
"Mami." Panggil seorang anak kecil sambil berlari memegang ipad yang baru dirinya ambil di rak mainan dan berlari pada wanita yang nampak sedang menelfon tak jauh darinya.
"Hey sayang, apa sudah dapat? apa ini?" Tanya wanita itu setelah mematikan ponselnya dan mengantonginya.
"Mami Dis, cila mau ini boleh?" Tanya bocah yang kira-kira baru berusia tiga tahun itu menunjukan ipad mainan yang ada di tangan mungilnya.
"Boleh sayang, pilihan yang bagus ini. Nanti kita bilang Dada yah buat beli yang aslinya oke." Ucap Sang Mami.
"Asik, Mami Dis yan telbaik." Ucap Arsyla yang nampak masih cadel itu.
"Iya dong, Maminya siapa dulu ini." Ucap Mami Dis.
"Acila Dong." Ucap bocah itu semangat sambil mencium wanita yang dia panggil Mami itu dengan gemas.
"Hahaha, Mami geli sayang." Tawa Wanita yang di panggil Mami itu saat Arsyla nampak menjahilinya dengan ciuman gemas pipinya.
"Mami Dis, telpon Dada dong. Cila mau di temani Dada matan juda." Ucap Arsyla dengan wajah gemasnya.
"Baiklah sayang, Mami telpon Dada yah."
Terlihat di sudut ruangan tak jauh dari ibu dan anak itu, nampak seseorang sedang memperhatikan mereka sejak tadi. Orang itu nampak mengusap sudut matanya namun satu tangannya yang terbebas nampak mengepal kuat. Dan setelahnya dia pun langsung meninggalkan tokoh mainan anak itu tanpa membeli satu barang pun di sana...
***
"Breng**k breng**k breng**k, kenapa kamu tega Gadis." Ucap Satria yang nampak baru memasuki apartemennya setelah tadi dia membatalkan niatnya untuk membeli kado untuk keponakannya.
Dia begitu kaget saat melihat wanita yang sudah hampir empat tahun tak dia temui itu ternyata sudah memiliki anak.
Sementara dirinya seperti orang bodoh beberapa tahun belakangan ini hidup dalam penyesalan karena ulahnya pada Gadis yang dia cintai hingga membuatnya telah meninggalkan dirinya karena sikapnya itu.
Yah di tempat perbelanjaan mainan anak tadi, Satria melihat Gadis yang nampak berbicara dengan seorang anak kecil yang memanggil gadis yang dia cintai itu dengan sebutan Mami.
"Kenapa lo tegah sama aku Gadis, aku tahu aku salah. Tapi tidak begini balasannya Dis." Tangis Satria.
__ADS_1
Ingatan empat tahun lalu kini kembali terngiang dalam mengingatnya.
"Om."
"Yah sayang."
"Apa Om mencintai aku?" Tanya Gadis.
"Bukan lagi sayang, kamu nafasku. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Kamu tahu, melihatmu di dekati pria lain. Nafasku terasa tak berfungsi dengan baik. Jangan pernah mempertanyakan itu lagi. Kamu lebih dari kata cinta untukku sayang." Jelas Satria dengan raut ketulusannya.
"Tapi.."
"Nggak ada tapi-tapian sayang."
"Untuk kali ini dengarkan aku Om, hubungan kita nggak bisa seperti ini. Aku nggak mau hubungan kita nggak direstui keluarga kamu Om. Aku nggak mau kejadian yang di alami Bundaku di alami juga pada kita Om. Sebaiknya Om turuti saja permintaan orang tua Om, om pasti bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari aku." Jelas Gadis hati-hati.
"Apa maksud kamu?" Tanya Satria yang sudah terpancing dengan perkataan Gadis.
"Om, dengarkan aku. Aku nggak mau menjadi wanita yang jahat yang memisahkan Om dengan keluarga Om. Kumohon mengertilah, jika memang kita berjodoh Tuhan pasti sudah siapkan yang terbaik kedepannya." Ucap Gadis sambil menagkupkan kedua tangannya di pipi Satria.
"Om!!! Om mau apa? Lepaskan aku." Teriak Gadis saat dengan Spontan Satria mengangkat tubuhnya.
"Aku akan membuat mereka setuju dengan caraku Gadis, kau harus menikah denganku. Ini sudah keputusanku jika kamu tak mau bersabar menunggu usahaku meluluhkan orang tuaku maka maafkan aku, ini yang harus aku lakukan demi hubungan kita." Ucap Satria dan dia langsung menurunkan Gadis di Kasur king size miliknya itu saat mereka sampai tepat di depan ranjang miliknya.
