
............Happy reading🌹 ...........
"Apa itu putrimu, apa dia cucuku?" Tanya Papi Darma tanpa basa-basi, beliau seakan melihat wajah Melodi dan Satria kecil ada di bocah yang di gendong Satria walau hanya melihat dari samping wajah sang bocah. Apalagi tadi, bocah kecil itu memanggil Satria dengan sebutan Dady. Makah bertambah pula keyakinannya jika itu adalah benar putri dari sang putra.
Sementara Mami Eka. Beliau menatap berbinar bocah lucu perempuan itu, yang beliau pastikan itu benar adalah putri Satria tanpa putranya itu menjelaskan jika itu adalah benar cucunya.
Tanpa aba-aba, Mami Eka langsung mendekati Satria dan meminta untuk menggendong bocah itu.
"Boleh Mami gendong?" Ucap Mami Eka sambil menatap Satria dan Arsyila bergantian.
"Tentu, dia cucu Mami dan Papi. Dia Putriku, putri kandungku bersama Gadis. Mami boleh menggendongnya." Sahut Satria, senang Maminya langsung menerima Arsyila tanpa dia minta.
"Ini Oma Mami sayang, mau yah sama Oma." Ucap Mami Eka membuka tangannya meminta Arsyila agar mengikutinya.
"Mami." Ucap Arsyila menatap Gadis, seolah dia meminta pendapat sang Mami. Dan Gadis langsung menganggukkan kepalanya, sambil menahan laju air matanya karena sang anak dengan mudahnya bisa di terima di keluarga ini. Keluarga yang dulu menolaknya.
Arsyila pun langsung menyambut tangan Mami Eka, eyangnya itu dengan senyum. Namun matanya tak lepas menatap Mami Eka yang juga menatapnya berbinar..
"Uuuu, lucunya kamu nak. Papi lihatlah wajahnya fotocopy mentah-mentah Melodi, coba kalau pria pasti mirip banget sama Satria ini mah." Ucap Mami Eka sambil membawa Arsyila mendekat kepada suaminya.
Entah kenapa, beliau begitu bahagia dengan melihat bocah itu. Serasa beliau kembali ke beberapa puluh tahun silam ketika Satria juga Melodi masih kecil dulu. Kedua putra putri mereka itu sangatlah mirip, beruntung keduanya berlainan jenis dan berbeda usia. Dan kini semua itu turun pada bocah yang beliau gendong sekarang.
Mami Eka sampai lupa jika Ada Mami bocah itu sakin fokusnya tertuju pada Arsyila sang cucu.
"Siapa namamu sayang?" Kali ini Papi Darma yang membuka suara.
"Acila, pandil aja Cila." Ucap Arsyila tanpa merasa canggung atau malu dengan orang baru yang dia temui itu.
__ADS_1
"Uuuh, cantik sekali sih namanya. Sama seperi orangnya ini. Iya kan Pi, maksud Oma Iya kan Opa?" Ucap Mami Eka sembari mencium gemas Arsyila.
"Iya Mi, cantik sekali. Persis seperti Melodi dan Satria kecil. Dan untuk kalian berdua, mau sampai kapan kalian berdiri di situ?" Ucap Papi Darma tanpa melihat ke arah belakang, dimana Satria juga Gadis masih berdiri di tempat yang sama.
Sakin terharunya penerimaan Papi Darma juga Mami Eka atas Arsyila, membuat Satria juga Gadis hanya bisa berucap syukur sambil melihat adegan pertemuan cucu dan Oma Opanya itu.
"Ayo sayang." Ajak Satria pada Gadis dan keduanya pun langsung melangkah untuk bergabung duduk di hadapan Papi Mami Satria.
"Apa kamu juga baru tahu tentang Putrimu ini?" Tanya Papi Darma, karena setahunya baru saja mereka balik dari apartemen Satria kemarin yang masih dalam keadaan terpuruk. Namun sekarang dia sudah di hadapan mereka dengan satu cucu yang cukup mengejutkan mereka ini.
"Yah, aku juga baru mengetahuinya. Itu sebabnya aku membawa mereka ketemu Mami Papi, sekalian aku ingin meminta restu menikahi Gadis. Aku tak peduli Mami sama Papi merestui kami atau tidak, aku akan tetap menikahi Gadis." Jelas Satria.
