
Usai menampar Satria, Gadis langsung bergegas mengambil tas miliknya dan mencoba untuk pergi dari ruangan itu.
"Selalu saja bersikap seenaknya." Omel Gadis dalam setiap gerakannya.
Sebenarnya Gadis kesal pada dirinya sendiri karena dia sempat hampir terbuai dengan perlakuan tiba-tiba Satria yang memang dia pun merindukannya, karena sudah terbiasa mereka melakukan itu waktu mereka masih bersama.
"Maafkan aku." Ucap Satria cepat sambil memeluk tubuh belakang Gadis saat gadis itu hendak melangkah pergi meninggalkan ruangan nya sehabis menamparnya tadi.
Dia menyesal sudah berlaku kasar dan seenaknya pada Gadis. Dia melakukan itu karena tak suka perintahnya dulu tak di indahkan Gadis, walau memang dia sudah tak pantas lagi bersikap mengatur seperti sebelumnya lagi karena memang dia yang sudah memilih meninggalkan Gadis sebelumnya. Dan dia sungguh menyesal akan hal itu, sungguh sangat menyesalinya.
"Maafkan aku sayang, aku terlalu mencintaimu." Ucap Satria lagi dengan tulus sampai tanpa sadar air mata yang tak pernah dia perlihatkan di depan orang lain kini tumpah juga di hadapan orang yang dia cintai.
Nampak Gadis merasakan lehernya basah dengan air mata Satria karena kini pria itu sedang menyembunyikan wajahnya di sana. Di tempat ternyaman pria itu.
Gadis jadi tak bisa berkutik sekarang, karena ini kali pertamanya dia melihat pria itu meneteskan air mata di hadapannya.
"Kenapa Om ninggalin aku tanpa kabar, Om janji kan nanti balik lagi setelah mengurus masalah yang sama-sama kita nggak tahu sebelumnya. Tapi kenapa Om malah ingkari janji Om itu? Aku kecewa sama Om, aku benci Om. Tapi aku sayang sama Om." Akhirnya Gadis luluh juga saat merasakan badan bergetar Satria yang sedang menempel di tubuhnya.
Itu sebabnya dia kembali dengan panggilan sebelumnya untuk Satria. Dia mencintai pria itu, se bagaimanapun dia marah, benci dia tetap terkalahkan dengan perasaannya yang begitu besar terhadap Satria.
"Maafkan aku, kau pantas membenciku." Hanya itu yang bisa Satria ucapkan, karena dia memang belum bisa melupakan masa lalu penyebab perpisahan mereka.
"Lepas, lepaskan aku Om." Ucap Gadis kecewa karena Satria tak menjawab pertanyaannya dan lebih memilih seperti pria pengecut.
__ADS_1
"Nggak, aku nggak akan melepaskan kamu lagi sayang. Nggak lagi, nggak lagi lagi sayang." Ucap Satria sambil mengeratkan pelukannya. Takut jika Gadis akan kembali menghilang dari hadapannya.
"Berhenti memanggilku sayang, kita sudah tak ada hubungan apapun lagi kalau Om lupa. Jadi tolong lepaskan aku Om, lepas jangan seperti ini." Kesal Gadis karena pria itu tetap bungkam tanpa penjelasan, namun malah menahannya dengan keegoisannya itu.
"Nggak, aku nggak pernah mengakhiri hubungan kita kalau kamu juga lupa. Dan sampai kapanpun aku nggak akan pernah mengakhirinya, tidak juga kamu sekalipun." Kekeh Satria membuat Gadis menarik nafasnya frustasi.
Dia benci, kenapa dia bisa sebegitu nya mencintai pria bren*sek di depannya ini. Hingga membuatnya selalu lemah menghadapinya dalam kondisi marah sekalipun, dia tetap mencintai pria itu.
"Lalu kenapa Om tinggalin aku tanpa kabar, tahukah Om aku sangat tersiksa memikirkan mu setiap saat Om." Ucap Gadis dan kini tangisannya mulai pecah terdengar dengan sejadi jadinya. Setelah sejak tadi dia menahannya. Dia terlalu lemah karena mencintai pria itu, pria pertama yang berhasil mencuri hatinya sehabis habisnya hingga dia tak bisa berkutik tanpa pria itu di sisinya.
