SATRIA

SATRIA
Bab 43


__ADS_3

Drett


Drett


Drett


"Sayang, maafkan aku." Ucap Satria lagi sambil tambah memeluk erat Gadis


"Angkat dulu ponselnya Om." Ucap Gadis melihat ponsel Satria yang nampak terus berdering.


"Nggak, biarkan saja. Tolong maafin aku Dis, maafin aku sayang." Ucap Satria tak mau mereka di ganggu.


Dengan cepat Gadis langsung mengambil ponsel Satria yang tak jauh dari jangkawan nya itu dan mengangkatnya.


"Om." Ucap Gadis seketika saat sudah mendengar penuturan orang di balik telfon yang kini sudah langsung di akhiri penelpon itu.


"Siapa?" Tanya Satria yang melihat raut tegang Gadis.


"Itu Om, suami kak Melodi kecelakaan. Mereka sedang di rumah sakit sekarang."


"Apa!!!" Kaget Satria, dan dia kembali menelfon orang itu.


Usai menelfon, Satria pun langsung bergegas untuk pergi.


"Sayang, kamu ikut yah." Ucap Satria dengan nada memohon.


"Tapi.."


"Papi sudah tahu hubungan kita sayang." Jelas Satria namun dengan nada penuh mohon.


Gadis mendengar itu sedikit terkejut, karena bagaimana mungkin Papinya Satria bisa tahu. Sementara dia belum di beritahu Satria sebelumnya. Ingin bertanya lebih, namun karena situasi yang tak memungkinkan akhirnya Gadis pun menundanya.


"Baiklah." Sahut Gadis, dan keduanya pun langsung bergegas pergi menuju rumah sakit dimana Rizki di tangani.


"Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Satria tak henti-hentinya mencemaskan sang Adik yang tentunya pasti terpukul dengan musibah yang di alami suaminya.


"Kamu harus kuat dek, Abang yakin suamimu akan baik-baik saja." Gumam Satria namun masih bisa di dengar Gadis..


"Om awas." Ucap Gadis terkejut saat Satria hendak menabrak orang yang hendak menyeberang jalan.


Sementara Satria langsung menghentikan mobilnya seketika, untung saja orang itu berhasil menghindar.


Gadis dengan cepat keluar melihat orang itu, sekaligus mengucapkan maafnya.


"Turun Om, biar aku yang nyetir." Ucap Gadis saat membuka pintu mobil Satria.

__ADS_1


"Apa nggak papa?" Tanya Satria yang menerima tawaran Gadis karena memang dia nampak tak fokus sekarang, pikirannya kini lagi terbagi kemana-mana.


"Yah Om, buruan biar kita cepat nyampenya." Ucap Gadis dan di turuti Satria.


"Makasih sayang." Ucap Satria saat turun dan mengusap kepala Gadis sayang.


"Hmm."


Mereka pun berganti posisi dengan kini Gadis yang menyetir.


setelah beberapa menit di perjalanan kini tibalah mereka di rumah sakit.


Satria dengan cepat keluar mobi dan berjalan ke sisi Gadis. Membukakan pintu untuk gadisnya itu lalu menggenggam tangan Gadis dan membawa gadis itu masuk bersamanya.


Sementara Gadis hanya menurut saja, walau di hatinya nampak sedikit khawatir bertemu dengan Papi juga Maminya Satria.


"Mami." Panggil Satria.


"Satria." Kejut Mami Eka saat melihat putranya itu datang bersama Gadis mantan calon menantunya itu.


Mami eka nampak menatap ke arah tangan Satria dan Gadis yang saling menautkan.


"Jadi benar yang di katakan Papi." Batin Mami Eka saat mengingat kembali saat Papi Darma mengatakan jika anak laki-laki mereka itu sudah jadi pembangkang sekarang.


"Tante." Sapa Gadis dengan pelan, ada rasa was-was yang menghinggapinya. Selain itu rasa malu pun ikut mendominasi, sebab dia merasa sudah seperti perempuan yang tak tahu malu padahal sudah di tolak jelas oleh keluarga itu.


"Ya nak, kalian cepatlah ke ruang operasi. Rizki sudah mendapatkan pendonornya." Ucap Mami Eka seperti menghindari obrolan lanjutan dengan Gadis, dan gadis itupun merasakannya.


"Baiklah Mi, Melodi mana?" Kali ini Satria yang bersuara, sebab dia melihat ada raut wajah tak suka dari sang Mami saat membalas sapaan Gadis.


"Dia sedang istirahat sebentar di ruangan. Tadi dia pingsang karena terlalu shock." Jawab Mami Eka cepat.


"Aku mau melihat Melodi dulu, kalian duluan saja ke ruangan operasinya Rizki. Nanti kami akan menyusul." Ucap Satria pada sahabat Adik-adiknya. Saga, Kanaya dan Mahesa yang tadi sempat bertemu dan masuk bersama-sama tadi.