"Ck Kamu ini mau meminta restu atau mau mengancam kami. Aturan orang kalau meminta restu itu, yah yang sopan. Ini malah langsung mengancam." Decak sebal Papi Darma mendengar penuturan Satria yang meminta restu tapi malah langsung dengan pendapatnya sendiri.
"Yah, itu karena aku nggak mau lagi kalian menolak Gadis. Dia sudah melahirkan keturunan di keluarga ini, dan lagi aku nggak bisa hidup tanpanya. Kalian sangat tahu itu." Ucap Satria sembari dirinya merangkul Gadis yang sejak tadi menundukkan pandangannya.
"Mami sudah katakan bukan, jika Papi mu sudah merestui kalian waktu di apartemen mu kemarin bukan. Apa kamu lupa?" Ucap Mami mengingatkan putranya itu.
"Hmm, lalu kapan kalian akan menikah?" Tanya Balik Papi Darma membuat Gadis langsung mengangkat pandangannya menatap Papi Darma, namun saat matanya bertemu dengan Papi Darma. Papinya Satria itu langsung memutuskan pandangannya, membuat Gadis langsung menciut hatinya..
"Aku ikhlas jika mereka tak menginginkan aku Tuhan. Tapi tolong jangan pisahkan aku dengan Satria lagi." Batin Gadis, menahan sakit melihat sikap Papinya Satria itu.
Papi Darma masih belum memaafkan keluarga Gadis, namun demi kebahagiaan Satria. Beliau menahan egonya itu. Apalagi kini ada penerus Satria yang terlahir dari rahim wanita yang putranya itu sayangi, sekalipun beliau membenci orang tuanya. Tapi keturunan tetaplah keturunan, beliau bahkan langsung menyukai bocah kecil itu karena sakin sama rupanya dengan kedua anaknya itu.
"Baiklah, segerakan saja. Kamu urus semuanya segera, biar Cila resmi masuk keluarga kita." Ucap Papi Darma, lagi-lagi beliau tak melihat ke arah Satria juga Gadis.
Dan Satria Menyadarinya. Bahkan tadi sikap Papinya pada Gadis pun dia menyadarinya, dan dia tak pusingkan itu. Setidaknya mereka merestui pernikahan mereka itu sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
"Tentu itu Pi, aku sudah mengurus semuanya. Gadis sudah terlalu lama sakit, karena ulahku." Ucap Satria, sengaja menyindir sang Papi.
"Apa kalian tak ingin menyapa calon istriku." Ucap Satria tak tega sejak tadi, Gadis tak di anggap kedua orang tuanya..
"Kami harus apa, dia harus bersyukur kami sudah merestuinya. Lalu apa lagi." Ucap Papi Darma jujur, beliau tak bisa bersandiwara jika memang beliau tak suka.
"Papi.." Satria hendak memprotes sang Papi Namun dengan segara Gadis menahan tangannya, meminta agar Satria tak membantah Papinya. Tak mengapa dia di abaikan, dia cukup bahagia sudah di restui. Itu lebih dari cukup untuknya.
"Hmm. Ya sudah, Mi Pi kami istirahat dulu." Ucap Satria, dia sengaja ingin membawa Gadis ke kamarnya agar bisa menghindari gadisnya itu dari kesedihannya yang tak di anggap kedua orang tuanya itu.
"Cila Sayang, mau ikut Dady tidak?" Tanya Satria lembut pada ssng putri.
"Kenapa mau membawa Cila juga?" Tegur Mami Eka, masih betah bersama Arsyila.
Namun sayang, Arsyila langsung turun dari pangkuan Mami Eka dan menuju Satria.
Mami Eka pun langsung mengikuti Arsyila yang sudah di gendongan Satria.
"Cila nggak mau yah sama Oma?" Ucap Mami Eka sembari beliau mengusap kepala Arsyila sayang.
"Cila mau tama Dady, Oma."
"Ya udah, istirahat yah.. Nanti kita main lagi." Ucap Mami Eka.
Sebenarnya Papi Darma pun masih belum puas melihat cucunya itu, namun egonya terlalu tinggi jika harus meminta di hadapan Gadis untuk Arsyila bersama mereka dulu.
"Terima kasih yah, sudah melahirkan cucu cantik untuk Mami. Dan Maafkan kami, kau pasti menderita selama ini. Sekali lagi Mami minta Maaf." Bisik Mami Eka pelan di samping Gadis sebelum beliau kembali di sisi Papi Darma.
__ADS_1
...Jangan lupa like komennya yah🥰...
...Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗...