SATRIA

SATRIA
Kencan Dengan Pacar


__ADS_3

Hai hai... temanΒ² mohon maaf ya, RedPink baru update...


RedPink sangat sibuk akhir akhir ini...


Semoga episode kali ini bisa mengobati kerinduan kalian terhadap Satria dan Calla ya.


Happy reading 😘


πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž


"Bruw.. Gue pulang dulu ya. Tolong izinin gue bruw kagak ikut Bimbel lagi bruw." Satria menepuk bahu Davit sebelum meninggalkan kelas.


"Wooi curut Luh mau kemana, awas ya tar, kalo keciduk guru baru tau rasa Luh." Teriak Davit pada Satria yang mulai menjauh dan keluar kelas.


Satria tak menghiraukan pertanyaan Davit, dia melenggang pergi dan hanya melambaikan tangan saja tanpa menoleh ke belakang ke arah Davit.


Satria menuju ke kelas Calla dengan senyuman yang mengembang.


Setiba dikelas Calla Satria berjumpah dengan Tam didepan kelas Calla.


"Hai Tam, Calla dimana, belum keluar?" Tanya Satria datar pada Tam.


"Iya bentar lagi kayaknya, Loooh.... tumben udah bawa tas. Elluh pulang kak?" Tanya Tam heran karna sepengetahuan Tam Satria itu harus ikut bimbel sepulang sekolah.


"Yo'i pulang." Satria menaik alis nya satu kali.


"Ama Calla kak?"


"Hmmmm."


"Loh ga ikut Bimbel kak?"


"Kagak."


Calla keluar kelas dan menemui Satria, kekasihnya dan Tam sahabatnya itu.


"Kak Satria, Tam... kalian udah disini."


"Katanya ellu pulang bareng kak Satria, tapi ellu kok ga cerita ke gue, kan gue ga bakal nungguin elluh Call." Ucap Tam jutek, tapi yakin lah Tam ga marah kok ama Calla.


Memang dasarnya orangnya begitu.


"Hehehe maaf ya Tam, Gue lupa bilang ke ellu. Maaf ya Tam, ellu ga marah kan ya?" Calla mengambil kedua tangan Tam dan menggoyang goyangkannya agar Tam tak marah.


"Kalau gitu kapanΒ² gue traktir pizza deh biar ellu ga marah ama pacar gue." Timpal Satria.


"Hehee oke. Omongan kak Satria gak bisa ditarik ulang. Gue tunggu traktirannya Kak. Sebenarnya gue ga marah kok ama ellu Call. Berhubung mau di traktir pizza ya udah deh aku terima ajja, rezeky ga boleh ditolak. hehe" Ucap Tam cengengesan.


"Yeeh elluh kalau masalah makan ajja nomer satu. Dasar Luh mulut Dakocan." Ucap Calla menonyor kepala Tam.


"Ya udah sana kencan, mumpung Kak Satria belum terkenal loooh, Tar kalo udah terkenal, ellu kagak bisa kencan berdua lagi, banyak hengpong jadul sist yang bertebaran.. hehehe." Tam mendorong Calla dan Satria untuk pergi di hadapannya.


πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž


Calla dan Satria berada di pasar malam. Mereka berdua sangat menikmati kencan mereka karna ini adalah kali pertama mereka kencan setelah resmi pacaran.


"Kak... ayok naik itu" Calla mendongakkan kepala dan menunjuk ke atas ke arah bianglala.


Satria lantas mendongak juga, mengikuti arah telunjuk Calla.


Satria menaikan salah satu alisnya ke atas.


"Kau yakin sayang, naik itu?" Satria sekarang beralih menatap ke arah Calla yang penuh kegirangan Saat melihat bianglala. "Apa kau ga takut? " Tanya Satria kemudian.


"Enggak, kak enggak..."Calla menggelengkan kepala nya dengan mantap. "Calla enggak takut. Calla pingin bangets naik Itu."


Satria masih tetap diam dan masih memperhatikan Calla yang begitu menggemaskan saat ini.


