
............Happy reading🌹 ...........
Usai menutup pintu, Satria tak lantas pergi. Pria itu menyalurkan emosinya di dinding sebelah pintu kamar mereka sakin menyesalnya tadi dia sampai menyakiti Gadis karena memikirkan kehadiran wanita dari masa lalunya itu.
"Si@l!!!!!!" Satria tanpa henti memukul diding yang tak bersalah di hadapannya.
"Biar sampai hancur itu tangan, Bang Bima tak akan bisa menyelesaikan masalah dengan begitu." Seru Melodi yang sudah berada tak jauh dari Satria.
"Dek." Ucap Satria menghentikan pukulannya dan melihat ke arah sang adik setelahnya.
"Kenapa bisa dia hadir tadi Bang? Apa Abang yang mengundangnya?" Tanya Melodi yang Satria tahu betul siapa yang sang adik sebut dia.
"Yang benar saja Abang mengundangnya Dek, kau tahu betul itu tak mungkin terjadi. Dia istri teman bisnis Abang, dan Abang nggak tahu itu." Seru Satria dengan mengusap wajahnya kasar.
"Lalu, apa yang akan Bang Bima lakukan. Dia bahkan berani meluk Abang sekencang itu, padahal ada Gadis di sebelah Abang. Aku pikir dia sudah berubah setelah sekian lama tak ada kabar." Ucap Melodi yang tadi melihat sendiri kedatangan wanita itu sampai dimana dia memeluk Abang nya itu.
"Hummmm, entahlah. Ini Abang mau mengurusnya, Abang takut dia akan berbuat nekat terhadap Gadis seperti kamu dulu."
"Yah aku pun mengkhawatirkan hal yang sama. Semoga saja semuanya baik-baik saja." Sahut Melodi mengusap legan Satria sebelum akhirnya dia meninggalkan sang Abang.
Selepas perginya sang adik Melodi, Satria langsung melangkahkan kakinya sambil menghubungi seseorang di ponselnya.
...****************...
Tepatnya di restoran milik Satria, kini pria itu berjalan masuk restoran tanpa senyum sedikitpun menghiasi wajahnya. Melangkah lebar ke arah ruangan pribadinya.
"Titan?" Tanya Satria pada seorang pria yang baru menyusul langkahnya dari samping.
"Sudah di ruangan Pak." Sahut orang itu yang merupakan manajer Restoran tersebut.
Tanpa Menjawab, Satria terus melangkahkan kakinya hingga sampai di pintu ruangannya, sang Manajer dengan sigap membukakan pintu itu untuknya membuat Titan yang berada di dalam terlonjak kaget di buatnya.
"Saya permisi Pak." Ucap Sang Manajer dan langsung buru buru pergi, karena melihat raut tak sedap Satria. Yang dia tahu pasti akan terjadi masalah jika sikap sang pemilik Restoran seperti singa lapar seperti itu.
"Tuan." Sapa Titan sedikit khawatir dengan dirinya sendiri melihat ke arah wajah Satria yang tak bersahabat.
"Batalkan semua kerja sama kita dengan Tuan Alex." Titah Satria membuat Titan melotot kan mata nya sakin kagetnya dengan ucapan perintah atasannya itu.
"Tapi tuan kita..." Titan hendak protes, tak percaya dengan yang di ucapkan Tuannya tadi.
"Apa kau tuli, aku bilang batalkan semua hubungan kerja sama kita dengan Alex." Bentak Satria sakin emosinya.
__ADS_1
Titan yang tahu betul kodisi keberadaan mereka yang tak menguntungkan jika memutus kerja sama sepihak pun, mau tak mau memberanikan dirinya untuk berbicara tegas mengeluarkan argumennya melawan singa di hadapannya itu.
"Jika anda meminta membatalkan kerja sama kita dengan Tuan Alex, itu akan berpengaruh buruk terhadap reputasi anda yang baru berlayar di dunia properti Tuan. Imbas terbesarnya yang bisa kita hadapi adalah ketidak percayaan terhadap label perusahaan kita di mata para investor. Mereka akan berpikir ribuan kali dengan kinerja kita. Dan lagi anda harus membayar mahal jika membatalkan kerja sama kita sepihak. Anda tahu betul soal itu Tuan." Seru Titan dengan semua argumennya, berharap Tuannya itu mau memikirkan lagi sebelum melangkah.
"Brengs*k." Ucap kesal Satria yang tahu betul semua yang Titan ucapkan benar adanya. Sakin emosinya dia bahkan menendang kuat kursi yang ada di hadapannya.
Titan yang melihat itu hanya diam saja, dia tahu pasti ada masalah pribadi hingga Tuannya bisa se marah itu sekarang.
Menghembuskan nafasnya perlahan, Satria pun menatap Titan dengan pandangan kesalnya hingga dia hanya bisa menelan saliva nya susah paya.
...****************...
