
............Happy reading🌹 ...........
Selepas meninggalkan kedua orang tua Satria, kini mereka bertiga telah tiba di kamar Satria. Dengan pria itu yang langsung merebahkan dirinya dengan Arsyila di atas tempat tidur miliknya.
"Dady, mandi dulu baru tidur. Kan baru habis perjalanan jauh." Ucap Gadis, sembari dirinya mengambil Arsyila dari atas tubuh Satria.
"Iya Mami sayang, Dady akan mandi. Siapin baju yah, sini ikut Dady." Ucap Satria sembari bangkit dan dia berjalan ke arah ruangan lainnya yang berada di kamar itu dan langsung di ikuti Gadis juga Arsyila di belakangnya.
"Sayang, pilih yang agak muatan di aku yah. Soalnya hampir beberapa tahun aku nggak kesini, dan di lemari itu baju lama semua." Jelas Satria sembari dia memeluk Gadis dari belakang.
"Dady, Cila juda mau di peyut." Rengek Arsyila saat melihat sang Dady hanya memeluk Mami Gadisnya.
"Eh, adu adu. Ini sudah Dady peluk." Ucap Satria sembari dia berganti memeluk menggendong Arsyila dan di peluknya erat.
"Hahaha, Cuda cuda Dady." Ucap Arsyila senang, namun dia sedikit merasa tergencet dengan pelukan Satria.
"Ayo Dad, buruan mandi. Biar aku sama Cila juga setelah kamu." Pinta Gadis, soalnya Satria seakan lupa niat awalnya ke ruangan ini.
"Coba kalau udah nikah, udah Dady ajak kamu sama Cila mandi bersama sekarang ini." Ucap Satria sembari dia menurunkan Arsyila.
"Biarpun sudah menikah, kita nggak bisa mandi bertiga. Arsyila perempuan sayang, nggak bisa di biasakan kaya gitu." Jelas Gadis terlihat cerewetnya kembali seperti dulu terhadap Satria.
"Ya udah, kita berdua aja. Dan itu harus." Bisik Satria di telinga Gadis sebelum akhirnya dia berjalan ke arah kamar mandi, namun sebelum itu dia sempatkan untuk mengecup pipi Gadis juga Arsyila bergantian.
Gadis tersenyum melihat Satria, dan diam-diam dia menjawab ucapan Satria walau hanya dalam batinnya.
"Dengan senang hati sayang, aku akan menagihnya jika kamu lupa." Kata Batin Gadis sembari di tersenyum dengan kata batinnya sendiri.
Setelah menyiapkan pakaian untuk Satria, Gadis pun mengajak putrinya itu untuk duduk di balkon kamar Satria yang menghadap langsung dengan taman belakang rumah itu.
Dimana banyak tanaman bunga warna marni serta pohon buah yang berjejer mengindahkan taman belakang itu. Membuat setiap mata yang memandang akan merasa bahagia melihatnya. Begitupun juga Gadis saat ini.
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan Arsyila menemani duduk santai mereka itu. Hingga sampai sampai mereka tak sadar jika Satria sudah ada di belakang mereka saat ini.
"Mami Mami, Cila mau itu bole." Tunjuk Arsyila pada satu burung yang melintas di depan mereka dan itu juga Satria melihatnya.
"Cila mau?" Tanya Satria ikut bergabung.
__ADS_1
"Iya Dady, Cila mau." Sahut Arsyila dan dia langsung mendekati Satria minta di gendong pria itu.
"Mainannya aja yah nanti Dady beliin. Soalnya kalau yang asli, kasihan burungnya nanti nggak bebas terbang kalau kita miliki." Jelas Satria.
"Ditu ya Dady, talau ditu Cila mau mainan aja." Sahut Asyila, sebab gadis itu dia cepat tanggap setiap ada yang menjelaskan sesuatu dan bisa dia tangkap dengan otak kecilnya itu secara cepat.
"Anak pintar." Kata Satria sembari dia mencium gemas Arsyila.
Dan obrolan Dady dan anak itu, Gadis saksikan dengan perasaan haru yang tak terkira. Dia diam-diam menghapus bening demi bening air yang menetes di pelupuk matanya tanda dia sungguh terharu akan hal yang dia saksikan.
"Sayang, sini." Ajak Satria saat melihat wajah ingin menangis Gadis, dan Gadis tanpa menunggu langsung berhambur di pelukan Satria yang juga kini masih menggendong Arsyila. Alhasil ketiganya saling memeluk dengan Satria yang terus mengecup bergantian kepala Gadis juga putri mereka Arsyila.
"Selalulah bahagia sayang, karena bahagia mu adalah bahagiaku." Batin Satria, tanpa berucap lebih pada Gadis. Dia sudah terlalu banyak berjanji pada wanita itu. Kini, dia akan menjalani yang menjadi kebahagiaannya kini. Yaitu membahagiakan Gadis juga putrinya. Karena dengan begitu dia akan merasakan kebahagiaan sesungguhnya yang dia mau.
