SATRIA

SATRIA
Bab 42


__ADS_3

Sehabis menerima telfon dari sang Papi, Satria langsung memutuskan untuk menemui Gadis di kampus setelah tadi dia berusaha menghubungi gadis itu. Namun Gadis nampak tak mengangkat panggilannya berulang kali, membuatnya sedikit khawatir jika Gadisnya itu sedang marah karena sikapnya yang seenaknya tadi mencium Gadis walau dia tahu ada yang masuk ke ruangannya.


Sesampainya di kampus, Satria langsung mendapatkan informasi jika Gadis sedang di taman kampus saat ini. Itu sebabnya dia tak perlu membuang banyak waktunya untuk mencari gadisnya itu.


Namun saat Satria baru saja menginjakan kakinya di taman, pria itu langsung di suguhkan dengan pemandangan yang membuat panas dirinya seketika.


Bagaimana tidak, Gadis yang sudah dia wanti-wanti untuk tidak mendekati pria lain namun malah terang-terangan dia duduk dengan pria lain sekarang. Sementara dia mati-matian menghubunginya namun panggilannya selalu di abaikan.


***


Setelah tadi sedikit mencoba menahan marahnya dan membawa pergi Gadis dari taman, Satria langsung melontarkan keputusannya untuk menikahi Gadis secepatnya.


"Kita harus membicarakan pernikahan kita secepatnya, biar perlu besok kita akan menikah. Aku nggak mau tahu." Ucap Satria seketika membuat Gadis terkejut di buatnya.


"Om."


"Apa? kamu mau protes, mau menolak karena sudah nyaman di dekati banyak pria hah." Ucap Satria dengan emosinya tanpa menunggu lanjutan ucapan Gadis lagi.


Plaaakkk


Gadis yang merasa terhina atas ucapan Satria, dengan spontan langsung menampar keras pipi Pria yang sudah membuatnya mengenal cinta itu.


"Aku benci kamu Om." Ucap Gadis dengan mata yang mulai berair. Dia tak terima direndahkan Satria seperti itu.


Ingin sekali dia pergi dari mobil Satria sekarang juga, namun dirinya yang mulai terisak membuatnya mengurungkan niatnya itu mengingat begitu banyak mahasiswa yang berada di luar sana yang tadi sempat menyaksikan kemarahan Satria padanya itu. Dia tak mau lagi tambah menjadi bahan pembicaraan mereka jika dia keluar mobil Satria dengan keadaan kacau seperti saat ini.


Sementara Satria yang masih menahan pipinya bekas tampar Gadis tadi langsung berbalik menatap Gadis yang nampak terisak.


Pria itu hanya bisa menarik nafasnya melihat wanita yang dia sayangi itu menangis karena ulahnya barusan, namun begini lebih baik pikirnya. Dia mau Gadisnya itu mengambil pelajaran dari kejadian ini jika dia benar-benar dengan ucapannya jika dia tak suka jika Gadis berdekatan dengan pria manapun.


Dengan perlahan dia langsung menghidupkan mobilnya dan membawa pergi mereka dari tempat itu.


Sesekali dia melirik Gadis yang nampak masih terisak dengan menatap ke luar jendela.

__ADS_1


Ingin sekali dia membawa Gadis dalam pelukannya sekarang juga, namun amarahnya masih mendominasi dirinya hingga dia lebih memilih untuk mengabaikan Gadis sebentar.


***


Setelah menempuh perjalan yang nampak tak bersahabat, kini tibalah mereka di parkiran apartemen miliknya


Satria memilih untuk membawa Gadis pulang untuk mereka saling bicara demi kebaikan mereka berdua ke depan.


Dilihatnya Gadis yang nampak tek bergeming menatap luar, Satria langsung turun dan menuju pintu mobil bagian Gadis dan membukakan pintu mobil untuk gadis itu.


"Turun." Pinta Satria setelah dia membuka seatbelt di tubuh Gadis.


"Aku mau pulang." Ucap Gadis nampak tak bergeming karena dia baru sadar Satria membawanya ke apartemen pria itu, sakin dia tak fokus sejak tadi memikirkan sikap Satri padanya.


"Gadis jangan buat aku marah, ayo turun." Tegas Satria dan dia langsung menarik paksa Gadis untuk turun dan mengikuti langkahnya.


"Aku kecewa sama kamu Om, kamu membuatku takut." Batin Gadis sambil melihat tangannya yang di tarik paksa Satria mengikuti langkah pria itu.


Sepanjang jalan menuju unit apartemen Satria, keduanya hanya diam dengan pemikiran mereka masing-masing.


Sesampainya di depan Apartemen, Satria langsung mengetik cepat id password apartemennya hingga pintu itu terbuka.


