SATRIA

SATRIA
Bab 52


__ADS_3

Saat ini Satria dan Arsyila sedang berada di mall dekat dengan Apartemen. Tepatnya di bagian restoran mewah yang ada di dalam mall itu.


Satria begitu bersemangat saat melihat putrinya itu menghabiskan sepiring kecil kentang yang tadi di minta bocah kecilnya itu.


"Enak yah sayang?" Tanya Satria dan Arsyila hanya menganggukkan kepalanya, karena mulutnya kini masih di penuhi dengan kentang.


"Mau ini juga yah, enak loh." Tawar Satria menyodorkan rebusan sayur brokoli tanpa bumbu yang dia pesan spesial buat Arsyila.


Namun bocah itu hanya menggelengkan kepalanya, setelah makanan yang dia makan selesai Arsyila baru membuka suaranya.


"Cila nda syuta Dady." Ucap Arsyila menatap brokoli di hadapannya itu tanpa minat.


"Kenapa? ini enak loh. Kata Maminya Dady, nggak baik nolak makanan. Kan ini udah di pesan Dady, mau yah dikit saja. Entar Dady temenin makannya." Bujuk Satria, sebab sejak tadi putrinya itu hanya berminat pada kentang saja dan tak melirik makanan lainnya yang dia pesankan.


"No no no, Cila uda tenyan. Tita pulan yu." Alasan Arsyila agar dia terhindar dari sayuran yang tak dia minati itu.


"Kamu ini sayang. Bungkus aja yah kalau gitu. Nanti kita makannya bareng Mami mau?" Tanya Satria lagi.


"Ote Dady." Sahut Arsyila walau dia sendiri tak tahu dia akan memakannya atau tidak.


Setelah itu Satria tak langsung membawa pulang Arsyila. Dia malah mengajak putrinya itu ke tokoh pakaian, niatnya agar putrinya itu setelah ini akan mandi dan menukar pakaian yang sudah kotor terkena makanan. Dia juga tak lupa membeli pakaian untuk Gadis sesuai dengan seleranya, yang dia pastikan Gadis akan memprotesnya namun dia tetap membelinya.


Baru setelah itu mereka kembali ke apartemen setelah puas berbelanja..


"Kalian sudah pulang, dari mana?" Tanya Gadis dari arah dalam saat melihat Satria juga Arsyila yang baru memasuki pintu apartemen.


"Hey sayang, sudah bangun yah." Ucap Satria sembari menurunkan Arsyila dari gendongannya.


"Mamiiii." Arsyila langsung berlari ke arah Gadis yang nampak duduk di sofa menunggu mereka sejak tadi, karena saat Gadis bangun tadi dia tak menemukan kedua orang kesayangannya itu.


"Ya cantiknya Mami, dari mana sih." Sambil mencium pipi Arsyila yang sudah naik ke pangkuannya.


"Dali matan Mami, tita te mall." Sahut Arsyila.


"Oh yah? kenapa nggak ajak Mami?"


"Tan Mamina bobo, talau olan bobo nda bole di banunin."


"Oh anak Mami pintar banget sih."

__ADS_1


"Iya don, Cila eman pital."


"Yah, Putri Dady yang terbaik." Kata Satria menimpali obrolan Mami dan Anak itu.


"Kenapa ponselnya nggak di bawah Om?" Tanya Gadis sebab, tadi dia iseng menelfon Satria takut jika pria itu sudah mengganti nomornya, namun ternyata nomornya tersambung dan ponsel pria itu ternyata ada di meja ruang tamu tak di bawanya.


"Dady." Tegas Satria.


"Yah, maksud Mami itu. Kenapa ponsel Dady nggak di bawa." Ralat Gadis setelah di ingatkan Satria.


"Lupa Mi, putri kita keburu lapar soalnya." Ucap Satria dan dia langsung mencuri cium bibir Gadis.


"Janan matan bibil Mami Dady." Tegur tegas Arsyila sembari mendorong wajah Satria dari depan wajah Gadis membuat pria itu terkekeh dengan tingkah putrinya.


Sementara Gadis dia hanya tersenyum saja melihat tingkah putri juga pria kesayangannya itu.


Dia senang karena kini mereka bisa kumpul kembali seperti mimpinya dulu yang dia pikir hanyalah khayalan yang tak mungkin bisa terwujudkan dengan kondisi mereka yang tak mungkin bersama.


"Terima kasih Tuhan, karena mimpiku sudah kau kabulkan." Batin Gadis tanpa sadar dia mengelus pipi Satria membuat pria itu menatapnya dan tersenyum hangat kepada dirinya.


"Dady nggak gigit ko. Itu tadi Dady pikir gula sayang, eh ternyata bukan." Ucap Satria yang bingung harus beralasan apa, namun apa yang dia ucapkan ada sedikit benarnya. Karena bibir Gadis begitu manis menurutnya.


"Iya Mami, ini matanan. Tapi Cilana udah tenyan, uda matan tadi. Cila main boleh." Sahut Arsyila sambil menunjuk mainan yang tadi dia beli bersama Satria.