Selepas sesi haru bahagianya Gadis, wanita itu pun membawa Arsyila untuk dia mandikan. Setelah itu barulah dirinya seperti biasa.
Namun bersamaan dengan keluarnya Gadis dari kamar mandi, bertepatan pula dengan pintu kamar mereka yang di ketuk dari luar.
Satria yang sedang berbincang dengan sang putri pun langsung menoleh pada Gadis.
"Biar aku saja sayang." Ucap Satria dan dia pun langsung beranjak membukakan pintu kamarnya.
"Kita ikut Mi. Gadis, sayang Bawa yang penting saja yah kita ikut Mami Papi sekarang." Sahut Satria cepat sembari dirinya kembali masuk ke dalam kamar dan memasukkan barang-barang Gadis juga Arsyila yang tadi wanita itu keluarkan dari tas jin-jinnya. Padahal tadi dia sendiri yang bilang untuk Gadis membawa yang penting saja tapi malah dia yang membereskannya.
Sementara Mami Eka beliau juga ikut masuk kamar Satria, namun tujuannya untuk mengambil Arsyila dan di gendongnya.
"Sayang, kamu sama Oma yah." Ucap Mami Eka setelah menggendong Arsyila
"Ote Oma." Ucap Arsyila sebab dia melihat Mami dan Dady nya kini sedang sibuk masing-masing.
Usai bersiap, Satria juga Gadis nampak berjalan di belakang Mami Eka yang masih sempat-sempatnya sering mencium Arsyila di tengah kepanikannya.
Sesampainya di ruang keluarga, Papi Darma sudah siap menunggu mereka dengan beliau yang terus berbicara di telfonnya..
"Langsung saja ke depan." Ucap Papi Darma sembari beliau juga ikut berjalan keluar.
***
__ADS_1
Selama perjalanan menuju bandara, tak henti-hentinya mereka semua berdoa demi keselamatan Melodi juga putrinya. Sampai dimana Papi Darma membuka suara mengenai Sang cucu yang berada dalam pangkuan Mami Eka.
"Biar Papi saja Mi yang gendong, biar Mami bisa tidur." Ucap Papi Darma beralasan padahal beliau sejak tadi kesal, karena istrinya memonopoli Arsyila sendiri. Padahal beliau juga ingin menggendong bocah itu, namun Papi Darma terlalu gengsi untuk mengatakan hal itu.
"Nggak papa Pi, Mami seneng kok." Ucap Mami Eka membuat Papi Darma tak berkutik.
***
Usai menempuh perjalanan empat jam lamanya kini mereka telah tiba tepat di rumah sakit, tempat bersalin nya Melodi.
Di sana, mereka sudah di tunggu dengan keluarga dari Rizki suami dari Melodi juga Tante Mia yang sudah berada di sana lebih dulu.
"Mba." Sapa Mami Eka pada ibu mertua Melodi yang saat ini berada tepat di depan ruangan Melodi.
"Kalian sudah sampai, Melodi baru saja di pindahkan di ruang ini. Cucu kita perempuan sehat, begitupun juga Melodi." Ucap Ibu Rizki sembari mereka cipika cipiki.
"Siapa?" Tanya Ibu, bingung melihat anak kecil yang di gendongan Mami Eka.
"Cucuku, putrinya Satria." Ucap Mami Eka bangga.
"Oh Manisnya, wajahnya sangat mirip menantuku." Sahut Ibu, walau di hati sedikit mengganjal. Pasalnya yang dia tahu jika Satria belumlah menikah, jadi bagaimana mungkin pria itu sudah memiliki anak sebesar itu..
"Ayo masuklah, semuanya sudah di dalam." Lanjut Ibu sedikit menghilangkan rasa penasarannya.
Saat mereka semuanya masuk, semua yang di dalam langsung menatap ke arah Satria dan Gadis bergantian. Terkhusus untuk Melodi juga Tante Mia, mereka menatap tak percaya apa yang sudah lama tak mereka lihat. Hingga mereka tak menyadari jika ada anggota baru juga yang kini ada dalam gendongan Mami Eka.
"Gadis, kau kah itu?" Ucap Melodi tak percaya, sembari menatap lekat Gadis.
"Kemarilah." Lanjut Melodi.
Sementara Tante Mia, beliau langsung mendekati Gadis dan memeluknya.
"Kau kembali, kemana saja kamu selama ini. Kenapa meninggalkan Satria nak." Ucap Tante Mia membuat semua mata tertuju pada Gadis, hingga kini orang yang habis melahirkan seperti jadi teralihkan topiknya kini dengan kehadiran Gadis.
Sementara Papi Darma, beliau seakan sedang di sudut kan mendengar kalimat tanya dari sang adik perempuannya itu. Karena beliau sadar diri jika, menghilangnya Gadis berkat campur tangan beliau juga.
...Jangan lupa like komennya yah🥰...
__ADS_1
...Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗...
...Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...