SATRIA

SATRIA
Bab 78


__ADS_3

............🌹Happy Reading🌹 ...........


Selepas dari pemakaman, Satria dan Gadis langsung pulang dan bebersih sebentar kemudian lanjut pergi ke kediaman Melodi untuk menjemput Arsyila yang sejak kemarin menginap di rumah sang Adik.


"Dady, Mami." Teriak Arsyila sembari berlari dan langsung masuk dalam dekapan Satria tepat di depan pintu rumah. Kebetulan saat itu Arsyila sedang bermain dengan Nana (Anak dari Gerald sahabatnya Melodi yang kebetulan rumahnya bersampingan)


"Hay sayangnya Dady, Dady kangen sayang." Ucap Satria dan di timpali Gadis.


"Mami juga kangen sayang, Cila nggak mau meluk Mami?"


"Tentu, Cila taneng Mami Dady." Kata Arsyila mencium pipi Satria dan kemudian beralih memeluk sang Mami.


"Kangen Cila kangen bukan taneng."


Sky yang baru muncul pun langsung berlari ikut memeluk Satria.


"Hay Uncel, Hay Mami Cantik. Maaf yah, Cila masih belum ngomong lancar, padahal udah Sky ajarin tapi nggak bisa-bisa." Ujar Sky membuat Satria dan Gadis tersenyum.


"Heheh, ajarin Cila nya terus yah gantengnya Mami." Kata Gadis sembari mengusap sayang puncak kepala Sky.


"Siap Mami."


"Hay Nana, nggak mau nih peluk Mami." Kata Gadis beralih pada Nana yang nampak tak bergeming di tempatnya.


Mendengar itu, bocah seumuran Arsyila itu langsung lari dan berhamburan di pelukan Gadis dengan senyum malu-malunya.


Mereka pun berjalan masuk dengan Gadis yang mengandeng Nana, sementara Satria mengandeng Sky juga Arsyila.


"Kakak ipar, Bang Bima. Ayo ngemil bareng." Sapa Melodi yang nampak sedang menyusui sang putri sembari memakan cemilan sorenya.


"Jangan terlalu banyak makan dek, itu badan kapan kurusnya kalau ngemil terus." Ejek Satria dan langsung dapat cubitan keras dari Gadis.


"Awww sayang, sakit."

__ADS_1


"Rasain, jahil sih. Orang ibu menyusui itu harus banyak makan. Iya nggak kakak ipar, mulut suami kakak pedes minta di rujakin tuh."


"Maafin suamiku kak, biar nanti pulang aku rujakin." Kata Gadis membuat Satria bergidik ngeri.


"Kalian ini suka sekali menyudutkan aku. Oh iya dek, suamimu di mana?"


"Aku yang Abang sudutin, sadar napa. Lagi di Cafe suamiku. Btw bagaimana ceritanya Larissa bisa nolongin Kakak ipar, bukannya dia udah ganggu kalian beberapa bulan ini." Tanya Melodi yang tahu Gadis dan Satria baru saja pulang dari pemakaman Larissa. Satria dan Gadis pun menceritakan semuanya untuk Melodi dan dia sedikit terharu dengan cerita wanita itu. Wanita yang pernah juga menjadi masa lalu dari suaminya.


...****************...


Beberapa hari berlalu dari hari meninggalnya Larissa. Hari-hari Satria dan Gadis begitu berjalan mulus tak ada pengganggu seperti biasanya namun sedikit membuat Gadis merasa kehilangan.


Biasanya suaminya itu akan selalu saja pulang kantor dengan membawa segudang emosi cerita yang berkaitan dengan Larissa namun kali ini tidak lagi, pembahasan Satria mengenai almarhum hilang di telan Bumi.


Hari-hari mereka begitu damai penuh cinta kasih, hanya ada bahagia yang selalu mereka rasakan. Namun sesekali ngidam Gadis membuat Satria spot jantung di buatnya namun Satria selalu menerimanya dengan bahagia. Yah karena ini yang dia inginkan, di repotkan oleh wanita hamil itu sepanjang waktu juga tak masalah baginya. Selagi dia bisa dia akan berusaha untuk memenuhi semuanya.


Seperti sekarang ini, istrinya itu tega sekali memintanya untuk pergi ke rumah tetangga yang berwajah sangar dan sedikit di takuti di kawasan mereka itu.


Satria rasanya ingin menutup semua jendela kamar mereka yang berhadapan langsung dengan rumah tetangganya itu. Bagaimana tidak, pagi ini ketika bangun tidur istrinya itu melihat pohon mangga besar di taman tetangganya yang sedang berbuah lebat dan dia meminta Satria untuk pergi membeli beberapa buah mangga dari tetangganya, padahal di lemari es mereka masih banyak sekali stok mangga yang pria itu siapkan untuk Gadis namun wanita itu malah mau yang langsung dari pohonnya.