"Boleh sayang." Kini Satria yang menjawab.


"Main gih, biar Maminya makan dulu." Lanjut Satria dan dia langsung membukakan mainan itu untuk Arsyila dan dia letakan pada karpet kosong depan mereka.


"Mataci Dady." Ucap Arsyila sambil mencium pipi Satria dan dia langsung fokus pada mainannya.


Satria tersenyum dan mengacak lembut rambutnya Arsyila setelah itu dia kembali pada sofa, dimana Gadis sedang menatap berkaca keduanya.


"Hey, kenapa?" Tanya Satria panik saat melihat mata berkaca Gadis.


"Nggak, aku hanya bahagia Om." Sahut Gadis sembari menghapus buliran bening yang jatuh ketika Satria memeluknya.


"Udah, jangan nangis terus. Makan yah, tunggu sebentar biar aku siapin makanannya." Ucap Satria dan setelah itu dia menghapus air mata Gadis, pria itu langsung beranjak ke arah dapur dan mengambil piring untuk makanan yang tadi dia bawa.


"Biar aku saja." Tawar Satria ketika Gadis hendak mengambil alih memindahkan makanan ke piring.

__ADS_1


"Baiklah." Sahut Gadis.


"Suap juga boleh?" Pinta Gadis, sepertinya dia ingin bermanja-manja sebentar dengan Satria.


"Tentu, tanpa kamu minta sayang." Sahut Satria dan dia langsung menyuapi Gadis.


"Aaaaa." Satria menyodorkan suapan untuk Gadis dan langsung di terima gadis itu.


Selama makan berlangsung, Gadis terus menatap Satria tanpa berucap dengan sesekali air matanya yang jatuh dan langsung di hapus Satria begitupun sebaliknya.


Momen makan ini, Satria gunakan untuk Gadis menuangkan semua kerinduannya terhadap dirinya begitupun juga dirinya pada Gadis.


"Habis sayang." Ucap Satria sembari mengelap sudut bibir Gadis yang belepotan.


"Terima kasih." Kata Gadis menatap sayang Satria membuat pria itu langsung menyatukan kening keduanya.


"Jangan lagi." Ucap Satria sambil mencium mata kiri kanan Gadis yang sudah mulai berkaca lagi.


"Kamu kenapa tambah cengeng sekarang sayang, bukankah Gadisku ini Gadis periang yang sangat cerewet. Tapi kenapa sekarang berubah jadi gadis melow gini." Lanjut Satria menatap wajah lemah Gadis.


"Hmm, keadaan merubahku. Jauh darimu membuat diri ini penuh dengan tangis, sampai aku lupa kapan terakhir kali aku menjadi Gadis yang periang." Sahut Gadis dengan senyum yang dia paksakan.


"Sekarang, maukah kamu kembali jadi Gadis cerewet ku lagi. Aku merindukan dia yang selalu aktif membuatku kesal. Lupakan masa lalu yang sudah membuatmu lemah sayang, sekarang kita sudah bersama. Dan berjanjilah apapun yang terjadi, bicarakan dulu denganku yah. Jangan pernah lagi mengambil keputusan tanpa memberitahuku terlebih dahulu." Ucap Satria, dia ingin Gadis kembali ceria. Tak mau jika Gadisnya itu terus terjebak dengan masa pahit empat tahun lalu yang dia sendiri tak menghendaki itu.


Dia sama terlukanya seperti Gadis, namun di saat bertemu lagi dengan wanita itu. Sakit yang dia rasakan empat tahun lalu, serasa menguap tanpa tersisa. Kehadiran wanita itu di tambah kejutan bidadari kecilnya, membuatnya bagaikan memanen hasil setelah sekian lama menabung luka.


"Siapa?" Tanya Gadis seketika terlihat panik takut saja jika yang datang adalah orang tua Satria, hingga dia sampai tak menjawab kalimat Satria tadi ketika dia mendengar bunyi bell kedatangan tamu.


"Biar ku lihat sayang." Sahut Satria santai, sebab dia sedang menunggu orang yang tadi dia hubungi saat sebelum berangkat ke mall tadi bersama Arsyila.


Satria pun langsung beranjak menuju pintu masuk dan langsung membukakan pintu itu, dan terlihatlah seorang wanita dan beberapa orang di belakangnya dengan membawa beberapa kantong besar berhanger yang menjuntai di setiap tangan mereka..


"Selamat sore ganteng." Ucap orang itu dengan senyum manisnya.


"Alai, ayo masuk. Calon istriku di dalam sana." Ucap Satria dan dia langsung meninggalkan wanita itu yang nampak cemberut menatap punggungnya.


"Siap..pa." Tanya Gadis pada Satria terhenti ketika dia melihat banyak orang di belakang Satria.


"Hay, aku Misca teman Satria sekaligus orang yang akan mengurus gaun pernikahanmu."

__ADS_1


__ADS_2