
............Happy reading🌹 ...........
Pagi telah menjelang, matahari sudah tampak duduk di peraduannya. Namun Satria masih saja terlelap tidur dengan nyenyak nya, tak terganggu sedikitpun dengan sinar matahari yang mulai menyombongkan diri memamerkan sinarnya menghantam sebagian dari tubuh Satria.
Gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah dua puluh menit memanjakan diri di dalam sana, menatap sekilas ke arah ranjang dimana pria yang kini sudah resmi berstatus suaminya itu masih juga belum terbangun. Dia sedikit tersenyum lembut kemudian menggelengkan kepalanya ketika mengingat kejadian malam tadi.
"Ah, memalukan!!!" Lirih Gadis sembari mengusap wajahnya yang nampak memanas karena pikirannya sendiri.
Tak mau terlalu larut dalam bayangan kejadian semalam, dirinya pun bergegas berpakaian karena pagi ini mereka ada janji sarapan bersama keluarga besar keduanya.
Usai bersiap, dirinya pun mendekat ke arah ranjang di mana sang suami masih belum juga menampakan pergerakan.
"Manis banget sih kalau lagi tidur gini." Ucap pelan Gadis sembari dia mengusap rambut Satria ketika dia sudah duduk di samping pria itu.
Gadis nampak masih tak percaya dia sudah resmi menjadi istri pria yang selama ini mengisi relung hatinya hingga tak ada celah bagi pria lain untuk masuk dalam hidupnya, meski pun banyak yang sudah mencoba untuk menjebol benteng kesetiaannya namun tetap saja pengaruh Satria selalu kuat membentengi dirinya. Sungguh dia masih tak percaya akan hal ini, hal yang tadinya hanya mimpi kini diwujudkan nyata oleh Tuhan.
Sambil menatap wajah teduh Satria, Gadis pun mengeluarkan isi hatinya yang entah kenapa ingin dia sharing walau tak di dengar.
"Aku masih nggak nyangka kita bakalan kaya gini lagi Om menikah dan tidur sekamar lagi, aku pikir kamu akan benar-benar menjadi masa lalu terbaikku yang tak mungkin sampai kapanpun bisa aku miliki." Ucap Gadis sembari dia meletakan kepalanya di dada bidang Satria dan satu tangannya memainkan lengan baju pria itu.
Satria yang nampak terusik dengan pergerakan Gadis di tubuhnya pun langsung terbangun membuka kelopak matanya namun tak terlihat Gadis yang dalam posisi memunggunginya, namun dirinya tak lantas langsung menyapa Gadis. Dia ingin melihat dan mendengar apa saja yang Gadis katakan lebih jauh lagi. Karena kalimat terakhir sang istri tadi Satria mendengarnya dengan begitu jelas.
"Kau tahu om, Aku hampir saja putus asa karena terus belajar melupakan Om saat itu tapi bukannya melupakan malah aku semakin mengingat Om. Kesal kan kalau Om jadi aku!" Ucap Gadis menjeda kalimatnya kemudian melanjutkan lagi.
" Yah aku yakin Om pasti kesal. Apa lagi saat aku tahu, aku mengandung anak kita. Sungguh antara senang dan sedih sekaligus menghampiri, campur aduk deh pokonya. Aku sakit juga senang karena ada bagian dari dirimu Om ada bersamaku tapi tak bisa aku pungkiri aku membutuhkanmu saat itu. Sungguh sangat membutuhkan kehadiran dirimu Om." Lirih Gadis tanpa terasa air matanya menetes tanpa permisi membuat Satria yang merasa dadanya basa langsung spontan mengelus kepala Gadis.
Seketika Gadis langsung menengadahkan kepalanya menatap Satria dan dengan cepat dia menghapus air matanya.
"Eh, kau sudah bangun Om.?" Tanya Gadis sedikit terkejut dan berdoa Satria tak mendengar keluh kesahnya tadi. Tapi mungkin saja mustahil.
