
Usai dengan drama kembalinya hubungan Satria dan Gadis.
Kini Gadis sedang menunggu Satria yang sedang kedatangan tamu di ruangannya.
Tadinya Gadis ingin pergi, namun Satria menahannya dan alhasil dia pun menunggu dengan memainkan ponselnya di sofa dalam ruangan Satria. Sementara Satria sedang berbincang dengan Dosen tamunya itu.
Hanya sebentar saja mereka berbincang, karena memang Satria harus mengajar sebentar lagi.
"Baiklah nanti saya kirim ke email Bapak saja." Ucap orang itu.
"Iya. Terima kasih." Ucap Satria tanpa mau berbasa-basi lagi.
Dan setelahnya Dosen itu pun pamit pergi, tak lupa juga Gadis menyapa saat datang dan pamitnya Dosen itu.
"Om kenapa bicaranya Dingin gitu, kasihan tahu ibunya sampai pucat gitu bicara sama Om." Tanya Gadis ketika di ruangan tinggal mereka berdua dan Satria yang sudah mendekatinya.
Sepanjang Satria berbicara, dia hanya melihat pria itu seperti awal dia mengenalnya. Dingin dan bicara seperlunya saja dengan wajah datarnya.
"Kenapa? memang aku bicaranya kaya gitu kok sama orang. Apalagi tuh wanita centil tadi. Kecuali sama kamu sayang." Ucap Satria sambil dia memeluk manja Gadis yang sedang duduk di sofa.
"Iss, nggak pernah berubah kamu Om. Emang Ibu tadi suka centil ke Om?" Ucap Gadis sambil bertanya dan menahan jidat Satria yang mulai dengan kejahilannya.
"Sama, cinta aku ke kamu juga nggak pernah berubah sayang. Nggak usah bahas orang itu nggak penting" Ucap Satria dan melepas pelan tangan Gadis yang menghalanginya.
"Baiklah. Om katanya ada kelas, buru sana. Aku juga mau pulang, hari ini aku nggak ada kelas. Tapi karena tugas Om yang nyebelin itu waktu liburku jadi terganggu kan dengan masuk kampus hari ini." Ucap Gadis sambil dia berdiri setelah berhasil melepas Satria dengan perkataannya.
"Hampir lupa, tapi nggak papa kan. Buktinya kita jadi dekat kembali dengan tugas itu." Ucap Satria dan dia membereskan laptopnya yang masih terbuka untuk dia bawa bersamanya ke kelas.
"Iya juga sih." Sambil memperbaiki pakaiannya yang kusut karena pelukan Satria.
"Oh iya sayang, jangan pulang dulu yah. Mampir ke apartemen ku dulu. Aku habis ngajar langsung balik. Kamu masih nyimpan id card apartemenku kan." Ucap Satria.
"Yah, mungkin di rumah. Nanti aku pulang ambil dulu." Jawab Gadis karena memang barang-barang yang bersangkutan dengan Satria dia simpan rapi semua di kamarnya.
"Nggak usah pulang, pakai punya aku aja sayang." Ucap Satria sambil merogoh id card nya di dalam dompet.
"Ini sayang."
"Oke."
"Peluk dulu, masih kangen." Ucap Satria sebelum mereka benar-bener keluar ruangan.
"Nggak." Tolak Gadis saat satria hendak menciumnya.
"Pelit."
"Biarin, aku duluan yah Om." Ucap Gadis dan dia langsung melangkah keluar sebelum Satria berbuat yang lainnya.
Melihat itu Satria hanya bisa tersenyum sambil ikut melangkah keluar ruangannya.
"Aku nggak nyangka kita bisa balik lagi, semoga ini awal yang baik untuk kita sayang." Batin Satria sambil menatap langkah Gadis yang mulai menjauh dari pandangannya.
__ADS_1
****
Gadis kini dalam perjalanan menuju Apartemen Satria yang hanya berjarak lima belas menit dari kampusnya.
"Makasih Pak." Ucap Gadis ketika dia baru sampai dan turun dari taksi yang mengantarnya.
"Ah, nggak nyangka bisa datang lagi ke tempat ini." Kata Gadis saat dia berjalan masuk lobi Apartemen Satria.
Dan sesampainya di depan pintu unit Apartemen, Gadis nampak sedikit tersenyum karena dia merindukan tempat ini dan ternyata dirinya sudah bisa kembali lagi.
Di bukanya perlahan pintu Apartemen, menghirup aroma yang keluar dari dalam sana. Aroma Satria sebagai ciri khas tempat itu, membuat Gadis lagi-lagi mengembangkan senyumnya.
Masih sama, dua kata yang ada di benak Gadis saat menatap sekeliling apartemen yang nampak tak berubah sama sekali. Semuanya masih di posisi yang sama, tak ada tambahan perabotan apapun.
"Dasar pemalas, aku pikir dia akan mengisi barang yang masih belum terbeli." Ucap Gadis.
Setiap sudut tempat di ruangan itu tak lupa Gadis kunjungi, satu yang membuatnya geleng kepala yaitu joroknya Satria tak pernah berubah.
"Selalu saja barang-barang nggak di taruh kembali di tempatnya." Gerutu Gadis sambil memungut pakaian yang berserakan di sofa dan di tempat-tempat lainnya.
Gadis pun membersihkan Apartemen Satria seperti biasanya. Tak lupa juga dia menata kembali rak baju Satria yang nampak tak beraturan.
"Selesai." Ucapnya saat semua nampak rapi sudah dia kerjakan.
Hanya sisa pakaian kotor yang nanti tinggal dia masukkan dalam mesin cuci.
