
"Ancel, tenapa liat-liat Cila teyus?" Tanya Arsyila dengan mengedip mengedipkan matanya melihat Satria yang nampak menatap lekat dirinya.
Sontak saja Satria dan Gadis saling pandang, hingga menghilangkan ketegangan di antara mereka akibat tingkah Arsyila itu.
"Soalnya kamu cantik sayang, seperti Mami Gadis mu ini." Sahut Satria sedikit terkekeh kecil sambil melihat sekilas Gadis dan beralih melihat wajah menggemaskan Arsyila yang nampak marah namun malah lebih terlihat lucu. Sementara Gadis nampak memerah wajahnya karena pujiannya itu.
"Tul Ancel, Cila cantik tepelti Mami. Cila tayang Ancel." Ucap Arsyila senang, dan bocah itu langsung menghadiahkan satu ciuman di pipi Satria.
Setelah itu, Arsyila beralih mencium pipi Gadis dan memeluknya, namun setelahnya dia langsung tertidur di saat memeluk maminya itu...
"Pelukanmu selalu membuat nyaman siapapun Sayang." Ucap Satria "Dan aku begitu merindukan pelukanmu i**tu." Lanjut batinnya.
"Apa kita akan tetap di sini?" Tanya Gadis mengalihkan ucapan Satria karena masih merasa canggung setelah sekian lama tak ada di keadaan dekat seperti saat ini.
Tanpa berkata, Satria pun menjalankan mobilnya dan tak ada lagi obrolan di antara mereka.
Sepanjang perjalanan menuju tempat ternyaman yang Satria katakan sebelumnya itu, kini hanya ada keheningan di antara dua insang yang saling merindu itu dengan pikiran mereka masing-masing.
Gadis sesekali mencuri lihat Satria yang nampak fokus dengan kemudinya, namun dia tak tahu jika pria itu mengetahui akan hal yang dia lakukan.
Satria nampak sangat penasaran dengan menghilangnya Gadis selama empat tahun kemarin, pertanyaannya tadi pun nampak tak di jawab Gadis. Namun tak masalah baginya, karena sebentar lagi dia akan membuat Gadis untuk menjelaskan semuanya.
"Aku tak akan melepas mu lagi, biar perlu aku tak akan menutup mataku ini biar sejenak." Batin Satria, dia berjanji pada dirinya sendiri dia tak akan membiarkan peluang untuk Gadis menghilang dari hidupnya lagi. Tidak lagi, pikirnya.
***
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit lamanya, kini mereka sudah tiba di tempat ternyaman yang di katakan Satria.
"Om masih tinggal di sini sampai sekarang?" Tanya Gadis sesaat setelah mobil Satria terparkir di tempat yang sering dia kunjungi dulu, parkiran apartemen Satria.
"Yah, aku masih tinggal disini sampai sekarang. Karena aku takut saja jika suatu waktu wanita yang aku cintai akan datang dan mencari ku di sini. Aku tak mau dia kehilangan jejak ku, seperti aku yang kehilangan jejaknya yang teramat rapi menghilang dariku empat tahun lalu." Jelas Satria dan dia langsung turun, meninggalkan Gadis yang mematung mendengar penuturannya.
"Maafkan aku, maafkan aku Om." Batin Gadis sedih mendengar perkataan Satria.
"Ayo." Ajak Satria ketika dia membuka pintu mobil pada Gadis dan langsung mengambil alih menggendong Arsyila yang masih nampak terlelap tidur di pangkuan Gadisnya itu.
"Yah, terima kasih." Gadis nampak terharu dengan perlakuan Satria terhadap Arsyila yang selama ini selalu dia impi-impikan, namun di ganti peran oleh kakaknya Dimas.
Sekilas Satria melihat Gadis dan tersenyum sambil mengusap sayang kepala ibu mudah itu dengan lembut, membuat Gadis tertegun canggung dengan perlakuan yang sudah lama tak dia dapatkan lagi itu.