"Ya sayang. Seperti yang kau lihat." Ucap Satria sembari dirinya menghapus sisa air mata yang masih jelas terlihat dalam pandangannya di pipi mulus Gadis. Sebenarnya dia juga pun hampir saja ikut meneteskan air matanya mendengar cerita Gadis, namun dia lebih dulu merasakan lelehan air mata Gadis hingga membuatnya harus menyembunyikan air matanya sendiri agar Gadis tak melihatnya ikut bersedih.
__ADS_1
"Uumm mau mandi Om? aku siapin air hangatnya yah." Seru Gadis dan dia hendak berdiri untuk menyiapkan yang tadi dia katakan sekaligus ingin menghindari Satria. Dia malu Satria tahu dia tadi menangis itu sebabnya Gadis ingin menghindar.
Namun sayang, Satria dengan cepat mencekal pergelangan tangannya dan Gadis otomatis terhempas kembali dalam pelukan Satria karena pria itu sedikit memberi tenaganya untuk meraih Gadis.
"Eh, kenapa Om?" Tanya Gadis sontak menatap wajah Satria.
"Kamu yang kenapa sayang? kenapa menghentikan ceritamu hmm, kenapa tidak di lanjut aku ingin mendengarnya.?" Tanya balik Satria sembari dirinya memposisikan keduanya untuk duduk, dengan Gadis yang dia posisikan duduk di pangkuannya dengan tangannya yang memeluk posesif pinggang Gadis seolah takut ada yang akan merebut wanitanya itu.
"Om mendengar ku tadi?" Tanya Gadis sedikit tersipu malu, curhatannya tadi di dengar Satria, walau sebenarnya memang dia ingin bercerita banyak pada Satria. Banyak sekali, hanya saja dia terlalu takut untuk menceritakan masa pahitnya kala itu pada seseorang yang menjadi sumber luka sekaligus rindunya. Bukan mengapa, dia hanya tak ingin membuat Satria merasa bersalah, sedangkan itu pilihannya sendiri walau memang tak dia kehendaki sendiri pilihan itu.
"Humm. Lanjut ceritanya yah, aku mau mendengarkan. Aku mau kamu membawaku dimasa itu. Masa dimana kau mengandung putri kita." Seru Satria, dia tak mau membahas tangis Gadis dahulu. Dia masih ingin mendengar cerita sang istri, agar supaya dapat menjadi alarm tersendiri untuknya mengingatkan dirinya akan perjuangan Gadis di masa keterpurukannya kala itu.
"Ah itu, boleh kita bicaranya nanti. Janji aku akan bercerita semuanya padamu Om. Tapi tidak sekarang yah, kita sudah di tunggu buat sarapan bersama." Ucap Gadis jujur, karena memang Gadis sudah di beritahu oleh bundanya semalam soal sarapan bersama pagi ini.
"Hm baiklah. Kamu udah mandi yah, kok nggak ngajak-ngajak sih. Kan kita bisa mandi barengan." Kata Satria paham, dia pun akhirnya memutuskan untuk mandi tak ingin memaksakan keinginannya jika Gadis sendiri yang memintanya.
Pria itu menyandarkan kepalanya bertumpu pada pundak Gadis sambil menghirup bau segar dari tubuh Gadis dengan satu tangannya memainkan tengkuk sang istri membuat Gadis dengan spontan menahan punggung tangan sang suami yang sedang mengusap kulit sensitifnya itu.
"Hmm, dia sungguh datang di saat yang sangat tak tepat sayang." Kata Satria sembari membenamkan wajahnya pada tengkuk Gadis, mengingat semalam yang harus tertunda dengan datangnya tamu yang tak di undang. Benar-benar tak di harapkan kedatangannya apalagi untuk Satria.
