
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Gadis, Satria nampak tak menyurutkan senyumnya. Kata sayang yang tadi di lontarkan Gadis, seakan membuatnya berkali-kali lipat bahagianya. Rasanya sama seperti dia yang sekarang sudah berkumpul dengan Gadis juga akan kehadiran putrinya.
"Sayang, ulang lagi dong kata sayangnya. Aku pengen mendengarnya lagi." Ucap Satria sembari menatap sekilas Gadis kemudian dia kembali fokus pada kemudinya. Sebab tadi dia tak sempat berkata, karena Gadisnya itu malah langsung menggendong Arsyila dan membawanya keluar apartemen tanpa menghiraukan dirinya yang melongo karena sakin terkejutnya itu.
"Cila panggil Dady sayang dong, itu lagi di minta Dady." Ucap Gadis malah meminta putrinya yang memanggil Satria. Dia terlalu malu untuk mengulangnya. Tadi saja dia sendiri terkejut dengan perkataannya sendiri, malah Satria mau dia mengulangnya lagi. Yang benar saja, pikirnya.
"Cila tayan Dady." Ucap Arsyila mengikuti perintah Gadis dengan raut yang sudah mulai sayu di peluk sang Mami..
Satria yang mendengar itu, tak lantas membuatnya kecewa. Dia bahkan sangat bahagia walau bukan Gadis yang mengucapkan kata itu. Mendengar putrinya saja sudah lebih dari cukup saat mengatakan ungkapan sayang itu, karena sama saja rasanya jika di ucapkan oleh Gadis. Sebab mereka berdua adalah malaikat yang tuhan kirimkan sama-sama memiliki kedudukan penting di hatinya.
"Dady juga sayang Cila, sayang Mami apa lagi nggak ada obat pokonya." Ucap Satria sambil mengacak rambut Arsyila yang ada di pangkuan Gadis gemes, namun sebelumnya Satria sempatkan untuk menatap sekilas Gadis yang sudah nampak memerah wajahnya karena ucapan konyolnya itu walau memang kata itu serius dia utarakan..
Tidak mau terlalu larut dalam rasa malu, Gadis pun membuka suara mengalihkan konsen Satria yang nampak sedang mulai menjahilinya itu.
"Om." Panggil Gadis.
"Dady!! kau mau mengajari putri kita memanggilku Om juga Dis." Protes Satria, gemes dengan Gadis yang masih betah dengan sematan sayang untuknya itu.
"Maksud aku Dady." Ralat Gadis.
"Jangan lupa lagi."
"Yah ya, hmm. Dady, empat tahun lalu tepatnya dua bulan setelah kita berpisah. Aku melihatmu di bopong wanita yang pernah aku temui di restoran bersamamu. Dady kenapa waktu itu sampai di bantu jalannya?" Tanya Gadis, sebab waktu dimana dia melihat itu. Satria seperti dalam keadaan tak sadar full.
"Itu..." Ucap Satria menghentikan ucapannya, membuat Gadis mengernyitkan keningnya curiga.
"Bisa kita bahas itu nanti, aku sedang menyetir." Lanjut Satria, sebab menceritakan hal itu. Dirinya dan Gadis butuh duduk berdua, bukan dalam keadaan dia yang sedang menyetir seperti ini.
"Terserah." Ucap Gadis dan dirinya langsung mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela sebelahnya. Pasalnya dia menjadi tak tenang saat mendengar Satria menunda penjelasannya.
Sementara Satria dia hanya bisa menghembuskan nafasnya perlahan, sambil mengambil tangan Gadis untuk di genggamnya. Namun di tepis mentah-mentah Gadis membuat Satria langsung menepikan mobilnya di tepi jalan, karena tak mau dirinya dan Gadis menemui keluarga Gadis dalam keadaan yang tak bersahabat seperti ini.
__ADS_1
"Kenapa berhenti?" Tanya Gadis yang sadar saat mobil mereka berhenti.
"Kita nggak akan ke rumahmu kalau kamu dalam keadaan seperti ini."
"Memangnya aku kenapa?" Tanya Gadis sambil dirinya beralasan memperbaiki posisi Arsyila yang sudah tertidur dalam pangkuannya itu.
"Kamu marah, aku yang menunda jelasin yang kamu tanya kan sayang. Baiklah akan aku jelaskan." Ucap Satria membuat Gadis menatapnya.