"Ya.. ya.. ya.. pliis Kak." Calla memasang wajah memelasnya dihadapan Satria.


Satria tersenyum lalu mengangguk.


"Ayok." Satria memegang tangan Calla dan beranjak menuju ke biang lala.


Merek berdua mengantri untuk menaiki bianglala itu, ternyata banyak juga yang ingin naik bianglala, itu terlihat dari panjangnya antrian ini. Dari kalangan remaja, orang dewasa hingga sampai sepasang kakek nenek yang baru saja turun dari bianglala itu. Aah mesrah nya walau sepasang kakek nenek itu sudah tak mudah lagi tapi cintanya masih terlihat.


Hingga saatnya sekarang gilirannya Satria dan Calla untuk menaiki bianglala itu. Satria dan Calla duduk di dalam bianglala dengan saling berhadapan.


"Waah... akhirnya." Calla terlihat begitu sangat sangat bahagia.


"kenapa sayang, kok kayaknya kamu seneng banget?"


Satria heran melihat expresi Calla yang begitu sangat girangnya, seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru dari orang tuanya.


"Gimana ga seneng yang.. ini pertama kali nya loh aku pergi ke pasar malem dan naik bianglala. Ama pacar pula."


"Ciyeee seneng niih... ama pacar pula." Goda Satria pada Calla dengan terkekeh.


"Aah kakak jangan godain Calla. kan malu." Calla mengerucutkan bibirnya kedepan.


Satria tetap tersenyum.


"Iya.. iya.. maaf. udah dong sayang jangan cemberut terus. tuh bibirnya jangan dimoyongin."


"Siapa yang moyongin bibir." Calla semakin jengkel pada Satria karna sedari tadi di godain mulu. Calla mengalihkan pandangannya kearah lain dan tak mau melihat ke arah Satria.


"Aahh.. gemes kan jadinya kalau di monyong moyongin kedepan gitu." Satria mencubit kecil bibir Calla karna gemas.


"Kak... " Satria kaget agak berteriak, tapi tak sampai orang lain mendengar, hanya dia dan Satria saja yang mendengar.


"Makanya jangan cemberut sayang. Jadi pingin nyium ajja." Goda Satria lagi.


"Tau ah. Dasar kamu mesum kak."


"Pacar siapa hayo biar mesum gini." Satria menaik turunkan kedua alisnya itu.


"Gak.. gak tau pacar siapa. yang pasti bukan aku." Ledek Calla balik.


"Apa?.. Oowww jadi bukan pacar kamu nih?" Satria mangut mangut saja.


"Ya... Kakak ga diakui pacar sendiri." Satria pura pura sedih dan memasang wajah yang paling melas sekali.


"Ya udah dech sepulang dari sini bakal cari pacar baru." Satria berkata datar dan matanya melirik kearah Calla.


Sontak Calla kaget dan melihat kearah Satria.


"Apa kakak bilang. Cari pacar baru." Calla melotot tak percaya.


Satria hanya mengangguk saja dan memasang wajah datar dan dinginnya.


Calla mulai sedih dan terdiam. Dia masih memikirkan perkataan Satria tadi. Apa bener Satria akan mencari pacar baru. Apa mungkin Satria hanya akan menge- Prank Calla. Apa perkataannya tadi keterlaluan hingga kini Satria akan mencari pacar baru.


Banyak yang Calla fikirkan dan ia pun mengira ngira di dalam fikirannya tentang ucapan Satria tadi.


Satria diam diam mulai tersenyum sedikit, tanpa Calla ketahui. Disaat Calla lagi sibuk dengan fikirannya itu, langsung saja tangan Satria menarik tangan Calla hingga tubuh Calla jatuh ke pangkuannya itu. Yang tadi duduk saling berhadapan sekarang menjadi pangku pangkuan.. hehehe.

__ADS_1


"Kak." Calla kaget dan mencoba berdiri dari pangkuan Satria tapi sayang Satria memegang nya dengan erat.


