seutuhnya.
Dia berdoa, semoga saja kali ini mereka benar-benar di persatukan tanpa ada lagi drama yang akan memisahkan mereka begitupun juga Doa yang sama selalu di panjatkan Gadis.
"Dady kenapa?" Tanya Gadis yang sadar dengan Satria yang terus diam-diam meliriknya.
Dengan tersenyum Satria langsung menarik sebelah tangan Gadis untuk dia genggam dan mengecupnya sayang.
"Aku hanya bahagia." Ucapnya selepas bibirnya mengecup tangan lembut Gadis.
Seketika Gadis pun tersenyum mendengar ucapan Satria dan dia pun kembali fokus pada sang putri yang kembali bertanya padanya.
Hampir dua puluh menit perjalanan, kini mereka telah tiba di kediaman Gadis.
"Sayang, sebentar." Ucap Satria ketika Gadis hendak turun mendahuluinya.
Dengan Patuh Gadis pun menuruti permintaan Satria.
Sementara Satria, dia langsung turun dan berjalan berputar membukakan pintu untuk kedua wanita kesanyangannya itu.
Mereka pun langsung masuk menuju pintu utama rumah Gadis.
"Sepertinya ada tamu." Ucap Gadis, tadi dia melihat mobil yang belum pernah dia lihat juga ada beberapa alas kaki di depan rak sepatu mereka.
"Sepertinya, yuk." Ucap Satria, dia sudah tak sabar memberi kejutan untuk Gadis dengan melihat siapa yang ada di dalam rumah Gadis nya itu..
...Jangan lupa like komennya yah🥰...
...Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗...
...Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
__ADS_1