SATRIA

SATRIA
Bab 55


__ADS_3

Satria langsung mendekati Bundanya Gadis dan mengambil tangan wanita berumur itu dan langsung di ciumnya tanpa ada penolakan dari Bunda Gadisnya itu.


"Bunda, maaf jika aku baru berkunjung lagi." Ucap Satria usai menyalami tangan Bunda Gadis yang nampak diam mematung, menatap tindakannya barusan.


Tak ada kata yang di lontarkan oleh Bundanya Gadis, karena sakin tak percayanya akan keberadaan pria yang sudah menorehkan luka pada anak cerianya yang kini jadi pendiam dan penuh kesedihan empat tahun belakangan ini.


Sementara Satria, dia memaklumi akan hal itu. Tak sedikitpun dia merasa di abaikan oleh calon mertuanya itu, sebab dia tahu akan kesalahan keluarganya untuk keluarga ini.


"Bunda... Hai Ibu. Kak Rayan, Nge kalian datang. Maaf aku nggak tau." Sapa Gadis sembari dirinya mencium tangan Ibu sahabatnya itu.


"Aku tadi sudah mengabari kamu tapi nomormu nggak aktif, makanya aku kirim pesan saja. Ibu katanya kangen kamu juga Cila, makanya kita ke sini Dis." Sahut Bunga namun dengan raut seperti sedang memikirkan beban berat, bagaimana tidak. Orang yang di cintai Gadis sekaligus ayah biologisnya Arsyila itu ada dihadapan mereka kini.


Sementara sang kakak yang sudah terang-terangan mengaku ingin memperistri Gadis juga ada di sebelahnya menatap Gadis dengan diam seribu bahasanya.


Dia tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan sang kakak saat ini melihat situasi di hadapannya mereka kini.


"Oh astaga, maaf aku nggak tahu Nge. Aku nggak lihat ponsel sejak tadi." Kata Gadis merasa bersalah, sembari dia beralih pada Ibu Bunga. "Bu, maaf yah Gadis nggak tahu ibu datang."


"Nggak papa nak, kan sekarang sudah tahu kan. Ibu kangen Cila sayang, makanya Ibu kesini. Sekalian silahturahim sama Bunda kamu." Kata Ibu Bunga sembari melirik Arsyila yang ada di gendongan Satria.


"Itu Cilanya Buk, tapi lagi tidur." Ucap Gadis sembari melihat Arsyila, sementara Satria dia nampak tersenyum sekilas pada Ibu Bunga saat mata mereka bertemu. Dia seperti tak suka akan keberadaan Rayan. Begitupun Rayan, sejak tadi dia nampak diam tak mengeluarkan sepatah katapun.


Pandangannya pun terus menatap Gadis, dan tak sedikitpun menatap ke arah Satria.


"Ya udah biarin saja kalau lagi tidur, Ibu nggak mau ganggu."


"Maaf yah Bu." Ucap Gadis tak enak hati.


"Apa sih minta maaf terus, kamu udah kaya siapa saja." Ucap Ibu.

__ADS_1


Sementara situasi sekarang nampak kaku, dan tak bersahabat. Semua orang nampak diam membiarkan Gadis sedang berbicara pada ibu Bunga.


"Sayang, kamar Cila dimana? Biar aku tidurkan Cila dulu, kasihan kalau di gendong terus." Ucap Satria menghampiri Gadis, tanpa rasa malu pria itu bahkan mengapit pinggang Gadis padahal dia hanya bertanya saja. Membuat semua di ruangan itu nampak menatap meraka dengan tatapan yang entah apa.


Sementara Ibu, langsung menatap ke arah putranya Rayan. Bingung dengan situasi yang sedang beliau lihat saat ini.


"Di kamarku, biar aku antar." Kata Gadis, tak enak hati pada yang lain. Namun, inilah hubungannya dan Satria. Dia tak mau menutupinya.


"Nggak usah, bilang saja. Kamu kan ada tamu. Aku bisa sendiri." Ucap Satria namun pria itu langsung menatap ke arah Rayan yang nampak sejak tadi menatap Gadis, dan dia tak suka itu.


"Biar aku antar... Ibu, Nge, kak Rayan. Aku tinggal sebentar yah." Ucap Gadis tak mau di bantah, dia tahu Satria sedang kesal sekarang. Itu sebab dia tak bisa membiarkan pria itu merasa di abaikan dengan dia yang tak menemani pria itu.


Keduanya pun melangkah ke arah belakang, dimana kini kamar Gadis berada bersama Arsyila.


Halaman Belakang yang dulu adalah taman bunga kini di bangun kamar Gadis dan Arsyila yang langsung di desain dengan tempat bermain terbuka.


