SATRIA

SATRIA
Bab 32


__ADS_3

Keesokan harinya...


Satri baru saja sampai di parkiran kampus, tepat kurang sepuluh menit jam delapan.


Saat hendak keluar mobil, dirinya langsung di hadang mahasiswa kemarin bersama Gadis yang dia beri hukuman tugas.


"Selamat Pagi Pak." Ucap Bunga dengan semangat.


"Pagi." Jawab Satria datar.


"Maaf ganggu pak, saya hanya mau memberi tugas yang Bapak berikan kemarin.


"Yah." Ucap Satria dan langsung mengulurkan tangannya menerima buku Bunga.


"Apa ada lagi." Tanya Satria saat mahasiswanya itu tak kunjung beranjak dari hadapannya.


"Eh, nggak pak. Saya permisi." Ucap Bunga sambil memberi jalan Satria namun dia tak kunjung pergi juga dan hanya memberi jalan saja pada Satria untuk lewat.


"Hampir meleleh aku Pak, kinclongnya nggak ketulungan." Ucap Bunga sambil melihat kepergian Satria, dia nampak tak percaya ada pria tampan seperti itu. Nyaris sempurna, apa lagi dia bisa berjarak sedekat tadi dengan pria itu.


Hampir sepuluh menit Bunga melihat jejak kepergian Satria sakin tak mau ruginya dia kehilangan lihat pria itu.


"Woe, ngapain lo masih di sini. Yuk ke ruangan Pak Satria udah jam delapan ini." Ucap Gadis yang baru saja sampai dan menghampiri Bunga yang nampak berdiri dan menatap jalan masuk lobi kampus.


"Apa woi, kaget woi. Lagian aku udah ngumpul tadi tugasnya. lo kenapa terlambat? Pak Kasatria baru saja masuk tuh." Ucap Bunga sambil mengusap dadanya terkejut dengan kedatangan Gadis yang bagaikan hantu sambil menunjuk ke arah loby..


"Apa!!! Lo udah kumpul dan nggak nungguin aku Nge. Astaga tega banget lo." Ucap Gadis dan tanpa aba-aba lagi dia langsung berlari masuk ke arah gedung karena kini dia sudah terlambat hampir tiga menit.


"Semangat Dis, siapa suruh telat." Teriak Bunga jahil namun tak di hiraukan Gadis.


Saat sampai di depan ruangan Satria, Gadis terlebih dahulu mengatur nafasnya yang tak beraturan karena di ajak lari tadi.


Sungguh dia tak ada niat terlambat, hanya saja tugas dari Satria itu membuat dirinya tidur cukup larut. Apalagi dia tak terlalu fokus untuk menulis karena waktunya banyak tersita dengan memikirkan pria itu hingga mengakibatkan dia telat bangun pagi ini.


Untung Ada sang Kakak yang mau setia mengantarnya menggunakan kendaraan beroda duanya, jika tidak sudah di pastikan dia benar-benar akan sampai kampus mungkin jam sembilang karena memang sangat macet pagi ini.


Setelah merasa cukup mengatur nafasnya, Gadis pun langsung mengetuk pintu ruangan Satria dengan hati-hati.

__ADS_1


"Masuk." Ucap Satria dari dalam dan dengan perlahan Gadis, langsung masuk dengan hati-hati.


"Kamu terlambat enam menit. Mahasiswa macam apa kamu, saya janjinya jam berapa kamu datangnya jam berapa." Ucap Satria Dingin.


"Ya elah telat enam menit doang nggak sampe makan jam juga." Lirih Gadis pelan namun masih di dengar Satria walau tak terlalu jelas.


"Kamu bilang apa tadi, sudah telat malah masih bisa ngedumel kamu yah." Tegas Satria dingin.


"Maaf pak." Hanya itu yang bisa Gadis ucapkan, karena memang salahnya juga yang terlambat walaupun hanya enam menit seperti kata Satria tadi.


"Duduk." Perintah Satria sambil mengisyaratkan matanya ke tempat duduk di depan mejanya.


"Baik Pak." Patuh Gadis mengikuti perintah Satria.


"Buka tugasmu." Perintah Satria lagi membuat Gadis seketika bertambah gugup, pasalnya dia merangkum tugasnya yang 100-500 halaman itu hanya memakan tiga lembar kertas saja. itu juga tak full setiap lembarnya, karena memang dia hanya mengambil rangkuman yang memang sudah ada di setiap Bab nya dalam buku itu.


"Mati aku. Kenapa pake di lihat sekarang sih, kenapa nggak nunggu aku keluar dulu baru lihatnya." Batin Gadis sambil ragu-ragu untuk menuntun tangannya membuka buku yang sudah sejak tadi dia genggam itu.


