
............🌹Happy Reading🌹 ...........
Hari berganti hari, kini tak terasa sudah lima bulan lamanya pernikahan Satria dan Gadis. Banyak yang sudah mereka lalui, salah satunya kehadiran lalat Larissa yang selalu membuat Satria darah tinggi di setiap waktunya berkat ulah wanita itu yang ada saja.
Namun demi kerjasama, dia menahan semuanya asal tak melewati ambang kesabarannya yang selalu di redakan sang Istri tercinta beberapa bulan ini saat menghadapi wanita itu.
"Sayang, kenapa suka sekali makan pedas sih. Kasihan dede Bayinya kalau kamu makan itu." Ucap Satria sembari Mengambil celupan pedas pendamping mangga muda sang istri.
"Dady, justru kalau nggak makan itu dede nya bisa ngambek makan loh. Sini berikan." Ujar Gadis sembari mencoba mengambil mangkuk kecil yang di sita sang suami.
Karena tak kunjung berhasil Gadis pun hanya bisa menunjukan wajah cemberutnya.
"Sayang."
"Jangan sentuh." Protes Gadis menepis tangan Satria yang mengusap kepalanya.
"Sayang, kok marah. Dede, ayo bilangin Mami. Itu nggak baik untuk kamu sama Mami." Ucap Satria beralih berjongkok dan mengusap perut Gadis dan ternyata tak di halangi wanita itu.
"Jangan provokasi Dede bayi nya Dad, itu juga maunya Dede tahu." Ketus Gadis namun tak menghalangi Satria saat pria itu seperti berbisik pada perutnya yang entah apa bisikan itu, dia tak mendengarnya.
Selama di nyatakan hamil, Gadis langsung di minta Satria memanggilnya Dady tak boleh Om lagi di setiap kesempatan dan di turuti wanita itu tanpa bantahan. Lagi pula sudah cukup untuk Gadis memanggil panggilan sayangnya itu dan tak baik juga jika nanti di tiru sang putri.
Gadis Sendiri kerjanya setelah hamil hanya menjaga rumah mereka agar tak di angkut maling kelas kakap. Sudah empat bulan lamanya Gadis tak bekerja. Padahal wanita itu belum sebulan bekerja sebagai Dosen di tempat kuliahnya dulu sekaligus tempat kerja Satria malah pria itu langsung memintanya berhenti dengan alasan kehamilan awalnya yang tentu banyak beresiko.
Bukan tanpa alasan Satria menggunakan kehamilan istrinya untuk berhenti bekerja. Pasalnya Sang istri saat menjadi Dosen, hidupnya serasa terancam berat. Bagaimana tidak Gadis di nobatkan menjadi Dosen terkece sekaligus Dosen mudah tercantik di kampus mereka. Dan hal itu sukses membuat Satria uring-uringan setiap waktu, bahkan saat bertugas mengajar pun jadi tak pernah fokus karena memikirkan istrinya sedang apa sekarang apakah sedang di ganggu Dosen yang lain atau di ganggu mahasiswanya. Dan hal itu sungguh membuatnya frustasi.
Beruntung calon anaknya bisa menolongnya, dan membuatnya punya alasan untuk memberhentikan sang istri yang awalnya dia sendiri yang mengurus Gadis untuk menjadi Dosen bersamanya.
Satu bulan cukup menyiksa bagi Satria ketika sekampus dengan Sang istri. Dan dia berjanji jika istrinya melahirkan nanti, dia akan tetap tak mengijinkan wanita itu untuk melanjutkan mengajar. Jika membantah maka dia akan menghamili Gadis lagi. Dan itu sudah menjadi rencananya ke depan yang sudah dia pikirkan mulai sekarang.
Satria juga berencana akan fokus ke bisnis saja setelah anak kedua mereka lahir nanti, sebab dunia kampus terlalu menyita waktunya. Itu sebabnya dia akan meluaskan bisnisnya lebih luas lagi agar dia bisa bersantai riah dengan sang istri kelak.
