SATRIA

SATRIA
Bab 50


__ADS_3

Gadis sedikit kesal dengan Satria, sebab di saat dia membalas Satria, malah pria itu mempertanyakan dirinya yang tidak tidak.


"Untung lagi rindu berat aku Om, kalau enggak udah ku amuk kamu. Sendiri yang ngajarin, malah sendiri juga yang mempertanyakan. Bagaimana nggak jago aku, kalau di ajar setiap saat dulu. Kamu juga sih Dis, pake acara nggak ke kontrol lagi." Batin Gadis jadi malu sendiri dengan tindakannya tadi, kalau dia pikir-pikir memang nampak seperti orang yang cukup sebanding dengan gaya ciuman Satria yang cukup handal itu.


Pantas saja pria itu mempertanyakan dirinya, pikir Gadis.


"Sayang, maafin aku yah. Aku hanya kaget saja tenyata kamu udah jago aja, ternyata udah dari lama yah jagonya cuman nahan aja dan sekarang bablas karena rindu yah." Ucap Satria mencoba memperbaiki Mood Gadis setelah sadar dengan ucapan wanita itu yang sudah dia hancurkan mood nya karena ulah pikirannya yang aneh itu.


Dan ternyata, ucapannya itu mendapat anggukan kecil dari Gadis membuatnya sedikit lega. Mungkin karena rindu wanita itu, membuat dengan mudahnya dia memaafkan Satria.


"Aku nggak ada sempat untuk berdekatan dengan pria lain Om, waktuku terlalu banyak tersita habis dengan mengingat dirimu dan kebersamaan kita empat tahun lalu yang amat lekat menempel di memori ingatanku." Ucap Gadis jujur.


"Pakai dukun yah kamu Om, ko aku sampai nggak ada tertarik sama pria manapun selama empat tahun ini tak bersama Om." Jujur tanya Gadis membuat Satria melongo mendengar pertanyaannya konyolnya itu. Walau dalam hati Satria teramat senang karena Gadis tak tertarik dengan pria manapun sama sepertinya yang tak tertarik dengan wanita-wanita yang didekatkan kedua orang tuanya selama dirinya dan gadis berjauhan..


"Sembarang kamu sayang, berarti kamu juga dong sama pakai dukung juga yah? aku bahkan yang hampir gil@ memikirkan kamu tiap saat tiap waktu sampai tak berminat dengan wanita manapun yang di dekatkan Mami Papi ku." Balas Satria tak mau kalah.


Jika begini dia mengingat kembali masa dimana dia sering sekali berdebat konyol dengan Gadis kala itu saat belum ada ikatan hubungan serius di antara mereka.


Seketika keduanya langsung tertawa dengan kekonyolan mereka sendiri. Hingga tanpa sadar mereka mulai melupakan kesedihan yang tadi nampak sangat memilukan.


"Jangan pergi lagi yah sayang, kumohon ini untuk terakhir kalinya kita berpisah." Ucap Satria seketika saat tawa keduanya mulai mereda. Pria itu mengatakannya dengan raut serius penuh harapnya pada Gadis.


Sementara Gadis yang mendengar itu langsung menganggukkan kepalanya cepat sambil menatap Satria dengan raut berkaca-kacanya.


"Om tahu, aku nyesel tahu ninggalin Om. Aku jadi nggak bisa ngerepotin Om saat aku mengandung Arsyila tiga tahun lalu. Aku tersiksa banget saat kangen di peluk Om tiba-tiba kala itu." Ucap Gadis seketika sedih kembali menghinggapinya saat mengingat masa-masa dimana dirinya begitu menginginkan Satria ketika hamil besar Arsyila namun tak bisa dia turuti itu.


"Maafkan aku sayang." Ucap Satria dan dia langsung membawa Gadis dalam dekapannya. Dia merasa bersalah, tak ada saat di masa kehamilan wanita yang sudah mengandung anaknya itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak memberitahukan aku sayang, saat kamu tahu akan kehamilan kamu?" Tanya Satria yang nampak begitu sedih dengan perkataan Gadis, dia jadi membayangkan bagaimana kala itu Gadis merindukan dirinya namun di tahannya.


"Sebenarnya aku.." Ucap Gadis, dia ingin menjelaskan satu hal yang sempat menghalanginya untuk memberi kabar kehamilannya pada pria itu.


"Sebenarnya apa?" Tanya Satria tak sabaran mendengar alasan Gadis..


Gadis pun menceritakan kejadian empat tahun lalu dimana dia ingin memberi tahu Satria akan kehamilannya sebelum dia memberi tahu keluarganya sendiri akan berita itu.


