
Saat mata Satria bertemu dengan mata Gadis, Gadis langsung mengalihkan tatapannya pada ponsel yang sejak tadi dia genggam.
Melihat itu Satria langsung menghembuskan nafasnya pelan.
"Katakan padanya aku sedang ada tamu, kalau mau menunggu silahkan. Kalau tidak silahkan pergi." Ucap Satria tanpa melihat lagi Max, dia nampak menyibukkan kembali dirinya pada kertas yang di pegang nya.
"Baiklah, permisi Pak." Ucap Max
Sementara Satria nampak sudah tak fokus lagi dengan yang dia baca, pikirannya terarah pada apa yang akan iya lakukan untuk Adila kedepannya..
Sebab, Papinya itu sudah melamar langsung Adila pada keluarganya. Ingin memberi tahu Adila secepatnya tentang Gadis juga tidak mungkin. Pasalnya dia belum siap untuk membicarakan hal ini dengan sang Papi, dia masih memikirkan cara yang tepat untuk menaklukan Papinya itu.
Satria tahu, ini sangat sulit. Itu sebabnya, dia tak mau gegabah mengambil keputusan yang mungkin saja akan merusak hubungannya dengan sang Papi nantinya.
"Sial!!!" Batin Satria yang kesal karena apa yang dia baca jadi tak masuk lagi, kerena pikirannya mulai kacau sekarang.
"Hmm, maaf. kita akhiri dulu pertemuan ini. Lakukan saja seperti yang saya ucapkan tadi, lebih dan kurangnya bisa kalian tanyakan lagi nanti. Dan tolong kirim semua perbaikannya ke email saja." Ucap Satria mengakhiri pertemuan mereka, karena jika di teruskan juga percuma dengan dia yang tak fokus sekarang.
"Baik Pak, kalau gitu kami permisi."
Setelah kepergian orang-orang itu, Satria pun mendekati Gadis.
"Sayang." Panggil Satria sambil mengangkat dagu Gadis untuk menatapnya.
"Eh ya Om." Saat Gadis menatap Satria, pria itu langsung mencium Gadis saat dia mendengar pintu ruangannya yang terbuka.
Gadis yang tadinya ingin menikmati jadi terhenti saat dia mendengar pintu yang di buka.
Namun saat dia hendak melepas diri, Satria malah menahannya.
"Satria." Ucap Seseorang, membuat Satria tersenyum dalam aktifitasnya, setelah itu dia pun melepas Gadis..
"Manis." Ucap Satria dan mengusap bibir Gadis.
__ADS_1
Sementara Gadis nampak tak berekspresi apapun, wajahnya hanya datar saja.
"Sat." Panggil orang itu lagi hingga membuat Satria membalikan tubuhnya menghadap Orang itu.
"Ya Dil, ada apa?" Tanya Satria tanpa dosanya.
"Maksud kamu apa? apa kamu mau membalas ku." Ucap Adila dengan marahnya, wanita itu bahkan menatap tajam Gadis yang nampak biasa saja. Tak peduli dengan situasi aneh di depannya kini.
"Untuk apa aku membalas mu, dia kekasihmu dan ini juga kekasihku. Jadi, menyerah saja Dil. Nggak baik dengan hubungan yang di paksakan." Ucap Satria membuat Gadis langsung menatapnya.
"Maaf aku permisi." Ucap Gadis, dia tak mau ada di antara dua pasangan itu.
"Sayang." Cegah Satria sambil memegang lengan Gadis.
"Temui aku jika sudah selesai." Ucap Gadis dan dia langsung melepas pelan tangan Satria yang menahan lengannya.
Gadis pun pergi di bawah tatapan kedua orang itu, nampak setetes air mata yang jatuh dan dengan buru-buru dia langsung menghapusnya.
***
"Mengertilah Dil, aku nggak bisa mencintai siapapun lagi selain Gadis." Ucap Satria di akhir penjelasannya.
"Tapi kita sudah di jodohkan Sat, aku bahkan sudah memutuskan hubungan dengan pacarku. Dan maaf untuk hari itu, itu hanya ciuman perpisahan kami." Kata Adila, sebab kejadian ciumannya dengan Sang pacar di lihat langsung oleh Satria, membuat pria itu sulit di temui nya beberapa hari ini.