"Dad ngomong apa ke dede, jangan macam-macam yah." Ucap Gadis lagi ketika Satria masih sibuk dengan perutnya.
"Hehehe, Dady hanya ngomong. Dede jangan minta yang aneh-aneh, nanti perut dede sakit. Itu aja kok." Ucap Satria membuat Gadis memicingkan matanya.
"Bener hanya itu? nggak bohong?" Kata Gadis penuh selidik membuat Satria menggaruk tengkuknya pasrah.
"Iya iya, Dady bohong. Tadi itu Dady bilang sama Dede kalau Dady nggak suka kalau Dede pingin sesuatu yang nanti buat Mami susah nanti. Itu aja ko, sumpah. Yang ini Dady nggak bohong." jujur Satria yang memang tak bisa di tatap selidik oleh Gadis, dia pasti akan mati kutuk dan ngomong yang jujur nantinya.
"Humm, Dady ini. Ya udah kalau itu nggak boleh berarti Mami mau minta yang lain aja." Kata Gadis membuat Satria ketar ketir, sebab permintaan Gadis tak pernah ada yang benar.
Ada saja yang membuatnya harus berpikir keras ucapan apa yang akan dia berikan agar istri kecilnya itu tak marah ketika dia larang.
"A a a-apa sayang? jangan aneh-aneh yah?" Ucap Satria dan langsung mendapatkan bibir monyong Gadis.
__ADS_1
"Dady ih, belum juga Mami ngomong udah pikir yang aneh-aneh aja. Sebel, ya udah nggak usah." Kata Gadis dan Satria dengan cepat membujuk Gadis sebelum nantinya dia akan menerima hasilnya nanti malam, yaitu tidur di luar dengan lemparan Bantal sebagai tanda perhatian sang istri.
"Sayang, Mami. Maafin Dady, iya deh. Yang aneh-aneh juga nggak papa, Dady turutin. Tapi kalo bisa yang nggak aneh Dady pasti seneng." Bujuk Satria pasrah namun masih sempat-sempatnya nawar.
"Issss."
"Iya iya, apapun untuk Mami dan Dede. Dady turutin." Pasrah Satria.
"Mami mau kita makan bersama dengan..." Ucap Gadis menunda ucapannya sambil menahan senyum melihat wajah penasaran Satria yang penuh dengan kecemasan..
"Dengan?" Tanya Satria tak sabaran.
"Mantan Papi, Nyonya Larissa." Ucap Gadis dengan penuh semangat namun tidak dengan Satria, dia seketika pucat dan bertambah tak bersemangat.
"Kenapa? Dady nggak mau? Ya udah, nggak usah." Ucap Gadis lirih membuang mukanya takut Satria melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.
Meraup wajahnya kasar Satria pun meraih tubuh berisi Gadis dan di peluknya erat.
"Apa nggak ada permintaan lain Mi, kalau enggak Mami boleh deh makan saus pedasnya lagi. Dady izinin." Ucap Satria merayu.
"Mami nggak mau, udah nggak kepengen." Ketus Gadis namun masih sempat-sempatnya menghirup aroma tubuh Satria yang dia sukai itu. "Sana minggir, Mami mau ke rumah Kak Melodi saja. Mau numpang nginep di sana aja, di sini bikin kesel." Tambah Gadis lagi sambil mencoba melepas pelukan Satria.
"Kok Gitu, Cila udah betah di sana kok sekarang Mami juga mau ikut-ikutan ke sana Sih." Kata Satria sembari menguatkan pelukannya namun tak sampai menyakiti Gadis.
"Habisnya Dady nyebelin." Ucap Gadis manja.
Selama kehamilan Gadis, wanita itu selalu terlihat manja di mata Satria. Namun Satria menyukainya. Momen kehamilan istrinya ini dia buat untuk ajang menebus kehamilan pertama Gadis yang tak dia rasakan. Namun terkadang permintaan Aneh Gadis selalu membuatnya diliputi kecemasan, karena wanita itu selalu ingin sesuatu yang selalu membuatnya sakit kepala.