Masih dengan keadaan yang sama, Satria menarik Gadis masuk dan sesampainya di dalam Satria langsung meninggalkan Gadis begitu saja menuju dapur. Sementara Gadis dia hanya melihat kepergian Satria dengan perasaan yang entah apa.


"Aku mencintaimu Om, tapi tidak begini." Batin Gadis yang nampak tak mengenal Satria yang sekarang.


Hingga sampai Satria balik dengan dua gelas air di tangannya Gadis masih tetap di posisi yang sama saat Satria meninggalkan dirinya tadi.


"Minumlah." Ucap Satria sambil menyodorkan segelas air untuk Gadis.


Gadis langsung menerimanya tanpa penolakan, namun jelas tangannya bergetar saat menggapai gelas itu dan semuanya tak luput dari penglihatan Satria.


"Maafkan aku." Batin Satria tak tega dengan keadaan Gadis sekarang.

__ADS_1


Pria itu nampak memperhatikan Gadis dengan intens sambil mereka sama-sama menghabiskan minuman mereka.


"Kemarilah." Ucap Satria dengan lembut dan dengan pelan di turuti Gadis walau dengan keadaan takut, dia tetap mengikuti Satria yang duduk di sofa.


"Kamu takut?" Tanya Satria sambil membawa Gadis dalam pelukannya, dia nampak merasakan anggukan pelan kepala Gadis menjawab pertanyaannya itu.


Menghembuskan nafasnya perlahan Satria langsung merenggangkan pelukan mereka sebentar dan dia langsung menagkup kedua pipi Gadis agar melihatnya.


"Itu akibatnya jika kamu tak mengindahkan peringatan ku Gadis, sudah ku katakan bukan jangan pernah dekat dengan pria manapun itu kecuali aku dan Kakak mu. Tapi kenapa kamu selalu melanggarnya hum."


"Aku sangat mencintaimu Gadis, aku cemburu kamu dengan pria lain. Aku takut kau akan meninggalkan aku, maafkan aku jika sudah berlaku kasar padamu. Itu hanya bentuk protes ku terhadapmu sayang. Maaf sudah membuatmu takut, tapi ketahuilah aku yang lebih merasakan sakit melihat kamu tersakiti karena tingkah posesif ku yang berlebihan itu. Aku mencintaimu Gadis, maafkan aku maafkan aku sudah menyakitimu." Ucap Satria dan dengan perlahan membawa Gadis kembali dalam pelukannya karena tak mau Gadis melihat tangisannya.


Dia merasa bersalah pada Gadis karena tak bisa mengontrol kemarahannya, hingga membuat Gadis ketakutan seperti ini. Dia tak tahu kenapa sekarang sikapnya seperti ini, tapi yang pasti dia sulit sekali bisa mengontrol diri jika berkaitan dengan Gadis yang di dekati pria lain.


Gadis yang terlanjur kecewa dengan Satria nampak diam saja, dia tahu Satria mencintainya. Tapi kenapa mesti merendahkannya dengan kalimat tak mengenakan pria itu.


Hingga beberapa saat, Satria yang terus menangis membuat Gadis luluh juga. Ternyata rasa sayangnya pada pria itu mengalahkan rasa kecewanya.


Tangan yang tadi nampak tak membalas pelukan Satria kini di angkatnya untuk mengusap punggung bergetar pria itu. Di usapnya perlahan hingga membuat Satria lebih mengencangkan pelukannya.


"Sayang." Panggil Satria karena sejak tadi Gadis tak meresponnya.


"Sayang, bicaralah. Jangan mendiamkan aku seperti ini." lirih Satria.


"Om."


"Ya Sayang?" Ucap Satria dengan menghapus air matanya dan kemudian merenggangkan pelukan mereka demi melihat wajah Gadis.


"Apa kamu benar mencintaiku?" Tanya Gadis.


"Apa yang kamu tanyakan, aku sangat sangat mencintaimu. Kamu tahu itu." Tegas Satria namun dengan kelembutannya.


"Tapi kenapa kau melukai hatiku, dengan kata-kata rendahan itu. Jika tubuhku yang kau lukai, aku tak masalah. Tapi tidak dengan kata-kata itu Om. Aku kecewa sama kamu Om." Jujur Gadis mengeluarkan isi hatinya.

__ADS_1


"Maaf untuk kata-kataku tadi Sayang, aku mengaku salah. Jangan membenciku, aku tak sadar tadi saat mengucapkan itu. Aku janji tak akan mengulanginya lagi." Ucap Satria penuh penyesalan.


"Aku takut untuk melanjutkan ini Om"


__ADS_2