Tanpa Gadis Sangka, Satria langsung membantu dia membukakan bukunya membuat Gadis langsung menegang. Pasalnya kini Satu tangannya sedang bersentuhan dengan Satria kini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama mereka tak bersentuhan lagi.


Belum juga Gadis mengatur keterkejutan dan ketegangannya akan perlakuan Satria, kini dia harus menerima kenyataan jika Satria akan memarahinya karena dia tak niat mengerjakan tugas dari pria itu setelah melihat tugasnya.


"Kamu bercanda, empat ratus halaman hanya dapat segini ringkasan kamu." Ucap Satria sambil merebut tugas Gadis dan melihatnya bolak balik dan ternyata hanya ada dua lembar bonus setengah saja tulisan Gadis di buku itu.


Tak mampu menjawab, Gadis hanya bisa menunduk dan meremas kedua tangannya di bawa meja.


"Kenapa diam, bisa tolong di jelaskan." Ucap Satria dengan nada sedikit di tinggikan, walau dalam hati dia ingin sekali tertawa melihat wajah gugup Gadis saat ini.


"Em anu Pak. Itu itu kan ringkasan yah Pak, jadi aku ringkas saja se-ringkas ringkasnya. Dan ringkasan aku cuman dapat segitu Pak." Ucap Gadis memberanikan diri.


Mendengar itu, Satria jadi gemas sendiri.


"Sini kamu." Perintah Satria mengisyaratkan agar Gadis mendekatinya.


"Hah." Kaget Gadis bingung dengan maksud Satria.


"Hah apa?"

__ADS_1


"Eh nggak Pak." Sahut Gadis sambil berdiri dan Menghampiri Satria di kursinya.


"Lebih dekat." Pinta Satria karena, Gadis seperti tak yakin kan meneruskan langkahnya.


"Tapi Pak." Ingin melontarkan kata protes namun Satria lebih dulu bertindak membuat Gadis terkejut di buatnya.


Bagaimana tidak, jika Satria kini malah menariknya hingga dia jatuh terduduk di pangkuan pria itu.


"Pak." Protes Gadis dengan tindakan tiba-tiba Satria.


"Siapa pria itu Gadis?" Tanya Satria sambil dirinya mengapit kan kedua tangannya di pinggang Gadis yang saat ini sedang menahan dadanya dengan kedua tangan gadis itu agar dada mereka tak bersentuhan.


"Maksud Bapak apa?" Ucap Gadis tak mengerti, karena lama tak bersua. Tiba-tiba Satria menanyakan pria yang dia sendiri tak mengerti pria maksud Satria itu.


"Jangan pura-pura bodoh Gadis, siapa pria itu?" Tanya Satria dengan wajah dinginnya.


"Pak jangan begini, lepaskan saya." Ucap Gadis kesal karena di perlakukan Satria seenaknya.


"Gadis, siapa pria yang berani menyentuhmu di depan kelas tadi." Tanya Ulang Satria lagi tanpa menggubris penolakan Gadis.


"Apa urusannya Bapak menanyakan itu. Aku tak perlu memberitahu siapa dia untuk Bapak. Lepas Pak jika tak ada lagi yang ingin Bapak bahas, saya mau pergi." Ucap Gadis sambil mencoba melepas tangan Satria yang sedang menyandra pinggangnya. Dia sekarang jadi paham siapa pria yang di maksud Satria itu.


"Gadis!!!!!" Panggil Satria penuh amarah membuat Gadis yang sedang mencoba melepaskan diri jadi menghentikan gerakannya.


"Sudah ku katakan bukan, jangan pernah dekat dengan pria manapun. Apa kau lupa Gadis." Teriak Satria tanpa kontrol.


"Apa peduli mu? Apa urusanmu mengatur ku haah? Siapa kau? kenapa kau menanyakan urusan pribadiku." Hardik Gadis tak mau kalah


Mendengar amarah Satria padanya, membuat Gadis yang tadinya menahan diri untuk tak melampiaskan amarahnya karena di tinggal pria itu tanpa kabar akhirnya menyerah. Dia tak bisa lagi membendung amarahnya karena sikap seenaknya Satria padanya sekarang.


Satria yang tak mau kalah akhirnya dia melampiaskan amarahnya dengan membungkam bibir Gadis yang hendak kembali mengoceh nya sakin tak terima dengan perkataan Gadis barusan.


Plak


Plak.


"Dasar bren***k." Ucap Gadis sambil beranjak dari pangkuan Satria yang sedang menahan pipinya yang habis di tampar dirinya tadi setelah melepas paksa ciuman pria itu.

__ADS_1


__ADS_2