
"Gadis." Panggil Satria spontan dengan wajah bahagia namun tersirat ada luka mendalam di sana, yang nampak tak ingin iya tutup tutupi dari wanita itu.
Cukup sudah dia menahan rasa rindunya tadi saat berada di tokoh mainan, karena tak menyangka jika Gadis sudah memiliki anak. Hingga membuatnya pergi begitu saja karena keterkejutannya melihat kenyataan yang mungkin saja akan membuatnya sakit ketika mendengar kenyataan tentang Gadis nantinya seperti yang dia pikirkan saat ini tentang Gadis yang sudah bersuami dan memiliki anak.
Mendengar namanya di sebut Satria, Gadis langsung seperti dengan spontan memutus pandangan mereka sebab takut saja jika Satria melihat matanya yang sudah mulai mengembung terharu karena pertemuan mereka setelah sekian lama berpisah.
"Mami Dis tenapa? Ancel tenapain Mami Dis nya Cila? Ancel jahat." Ucap Arsyila dengan cerewetnya saat Gadis menatapnya dengan air mata yang nampak tak bisa di cegah jatuhnya oleh wanita itu.
Mendengar itu Satria dengan sigap berjongkok memposisikan dirinya sama dengan Gadis yang sedang berjongkok di hadapan Arsyila dan dia langsung membawa wajah Gadis untuk menatap ke arahnya dalam pengawasan bocah kecil itu.
"Gadis." Ucap Satria sekali lagi sambil melihat wajah basah Gadis yang nampak tak mau menatapnya.
Gadis memang tak sanggup di tatap Satria hingga dia pun lebih memilih langsung melengos kan tatapannya ke lain arah demi menjaga hati juga matanya agar tak terbawa suasana, namun sudah terlanjur matanya menghianati usahanya itu karena kini air matanya yang sudah jelas di lihat nyata oleh Satria.
"Ikut aku, kita perlu bicara." Ucap Satria sambil menghapus air mata Gadis dan pria itu langsung menggendong Arsyila juga menggenggam tangan Gadis tanpa mau mendengar dulu ucapan iya dari wanita itu.
Dia seakan lupa jika wanita di hadapannya itu bukan miliknya lagi, seperti yang dia pikirkan beberapa tahun silam sampai tadi tak sengaja bertemu wanita itu.
Entah perasaan apa yang saat ini Satria rasakan, namun yang pasti dia bahagia bertemu dengan Gadis saat ini. Terlepas dari status Gadis yang mungkin saja sudah menikah, dia tak peduli. Intinya dia begitu teramat merindukan dengan sosok wanita di hadapannya ini.
Sementara Gadis, dia nampak seperti terhipnotis dengan perkataan Satria, dia hanya bisa melangkah mengikuti langka kaki Satria yang membawa mereka. Matanya pun terfokuskan pada tangan mereka yang saling menautkan, bahkan genggamannya pun nampak sama eratnya dengan genggaman Satria padanya secara refleks.
"Gadis." Panggil seseorang menghentikan langkah Satria juga Gadis bersamaan.
Gadis yang sama mendengar penggilan itu pun langsung menatap pada sumber suara, dia sedikit merasa tak suka tatkala Satria langsung melepas genggaman mereka saat mendengar penggilan itu.
__ADS_1
"Ancel Yan, ancel Yan." Panggil Arsyila bersemangat sambil merentangkan kedua tangannya dalam gendongan Satria, bocah kecil itu dia terlihat sangat antusias saat melihat Rayan ada di hadapannya.
"Endon Ancel Yan." Pinta Arsyila dan dengan sigap Rayan langsung melangkah ke arah Satria juga Gadis dan langsung mengambil Alih Arsyila yang dengan cepat berpindah tangan dalam gendongannya hingga membuat dia terkekeh sendiri dengan tingkah bocah menggemaskan itu.
"Cila rindu Ancel Yan." Ucap Asyila sambil mencium beruntun pipi kiri kanan Rayan dengan gemesnya, pria itu sudah sangat dekat dengan Arsyila karena seringnya Rayan main ke rumah Bunda Gadis karena keseriusannya terhadap Gadis juga putrinya untuk dia jadikan istri juga anak sambungnya.
"Ancel juga sangat rindu kamu sayang." Ucap Rayan membalas ciuman bocah montok itu sama gemesnya.
Sementara Satria dia nampak menatap tak suka Rayan, entah kenapa saat melihat bocah kecil itu sedekat ini dengan Rayan. Dia merasa cemburu, cemburu yang sama besarnya saat Gadis berdekatan dengan pria itu dulu.
