
............🌹Happy Reading🌹 ...........
"Sayang, mana temanmu? Kenapa ketemuan di sini?" Tanya Satria ketika keduanya telah sampai di salah satu tokoh furniture perabotan lengkap isi rumah yang cukup besar dengan gedung berdiri sendiri.
"Hay cantik." Kata seseorang dari arah belakang Satria juga Gadis membuat keduanya langsung berbalik. Satria langsung menampilkan wajah marahnya ketika orang itu memanggil cantik untuk Gadis.
"Kau memanggil istri saya?" Tanya Satria dengan emosi yang sudah nampak memuncak, membuat Gadis menghembuskan nafasnya pelan. Sementara orang itu menatap tanya pada Gadis.
"Sayang, hey ini temanku yang akan kita temui." Kata Gadis sengaja menyebutkan kata sayang andalannya agar bisa mengontrol sang suami.
"Tapi dia menggoda mu sayang, aku nggak terima. Dan lagi kenapa tidak katakan kalau yang mau kita temui ini seorang pria." Kata Satria sedikit emosi. "Mana tampan lagi, kan berlipat kali emosi aku jadinya" lanjut batin Satria menatap Pria itu.
"Sabar sayang, kan kamu nggak nanya. Kita di lihatin orang ini lo." Mencoba menenangkan Satria, Gadis sengaja berbicara selembut mungkin untuk menghadapi suami super posesif dan emosiannya itu.
"Baiklah, cepat jelasin yang." Kata Satria pasrah, luluh dengan ucapan Gadis. Di tambah lagi kini mereka jadi bahan perhatian karena suaranya yang cukup besar mengundang perhatian para pengunjung tokoh itu.
"Oke, ini kenalin sayang. Shadil, tetangga apartemen aku semasa kuliah dulu. Dan yah dia orang yang selalu ada di saat aku butuh, dia selalu membantu aku ketika aku butuh bantuan."
Mendengar itu, Satria sedikit merasa lega. Namun ada sedikit kekhawatiran di benaknya dengan kedekatan mereka. Bukan tidak mempercayai Gadis, hanya saja dia tak mempercayai pria manapun termasuk pria di depannya saat ini karena dia takut istrinya di cintai pria manapun meski itu adalah hal yang mustahil mengingat betapa sempurnanya wanita yang sudah berstatus resmi miliknya itu. Itu adalah ketakutan terbesarnya saat ini, ketakutan konyol tentunya.
"Jadi?" Tanya Satria tanpa mau basi-basi. Gadis yang tahu arah pertanyaan Satria tanpa di jabarkan pun akhirnya menjelaskan.
"Jadi gini sayang, tujuan kita ketemu Shadil di sini itu aku mau pesan perabotan dari dia. Dari pada kita pesan di yang lain kan, mending di tempat teman. Bagaimana?"
"Oh gitu. Ya udah sekarang saja lihat barangnya." Kata Satria membuat Gadis hanya tersenyum menyikapi suami super cemburuan nya itu.
"Ayo aku temenin." Kata Shadil, dan selanjutnya mereka pun di bantu Shadil memilih barang yang terbaik rekomen pria itu tanpa ada perkenalan atara Satria dan Shadil tentunya.
__ADS_1
Hari Berikutnya...
Barang yang di pesan kedua pasangan suami istri baru itu pun sudah tertata rapi oleh pihak dari tokoh selama hampir setengah hari, hari ini.
"Cantik." Kata Satria saat baru bergabung dengan Gadis yang nampak duduk santai di ruang keluarga mereka yang setelah dirinya pulang kampus dan melihat keadaan rumah sudah lebih berisi.
"Aku atau perabotannya?" Tanya Gadis jahil.
"Perabotannya, tapi kalau kamu cantiknya spesial." Ucap Satria dan langsung mengangkat tubuh Gadis dan membawanya berjalan menuju ke kamar mereka di lantai atas.
"Om, aku berat loh. Kamu kan capek." Kata Gadis sembari mengeratkan lengannya di leher Satria.
"Tapi kok nggak berasa? Aku mau kamu temani mandi yah, dan kapan tamu tak di undang itu pergi yang. Aku kangen, empat tahun aku puasa yang. Kamu ngerti kan?" Kata Satria jujur, sembari membuka kamar mereka dengan di bantu Gadis.
"Hahahaha, jangan gitu yang. Biar nggak di undang tapi kalau nggak datang semua cewe di muka bumi ini pasti ngeluh lo, gelisah, galau merana menanti kedatangannya. Jadi syukuri saja, dan beberapa hari lagi udah pamit kok. Sabar ya Om." kekeh Gadis melihat wajah lesu Satria yang nampak sangat menyedihkan karena pria itu tak menutupinya sama sekali saat mengatakan hal itu pada Gadis.