"Hemmmm.." kedua tangan Satria melingkar dan memeluk perut Calla.


"Lepasin kak.. nanti jatuh." Satria tak menghiraukan kicauan Calla malah ia mempererat pelukan di perut Calla.


"kamu makanya jangan gerak gerak mulu Sayang."


"...." Calla terdiam saja. Serba salah, kalau ia berusaha menghindar pasti pelukan Satria makin erat dan enggan melepaskannya.


"Pacar yang penurut." Satria tersenyum dengan kemenangannya. "Kamu kekasihku satu satunya, kakak cuma bercanda dan tak mungkin akan mencari penggantimu." Lalu satria mengelus rambut Calla, dan sesekali mencium aroma rambut Calla. Wangi itu yang di benak Satria.


"Ah.. Kakak gombal. Calla ga percaya itu."


Satria tersenyum, lalu Satria sesekali mencium leher belakang Calla, di kecupnya sedikit demi sedikit. Tak hanya sekali tapi beberapa kali. Itu semakin membuat Calla merinding. Tapi kecupan Satria sangat lembut sekali dan tanpa meninggalkan jejak merah disana. Ingat.. tanpa mrninggalkan jejak kemerahan cupang.


"Kak, udah... jangan. Gelli kak."


"Sebentar sayang."


Lalu Satria memeluk Calla dengan erat dari belakang. Sekarang kepala Satria ia sandarkan di bahu Calla.


"Begini sebentar sayang. Aku kangen sekali." Satria menyusupkan kepalanya ke atas bahu Calla.. dan beberapa kali hembus nafasnya menari nari di leher mulus Calla.


Satria menghirup aroma tubuh Calla yang ada di lehernya sesekali. Entah kenapa aroma itu membuat sensasi yang berbeda dan bisa membuat Satria ketagian untuk menghirupnya lagi.. lagii. dan lagi...


"...." Calla masih terdiam, sebenarnya ia merasakan kegugupan yang sangat besar, tapi sebisa mungkin ia sembunyikan.


"Sayang... Udahan." Sengaja, Satria berucap tepat di telinga Calla dan itu membuat Calla kaget sekaligus merinding geli geli gimana gitu.


"Iya.. apanya kak?" Calla menoleh kearah samping, ke arah wajah Satria.


Sontak bibir Calla menabrak bibir Satria tanpa sengaja.


CUUP


Calla reflek langsung mengalihkan pandangannya dan menjauhkan wajahnya di hadapan Satria.


"Maksut Kakak udahan pangkunya, kita sebentar lagi mau sampe bawah dan turun. Malah ini cium cium Kakak." Ucap Satria dengan senyum senyum menggoda kekasihnya itu yang sekarang sudah menahan malu mati matian atas ulah bodohnya sendiri.


"Siapa yang cium. Ga tuh. Bukan Calla" Elak Calla tanpa memandang wajah Satria.


Calla pun berpindah dari pangkuan Satria dan duduk sendiri.


"Iya emang betul bukan Calla, tapi..." Satria berhentih sejenak dan ia mengamati wajah Calla yang sedari tadi udah merah bak buah tomat mataang.


"Tapi.. bibir Calla yang cium. Kakak menyalahkan bibir Calla yang terlalu merindukan bibir Kakak." Satria lagi lagi tersenyum jail menggoda Calla.


"Udah ah ayok turun. yang lain tuh udah ngantri lama."


Calla meninggalkan Satria di belakang. Sebenarnya Calla kesal dengan ucapan Satria tadi, yang benar saja dia bilang bibir Calla yang merindukan bibir Satria. Itu tadi kan ciuman yang tak sengaja.


"Mau itu.." Calla menunjuk penjual gula kapas.


"Kayak bocah aja makan gula kapas." Sebenarnya Satria tak mengejek Calla, tapi Calla salah tangkap.


"Biarin, meskipun bocah tapi kakak kenapa pacaran ama bocah. weew" Calla menjulurkan lidahnya ke Satria untuk mengejeknya.