__ADS_1
"Apa kamu mau tetap di mobil ini." Ejek Satria saat melihat Gadis yang nampak mematung dan tetap berada di kursi mobil sambil menatap dirinya.
"Eh, maaf." Kaget Gadis dan dia langsung buru-buru keluar mobil dengan wajah memerahnya menahan malu dan haru yang bersamaan.
"Kamu masih tetap sama, selalu membuatku Gemas sayang." Batin Satria melihat Gadis yang nampak salah tingkah karena perlakuannya itu.
"Boleh ku gandeng?" Tanya Satria meminta izin.
"Apa tadi di Resto, kamu meminta izinku saat menggandeng tanganku Om?" Tanya balik Gadis, ingin membalas mengerjai Satria yang tadi sempat mengerjainya.
"Hahaha, kamu membalas ku sayang. Kau sungguh membuatku gemas." Tawa Satria membuat Arsyila yang ada di gendongannya jadi terbangun, dan langsung menatap Satria dengan kening berkerutnya. Sementara Gadis, dia merasa senang dengan panggilan Sayang Satria padanya itu.
"Maafkan Ancel ya sayang sudah membangunkan kamu." Ucap sesal Satria karena sudah membuat bocah kecil di gendongannya itu terbangun karena tawa spontan nya itu.
Tak menjawab Arsyila malah melingkarkan kembali kedua tangannya yang memang sempat bertengger di leher Satria dan dia pun kembali melanjutkan tidurnya membuat Satria tersenyum dibuatnya.
Satria langsung menggandeng tangan Gadis dan membawa mereka menuju unit apartemen mereka. Yah, Satria sudah mengklaim jika apartemen itu merupakan apartemennya dan Gadis.
Sesampainya di sana, Satria langsung membawa Arsyila ke kamarnya dan menidurkan bocah itu di kasur mereka, dimana Bocah itu di produksi di sana.
"Semoga kamu adalah putriku sayang, aku sungguh menginginkan hal itu benar adanya." Ucap Satria sambil memandangi wajah Arsyila yang sudah dia tidurkan dan setelahnya dia pun mencium sayang kening bocah kecil itu.
"Masih sama bukan?" Ucap Satria.
"Eh, Om." Kaget Gadis, membuat Satria tersenyum dan kembali melanjutkan ucapannya.
"Masih sama seperti perasaanku terhadapmu Gadis, nggak pernah berubah atau berkurang sedikitpun. Aku rasa perasaan ini sudah mendarah daging di dalam diriku, hingga empat tahun lamanya tak mampu menghilangkan kamu dari hatiku." Ucap Satria dari depan pintu kamarnya saat melihat Gadis yang nampak melihat-lihat Apartemennya saat dia keluar kamar.
"Jangan memanggilku Om lagi, malu sama status kamu yang di panggil Mami sekarang." Ucap Satria mendekati Gadis sambil menatap gadis itu lekat.
Dia melihat Gadis sudah tak remaja lagi namun sedikit keibuan dan tak menghilangkan sedikitpun wajah imutnya yang nampak masih sama. Jika orang yang melihatnya saat tak bersama bocah kecil tadi, mereka pasti mengira jika wanita itu masih gadis.
"Jadi aku harus memanggilmu apa Om?" Tanya Gadis.
"Terserah, yang penting jangan memanggilku Om." Sahut Satria sambil menduduki dirinya di sofa tepat di samping Gadis yang sedang berdiri.
"Ayo duduklah, aku mau mendengar kamu menjelaskan padaku tentang kepergiaan mu yang tanpa penjelasan." Ucap Satria lagi sambil menarik tangan Gadis, mengajak wanita itu duduk di sebelahnya.