Mendengar perkataan dan tangisan pilu Gadis, Satria langsung membalikkan tubuh gadisnya itu untuk menghadapnya.
Di genggamnya kedua pipi Gadis yang nampak sesegukan karena tangisnya, Satria pun menghapus perlahan lahan jejak air mata gadisnya itu dengan perasaan bersalah begitu mendalam.
"Jangan menangis lagi sayang, jangan seperti ini ku mohon sayang. Aku sakit melihatmu seperti ini, lebih baik kamu marah saja kamu pukul saja aku tapi berhentilah jangan menangis lagi. Aku sungguh-sungguh minta maaf sayang. Maafkan aku, jangan seperti ini." Ucap Satria yang tak tega melihat betapa rapuhnya Gadis sekarang. Dia sampai gemetar sendiri melihat Gadis menangis karena ulahnya itu.
"Maafkan aku, maafkan perkataan Papi ku waktu itu sayang. Dia hanya kecewa sebagai seorang Kakak yang adiknya di sakiti. Maafkan aku juga yang masih membenci Ayah juga Bunda mu, yang membuatku ikut menghindari mu karena masa lalu mereka. Tap ketahuilah, aku sangat mencintaimu sayang. Sangat-sangat mencintaimu. Aku nggak peduli lagi jika aku akan di tentang oleh keluarga besar ku, tapi yang pasti mulai sekarang mulai detik ini aku akan memperjuangkan mu untuk tetap berada di sisiku." Ucap Satria sambil menyatukan kedua kening mereka dengan menahan tubuh bergetar Gadis.
"Bundaku nggak salah Om." lirih Gadis dengan susah paya di tengah getaran badan dan juga suaranya karena tangisannya yang belum juga redah. Dia tak terima jika Bundanya itu di benci oleh orang yang dia cintai.
"Kita bicarakan itu nanti yah." Ucap Satria yang tak ingin membahas Bunda Gadis karena memang dia masih membenci wanita itu, wanita yang sudah membuat Tantenya terpuruk tanpa tahu kebenarannya seperti apa.
"Maafkan aku sekali lagi sayang." Ucap Satria dan Gadis hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi yah." Ucap Satria sambil menghapus air mata Gadis.
"Om juga." Balas Gadis sambil ikut menghapus jejak air mata Satria yang masih nampak menetes dari sudut mata pria itu.
"Yah kita berdua." Ucap Satria sedikit terkekeh dengan tingkah Gadis.
"Aku sangat merindukanmu sayang." Kata Satria lagi sambil membawa kembali Gadis dalam dekapannya.
"Aku juga, aku kangen Om." Ucap Gadis sambil membalas tak kalah erat pelukan Satria.
Dia mencium dalam dalam wangi tubuh pria yang begitu dia rindukan selama beberapa bulan ini. Begitupun juga Satria, pria itu tak menyianyiakan sedikitpun aroma tubuh Gadis. Sampai-sampai tanpa sungkan dia menyusupkan wajahnya di ceruk leher Gadis sambil sesekali merasakan kulit leher Gadis yang dia amat rindukan.
"Om jangan begitu." Protes Gadis karena dia merasa geli akan perlakuan bibir dan lidah Satria di lehernya.
"Sebentar saja sayang." Ucap Satria dan akhirnya Gadis hanya menurut saja, karena dia pun masih menikmati memeluk tubuh Satria.
Hingga beberapa saat barulah keduanya saling melepas. Dengan Satria yang mengusap leher Gadis yang tertinggal jejak saliva nya di sana.
"Om Sih jadi lengket ini." Ucap Gadis sambil ikut membersihkan lehernya dengan menggosokkan lehernya pada tubuh Satria.
"Nggak gitu juga sayang, kemeja aku udah kusut, nanti jadi bertambah kusut lagi nantinya." Ucap Satria bercanda, dia tak keberatan sedikitpun bahkan jika Gadis *******-***** kemejanya itu sekalipun dia tak peduli. Asalkan gadis itu sudah kembali di pelukannya kini.
"Aku janji sayang, aku akan mengusahakan kamu di terima di keluargaku sayang." Batin Satria sambil mencium kening Gadis.
__ADS_1
"Maafkan aku Om, aku terlalu mencintai anak Om." Batin Gadis yang dia tujukan untuk Papi nya Satria.