
**Hallo teman teman, RedPink kembali lagi nich.
Maaf ya baru update, semoga update an kali ini bisa mengobati rasa rindu kalian terhadap Satri dan Calla.
Tetimakasih untu kalian yang sudah mau tetap nungguin cerita Satria**. π€ππ
Happy reading sayang
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Di pagi ini seorang gadis SMA sedang duduk di bangku halte, entah kenapa sedari tadi enggan naik bus padahal ini bus yang Ke- 5 berhenti di hadapan nya itu.
Rasanya ia enggan beranjak dari tempat duduk itu, ia gelisah sedari tadi. Matanya entah sedang mencari siapa, sedari tadi menengok dan meneliti ke setiap orang yang datang ke halte itu.
Ya.. tepat sekali. Tidak lain tidak bukan gadis itu adala Calla.
Calla hari ini sengaja berangkat sepagi mungkin dan menunggu Satria di halte 5.
"Kak Satria...." Panggil Calla.
Satria yang merasa namanya dipanggil menoleh. Satria kaget melihat Calla yang lagi duduk di halte 5. Padahalkan ini area rumah Satria bukan diarea rumah Calla.
Satria menghampiri Calla yang duduk di halte itu. Satria mengamati wajah Calla dan sesaat kemudian Satria duduk terdiam di sebelah Calla. Satria hanya diam membisu tanpa menyapa ataupun sekedar say hallo pada Calla.
Hening... seakan ditempat itu sunyi senyap seperti tak ada tanda tanda kehidupan, padahal itu di pinggir jalan loh, pastinya suara bising kendaraan yang berlalu lalang terdengar jelas. Tapi tidak, itu tak berlaku untuk Calla. Calla merasa kesunyian, hampa, kosong dan merasa sepi melihat kelakuan Satria padanya itu.
Calla tak tahan melihat Satria mendiami nya sedari tadi Satria duduk di situ. Akhirnya Calla memberanikan diri untuk memulai obrolan agar tak merasa kesunyian sedari tadi.
"Kak Satria kenapa akhir akhir ini seperti nya ngejauhin Calla, ngehindari Calla. Apa Calla punya salah Kak?" Suara Calla bergetar sedikit karna takut.
Satria tak menjawab pertanyaan Calla.
Diam... Cukup lama...
Sepersekian menit setelah itu, suara Satria akhir nya terdengar..
"Calla ga punya salah." Ucap Satria dingin.
Satria mulai berdiri dari duduk nya.
"Kak... bareng ya. Udah lama Calla ga berangkat barengan ama Kak Satria." Rengek Calla.
"Duluan sana, Tuh bus nya dateng." Ucap Satria dingin tanpa menoleh ke arah Calla.
Bus yang ke enam baru saja berhenti di Halte 5 saat ini, banyak penumpang lain yang menunggu dari tadi di halte 5 akhir nya menaiki bus untuk menuju ke tujuaan mereka masing masing.
Terkecuali Satria dan Calla, seperti nya mereka tidak menaiki bus yang ke- 6 itu.
Calla diam tak bersuara, hanya ada gelengan di kepala nya.
"Kalo Luh ga mau duluan, Gue ajja yang berangkat duluan." Suara Satria agak mengeras, agak membentak sedikit. Hanya sedikit ya.. tidak banyak.
Satria beranjak melangkah meninggalkan Calla di situ menuju ke Bus yang telah berhentih di depan Halte 5 itu.
Setelah dua langkah Satria meninggalkan Calla, Kaki Satria terhentih karna tangan Satria di genggam oleh kedua tangan Calla.
Satria menghentikan langkahnya, ia terdiam di posisi berdirinya dan masih tetap membelakai Calla. Sepertinya Satria enggan untuk menengok ke belakang dan melihat ke arah Calla saat ini yang begitu merindukan nya akhir akhir ini. Calla seperti nya sedang menahan tangis, sebisa mungkin dia tak akan menjatuhkan air matanya itu di depan Satria yang ke dua kali nya.
Sebenarnya Satria pun juga merasa sangat lah rindu terhadap Calla, Sudah begitu lama Satria tak ngobrol dan jalan berdua dengan Calla. Satria kangen ingin rasanya mencubit hidung Calla, ingin rasanya ia mengacak acak rambut Calla, ingin rasanya ia menggoda Calla sampe Calla marah dan ngambek.