Contohnya pernah sekali Gadis meminta Satria untuk tak mendekatinya selama satu minggu lamanya, dan itu tentu saja merupakan keinginan terberat bagi dirinya. Bagaimana bisa dia tidur terpisah dengan wanita itu, sementara memeluk Gadis adalah obat tidur mujarabnya.
Dan sekarang Gadis malah meminta permintaan aneh lainnya yaitu makan bersama dengan Larissa, yang benar saja pikirnya.
"Baiklah-baiklah, tapi kalau wanita itu buat yang aneh-aneh lagi jangan coba-coba buat nahan Dady untuk m*ncekiknya yah." Kata Satria bersungguh-sungguh.
"Dady!!!!."
"Boleh atau tidak sama sekali?" Tawar Satria namun dalam hatinya Satria ingin Gadis jadi membatalkan niat mereka untuk menemui wanita itu karena permintaannya itu.
"Boleh. Tapi Mami yakin Larissa nggak bakalan ganggu Dady lagi, dia pasti udah bosan nggak pernah di tanggapi Dady. Percaya deh Sama Mami." Ucap Gadis meyakinkan.
"Ciiiihh wanita itu mana pernah paham kata bosan." Ucap Satria mendengus kesal..
"Jadi nggak nih nurutin maunya Mami."
"Iya iya."
__ADS_1
"Ya udah telfon sekarang." Kata Gadis membuat Satria melototkan matanya tak percaya.
"Harus sekarang yah Mih?"
"Iya Dady, Sebentar lagi kan makan siang buruan telfon. Sebelum dia janjian makan sama yang lain." Ucap Gadis semangat, entah kenapa wanita itu ngebet sekali makan siang bersama Larissa.
"Hmmm, baiklah." Kata Satria pasrah dan setelahnya dia langsung mengotak atik ponselnya dengan Gadis yang setia menunggunya.
"Sudah?" Tanya Gadis ketika Satria meletakan ponselnya di atas nakas.
"Udah mungkin, aku udah bilang Titan untuk ngabarin wanita itu."
"Loh, kok bukan Dady sendiri."
"Mi, udah bagus Dady izini. Itu juga terpaksa."
"Heheh, iya iya. Ya udah telfon Titan lagi mastiin." Pinta Gadis.
"Nanti dia hubu...." Belum sempat Satria menyelesaikan ucapannya Titan sudah menelfon. "Terima kasih." Ucap Satria saat dia menerima telfon dan langsung menutupnya kembali usai mengatakan itu.
"Yey, Mami siap-siap dulu yah." Kata Gadis dan langsung beranjak dari duduknya.
"Semangat sekali kamu sayang, tapi aku yang pusing sekarang." Lirih Satria melihat kepergian Gadis.
...****************...
"Disini kan Mi tempatnya?" Kata Satria ketika mereka sudah sampai di sebuah restoran sederhana di pinggir jalan pilihan sang istri.
"Ya Dad, di sini." Kata Gadis sambil Membuka sabuk pengamannya ketika Satria sudah memarkirkan mobil mereka di parkiran restoran itu.
Keduanya pun turun dari mobil bersamaan. "Mi sebentar." Kata Satria ketika ponselnya berdering.
Gadis hanya menunggu sambil memainkan ponselnya, namun suara kucing kecil mengalihkan atensinya dan langsung melihat ke arah sumber suara.
Betapa terkejutnya wanita itu ketika melihat kucing itu hanya berdiam diri di tengah jalanan padat kendaraan itu, hati kecilnya pun tersentuh dengan cepat dia pun melihat kiri kanan jalan dan bergegas mengambil kucing itu tanpa sepengetahuan Satria.
"Gadis awas." Teriak Suara wanita yang langsung membuat Satria melihat ke arah sampingnya dan kemudian melihat ke arah sumber suara ketika tak mendapati sang istri di sampingnya.
Bruuuk.
"Tiiiidaaaaaaaaaaaaak!!!!" Teriak Satria histeris..
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
__ADS_1