"Nanti saja Om, kita ke rumah dulu. Udah dekat. Aku nggak marah kok, cuman penasaran." Ucap Gadis.
"Beneran nggak marah?" Tanya Satria memastikan dan Gadis menganggukkan kepalanya.
"Makasih sayang, aku janji urusan kita sama Bunda dan kakakmu selesai aku akan ceritakan semua. Aku kan sudah mendengar ceritamu kan, nanti juga ada bagian ku." Ucap Satria sembari dia mengusap tangan Gadis.
"Yah Om, maaf soal tadi aku.."
"Iya aku paham, sekarang kita lanjut yah. Aku udah nggak sabar nemuin keluarga kamu."
Satria pun kembali menjalankan mobilnya karena sebentar lagi mereka akan sampai.
***
"Kalian masih tinggal di sini?" Tanya Satria tak percaya setelah mereka sampai di depan rumah yang sudah beberapa kali dia injakan kaki di sana itu.
Sejak tadi dia sedikit bingung dengan arah rumah yang Gadis berikan untuknya. Sebab Rumah itu adalah rumah lama Gadis yang sudah beberapa kali sejak empat tahun lalu dia datangi untuk mencari Gadis itu. Namun yang dia temui hanya penghuni baru yang sudah membeli rumah itu sesuai info yang dia dapatkan sendiri.
"Yah, tepatnya baru kami tempati lagi."
"Pernah menjualnya?"
"Tidak, itu orang Bunda yang sengaja di minta tempati saat kami nggak ada. Dan sengaja memang aku yang meminta mereka mengatakan itu jika ada yang mencari ku. Maaf." Ucap Gadis merasa bersalah karena sudah membohongi Satria.
__ADS_1
"Baiklah, setelah kita menikah nanti. Aku akan menagih cerita empat tahun lalu yang lengkap dari kamu, sebagai hadiah pernikahan kita begitupun sebaliknya dariku." Kata Satria, dia tak akan menyalahi Gadis, sebab itu semua juga di lakukan Gadis atas dasar dorongan dari keluarganya dan otomatis dia turut andil akan hal itu.
"Yah tentu."
"Ayo turun." Ucap Satria dan dia langsung beranjak turun membukakan pintu untuk kedua wanita kesayangannya itu.
Seperti biasa Satria langsung mengambil alih Arsyila dan menggandeng tangan Gadis.
Gadis yang baru turun dari mobil, matanya langsung menangkap satu mobil yang di kenali nya.
"Semoga semuanya baik-baik saja." Batin Gadis sambil melirik sekilas raut bahagia Satria.
"Kenapa?" Tanya Satria saat dia hendak melangkah namun tertahan karena Gadis yang seperti sedang melamun menatapnya.
"Ah nggak, ayo Om." Ucap Gadis yang sedikit terkejut dengan kalimat tanya Satria karena dirinya yang sempat melamun.
Mereka pun langsung melangkah masuk, namun saat masuk Gadis sedikit mengerutkan kening nya harap-harap cemas saat mendengar beberapa suara yang dia kenali dari arah ruang makan.
"Ada tamu kayanya sayang." Ucap Satria membuyarkan pemikiran Gadis.
"Ah mungkin Om." Ucap Gadis dan saat mereka melangkah tak sengaja berpapasan dengan Dimas yang menatap mereka terkejut.
"Satria." Ucap Dimas yang sedikit keras mungkin karena terkejut akan keberadaan pria itu yang sudah lama tak iya lihat.
"Hay Dim." Sapa Satria santai, namun Dimas malah menatap pada Gadis seperti tak percaya adiknya itu kembali lagi pada Satria setelah sekian lama mereka sudah saling meninggalkan pikirnya.
"Kami baru bertemu lagi." Jelas Gadis tanpa di tanya saat melihat raut wajah penuh tanya kakaknya itu.
"Yah benar kata Gadis, kami baru bertemu lagi. Dan sekarang aku kesi.." Ucap Satria terhenti saat mendengar sebuah suara yang menghentikan ucapannya.
"Kamu." Ucap Bunda Gadis baru datang dari arah ruang makan bersama beberapa orang di sebelahnya yang juga sama-sama menampakan raut terkejutnya akan kehadiran Satria apalagi kedua tangan orang tua Arsyila itu nampak menyatu lekat.
__ADS_1