"hehehe... " Satria merangkul pundak Calla dan sesekali mengelus puncak kepala Calla.


"Kan karna kakak cinta, karna kakak sayang ama bocah ini." Berhasil! ucapan Satria ini membuat Calla tersipu malu sekaligus sangat sangat senang.


Satria mengajak Calla menuju ke penjual gula kapas itu dan membelinya satu untuk Calla seorang.


setelah itu Calla ingin menaiki wahana komedi putar, ya.. di situ juga ada kuda kuda -an terbang yang berputar.


"Ayok.. selagi itu membuat kamu suka, ayok kita lakukan bersama sama." Satria tersenyum dan membawa Calla untuk menaiki komedi putar.


"Calla... " Calla menoleh ke Satria.


Tanpa aba aba Satria langsung merangkul bahu Calla dan..


Cekreeek...


Satria langsung melakukan foto selfie di hp nya bersama Calla.


"Aah.. ngajak selfie ga bilang bilang. Kan Calla ga siap. Tar jelek. Hapus kak, jelek!" Calla pura pura cemberut, tapi itu tak membuat Satria menghapusnya.


"Bagus kok. Cantik!" Pungkas Satria. lalu Satria menyimpan hpnya di saku celananya.


"Buat kenang kenangan, itu kenang kenangan kencan pertama kita."


Malam pun semakin larut dan Satria mengantar Calla untuk pulang.


πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž


"Besok hari minggu kita kencan lagi sayang." Ucap Satria setelah sampai di depan rumah Calla.


"Waah... kencan lagi?" Suara Calla terdengar begitu antusias dan senang.


"Iya. Mumpung aku punya waktu dua hari free, itu tak akan aku sia sia -in. Akan kuhabiskan waktu luangku hanya untuk kita berdua, sebelum waktu ku tersita oleh kerjaan nanti -nya."


"Makasih sayang... Hari ini sebenarnya aku udah puas dan senang, tapi jika Kakak ingin mengajak ku lagi kencan besok. Ya.. Calla pun tak bisa menolaknya juga sayang." Jawab Calla dengan tersenyum.


Satria tersenyum, mendengar jawaban Calla.


"Oke! besok Kakak jemput jam 8 pagi."


Calla hanya mengangguk saja. setelah itu Satria pergi meninggalkan Calla dan pulang ke rumahnya sendiri.


πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž πŸ’ž


Pagi pun telah tiba, kini Saatnya Calla siap siap untuk pergi kencan lagi.


Calla memakai celana puntih, sapatu keys putih, memakai sweeter rajut berwarna merah maroon, dan memakai slingbag kecil warna senad dengan celananya -putih. Rambut.. ia biarkan di gerai tanpa ada hiasan lain.


Jam menunjuk -kan pukul tujuh lebih limah puluh menit.


Tok tok tok


"Non... ada Den Satria di bawah." Suara bibkk pembantu memberitahukan kedatangan Satria.


"Oke bik, tolong bilang ke Kak Satria, bentar lagi Calla akan turun."


'Waah... hari ini kencan lagi, hari ini bakal kemana ya. Ga sabar aku jadinya.' Cicit Calla dalam hati.


Calla menuruni anak tangga dan menuju ke arah ruang tamu.


Satria berdia saat Calla sudah datang.


"Yuk.. udah siap?" Tanya Satria.


Calla mengangguk saja.


"Ayok kita naik mobil ini." Ajak Satria menuntun Calla ke mobil yang di parkor di halaman rumah Calla.

__ADS_1


"Kak ini mobil siapa?" Tanya Calla heran.


"Oow ini mobil mike, manager kakak. Dia meminjamkan mobil ini ke kakak buat kencan ama Calla." Satria menyengir sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Tau gitu jangan minjem ke mike. pakai mobil Calla ajja."


"Gak papa Call... Ayok. tar keburu siang."


Mobilpun meninggalkan rumah Calla, langsung meluncur di jalan raya menemani mobil mobil lain yang melesat cepat di atas aspal jalan itu.