Kini Satria sudah kembali ke hotel tempat berlangsungnya pernikahan mereka sekaligus tempat menginap mereka sebelum besok mereka akan pulang ke rumah yang sudah dia persiapkan seminggu lalu.
Saat membuka pintu kamar mereka, Mata Satria langsung melihat pemandangan menyejukkan di atas ranjang mereka.
Dimana Gadis dan Arsyila sang putri sudah tertidur pulas dengan Gadis yang memeluk erat putri kecil mereka itu.
Satria tak lantas mendekati mereka, pria itu berjalan ke arah Kamar mandi untuk membasuh mukanya sebentar. Berharap bisa menyejukkan pikirannya dengan hal itu.
Usai dengan menggantikan pakaiannya, Satria pun mendekati ranjang mereka. Dia mengambil tempat di sebelah Gadis, merebahkan tubuhnya dan memeluk Gadis erat membuat sang pemilik tubuh yang belum tertidur lama membuka matanya karena pergerakan dirinya barusan.
"Eh sayang, kau belum tidur yang." Tanya Satria, sementara Gadis wanita itu langsung membalikkan tubuhnya menghadap Satria.
"Udah, tapi kebangun." Seru Gadis sambil memperbaiki anak rambut basah Satria ke samping.
"Urusannya udah selesai?" Lanjut Gadis mengulangi pertanyaannya membuat Satria yang menatapnya menutup matanya seketika sambil menghembuskan nafasnya perlahan.
"Belum, sayang ada yang harus aku bicarakan." Ucap Satria yang sudah dia pikirkan sebelum kembali pulang tadi.
"Boleh, tapi di sofa itu boleh?" Seru Gadis, sebab dia tak mau obrolan mereka mengganggu tidur Arsyila.
Tanpa menjawab, Satria langsung bangun dan menggendong Gadis dan di bawanya ke arah sofa di sudut kamar mereka membuat Gadis otomatis mengalungkan kedua lengannya di leher Satria.
Dengan perlahan Satria menurunkan Gadis dan meminta wanita itu duduk di pangkuannya setelah dia lebih dulu duduk di sana.
Gadis yang sebenarnya malu namun tak mau mengecewakan Satria, dia pun menuruti perintah sang suami mengingat mood pria itu yang tak baik sejak tadi.
"Sayang." Panggil Satria sambil mengelus lengan Gadis, setelah istrinya itu sudah duduk di pangkuannya.
"Ya Dady."
__ADS_1
"Sayang Dis, Sayang"
"Hehehe, ya sayang. Om sayangku, kenapa hum?" Gadis dengan tawa kecilnya melihat protes Satria.
"Gitu dong, hm gini yang." Ucap Satria memulai obrolan mereka.
"Sayang, kau mengingat wanita tadi yang." Kata Satria membuat Gadis mengerutkan keningnya mendengar perkataannya yang belum jelas.
"Hm itu, yang beri selamat dan aku bilang nggak mengundang dia itu." Lanjut Satria.
"Oh yah, kenapa?" Tanya Gadis yang sudah mengingat betul, karena sejak tadi Gadis habiskan waktunya selama di tinggal Satria dengan memikirkan hal tadi yang membuat suaminya itu berubah dalam sekejab mood nya.
"Dia Larissa, mantan pasangan Rizki suami Melodi sekaligus juga mantan pasangan aku sebelum bertemu kamu yang." Jelas Satria sembari menelisik raut muka Gadis yang nampak sedang mengontrol keterkejutannya, dia lihat betul itu.
"Yah lalu?" Ucap Singkat Gadis, sebab Gadis jadi teringat kembali pelukan wanita itu pada Satria tadi.
Satria pun menjelaskan semua masa lalunya tanpa terlewatkan sedikitpun yang berhubungan dengan Larissa, dan dengan setia Gadis pun mendengarkan.
Sementara di lain tempat, wanita yang baru saja selesai melayani suaminya nampak menatap suaminya itu dengan senyum manisnya...
"Kenapa?" Tanya sang suami sembari mengelap keringat di jidat sang istri.
"Aku menerima tawaranmu untuk mengurus proyekmu."
"Benarkah?" Ucap sang suami senang karena sudah lama dia menawarkan hal itu agar sang istri bisa kerja bersamanya di bisnis yang sama, karena dia tahu kemampuan sang istri usai menyelesaikan studinya di bidang yang sama dengannya.
"Yah, aku bosan jika berdiam diri di rumah saja."
"Baiklah, aku akan mengurusnya besok. Sekarang kita tidur yah."
"Selamat tidur sayang." Ucap wanita itu pada suaminya sembari mengecup sekilas pipi pria itu yang sudah menutup matanya.
Wanita itu pun tersenyum sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Aku nggak sabar bertemu lagi." Seru batinnya sembari memejamkan matanya dengan senyum indahnya membayangkan hari esok.
...Btw, Jangan lupa tekan tombol like dan komennya yah🥰...
...Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗...
...Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
__ADS_1