"Banyak juga ini pakaian kotornya." Kata Gadis sambil membawa pakaian kotor Satria ke arah balkon tempat laundry.
"Bagaimana Om masuk, kan kartunya ada di aku?." Tanya Gadis tanpa membalik badannya.
"Pakai kode sayang, kartu kan kalau malas mencet."
"Oh, Kok udah balik Om. Nggak ada jam ngajar lagi?"
"Ada, tapi aku kasih tugas doang. Habisnya malas kalau harus nunggu sejam lagi untuk ngajar. Lagian aku nggak mau buat kamu nunggu lama sayang."
"Udah belum ngerjainnya, makan dulu yuk. Aku ada bawa makanan untuk kita." Ucap Satria saat Gadis sedang mengotak atik mesin cuci.
"Udah ni, ayok. Kebetulan udah lapar juga, beresin Apartemen jorok ini." Ucap Gadis membuat Satria terkekeh.
"Habisnya Nyonya Apartemen ini udah lama nggak berkunjung jadi yah begitulah." Ucap Satria membuat Gadis memukul gemas pria itu.
"Om, kok banyak banget?" Kata Gadis yang terkejut kaget, selain jumlah makanan yang banyak. Juga ada beberapa orang yang sedang menyiapkan makanan di sana.
"Hehehe, ini dari restoran baruku sayang. Aku mau kamu mencicipi semua menunya, kalau nggak enak nanti aku hapus dari daftar menunya sayang. Tadinya mau aku ajak kamu ke sana, tapi setelah di pikir-pikir makan di Apartemen lebih nyaman." Ucap Satria sambil memeluk Gadis dari belakang.
"Om punya restoran baru, selamat yah. Dan tolong lepas Om, nggak enak di lihatin yang lain." Ucap Gadis sambil memaksa melepas tangan Satria yang melingkar di perutnya.
"Baiklah." Satria menuruti perintah Gadis.
"Jika sudah semua, kalian boleh balik. Makasih yah." Ucap Satria kini tertuju pada ke empat orang yang menyajikan makanan untuk mereka.
__ADS_1
"Baik Pak kami permisi, Nona." Ucap keempat orang itu, dan setelahnya mereka pun langsung meninggalkan apartemen.
"Ko mereka panggil kamu nona, sementara aku Pak. Apa aku setua itu." Gerutu Satria.
"Emang mereka biasa manggil Om apa, sebelum ada aku?"
"Pak juga."
"Nah kenapa sekarang protes."
"Yah setidaknya mereka panggil kamu Ibu juga gitu, supaya seimbang panggilan kita." Cemberut Satria tak terima.
"Om jangan gitu, malu sama image Om yang dingin di luar sana. Masa sekarang gemesin gini sih." Ucap Gadis yang merasa lucu dengan tingkah manja Satria sekarang. Siapapun yang melihat Satria saat ini pasti tak akan percaya jika itu pria dingin yang mereka kenal.
"Biarin, sama kamu doang kok." Ucap Satria tak peduli, karena inilah dia apa adanya ketika bersama orang tersayangnya.
"Ah terserah Om deh, kita makan yuk aku lapar." Ucap Gadis tak sabar untuk mencoba berbagai hidangan di hadapannya yang mulai menggoda mata, mulut dan tangan Gadis untuk menggapai mereka yang sudah minta di sentuh.
Saat mereka sedang asik menikmati makanan dengan Gadis yang menyuapi Satria, mereka terganggu dengan bunyi ponsel Satria yang terus menerus.
"Angkat dulu Om, kasihan yang telfon." Tegur Gadis tak tega dengan si penelpon, karena Satria hanya mengecilkan suara ponselnya tanpa berniat mengangkat panggilan itu.
"Nggak penting yang, kita makan saja." Ucap Satria namun Gadis masih terganggu dengan kedap kedipnya ponsel itu.
"Aku angkat nih, kalau Om nggak mau angkat. Takutnya penting." Kesal Gadis dengan sikap cuek Satria itu, dia merasa kasihan dengan si penelpon yang sejak tadi tak menyerah menghubungi kekasihnya itu.
"Huuh." Pasrah Satria dan dia langsung menjawab panggilan yang entah sudah ke berapa itu.
"Halo." Ucap Satria dengan nada datarnya terkesan dinginnya itu.
Gadis yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Maaf Dila, aku nggak bisa. Aku sudah makan siang, dan lagi aku ada kerjaan yang nggak bisa di tinggal." Ucap Satria tegas.
"Humm." Setelah mengatakan itu, Satria langsung menutup sambungan telfon mereka.
"Siapa?" Tanya Gadis penasaran dengan si penelpon.
"Adila, anak teman Mami Papi yang mereka pilihkan sebagai pengganti kamu." Ucap Satria membuat Gadis menghentikan aktifitas makannya.
"Dia bilang apa?." Tanya Gadis yang mencoba baik-baik saja, karena dia begitu terkejut dengan perkataan Satria itu.
"Ajak makan siang bareng. Dia ada di restoran sekarang."
"Oh." Balas Gadis.
Satria yang melihat raut aneh Gadis jadi tersenyum sendiri.
"Terima kasih sudah mencintai aku Gadis, teruslah seperti ini." Ucap Satria bahagia, dia tahu Gadis pasti cemburu karena perempuan itu. Dan dia sangat bahagia, mengetahuinya.
"Se benci itukan orang tuamu padaku hingga mereka menyiapkan pengganti ku untukmu Om. Aku takut." Batin Gadis.
__ADS_1
"Tolong jangan pernah tinggalin aku lagi Om." Lirih Gadis seketika membuat Satria memeluknya.