Satria kangen dengan senyuman manis nya Calla, kangen dengan suara lembut nya Calla. Kangen Calla saat cemberut. Kangen saat berjalan berdua saja dengan Calla. Kangen saat menggandeng tangan Calla. Kangen saat duduk berdua di di dalam bus dengan Calla.
Satria kangen semua hal tentang Calla, kangen semua hal yang ada di diri seorang Calla Aurora Azarine gadis yang masih menempati relung hati nya yang paling dalam sampai saat ini juga. Ya.. Satria akui itu semua dalam hati nya, jika ia masih memiliki rasa cinta dan kasih sayang terhadap gadis itu.
Tapi bagaimana pun juga Satria sadar jika yang di rindu itu kekasih sepupu nya, tak mungkin kan dia akan merindukan kekasih sepupu nya sendiri. Apa kata orang lain nantinya jika tau seorang Satria merindu -kan kekasih sepupuh nya sendiri. Itu adalah hal terkonyol yang Satria pikir -kan.
"Tolong lepas Call... Gue ga mau entar di salah pahami, tolong lepas sekali lagi. Gue ga mau kasar ama Luh." Ucap Satria dingin.
Tolong dong... siapa pun itu, tolong bilang ke Satria jika dia itu salah paham. Author jadi kesel sendiri liat nya.
Netijen : Kan author sendiri yang bikin alur nya kayak gitu π€ ayok timpuk author rame rame...
"Maksud nya apa kak? Calla ga paham." Calla masih tak mengerti apa yang dimaksut Satria tadi.
Satria menepiskan tangan Calla dan mulai meninggalkan Calla di tempat itu. Calla shok terkejut dengan perlakuan Satria barusan terhadap nya itu.
Saat Satria mulai jauh baru lah Calla sadar dari keterkejutannya tadi dan mulai berteriak memanggil nama Satri.
"Kak Satria... tunggu... Kak Satria tunggu... " Teriak Calla.
Calla merasakan sesak di dalam dada nya, ia merasa di campakkan oleh orang yang ia kasihi dan cintai selama ini. Calla merasakan mata nya mulai memanas, seperti kenak cipratan air bawang. Calla tak bisa menahannya lagi, Tak terasa mata Calla mengeluarkan tetesan air bening dan sekarang sudah berlinang di pipi nya. Calla menangis tanpa bersuara, hanya air mata nya saja yang mengalir deras di pipi indah nya itu.
Beberapa saat kemudian, ada sebuah mobil yang tiba tiba berhenti tepat di sebelah Calla yang saat ini berdiri dan menangis tanpa suara. Orang yang berada di balik setir pengemudi langsung turun dari mobil dan menghampiri Calla.
"Calla.... ooh benar dugaan ku memang Calla." Ucap lelaki itu.
Calla tetap diam dan mematung, Calla tak menyadari ada seseorang yang memanggil namanya.
__ADS_1
"Calla... " suara itu agak mengeras agar Calla sadar dari lamunan nya.
Calla kaget dan sontak menoleh.
"Kak Davit." Calla kaget dengan kedatang Davit yang sudah ada di sebelah nya saja tanpa Calla tau kapan datangnya.
Ya... lelaki itu Davit. Davit sahabat Satria. Sahabat lelaki yang secara terang terangan meninggalkan nya di tempat nya saat ini.
"Ngapain elluh nangis? Ayok berangkat ama Gue. Masuk dulu ke mobil. Ga enak. Malu di liatin orang orang." Ajak Davit dan menggandeng tangan Calla untuk memasuki mobilnya.
Davit dan Calla sudah berada di dalam mobil, Davit masih tak menjalankan mobil nya, ia penasaran kenapa Calla menangis.
Calla mencoba menenangkan dirinya sejenak, ia mengatur nafas agar lebih baik lagi. Tangis nya mulai menurun.
Davit mengambil tisu dan menyodorkan ke arah Calla.
"Udah nangis nya. Niech tissue buat lap muka Luh tuh." Ucap Davit.
Calla menerima tissue itu dan mulai mengusap air matanya yang sudah banyak di pipi nya itu.
"Napa elluh nangis? Siapa yang bikin Luh nangis, ada yang ganggu elluh?" Tanya Davit panjang lebar pada Calla.
Yang awalnya tadi suara tangis Calla udah tak terdengar lagi dan udah mendingan, Sekarang mendadak suara tangis Calla terdengar lagi, malah semakin kencang.
Calla mengingat perkataan dan perlakuan Satria terhadap nya tadi. Sungguh perlakuan Satria itu membuat Calla sedih sekali.