Tak terasa perjalanan sudah memakan waktu 3 jam an.


"Kak, kita mau kemana sih, kok ga nyampek nyampek dan kayaknya ini menuju ke luar kota ya." Sesekali Calla mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan tempat itu terasa asing karna Calla tak pernah datang ke tempat ini.


"Bentar lagi nyampek kok, kalau kamu capek,istirahat ajja sayang nanti kakak bangunin kamu." Satria tersenyum sambil mengusap rambut di puncak kepala Calla.


"Iya Aku capek Kak. Calla tidur dulu ya kak."


Tak berapa lama pun Calla langsung tertidur di dalam mobil.


30 menit kemudian, mobil itu sudah masuk ke halaman rumah yang berada di puncak gunung. Satria memarkirkan mobil itu di halaman samping rumah itu.


"Calla... bangun sayang, kita udah sampai." Satria mencoba membangunkan Calla.


"Hemmmmm... " Calla masih belum membuka matanya, karna masih merasa ngantuk.


Satria yang melihat Calla kelelahan pun tak tega untuk membangunkannya, dan ia langsungn saja menggendongya untuk memasuki rumah itu.


Mereka berdua telah disambut oleh penjaga villa itu, namanya Bik Darsih. Bik Darsih ini sudah menjaga Villa ini selama hampir 20 tahunan lebih. Ini Villa peninggalan almarhum ibunda nya Satria.


"Selamat Datang Den Satria. Sudah lama tidak berkunjung ke Villa ini." Bik Darsih menyambut dengan kehangatan.


"Iya Bik,, tolong bukakan pintu kamar bik, Aku kesulitan membuka."


"Iya Den.. " Bik Darsih membukakan kamar utama Villa itu agar Satria bisa masuk dan menidurkan Calla dalam kamar itu.


"Bik, udah masak yang Satria pesen semalem kan?" Ucap Satria pada Bik Darsih sambil menyelimuti tubuh Calla dengan selimut bermotif kupu kupu besar.


"Sudah Den.. udah matang semua."


Jawab Bik Darsih dengan sopan.


"oiyah Bik, nanti tolong buatkan 2 minuman jahe madu hangat ya, seperti dulu."


"Baik den, bibik pamit mau ke belakang dulu." Pamit bibik pada Satria..


Sepeninggalan Bik Darsih, Satria naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya disebelah tubuh Calla dan menghadap ke arah Calla. Satria berbaring begitu saja tanpa masuk kedalam selibut.


Satria mulai mengantuk dan memejamkan matanya karna sedari tadi di jalan Satria tanpa ostirahat sama sekali dari setir kemudi itu agar cepat sampai di Villa ini.


Satria pun mulai tertidur dengan lelapnya. Tak sadar tangan satria kini memeluk tubuh Calla yang masih terbungkus selimut dan itu membuat Calla terusik dari tidur nya.


"Aaaachhhhhhhh...." Sontak Calla berteriak karna kaget ia sedang tertidur di peluk oleh Satria dengan pegitu eratnya. Calla menendang tubuh Satria hingga jatuh.


"Aduh...." Satria mengaduh kesakitan. "Kenapa Call.. ada apa kok kamu teriak dan menendang kakak sampai jatuh."


"Kita ngapain tidur di satu ranjnag dan kakak ngapain peluk peluk Calla. Kita belum nikah kak, ga boleh ngelakuin itu. Calla bisa di amuk papa mama jika Calla.. "


Tangan Satria menutup mulut Calla yang asyik nyerocos.


"Sstttt.... kita ga ngapa ngapain Call... lihat, kakak masih pakek baju lengkap dan kamu juga masih pakek baju lengkap sayang." Calla pun melihat tubuh Satria dan dirinya sendiri, ya.. memang betul mereka berdua masih lengkap menggunakan pakaiannya itu.


"Kakak ga bakal ngelakuin itu sebelum kita nikah. Kalau kamu udah jadi istriku baru kita ena ena bareng." Satria tersenyum menggodah.