Sesampainya di sana, Satria langsung membaringkan Arsyila di kasur king size milik kedua wanitanya itu dan masih tanpa suara seperti mereka saat perjalanan ke kamar ini.


Nampak Satria tak menghiraukan Gadis membuat Gadis menarik nafasnya pelan, dan kemudian dia berinisiatif duduk di sebelah Satria dan dia langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Satria dan memeluk pria itu tanpa suara.


Satria yang mendapat perlakuan langkah wanitanya itu, langsung menyunggingkan senyum bahagianya.


"Apa hubunganmu sudah sedekat itu dengan keluarga pria tadi." Tanya Satria sembari dia menikmati pelukan Gadis.


"Aku.."


"Jangan lepas, biar seperti ini saja." Potong Satria saat Gadis hendak melepas pelukannya saat dia mau menjelaskan pada Satria.


"Aku sudah menganggap keluarga kak Rayan seperti keluargaku sendiri. Om tahu kan, Bunga adiknya kak Rayan adalah sahabatku. Aku sudah mengenal keluarga itu sejak pertama kali aku kuliah." Jelas Gadis.

__ADS_1


"Kalau hubungan mu dengan Rayan?" Tanya Satria dengan nada kepo nya, sambil membalikan badannya dan berganti dia yang memeluk pinggang Gadis posesif sementara tangan Gadis dia tetap sematkan di pinggangnya sejak awal membalikan badannya menghadap Gadis.


"Aku tak pernah berniat membuka hubungan baru dengan pria manapun, termasuk dengan kak Rayan. Aku sudah terlalu sibuk memikirkan pria pencemburu, Ayah dari putriku itu. Sampai-sampai aku lupa bagaimana caranya mencintai pria lain sakin cintaku terlalu besar karena sering ku pupuk untuknya. Yah walau aku tak pungkiri jika Kak Rayan melamar ku untuk di jadikan istrinya." Kata Gadis dengan satu tangannya membelai wajah tampan Satria yang sedang menatapnya intens.


"Sayang." Ucap Satria lirih, karena sakin bahagianya mendengar pengakuan Gadis, namun sedikit tak suka dengan kalimat terakhir wanitanya itu.


"Sttt, dengarkan aku." Dengan meletakan jari telunjuknya pada bibir Satria yang hendak berbicara.


"Sampai kapanpun, tak akan ada yang bisa mengantikan posisimu Om. Kau pria pertamaku, kau pria yang berhasil mencuri hatiku di saat aku belum tahu apa itu perasaan mencintai apalagi pada seorang pria asing. Kau pria mesum, yang anehnya aku tak mempermasalahkan itu. Tak ada yang bisa mengantikan mu Om, tak ada. Tak ada seorangpun yang bisa mengantikan posisimu di hatiku Om." Ucap Gadis dengan tatapan seriusnya, membuat Satria ingin sekali melahapnya sekarang juga.


"Terima kasih, aku sungguh pria yang sangat beruntung."


"Yah kau memang sangat beruntung mendapatkan aku dan aku gadis polos yang sangat bodoh, rela menanggung semuanya demi lelaki pencemburu ini. Dan ternyata aku menyukainya, kau tahu aku sungguh senang bisa merasakan lagi di cemburui kamu." Ucap Gadis jujur, karena ini yang dia kangen kan dari pria di hadapannya ini. Di menyukai sikap cemburu Satria.


"Hahaha, dasar gadis aneh kamu sayang.. Dan ingat kamu tak polos lagi."


"Yah, dan semuanya karena kamu Om. Kau yang sudah menghilangkan kepolosan ku, apa kau lupa." Sahut Gadis tak mau kalah.


"Yah yah yah, semua karena ku."


"Memang semuanya karena mu."


"Iya semua karena aku, apa kau puas."


"Sangat, aku sangat mencintaimu Om." Ucap Gadis membuat Satria terkekeh.


"Nggak nyambung kamu sayang, tapi aku menyukainya. Terima kasih sudah mencintaiku sebesar ini. Terima kasih." Ucap Satria dan dia langsung mendekatkan wajah keduanya, berniat mencium gadisnya itu.


"Apa kalian mau membuat adik untuk Cila putriku tanpa ikatan lagi?" Suara bariton Dimas membuat niat Satria terhenti.

__ADS_1


"Suka sekali berbuat dosa, kalian di tunggu Bunda di ruang depan." Lanjut Dimas dan setelahnya dia langsung meninggalkan Satria dan Gadis begitu saja.


"Semoga Bunda merestui hubungan kalian Dek," Batin Dimas saat dirinya melangkah pergi.


__ADS_2