SATRIA

SATRIA
Bab 49


__ADS_3

"Sayang, kau membasahi bajuku." Ucap Satria mengagetkan Gadis.


"Eh, Om." Kaget Gadis sambil menjauhkan dirinya dari Satria sambil membelakangi pria itu karena malu di kepergok.


Dia begitu terkejut saat mendengar ucapan Satria yang dia pikir sedang tertidur itu.


Dengan malu Gadis menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan tangis yang belum juga redah walau dalam keadaan malu sekarang ini.


Sementara Satria dia langsung merebahkan perlahan tubuh Arsyila di sofa singgel yang cukup besar di samping dirinya. Setelahnya dia langsung menatap tubuh bergetar Wanitanya itu.


Dengan perlahan dia mendekati Gadis dan direngkuhnya tubuh yang nampak sedikit berisi dari sebelumnya itu, dan membawa tubuh itu dalam pangkuannya namun masih dengan Gadis yang membelakanginya.


Namun perlakuannya itu justru membuat tangis Gadis makin menjadi. Hingga membuatnya sedikit panik jika suara tangis Gadis akan mengusik tidurnya Arsyila.


"Putri kita bisa terbangun sayang." Ucap Satria yang sedikit tekekeh dengan tingkah Gadis, walau dia juga kini dalam tangis yang sama seperti wanita itu.


Dengan pelan Satria berdiri setelah tadi membalikan tubuh Gadis menghadapnya, agar muda dia bawah dalam gendongannya. Dia berniat membawa Gadis ke kamarnya agar obrolan mereka tak akan mengganggu tidur Arsyila putri mereka.


Namun sebelum itu, dia menyangga sofa yang di tiduri Arsyila ke sofa yang lainnya agar putrinya itu tak akan terjatuh ketika berguling nantinya.


Dengan perlahan Satria membawa Gadis menuju kamarnya.


"Sepertinya aku harus mengganti bajuku setelah ini sayang." Ucap Satria sengaja membuat Gadis agar tertawa, namun ternyata usahanya itu tak berhasil. Gadis tetap dengan tangisnya.


"Baiklah, lanjutkan saja kalau gitu." Ucap Satria sambil memasuki kamarnya yang memang sudah terbuka lebar saat dia meniduri Arsyila tadi.


dia berjalan ke arah tempat tidurnya, setelah tadi menutup pintu kamarnya agar suara keduanya tak terdengar sampai luar kamar.


"Sayang, turun sebentar." Pinta Satria saat keduanya sudah di depan tempat tidur. Namun Gadis menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Jangan lepas, aku mau seperti ini." Lirih Gadis sambil mengeratkan pelukan tangannya di leher Satria. Dia merasa memerlukan dekapan Satria lebih lama lagi, mencoba mengganti empat tahun yang sudah dia lewati tanpa pelukan dari pria itu.


Mendengar itu seketika senyum Satria terukir indah di wajah tampannya. Dia pun beralih menuju sofa di sudut ruangan itu dan menjatuhkan bokongnya perlahan di sana sambil memperbaiki kaki Gadis agar merasa nyaman.


"Sayang." Panggil Satria sambil mengusap sayang punggung Gadis.


"Gadis kangen Om." Lirih Gadis sambil menghapus air matanya.


"Benarkah?" Tanya Satria dan Gadis hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau kangen tatap aku dong, aku juga kangen tahu." Pinta Satria yang sudah redah tangisnya. membuat Gadis mengangkat kepalanya menatap Satria.


Satria langsung mengangkat tangannya dan menghapus air mata wanita itu.


"Keluarkan." Ucap Satria setelah menarik bajunya dan memposisikan nya ke arah hidung Gadis, mencoba membersihkan hidung Gadis yang penuh cairan akibat tangisnya.


Dengan patuh Gadis menuruti perintahnya.


"Om yang minta tadi." Sahut Gadis membuat Satria terkekeh melihat wajah cemberut Gadis..


"Jangan nangis lagi yah, nanti matanya nggak kelihatan." Ucap Satria demi memperbaiki mood Gadis.


"Biarin." Sahut Gadis sambil kembali memeluk Satria. Dia membenamkan wajahnya ci ceruk leher Satria demi menghirup aroma tubuh yang sangat dia rindukan beberapa tahun ini.


"Gadis kangen Om, sungguh. Gadis tak tahu berjauhan dengan om begitu sangat menyiksa." Lirih Gadis mengulang ucapan kangennya lagi sakin kangennya wanita itu pada Satria yang kini bisa dia peluk lagi.