"Perasaan apa ini." Batin Satria mendadak sakit melihat kedekatan Rayan juga putri Gadis itu.
Satria langsung beralih menatap Gadis, dia nampak seakan bertanya tentang kedekatan mereka. Bahkan terang-terangan dia bersikap seperti melihat istrinya yang sedang kepergok oleh dirinya karena berselingkuh. Tanpa berpikir jika wanita itu baru bertemu dengannya setelah beberapa tahun ini tak bertemu.
"Kami hanya teman." Spontan Gadis langsung berkata tanpa perlu mendengar Satria bertanya padanya, dia seakan sudah hafal dengan tatapan pertanyaan yang sering dia dapat dari pria itu dulu ketika mereka bersama.
"Kalian janjian?" Tanya Satria dengan intonasi kepemilikan dirinya terhadap Gadis.
"Yah kami janjian, tapi jika kalian ada urusan penting silahkan. Saya bisa menunggu." Ucap Rayan mengambil alih jawaban Gadis.
"Kamu bisa ikut aku sebentar?" Tanya Satria penuh harap pada Gadis. Sementara Gadis dia langsung menatap kearah Rayan dan Arsyila bergantian.
"Biar Arsyila bersamaku, kami akan duduk di meja sana. Kalian bicaralah." Ucap Rayan sambil menunjuk mejanya tadi. Dia melakukan itu karena sepertinya dua orang di hadapannya ini butuh bicara berdua, jika di lihat dari gestur keduanya.
"Titip Cilanya sebentar ya kak." Ucap Gadis setelah tadi dia menatap Satria sekilas.
__ADS_1
"Tenang saja." Sahut Rayan.
"Mami tinggal sebentar ya sayang, kamu sama Om Rayan nggak papa?." Ucap tanya Gadis pada sang putri.
"Cila itut Mami." Kata Arsyila sambil merentangkan kedua tangannya minta di gendong Gadis.
"Yah sebaiknya bawa saja Cilanya kalau memang dia ingin, biar aku tunggu sendiri nggak papa." Ucap Rayan dengan nada yang cukup kecewa bagi orang yang nampak membaca gaya bicara seseorang.
"Boleh bertemu mereka nanti saja, mungkin aku akan lama menyita waktu mereka. Maaf sudah mengganggu waktu temu kalian." Kata Satria dia tak suka waktunya dengan Gadis akan terganggu dengan adanya Rayan yang menunggu mereka.
Mendengar perkataan Satria, entah kenapa Gadis merasa senang. Dia merindukan sifat posesif pria itu terhadapnya, dia merindukan ketika dimarahi pria itu karena kecemburuannya. Aneh memang, tapi memang begitulah kenyataannya. Kini dia merindukan semua itu ketika dia tak mendapatkan hal itu empat tahun silam.
"Baiklah kalau gitu." Ucap Rayan tersirat kekecewaan yang tak dia sembunyikan sedikitpun, hingga membuat Gadis jadi tak enak sendiri. Namun karena kerinduannya yang teramat besar terhadap Satria membuatnya mau tak mau membiarkan itu begitu saja.
"Kalau gitu kami permisi." Ucap Satria dan dia langsung kembali menggandeng tangan Gadis dan membawa mereka berbalik arah. Tadinya dia ingin membawa Gadis juga putrinya ke ruangan kerjanya di restoran itu namun dia urungkan ketika mengingat tempat yang lebih nyaman untuk mereka singgahi selain ruangannya itu.
Gadis yang di bawa Satria hanya menurut saja, hingga pamit pada Rayan pun sampai dia lupakan sakin bahagianya bertemu pria itu lagi.
"Mami Dis, tita mau temana?" Tanya Arsyila yang nampak menatap bingung Maminya.
"Mami ndak tahu." Ucap lirih Gadis takut di dengar oleh Satria.
Saat sesampainya di parkiran, Satria langsung membawa masuk keduanya ke dalam mobil miliknya..
"Kita mau kemana Om?" Tanya Gadis setelah lama dia diam saat mereka sudah di mobil Satria kini.
__ADS_1
"Ke tempat dimana kamu akan menjelaskan dengan nyaman kenapa kamu meninggalkan aku begitu saja tanpa pamit."
"Dan juga Siapa anakmu ini? Apa dia putriku? sebab aku melihat diriku dalam bentuk perempuan ada di dirinya." Lanjut Satria sambil menatap lekat Arsyila yang ada di pangkuan Gadis. Sejak tadi dia tak berhenti mencuri lihat Arsyila, sampai dia menemukan satu hal yang ganjal yaitu wajah bocah kecil itu yang teramat mirip dengannya.