"Aku tak mempermasalahkan soal itu, tapi maaf aku akan membicarakan ini dengan Papi. Dan mengenai perjodohan kita, itu bukan mau ku. Kamu bisa kembali dengan pacarmu, maaf sudah hadir di antara kalian." Ucap Satria.
Sebenarnya sebelum bertemu Gadis, Satria hampir menerima Adila. Namun setelah melihat langsung wanita itu berciuman dengan pria lain. Satria langsung mengurungkan niatnya itu, di tambah lagi ketika itu dia di pertemukan kembali dengan Gadis saat itu. Gadis yang belum bisa dia lupakan, gadis yang masih sepenuhnya menyandra hatinya.
"Sampai kapanpun aku nggak bakalan menghentikan perjodohan ini Sat. Jika aku tak bisa memilikimu, jangan harap wanita itu juga bisa memilikimu." Ucap Adila dengan amarahnya dan setelah itu dia langsung beranjak pergi dari ruangan Satria.
"Tak akan aku biarkan niatmu itu terkabulkan Dila." Teriak Satria tak peduli di dengar Adila atau tidak.
Usai itu, Satria langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi Gadis. Dia sedikit kepikiran dengan Gadisnya itu, takut dengan tingkahnya tadi membuat Gadis merasa dirinya direndahkan dengan ulahnya tadi mencium Gadis di depan Adila.
__ADS_1
Tapi memang itu sengaja dia lakukan, agar Adila kecewa dan memutuskan untuk menyudahi perjodohan mereka. Namun apa yang dia dapat, wanita itu malah tak mau perjodohan mereka di hentikan.
"Kenapa nggak di angkat sih." Kesal Satria karena sampai panggilan ke tiga Gadis tak kunjung mengangkat panggilannya.
Trig..
Bunyi pesan masuk di ponsel Satria dan dengan cepat pria itu melihatnya
^^^"Om, aku sudah balik ke kampus."^^^
^^^Bunyi pesan yang di kirimkan Gadis.^^^
Tanpa membalas, Satria langsung kembali membuat panggilan untuk Gadis, namun tetap panggilannya tak di terima gadis itu.
"Ah apa dia marah padaku, sial!!!! Maafkan aku sayang." Sesal Satria dengan menjambak rambutnya frustasi ketika Gadis tak kunjung menghiraukan panggilannya itu.
Belum lagi dia merasa tenang, kini ponselnya berdering dan menampakan id name sang Papi. Dan dia yakin panggilan Papinya ini ada hubungannya dengan Adila tadi.
"Sial, ini pasti ulah wanita itu. Cepat sekali dia mengadunya." Ucap Satria kesal sendiri.
Belum juga dia menyelesaikan masalahnya dengan Gadis, kini dia sudah harus di hadapkan dengan sang Papi yang pasti sudah mendapatkan kabar tentang Gadis dari Adila.
Dengan tak bersemangat, Satria pun mengangkat panggilan Papinya yang sudah dia abaikan beberapa saat.
"Halo Pi."
"Apa kamu masih berhubungan dengan anak dari wanita mu***** itu Satria." Ucap Papi Darma penuh penekanan membuat Satria langsung menghembuskan nafasnya perlahan.
"Dia benar-benar memberitahu Papi." Batin Satria sambil memijit pelipisnya pening, sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan dari Papi Darma.
"Ya Pi, maafkan Satria. Satria mencintainya Pi." Ucap Satria pasrah dengan apa yang akan terjadi kedepannya, dia sudah tak peduli lagi. Yang dia pikirkan sekarang, bagaimana caranya dia mepertahankan Gadis. Dia tak akan pernah meninggalkan gadis itu untuk kedua kalinya lagi, cukup sudah dia menyakiti gadis itu. Tidak lagi.
"Tinggalkan dia, atau kau jangan menganggap Papi sebagai Papi mu lagi Satria. Tinggalkan dia, jangan mengecewakan Papi. Kau sudah di jodohkan, ingat itu Satria." Kata Papi Darma tegas.
__ADS_1
"Maaf Pi, Satria tak bisa meninggalkan Gadis lagi." Ucap Satria.