Davit kaget dan semakin bingung mendengar suara tangis Calla mulai mengeras.
"Looooo... looh kok elluh nangis lagi, udah udah jangan nangis lagi." Davit mencoba menenangkan Calla, tangan nya mulai mengusap punggung Calla agar Calla merasa tenang.
"Coba cerita ke gue agar Luh lebih tenang dan baikan."
"Kak Satria." Ucap Calla pelan.
"Kenapa Satria. Elluh diapain ama itu bocah. Dasar ya Satria tega bikin Luh nangis gini." Ucap Davit geram
Davit heran pada kelakuan Satria, itu bukan sifat Satria yang sebenarnya. Se benci nya dan se enggak suka nya Satria pada kaum hawa ia tak akan setega itu membuat nya menangis apa lagi meninggalkan nya sendirian di pinggir jalan seperti saat ini.
"Kak Satria seperti nya ga mau deket deket Calla lagi. Tadi Calla ajak berangkat bareng ajja dia ga mau. Dia juga bilang ke Calla tidak mau di salah pahami. Calla ga paham dan ga ngerti apa yang dikatakan Kak Satria tadi." Ucap Cala menjelaskan dengan sesengguk -an abis nangis.
"Ooh gitu ya... oke nanti gue coba cari tau Call dan ngasih pelajaran ama tuh manusia es udah bikin anak orang nangis."
Mobil Davit pun akhirnya mulai meluncur ke sekolahan.
β’ β’ β’ β’ β’ β’ β’ β’ β’ β’
"Wooiii Sat...." Teriak Davit dari arah pintu kelas.
Davit berjalan menuju ke bangku Satria.
"Hey.. tadi gue ketemu Calla. Elluh apain tuh anak orang? tadi Calla nangis."
Satria yang mendengar Calla nangis setelah ia tinggalkan disana tadi langsung merasa bersalah, ia merasa sesak didada, raut wajahnya mendadak menjadi kawatir.
Sedetik kemudian ia merubah raut wajahnya menjadi datar lagi. Ia tak mau ketahuan oleh Davit jika ia sebenarnya mrngkhawatirkan Calla.
"Eh tokek. Eluh diem ajja. bisu Luh. kenapa, ada apa ama elluh. Ga biasanya ellu ampe bikin cewek nangis. Kasar Luh ye sekarang." Oceh Davit panjang lebar.
"Bacot luh, budek kuping gue denger Luh ceramah." Ucap Satria sambilenutupi kupingnya.
Satria mulai menjatuhkan kepalanya ke atas meja, dan tidur.
Tak lama kemudian Satria menggumam.
"Calla sekarang dah punya cowok."
Ternyata gumaman itu terdengar oleh Davit yang duduk diaampingnya.
"what... kagak mungkin. Elu kata siapa? Gue sih liat nya Calla ada rasa tuh ke ellu manusia es. Masak ellu ga peka." Davit hanya geleng geleng.
"Si Tam ajja pernah bilang ke gue kalok Calla tuh sukak ama elluh. Jahat Luh udah bikin Calla nangis. Udah berapa lama Luh ngehindari Calla? kagak kangen Luh ama dia." Goda Davit lagi.
β’ β’ β’ β’ β’ β’
Tak terasa jam begitu cepat, akhirnya bel pulang sekolah terdengar.
"Call... pulang bareng aku?" Ajak Janson
"Maaf Janson kayaknya ga bisa, aku ada keperluan lain, kapan kapan ajja ya."
"Ooh ya udah gpp. Jika lain kali perlu tumpangan bilang ajja, aku selalu ada kok." Ucap janson dengan tersenyum dan tangannya mengacak acak rambut Calla.
"Iiiihh jangan di acak acak,sebel." jawab Calla sambil merapikan rambutnya.
Hari ini Calla berencana nungguin Satria selesai dari bimbingan belajarnya.
Saat ini Calla duduk di gazebo di taman yang letaknya tengah tengah sekolah dan taman itu dikelilingi koridor, taman itu dilewati semua siswa untuk menuju ke kelas ataupun untuk jalan menuju ke gerbang depan sekolah. Tempat yang setrategis untuk menunggu Satria disana.
__ADS_1
"Kak Satria pasti akan lewat sini juga." Gumam Calla pada dirinya sendiri.