"Iihhh kakak, horor. Dasar mesum." Calla memukul mukul lengan Satria.


"Aauw sakit sayang." eluh Satria.


"Kita dimana kak? Ini rumah siapa?" Calla enyadari dia berada di tempat yang baru dan di dalam kamar pula.


"Ini kita ada di Villa kakak. Tepatnya sih bukan Kakak, tapi ini Villa punya almarhum Bunda kakak."


"Oow.. ternyata kakak punya villa juga." Calla mengangguk angguk.


"Ya.. memang kenapa. Apa Calla pikir kakak ini orang biasa yang tak pantas punya villa mewah. hehehe"


"Aah maaf, bukan maksut Calla seperti itu kak."


"Iya sayang, kakka cuma becanda. Ayok kita makqn dulu, tadi kita ga sempet makan di perjalanan kesini."


Mereka berdua menuju meja makan dan disana sudah berjajar rapi makan makan yang telah Bik Darsih masak tadi pagi atas pesanan Satria semalam melalui telpon.


"Wah... ada kepiting ama udang." Calla berbinar melihat masakan diatas meja karna semua itu adalah makanan kesukaan Calla.


"Kamu suka?"


"Iya Kak Calla sukak banget, Kakak tau dari mana ini makanan kesukaan Calla." Satria yang mendengarkan itu cukup senang, berarti ia berhasil membuat Calla senang.


"Menebak saja. hehehe" Satria berbohong, Padahal kan Satria tau itu semua berkat Tam, ia menanyakan semua sesuatu tentang Calla kepada sahabatnya Calla si Tam itu.


Mereka berduapun telah menghabiskan makanan di meja itu dan sekarang meminum jahe madu hangat buatan Bik Darsih.


"Setelah ini mari ikut Kakak ke belakang Villa. Disana pasti kamu bakal suka."


"Oke siap BosQuuw." Jawab Calla


Mereka pun beranjak meninggalkan meja makan dan meuju ke belakang Villa.


Mereka harus berjalan sekitar sepuluh menitan..


"Kak.. kita mau kemana sih sebenernya, masih jauh kah?"Tanya Calla karna ia mulai bosan berjalan.


"Itu liat di depan, kita udah nyampek." Callapun mengalihkan pandangan matanya ke arah depan yang di tunjuk oleh Satria.


"Waauuuww.. Danau yang bagus Kak." Calla melihatnya takjub sekali karna di jakarta memang tidak dapat menemukan tempat yang indah seperti ini.


"Kamu sukak?" Sekali lagi Satria menanyakan itu lagi.


"Suka dong Kak. Calla seneng banget. Makasih ya Sayang nya aku hehehe."


"Kakak juga seneng banget ngeliat Calla seneng di ajjak kesini."


Satria mengajak Calla menaiki perahu dayung untuk mengelilingi Danau itu.


Tak terasa senja pun akan datang, Waktu saat ini menunjuk kan sudah jam empat sore. Itu berarti sebentar lagi petang pun datang.


"Calla sayang seperti nya kita akhiri saja waktu kencan ini, waktunya pulang ke jakarta sayang, takut kemalam -an dijalan." Ajak Satria pada Calla untuk pulang.


"Yaaah sayang sekali. Padahal Calla betah banget disini Kak." Rengek Calla, sepertinya ia enggan meninggalkan Villa ini.


"Ya kapan kapan lagi bakal Kakak ajjak Calla kesini. Kalau nanti Kakak ada waktu luang, pasti itu akan terjadi dan Kakak janji."


"Janji pokoknya ya... " Calla menautkan jari kelingkingnya pada Satria untuk berjanji.


"Iya.. sayang janji." Satria membalas tautan jari kelingking Calla padanya itu.

__ADS_1


Mereka berdua tersenyum bahagia. meninggalkan Villa itu. Satria dan Calla pun pulang ke jakarta lagi, pulang ke rumah masing masing.


Bersambung ☺


__ADS_2