"Flashback On."


Kejadian Ampat tahun lalu...


Malam setelah meninggalkan apartemen Satria, Gadis yang di jemput Dimas di bawah langsung menuju bandara.


Wanita itu telah menghubungi Dimas di kala dia hendak meninggalkan apartemen Satria. Beruntung, Kakaknya itu sejak tadi setia menanti kabar darinya sejak tadi dia memberi tahu Dimas tentang keputusannya itu saat di rumah sakit tadi.


"Kamu baik-baik saja dek?" Tanya Dimas melihat penampilan berantakan Gadis saat gadis itu baru memasuki mobilnya. Dia bahkan melihat wajah sembab Gadis yang nampak tak ingin di tutupi Gadis darinya.


"Apa kamu yakin?" Tanya Dimas memastikan keputusan adiknya itu. Kini dia membuka suaranya menanyakan perihal keputusan mendadak Gadis.


"Yah aku yakin, dan semoga saja ini memang yang terbaik untuk kami berdua.." Ucap Gadis yang tengah menatap luar jendela, sambil mengingat kejadian di rumah sakit saat Papinya Satria memintanya untuk meninggalkan pria itu secara halus.


Dia pun langsung menghubungi Kakak nya Dimas untuk menyiapkan semua berkas untuk dia berangkat beberapa waktu ke laur negri demi untuk menghindari Satria. Dia bahkan meminta Kakak juga Bundanya untuk sebisa mungkin menghindari Satria hingga waktu yang tak bisa dia tentukan lamanya.


"Apa ini ada hubungannya lagi dengan orang tuanya Satria?" Tanya Dimas menebak, masih penasaran dengan keputusan mendadak sang adik.


Gadis hanya menjawab pertanyaan sang kakak dengan anggukkan kecil kepalanya tanpa berniat membuka suaranya menjelaskan.

__ADS_1


"Kau membuat Bunda harus terlibat lagi dengan mereka." Decak tak suka Dimas namun tak di perduli kan Gadis.


"Bunda tak masalah soal ini, aku sudah mendiskusikan ini jauh hari sebelumnya dengan Bunda." Ucap Gadis sebab ini juga saran dari Sang Bunda untuknya saat dia bertemu Satria kembali sejak lima bulan mereka berpisah sebelum kejadian ini berlangsung.


"Kalian berdua memang wanita aneh." Ucap Dimas yang tahu latar belakang sang Bunda.


***


Hingga dua bulan lamanya Gadis sudah berada di negeri asal kelahiran sang Bunda itu baru Gadis tahu jika dia telah mengandung anak dari pria yang dia cintai itu, hingga dia memutuskan untuk kembali ke tanah air untuk menemui pria yang sudah dua bulan dia hindari. Namun sayang saat dia hendak baru sampai di parkiran apartemennya Satria Gadis tak sengaja melihat Satria yang nampak di papah oleh seorang Gadis yang nampak tak familiar di ingatannya.


"Wanita itu." Ucap Gadis menghentikan langkahnya hingga suara seseorang di belakangnya mengagetkan dirinya.


"Dia Adila, calon menantuku. Untuk apa kau kembali lagi." Ucap Papi Darma, Papinya Satria yang sudah cukup Gadis hafal suaranya itu.


"Aku hanya merindukan Om Satria, apa boleh aku menemuinya sekali saja." Pinta Gadis tanpa membalikan badannya melihat orang yang sedang mengajaknya bicara itu.


"Tak perlu, biarlah Satria belajar melupakan kamu nak. Kamu wanita baik, yang sudah mendengarkan perkataan orang tua. Jadi tolong pertahankan apa yang sudah kamu putuskan sebelumnya." Ucap Papi Darma.


"Tapi," Kata Gadis dan langsung di potong Papinya Satria.


"Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari putraku nak, tolong permudahkan dia untuk melupakan dirimu."


"Flashback Off."


"Dan kamu langsung mengurungkan niatmu itu sayang." Tanya Satria dan Gadis hanya menganggukkan kepalanya.


"Papi sungguh keterlaluan, maafkan Papi ku sayang." Ucap Satria dan dia membawa Gadis dalam dekapannya.

__ADS_1


"Maafkan aku jika nantinya tak akan melibatkan kalian dalam kisah ku ini." Batin Satria mengingat Papinya.


"Lupakan semua yang menentang hubungan kita mulai detik ini sayang." Ucap Satria lagi dengan keputusan yang akan dia ambil setelah ini setelah mendengar cerita Gadis tadi.


__ADS_2