Bagaimana tidak, Tadi Larissa berkunjung ke perusahaannya dengan dalil kerja sama mereka. Membahas sesuatu yang membuat otaknya mumet dengan tingkah J@langnya wanita itu. Untung saja ada Titan yang menyadarkan dirinya, kalau tidak sudah di cek kik m@ti wanita satu itu. Membuat mood mengajarnya tadi sangat buruk karena wanita itu. Untung saja saat pulang, dia selalu di suguhkan dengan Gadis bidadari rumahnya itu, kalau tidak mungkin dia adalah pria tak beruntung sejagad raya menghadapi kenyataan hidup yang selalu di hantui w@nita tak tahu diri.
"Mau bagaimana lagi, ini aku udah paling sabar yang. Oh iya, putri kita dimana? aku tak melihatnya." Ucap Satria yang sedikit mengalihkan pembicaraan ketika sesuatu dalam dirinya mulai tak w@ras memikirkan tubuh indah sang istri yang belum bisa dia jelajahi itu.
"Lagi di rumah Aunty nya, di jemput Sama Sky dan Dady nya tadi seperti biasa." Jelas Gadis sembari membantu membuka kemeja Satria yang kini nampak sedang memangkunya di kursi depan ranjang mereka.
"Kenapa sekarang mereka terus membawa Cila sih, aku kan juga kangen." Kata Satria yang menurut Gadis begitu lebay.
"Is Om, baru juga hari ini mereka bawa Cila Om." Kekeh Gadis tak habis pikir dengan suaminya itu.
"Baru hari ini gimana yang, kemarin juga seharian full Cila bersama mereka." Kata Satria.
__ADS_1
"Hahaha, iya iya. Ini jadi mandi atau tidak?" Ucap Gadis mengalihkan pembicaraan sebelum Satria kembali banyak bertingkah.
"Jadi sayang." Lepas mengatakan Itu Satria kembali menggendong Gadis dan membawanya ke arah kamar mandi mereka.
...****************...
"Alex." Panggil Larissa pada pria itu saat dirinya baru saja pulang dan melihat Alex dengan seorang wanita yang sedang beradegan intim di kamar tidur mereka.
"Kenapa? Jangan menggangguku Larissa." Kata Alex sembari terus menikmati tubuh seorang wanita yang sedang di tindihnya saat ini.
Menghembuskan nafasnya pelan, Larissa pun memilih langsung kembali keluar dari ruangan itu tanpa berucap lagi.
Alex yang melihat itu tak terlalu ambil pusing, ini sudah biasa bagi mereka. Dan dia pun sudah biasa melihat Larissa yang melakukan hal yang sama sepertinya sekarang. Mereka sama-sama selalu menjadikan tubuh mereka sebagai ajang memperlancar bisnis mereka bagaimanapun caranya. Dan cara ini adalah pilihan Alex dan juga harus di jalankan Larissa sebagai istrinya tentunya. Hal ini pun sudah di sadari Larissa sebelum memutuskan mereka melangsungkan pernikahan.
"Hidup macam apa ini Larissa." Lirih Larissa berjalan gontai ke arah kamar yang berada tepat di sebelah kamar pribadi dirinya dan Alex yang kini sedang di gunakan suaminya untuk melayani rekan bisnis mereka itu.
"Aku harus mendapatkan kembali kamu Satria, aku capek dengan kehidupanku ini. Ini menyiksaku." Lanjut Larissa lagi sambil duduk pada ranjang kemudian menekuk kakinya, dan tak terasa air matanya pun melaju begitu saja meratapi nasib hidupnya yang sungguh tak w@ras jika di pikir logika.
Hingga beberapa saat puas dengan tangisannya, Larissa pun mengangkat wajahnya dan mengusap kasar air matanya.
"Kita akan kembali Satria, bagaimanapun caranya." Kata Larissa lagi dengan senyum miringnya.
Hay hay hay Readers nya Author yang masih setia di lapak Author ini, Author hanya mau kasih tahu bahwa ini udah mau di penghujung cerita SATRIA untuk tamat yah. Semoga masih mau melanjutkan membaca yah, dan terima kasih buat yang masih bertahan. Author ucapin banyak banyak terima kasih. Dan maaf untuk Up yang udah mulai jarang ini.
Sekalian sedikit promo nih, yang berkenan jangan lupa mampir yah di ceria baru Author. Kalian pasti geregetan dengan ceritanya, coba deh baca dulu biar tahu alurnya. Nggak akan banyak Bab sampai lima puluhan ke atas, karena Author buat Bab nya hanya terbatas. Jangan lupa mampir yah di cerita ini My Fault Too 🥰 terima kasih.
...****************...
__ADS_1
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...