"Aku lebih kangen dirimu sayang, sangat-sangat rindu dirimu. Kamu tak tahu saja, aku bagaimana empat tahun ini tanpa kamu." Ucap Satria sambil mengencangkan dan menggoyangkan tubuh Gadis dalam dekapannya ketika mengingat masa-masa dirinya tanpa Gadis.


Hingga beberapa saat mereka hanya salin memeluk sampai dimana Gadis yang merenggangkan pelukan mereka.

__ADS_1


Wanita itu napak menatap dirinya dengan tanpa suara, dan Satria membiarkan itu. Keduanya kini menatap tanpa suara, seolah ingin membayar pandangan mereka yang tak saling melihat sekian lamanya. Hingga Gadis tiba-tiba mendaratkan ciumannya di seluruh wajah Satria dengan air mata yang kembali terjatuh.


Mulai dari pipi kiri kanan Satria, berlanjut pada kening juga dua mata Satria dan tak lupa hidung pria itu baru Gadis kembali menatap wajah Satria lagi yang masih nampak memejamkan matanya karena di kecup wanita itu tadi.


Hingga beberapa saat tak ada lagi pergerakan Gadis Satria pun membuka matanya yang langsung menatap tepat di mata Gadis.


"Ini belum." Spontan Satria memonyongkan bibirnya meminta jatah bagian itu yang Gadis lewatkan.


"Nggak, nanti khilaf." Sahut jujur Gadis sambil menghapus jejak air matanya, sebab dia takut tak bisa melepas ciuman pria itu karena dia pun cukup merindukan bibir pria itu. Yang bisa saja mereka tak bisa mengontrol diri, apa lagi mereka pernah melakukan jauh dari sekedar ciuman..


"Maaf." Ucap Satria dan dia langsung menarik tengkuk Gadis untuk di kecup nya. Dia tak tahan lagi, menahan rindu terhadap Gadis. Biarlah ciuman ini sebagai tanda bahagianya bertemu lagi wanita itu setelah sekian lama terpisah.


Gadis yang memang juga merindukan Satria, kini mengikuti permainan pria itu. Membalas semua yang Satria lakukan padanya dengan begitu handal hingga Satria langsung melepaskan bibirnya. Membuat Gadis berdecak protes.


"Kenapa?" Tanya Gadis saat Satria melepas ciuman mereka.


"Apa ada pria lain setelah tak bersama denganku Gadis?" Tanya Satria, karena dia merasa Gadis sudah cukup lincah membalas ciumannya tak seperti dulu ketika dia yang selalu memegang kendali atas Gadis. Walau dia senang dengan kemajuan ciuman Gadis, namun dia sedikit menaruh curiga pada kelincahan wanita itu.


"Aku terlalu murahan untuk bersanding dengan pria lain setelah memberikan kesucian ku padamu Om. Kalau kamu mempermasalahkan keahlian ku dalam berciuman kini, salahkan saja dirimu. Semua ini karena mu, aku belajar semuanya darimu. Setelah empat tahun lamanya aku baru menyadari betapa bodohnya aku tak mempraktekan langsung ketika aku masih di beri kesempatan kala itu bersama dirimu." Jelas Gadis panjang lebar, dia tahu Satria menaruh curiga padanya dengan balasan ciumannya tadi.


Dulu, dia selalu belajar dari semua ciumannya dengan Satria ketika mereka bersama. Hanya saja dia takut untuk melakukannya, karena terlalu malu melakukan itu. Dan sekarang dia tak bisa lagi untuk menutupi pelajaran yang sudah dia kuasai ketika mereka masih bersama dulu. Di tambah lagi kerinduannya dengan pria itu hingga dia sulit untuk mengontrol dirinya. Walau dia sudah sadari itu akan menjadi tanda tanya oleh pria itu nantinya.


Mendengar itu, Satria langsung merasa lega dan hendak kembali mendaratkan ciumannya namun di tahan Gadis.


"Jangan lagi, udah nggak mood." Sahut Gadis sambil menahan bibir Satria dengan telapak tangannya.


"Mau peluk saja." lanjut Gadis sambil memeluk kembali Satria.


"Tapi.."

__ADS_1


"Nggak pakai tapi tapian." Sahut Gadis, karena dia sedikit kesal pria itu malah mempertanyakan dirinya.


__ADS_2