"Om." Lirih Gadis saat Satria mulai melepas paksa pakaiannya.
Satria tak tahu apa yang Gadis pikirkan. Wanita itu tak melakukan perlawanan saat dia melepas pakaiannya, namun air mata Gadis terus menetes sambil menatap lekat wajah Satria namun tak di pusingkan nya.
"Aku akan bertanggung jawab sayang, ini yang terbaik. Maafkan aku jika aku terpaksa melakukan cara ini. Aku mencintaimu sayang, sungguh sangat mencintaimu." Ucap Satria sambil melepas pakaiannya sendiri usai melepas pakaian Gadis yang tanpa ada penolakan itu.
Setelah itu Satria pun melakukan hubungan yang seharusnya tak mereka lakukan sebelum menikah, namun ini harus dia lakukan agar Gadis tak akan meninggalkan dirinya lagi.
(Maafkan Author nggak nulis lebih rinci yah, nggak mau soalnya kalau Author dan kalian yang lagi puasa membacanya jadi berkurang pahalanya😁)
__ADS_1
"Mami Mami Dis."
"Eh sayang." Kaget Gadis saat ada yang mencium gemas pipinya dengan air liur yang menempel membuat basah pipinya.
"Mami Kenapa, Acila panggil dali tadi loh." Ucap Arsyla dengan bersedekap dada karena dia sejak tadi berbicara dengan Maminya itu namun tak didengar sedikitpun.
"Oh astaga, Maafin Mami yah. Mami lagi mikirin Dada sayang, ko lama yah Dada cila datangnya." Ucap Gadis beralasan, tak mungkin jika dia bilang sedang memikirkan masa lalunya itu.
"Iya Mami, Dada suta buat kita nungdu." Ucap Arsyla yang mulai lupa marahnya pada Gadis.
"Iya sayang, Dada kebiasaan. Acila lanjut makan gih sambil tungguin Dada." Kata Gadis sambil mengusap surai lurus Arsyla.
"Oke de Mami." Ucap Arsyla bersemangat, dan Gadis yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan langsung menengadahkan wajahnya ke atas, takut jika air mata yang hampir jatuh itu bebas begitu saja di hadapan Arsyla.
Sementara Satria saat mengingat kejadian empat tahun lalu itu, dia langsung bergegas menuju kamar yang belum dia rubah sedikitpun itu sambil melihat barang-barang Gadis di sana.
"Maafkan Aku, tapi kenapa kamu meninggalkan aku dan tak membiarkan aku untuk bertanggung jawab." Ucap Satria, sebab sehabis merebut kesucian Gadis dia langsung terlelap. Dan keesokan harinya dia tak menemukan Gadis di sampingnya lagi.
Mencari Gadis kerumahnya pun ternyata sudah tak di tempati, hingga dia putus asa sendiri mencari wanita itu.
"Sayang." Ucap seseorang dari arah pintu masuk kamar Satria membuat Satria yang sedang menatap perlengkapan kecantikan Gadis itu langsung menatap ke arah sumber suara.
"Mau apa Mami ke sini." Ucap Satria sinis.
Semenjak Gadis meninggalkan dirinya, Satria sangat membenci kedua orang tuanya itu. Karena mereka hingga dia sampai memutuskan berbuat nekat pada Gadis sampai-sampai Gadisnya itu pergi meninggalkan dirinya.
"Satria!!" Tegur Papi Darma dari arah belakang istrinya saat mendengar ucapan sinis Satria pada istrinya itu.
"Papi sudahlah, ini semua salah Papi. Coba saja kalau Papi mau merestui mereka, putra kita nggak akan hancur seperti ini. Lihatlah dia bahkan semakin dingin sekarang." Ucap Mami Eka sebab usaha mereka yang mendekatkan Satria dengan anak dari teman-temannya pun tak ada satupun yang berhasil. Satria hanya mau Gadis saja sampai hari ini.
Setelah mendengar ucapan Mami Eka, Papi Darma pun langsung keluar pergi dari hadapan mereka. Sementara Mami Eka langsung menghampiri Satria.
"Maafin Mami sama Papi mu sayang. Mami sekarang merestui kamu, ayo carilah Gadis Papi kamu juga sudah ikhlas kalian bersama." Ucap Mami Eka sambil membawa Satria dalam pelukannya.
__ADS_1
"Terlambat Mi, sudah terlambat." Ucap Satria saat mengingat Gadis dan anaknya Gadis tadi.