"Baik Bang. Permisi Tante, Gadis." Ucap mereka bersamaan untuk pamit pergi.


"Sayang kamu masuk dulu temani Melodi, aku mau bicara sama Mami." Ucap Satria pada Gadis dan langsung di turuti gadis itu.


Setelah Gadis hilang di balik pintu ruangan Melodi, Mami Eka pun langsung membuka suaranya.


"Satria, apa kamu mau menjadi anak yang membangkan? Jelas-jelas Papi mu sudah melarang keras hubungan kalian, tapi kenapa kau melawannya Satria." Ucap Mami Eka nampak raut frustasi du wajahnya, sebab suaminya itu sudah mengatakan jika Satria lebih memilih Gadis di bandingkan Papinya sendiri.


"Mami, maafkan Satria. Satria nggak bisa tanpa Gadis Mi. Satria sangat menyayanginya Mi, tolong mengertilah." Ucap Satria menjelaskan.


"Mami." Panggil Melodi yang sedang di papah Gadis keluar ruangannya.

__ADS_1


Tadi saat Gadis masuk, ternyata bersamaan dengan Melodi yang baru membuka matanya dari pingsang nya tadi saat mendengar berita buruk suaminya itu. Dan wanita itu memaksa Gadis untuk mengantarnya ke ruangan Rizki Suami.


"Sayang, kamu kenapa keluar. Kamu masih belum sehat nak." Ucap Mami Eka dan langsung menghampiri Melodi mengambil alihnya dari tangan Gadis.


"Aku mau ketemu suamiku Mih." Lirih Melodi.


"Baiklah, ayo sayang."


Mereka pun langsung menuju ruang operasi Rizki bersamaan.


Sementara di depan ruang operasi kini semua sedang diam menunggu operasi di mulai. Karena sejak tadi ruangan itu masih seperti sedang menyiapkan sesuatu. Suster pun sesekali keluar masuk, entah apa yang mereka lakukan. Namun begitu, keluarga nampak tak bertanya sedikitpun. Hingga hampir satu jam menunggu akhirnya lampu di depan Ruang operasi pun menyala menandakan operasi mulai di mulai.


"Papi." Sapa Satria pada sang Papi namun Papi nya itu nampak menulikan pendengarannya mengabaikan panggilan Satria, hingga Gadis yang hendak ikut menyapa jadi dia urungkan niatnya itu.


"Om." Lirih Gadis sambil menggenggam erat legan Satria..


"Sabar ya sayang, mungkin saat ini Papi masih belum menerima kita. Tapi aku janji aku akan berusaha mendapatkan restunya untuk kita." Ucap Satria menenangkan Gadis sambil mencium puncak kepala Gadis lembut.


Sampai mereka menghabiskan waktu hampir delapan jam lamanya menunggu Rizki yang di operasi, selama itu pula kehadiran Satria dan Gadis di abaikan Papi Darma. Hingga sampai dimana mereka mendengar hasil dari Operasi itu berjalan lancar Satria pun akhirnya membawa Gadis pergi dari sana tanpa pamit lagi. Karena takut Jika Gadisnya itu akan di tolak sang Papi di hadapan banyak orang itu, dan itu tak baik bagi Gadis nantinya.


"Om." Panggil Gadis saat mobil yang di kendarai Gadis menuju arah apartemen Satria bukan ke arah rumahnya.


"Sayang, aku sudah kabari Bunda kalau kamu akan nginap di apartemen. Ini sudah terlalu malam untuk kamu pulang jam segini." Ucap Satria, dia memang sudah menyempatkan untuk memberi kabar Bunda Gadis sebelumnya saat tadi di rumah sakit.


***


"Sayang, kamu masih marah soal tadi. Aku benar-benar minta maaf. Apa ini sakit?" Tanya Satria yang tadi sempat melihat tanda merah pada pergelangan tangan Gadis yang mungkin tadi karena ulahnya.


Kini keduanya telah berada di apartemen Satria.


"Udah nggak." Ucap Gadis sambil menatap intens Satria.


"Maafkan aku yah, jangan menatapku seperti itu." Ucap Satria merasa aneh dengan tatapan Gadis untuknya itu.


"Om."


"Yah sayang."


"Apa Om mencintai aku?" Tanya Gadis.


"Bukan lagi sayang, kamu nafasku. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Kamu tahu, melihatmu di dekati pria lain. Nafasku terasa tak berfungsi dengan baik. Jangan pernah mempertanyakan itu lagi. Kamu lebih dari kata cinta untukku sayang." Jelas Satria dengan raut ketulusannya.


Mendengar itu Gadis jadi terbayang kembali ucapan Papi Satria ketika pria itu izin ke toilet saat di rumah sakit tadi.


"Jika kamu wanita baik, maka kamu tak akan membuat hubungan Ayah dan anak putus karena dirimu." Bisik Papi Satria terngiang kembali dalam pikirannya membuat Gadis menutup matanya dan membuang nafasnya perlahan.

__ADS_1


__ADS_2