
Saat mendengar kata dari wanita yang bernama Misca itu, Gadis langsung mengarahkan pandangannya pada Satria dan dia langsung mendapatkan anggukan kecil dari pria itu.
"Benarkah?" Satu kalimat tanya yang Gadis lontarkan pada Satria.
Jika dulu dia akan terkejut karena menurutnya terlalu cepat ke arah pernikahan, namun tidak untuk sekarang ini.
Ajakan nikah dari pria itu, kini menjadi sebuah keinginan dan doa terbesarnya. Hingga membuatnya begitu bahagia saat mendengar akan hal itu.
"Kamu serius Om, nggak bercanda?" Tanya Gadis memastikan, agar rasa bahagianya ini benar-benar tersalurkan dengan benar.
"Tentu, besok atau lusa. Kita akan menikah, apa kau setuju?" Jelas Satria dengan pertanyaannya dan Gadis langsung menganggukkan kepalanya cepat, tak mau munafik lagi jika dia menginginkan hal itu terjadi.
"Terima kasih." Ucap Gadis dan langsung berhamburan di pelukan Satria, membuat pria itu terkekeh di buatnya.
"Pilihlah gaun yang kamu mau, mereka sudah membawanya. Setelah ini baru kita ke rumahmu." Seru Satria sambil memperbaiki anak rambut Gadis yang menutupi wajah cantik Gadis yang sedang mendogak menatapnya dengan masih dalam pelukannya.
"Bisakah kalian untuk tak ber romantis ria di hadapan kami, suamiku sedang jauh. Jadi tolong jangan membuatku menginginkannya karena melihat aksi sweet kalian ini." Tegur Misca berdecak sebal melihat calon pengantin yang menempel bagaikan ulat bulu di hadapannya itu.
"Ck, ganggu saja kamu." Satria mendengus, sebab dia tak suka saat Gadis nya itu langsung melepas pelukan mereka ketika mendengar Misca berceloteh seperti dia tak pernah ada di posisi mereka saat di lamar suaminya dulu.
"Ck ck apa, kau sudah membuatku menutup butik ku apa hanya untuk melihat kalian bermesraan. Biarkan aku memamerkan karya tanganku ini yang sudah tak sabar ingin di miliki pemiliknya." Kata Misca sembari dia mengambil satu gaun terbaiknya yang berada di tangan pria gemulai di belakangnya.
Gadis langsung menatap penasaran pada gaun yang sedang di buka pelindungnya itu dengan fokus membuat Satria menoel hidung wanitanya itu namun tak di hiraukan Gadis.
"Bagaimana menurutmu? Ini Gaun terbaikku. Ah yah aku belum tahu namamu. Aku Misca." Ucap Misca tersenyum manis sambil mengulurkan tangannya pada Gadis.
"Gadis kak." Sahut Gadis menyambut uluran tangan wanita itu.
"Baiklah Gadis, Bagaimana menurutmu?" Tanya ulang Misca dengan memamerkan Gaun terbaiknya yang mungkin akan membuatnya kaya mendadak itu pada Gadis.
Gadis nampak berbinar menatapnya, namun senyumnya langsung menyurut ketika Satria menolaknya.
"Jangan yang itu, aku nggak mau Gadis memakai itu. Apa kau mau seluruh bahu dan bagian depan Gadisku di lihat semua orang?? yang benar saja kamu Ca." Protes Satria tak terima saat melihat baju terbuka yang mungkin akan mengekspos hampir seluruh bagian punggung dan bagian depan Gadis.
"Iss, lalu kamu maunya yang kaya gimana. ini sudah yang paling terbaik. Dadar norak." Omel Misca, padahal ini adalah Gaun kebanggaannya yang dia buat dengan cinta. Dan menurutnya, semua wanita yang melihatnya mereka pastikan akan jatuh cinta pada gaunnya itu yang baru pertama kali dia tunjukan setelah sekian lama dia buat.
"Tunjukan yang lengan panjang aja kak, yang nggak kelihatan dari leher sampai ujung kaki ada? Pasti dia akan menyukainya." Seru Gadis dengan menarik nafasnya, karena dia tahu Satria pasti menyukai yang seperti itu.
"Yah seperti itu, Gadisku memang yang paling tahu seleraku." Sahut Satria dengan menahan tawanya saat melihat ekspresi juga kalimat Gadis yang seperti menyindirnya.
"Yang benar saja Satria, oh astaga. Malangnya nasib kamu Gadis." Iba Misca menatap Gadis yang sudah nampak tak bersemangat karena perbuatan Satria itu.
"Jangan menghasut calon istriku, ayo tunjukkan yang lainnya biar aku saja yang tentukan sendiri." Ucap Satria sambil mengisyaratkan tangannya pada karyawan Misca membawa gaun yang lain ke hadapannya.
__ADS_1
"Kalian, lay@ni saja dia. Aku sudah tak mood." Ucap Misca sembari dirinya duduk bersebrangan dengan Gadis.
Baru beberapa saat Satria melihat-lihat beberapa baju yang di perlihatkan untuknya, Satria langsung jatuh cinta pada sebuah gaun yang nampak simpel namun terkesan mewah dan yang paling penting berlengan panjang memang tertutup tapi tak menghilangkan kesan menariknya sedikitpun sama seperti gaun terbuka lainnya.