"Kamu tahu, aku seperti orang g*la mencari mu ke sana kemari tapi tak ku temukan. Kenapa kamu meninggalkan aku sayang? sudah kukatakan bukan, aku akan bertanggung jawab atas perbuatan ku itu. Tapi kenapa kamu meninggalkan aku Gadis? Aku tahu, aku salah. Dan maafkan aku atas perbuatan ku itu, jika itu yang membuatmu memutuskan untuk pergi dariku." Ucap Satria dengan raut penuh luka mengingat waktu di mana dia terbangun dan tak ada lagi Gadis disisinya setelah mereka melewatkan malam panjang pertama bagi mereka yang penuh kenangan sekaligus luka itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, atas kepergian ku Om. Aku tak pergi darimu karena hal itu, aku ikhlas memberikan itu padamu.." Ucap Gadis kekeh dengan sematan sayangnya itu.
"Apa aku ada melakukan perlawanan saat itu?" Lanjut tanya Gadis dan Satria menggelengkan kepalanya.
"Tapi kamu menangis bukan?" Tanya Satria karena malam itu dia melihat Gadis meneteskan air matanya saat dia hendak melakukan hal itu.
"Om juga menangis bukan?" Balik tanya Gadis, sebab dia pun melihat hal yang sama seperti yang di lihat Satria padanya.
"Yah, tapi aku menangis karena sudah merusak mu padahal aku belum mempunyai hak itu. Dan seharusnya aku tak merusak mu." Sesal Satria dia yang sudah bodoh nekat melakukan hal itu pada Gadis.
"Apa Om menyesal sudah meniduri ku?" Tanya Gadis dengan nada kecewanya, dia tak menyangka jika Satria menyesali akan hari itu. Sementara dirinya sangat bahagia bisa memberikan itu pada pria yang teramat dia cintai, apalagi di tambah berkat kejadian itu dia miliki Arsyila dalam hidupnya sekarang walau dia harus meninggalkan Satria setelahnya demi mengikuti mau Papinya Satria.
"Tentu sayang, maafkan aku sudah bertindak bodoh." Ucap Satria dengan raut penyesalannya.
"Kenapa Om menyesalinya sementara berkat hari itu aku memiliki Arsyila, putri kita karena kejadian itu." Ucap Gadis tak mau lagi menutupi putri mereka itu.
"Jadi benar yang aku pikirkan, dia putriku putri kita sayang?" Tanya Satria dengan raut bahagianya, mendengar penuturan Gadis.
"Yah, Arsyila putri kita. Dan aku tak pernah menyesal akan malam itu, apalagi berkat malam itu aku memiliki putri kecil dari mu Om." Jujur Gadis.
"Apa benar begitu? Apa kamu juga tak pernah menikah?" Tanya Satria untuk lebih menyakinkan dirinya lagi.
Gadis pun hanya menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan Satria dan dia langsung mendapatkan pelukan hangat dari pria itu.
"Terima kasih, terima kasih sayang. Terima kasih banyak." Ucap Satria dengan air mata yang tak bisa iya cegah jatuhnya, sakin bahagianya setelah lama dia berpikir jika tak ada bahagia lagi untuknya setelah kepergian Gadis dari hidupnya dulu.
"Terima kasih." Ucap Satria lagi setelah merenggangkan pelukannya pada Gadis dan menyatukan kening mereka.
"Apa boleh? aku sangat merindukan ini." Pinta Satria sambil menatap lekat bibir Gadis.
"I i-iya bo-boleh Om." Jawab Gadis, sebab dia pun merindukan Satria dan tanpa menunggu Satria langsung menggarap bibirnya dengan tak sabaran.
"Ancel, tanapa matan bibilnya Mami Dis." Teriak nyaring Arsyila dari arah pintu kamar, membuat kedua orang tuanya itu saling melepaskan diri.
Author mengucapkan selamat lebaran, bagi yang menjalankan🙏🤗🤗
Mohon maaf lahir batin yah, jikalau ada salah Author terhadap kalian Readers setia othor dalam bentuk apapun itu.🙏
Sekali lagi, selamat lebaran semua☺️. Maaf yah telat ngucapinnya, soalnya Author ngeliburin diri dua hari ini😁.
__ADS_1