Calla lagi asyik membaca novel kesukaannya di gazebo itu, sudah satu jam an Calla menunggu tak lama murid kelas 12 pun muncul dari pintu kelas dan berjalan melewati koridor untuk pulang, itu pertanda jam bimbingan udah selesai. Mata Calla mengedarkan pandangan mencari keberadaan Satria.
Calla berdiri dan menghampiri Satria yang sedang berjalan dengan Davit.
Calla berhentih di depan Satria dan Davit.
"Kak Satria..."
Satria hanya berdiam dan tak menjawab.
Davit pun mengusap punggung Satria dari belakang.
"Udah sana Sat.. selesaiin masalah Luh. Kasian nich anak orang udah dibuat nangis tadi pagi, dan sekarang rella nungguin Luh pulang. Sonooo. " Davit mendorong Satria lebih dekat ke arah Calla.
Mau tidak mau Satria menatap Calla yang berada beberapa inci di depannya.
"Kuy man... gue mau pulang dulu." Davit berlari meninggalkan keberadaan mereka berdua.
Satria tetap diam membisu. Sungguh menyebalkan di posisi seperti ini, menurut Calla.
"Kak.. Calla perlu bicara ama Kak Satria." Ucap Calla ragu ragu dan takut di cuekin kayak tadi pagi.
Satria langsung menarik tangan Calla, berjalan dengan cepat.
"Kita mau kemana Kak?"
"Udah diam." Jawab Satria datar
Satria membawa nya berjalan terus hingga ke taman belakang sekolah.
Sesampainya disana Satria diam yang masih membelakangi Calla dan memegang tangan Calla.
Sepersekian detik selanjutnya, Satria membalikkan tubuhnya dan menarik Calla ke dalam pelukannya.
Satria memeluk Calla.
"Kak... Ada apa ini Kak?" Calla kaget.
Calla mencoba memberontak melepaskan pelukan Satria tapi sayang pelukan Satria sangatlah erat membuat Calla tetap terbelengguh oleh pelukan Satria itu.
"Kak lepas Kak." Cicit Calla.
"Sebentar ajja. jangan gerak."
Calla hanya terdiam saja tak membalas pelukan Satria. Jantung Calla tiba tiba berdetak lebih kencang, begitu pun Satria tak kalah kencangnya juga.
Satria mulai melepaskan pelukannya dan menaruh kedua tangannya di bahu Calla, setelah itu satria mendorong Calla sampai ke tembok.
Tangan kanan Satria beralih ke dagu Calla. Wajah Satria mulai mendekati wajah Calla. Hembusan nafas Satria bertemu dengan hembusna nafas Calla karna jaraknya begitu dekat.
Bibir Satria langsung begitu saja menempel di bibir Calla. Bibir itu mulai menyecap, mencium, melumat begitu lembut bibir Calla tanpa keagresifan penuh nafsu.
Calla hanya mematung karna kaget. Serasa semua badan Calla tak bisa digerakkan.
Satria mengakhiri ciumannya itu karna nafas keduanya udah mulai habis.
Satria memberi jedah kepada Calla untuk bernafas lagi.
"Kakak kangen Calla." Suara Satria begitu sanyup.
Calla masih terdiam. Satria mulai mencium Calla lagi.
Bibir Satria mulai mengabsen bibir Calla dari bibir atas sampai bibir bawah. Calla tetap diam tak membalas ciuman Satria.
Satria mulai menggigit bibir bawah Callah agar Calla membuka bibirnya, dan ya itu berhasil.
Calla mulai membuka mulutnya, lidah satria mulai menerobos masuk ke dalam mulut Calla. Sekarang lidahnya yang menganbsen seluruh rongga mulut Calla. Mereka berdua saling bertukar saliva.
Calla mulai kehabisan nafas, dan memukul dada Satria, Satria pun mengerti dan mulai menghentikan ciumannya itu. Mereka berdua ngos ngos.an untuk bernafas.
"Kakak sayang Calla, juga sangat mencintaimu sayang, aku ingin memilikimu, Aku ga mau kamu tolak. Mulai sekarang kamu kekasihku Calla."
Bersambung... π€
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
β’**Gimana teman teman, menurut kalian. Apa Calla akan tetap menerima Satria apa akan menolak?
β’Terus kenapa ya Satria tiba tiba nembak Calla, kan sepengetahuan nya Calla pacaran ama janson (salah paham).
Di tunggu ajja kelanjutannya ya.... terima kasih.
Jangan lupa like and komen nya ya teman teman. Kritik dan saran juga aku butuhkan π€
Salam sayang RedPink π**
__ADS_1