Gadis yang mendengar hal itu langsung bersemu merah, bagaimana tidak. Bisa bisanya dia melupakan jika tanggal-tanggal ini adalah tanggal di mana tamu bulanannya selalu menghampiri. Hingga semalam dia sudah tampa sengaja membuat Satria mengeram frustasi. Pasalnya mereka hampir saja menyatu untuk pertama kalinya setelah berstatus resmi. Namun sayang, aktifitas mereka harus terhenti karena ketidak tahuan Gadis dan di sadari Satria. Hingga hal itu membuat Gadis begitu malu malam tadi.
"Maaf." Hanya itu yang bisa Gadis utarakan sejak malam tadi berulang kali.
Menghembuskan nafasnya perlahan, Satria pun mengangkat wajahnya perlahan dan melihat Gadis dengan wajah lesunya.
"Kenali tanggalnya sekali sayang, aku nggak mau kaya semalam lagi. Pusing kepalaku yang." Ucap Satria membuat bayangan Gadis mengingat Satria yang langsung berbaring lemas tak berdaya mengetahui dia datang bulan semalam.
"Iya, maaf yah. Janji nggak teledor lagi. Sekarang aku siapin air hangat yah, biar Om mandi. Kita pasti udah di tunggu sekarang." Seru Gadis sambil mengusap lembut pipi Satria.
"Yuk barengan aja, aku temenin ngisi airnya." Ucap Satria memeluk Gadis sambil melangkah turun dan berdiri dengan Gadis yang masih di pelukannya.
__ADS_1
Setelah berada di kamar mandi, Satria langsung menurunkan Gadis. Membiarkan sang istri mengisi bathub dengan air hangat, sementara dirinya membasuh wajah serta menggosok gigi dahulu.
Usai dengan tugasnya, Gadis pun langsung keluar kamar mandi membiarkan Satria untuk mandi sejenak. Sementara itu, dirinya pun membereskan barang-barang keduanya karena sebentar lagi pasti ada yang akan merapikan kamar mereka.
Drett
Drett
Drett
Gadis yang mendengar getaran di ponsel Satria pun langsung bergegas mengambil dan memberi tahu Satria.
"Om." Panggil Gadis di ujung pintu kamar mandi yang tak tertutup.
"Ya sayang sini, kenapa hm?." Jawab Satria menolehkan kepalanya ke arah Gadis dan meng-kodekan agar Gadis mendekatinya yang sedang berendam.
"Ada telfon dari id name Pak Alex." Ujar Gadis sembari menyodorkan ponsel Satria.
"Angkat yang, kasih pengeras suara saja. Tanganku basah." Seru Satria dan di ikuti Gadis.
"Halo selamat pagi sayang."
"Larissa." Batin Satria mengenal betul suara itu.
Kalimat pertama sapaan yang terlontar setelah panggilan itu di terima Gadis membuat Satria langsung menatap Gadis yang nampak diam membatu mendengar suara wanita di telfon itu. Nampak ada sedikit keterkejutan yang jelas terlihat di wajah Gadis membuat Satria mengepalkan tangannya kuat, berdiri dan langsung menyambar handuk untuk menutupi tubuh polosnya.
"Halo sayang, apa kau mendengar ku." Ulang wanita itu lagi karena tak ada jawaban dari Satria atas sapaannya tadi.
Menghembuskan nafasnya pelan Satria langsung merangkul Gadis dan melangkah keluar sambil menjawab panggilan itu masih tetap dengan pengeras suaranya, sementara Gadis dia hanya mengikuti saja kemana Satria melangkah membawanya.
"Halo selamat pagi, ada yang bisa saya bantu. Kenapa nyonya Alex menelfon suami orang sepagi ini." Ucap Satria dengan santainya, ingin sedikit mengikuti alur wanita itu. Namun tanpa di sangka di seberang sana malah dia mendengar tawa kecil dari bibir Larissa.
__ADS_1
...Btw, Jangan lupa tekan tombol like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...