"Itu udah matang Dad, Mami maunya yang mentah langsung dari pohonnya. Ayolah, Mami pengen ini. Kalau nggak mau biar Mami sendiri aja. Dady tega yah, kalau Mami di galakkin gimana?" Ucap Gadis dengan sejuta dramanya, yang entah kenapa sekarang menjadi rutinitasnya untuk dituruti Satria jika dia menginginkan sesuatu.


"Iya iya deh, kenapa mukanya sok dramatis gitu. Nanti Dady pergi." Ucap Satria pada akhirnya.


"Bukan nanti Dad, tapi sekarang. Entar bentar lagi pasti Bapak botaknya bakalan pergi kerja gimana."


"Oh astaga, iya iya. Tapi kalau nanti Dady nggak balik dalam beberapa jam atau balik dalam keadaan nggak utuh, Mami harus cepat telfon polisi." Ucap Satria lebai dengan Wajah seriusnya, dia sendiri merasa ngeri dengan wajah Bapak botak tetangga mereka itu.


"Siap laksanakan, ayolah buruan Dad." Kata Gadis sengaja tak menanggapi ucapan lebay sang suami karena dia tahu Satria pasti berusaha membujuknya agar berubah pikiran.


"Kok nggak batalin gitu, apa Mami tega kalau sampai Dady kenapa-kenapa bagaimana. Kasihan Cila sama Debay nya kan."


"Nggak usah banyak drama Dad, mau apa nggak. Mami pergi sendiri nih."

__ADS_1


"Isss, nggak peka." Rajuk Satria namun pria itu bangun juga dari berbaringnya dan segera masuk ke kamar mandi untuk sekedar mencuci mukanya dan mengumpulkan niatnya sebelum menghadapi tetangganya itu.


Sementara Gadis, dia terkikik geli melihat wajah lesu sang suami. Entah kenapa mengerjai sang suami membuatnya lebih bahagia belakangan ini.


"Kamu nakal yah Dek." Ucap Gadis sembari mengusap perut buncitnya yang mulai terlihat jelas.


Dia sedikit menggelengkan kepalanya memikirkan semua tingkahnya belakangan ini. Dulu waktu mengandung Arsyila, dia selalu merepotkan kakaknya Dimas. Namun kini berbeda, suaminya yang dia repotkan sekarang. Sungguh bahagianya serasa sangat berbeda.


Beberapa saat Satria sudah keluar dengan wajah segarnya, dan langsung mendekati Gadis. Mengecup kening wanita itu sembari meminta mendoakan keberhasilannya.


"Cup, jangan lupakan untuk doakan Dady yah Mi. Kamu juga yah Dek, doakan Dady pulang dengan selamat yah." Kata Satria membuat Gadis tertawa.


"Apa sih Dad, orang cuman pergi beli mangga doang bukan pergi per*ng kali Dad. Jangan lebay, malu sama Dede Bayinya."


"Ini lebih dari pergi per*ang Mi, Mami tahu kan tetangga kita kaya gimana."


"Iya Mami tahu, orangnya menyeramkan. Nggak pernah senyum. Terus kalau bicara, sukanya ngengas. Mami tahu kok dan..." Jelas Gadis biasa seolah hal itu biasa saja namun itu mampu membuat Satria ciut, walau dirinya memiliki orang-orang yang lebih galak dan menyeramkan dari tetangganya itu tapi bisa dia atur. Namun untuk tetangganya itu sepertinya hal yang buruk pikirnya.


"Udah jangan di lanjutin, Dady pergi yah." Kata Satria dan langsung melangkah keluar kamar, sebelum sang istri memperjelas lagi tentang pria tua itu.


Hingga satu jam lamanya, Gadis menunggu Satria. Namun pria itu tak kunjung kembali membuat Gadis gelisah di buatnya.


"Aduh, Dady kok lama sih. Apa jangan-jangan, tidak-tidak apa yang kamu pikirkan Gadis. Oh Tuhan lindungilah suami hamba."


Sementara Satria, pria itu nampak duduk menikmati secangkir kopi dengan tetangga yang di pikirnya galak namun ternyata hatinya selembut kapas.


Tadi saat Satria berkunjung, dia sudah pasrahkan semuanya untuk sang maha kuasa. Namun yang terjadi sungguh di luar dari pikirannya.


Saat dia mengatakan ingin membeli beberapa buah mangga pada tetangganya itu untuk sang istri yang lagi mengidam, dengan ramah pria itu di persilahkan masuk dan memberikannya ijin untuk mengambil sesuka hatinya tanpa perlu membayar. Bahkan tetangganya itu sampai mengatakan, jika sang istri menginginkan lagi datang saja kembali.


Selepas menikmati kopinya Satria pun pamit pulang dan ada sedikit pikiran nakalnya itu untuk menjahili sang istri.


#Tinggal satu part lagi yah☺️

__ADS_1


...****************...


...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...


__ADS_2