"Yang ini, aku suka yang ini." Ucap Satria dan dia langsung megambil dan membawa gaun itu ke hadapan Gadis.
Sementara Gadis, dia menatap gaun itu awalnya malas karena tak terlalu memperhatikan jelas dengan pemikirannya yang tau jika Satria pasti memilih baju yang tak akan memperlihatkan sedikitpun kulitnya itu.
Namun saat baju itu sudah berada tepat di hadapannya, Gadis nampak terkesiap saat melihat gaun simpel nan elegan itu. Dia dengan lekat menatap setiap sisi gaun itu hingga tanpa sadar dia berdiri dan mengambil alih gaun itu dari tangan Satria dan memutarnya melihat sisi yang lainnya.
"Ini indah Om, tidak buruk." Ucap Gadis kagum dengan pilihan Satria, walau memang betul Satria memilih yang serba tertutup. Tapi dia menyukainya.
"Tentu, ayo coba kenakan."
"Itu terlalu simpel Satria, masih ada yang jauh lebih bagus lagi." Protes Misca karena pikirnya itu akan menyembunyikan kulit indah Gadis dan lekuk tubuh indah yang Gadis miliki.
"Apa kau yang akan mengenakannya, berhenti meracuni pikiran Gadis. Ayo sayang." Ucap Satria sambil menarik tangan Gadis hendak membawanya ke kamar.
"Siapa yang meracuni, aku hanya mengutarakan pendapatku saja. Hey, apa kamu juga harus ikut." Bela Misca setelahnya dia menegur Satria karena heran dengan pria itu yang juga ikut bersama Gadis yang ingin mencoba gaun rancangannya itu.
"Kenapa memangnya? dia ibu dari anakku, apa kau tak lihat gadis kecil itu." Ucap Satria sambil melihat Arsyila yang ternyata sudah berada duduk di pintu ke arah balkon, dan bocah itu nampak tak perduli dengan kehadiran banyak orang dewasa di ruangan itu.
"Kau sudah punya anak?" Tanya Misca tak percaya saat melihat bocah kecil yang sejak tadi tak dia sadari akan keberadaannya itu.
***
Saat sesampainya di kamar, Satria langsung menutup pintu kamarnya dan meletakan gaun yang tadi dia ambil alih bawah pada tempat tidur mereka.
"Om, apa aku mencobanya harus ada Om di sini" Kata Gadis karena dia malu jika harus berganti pakaian ada Satria bersamanya.
"Iya lah, apa kamu masih malu terhadapku. Aku sudah melihatnya bukan?" Ucap Satria santai sambil menduduki dirinya di samping gaun yang tadi dia letakan.
"Tapi, aku..."
"Sudahlah, aku tak akan macam-macam. Sini aku bantu. Ayo buka bajumu itu." Ucap Satria sambil dirinya membuka resleting gaun agar mempermudahkan Gadis saat mengenakannya.
Sementara Gadis, dia nampak pasrah. Toh juga Satria sudah melihat keseluruhan tubuhnya, jadi buat apa lagi dia harus malu pikirnya.
Gadis pun langsung membuka baju atasannya tanpa membuka bawahannya, karena memang itu tak di perlukan.
"Su- sudah." Ucap Satria terbata saat matanya yang tadi fokus pada gaun dan saat terangkat Satria sedikit terkejut saat lihat tubuh atas Gadis yang kini nampak tersisa sehelai benda yang menutupi benda yang dulu nampak kecil namun kini sudah lebih bervolume itu.
__ADS_1
"Ke-napa?" Tanya Gadis yang ikut terbata saat melihat mata Satria yang nampak terfokus pada aset depannya itu, hingga dengan cepat dia menutupnya.
"Dia lebih berisi sekarang yah, apa itu karena kau menyusui putriku?" Tanya Satria tanpa malu, membuat wajah Gadis langsung memerah.
"Dasar mesum kamu, Om. Yah jelas aku menyusui putri kita, tak usah di perjelas begitu. Sana minggir." Ucap Gadis cepat sambil, langsung menggeser Satria ke belakangnya agar pria itu tak menatap lapar tubuh depannya.
Dengan perlahan Gadis langsung mengenakan gaun itu.
"Aku bantu." Ucap Satria yang melihat Gadis yang sedikit kesusahan.
Dia pun langsung membantu Gadis, saat wanita itu menyerahkan kesulitannya pada Satria.
"Sangat indah." Ucap Satria saat gaun itu sudah melekat pada tubuh Gadis.
"Terima kasih." Jawab Gadis dengan senyum malunya, karena dia bahagia apa yang dia kenakan. Satria menyukainya.
"Kau sangat cantik, kita akan meminta Misca membuat gaun yang sama seperti ini untuk Arsyila."
"Yah, dia akan terlihat dewasa mengenakannya." Sahut Gadis saat membayangkan Arsyila mengenakan gaun yang sama sepertinya, itu akan sangat manis pikirnya.
Setelah itu, Satria pun memanggil Maisca untuk melihat Gadis dan mengatakan ingin memiliki gaun kecil seperti itu juga untuk Aryila, dan langsung di setujui Misca.
****
"Jangan lupa gaun putriku, pulang dari sini kau harus langsung mengerjakannya." Ucap Satria mengingatkan Saat temannya itu sudah di ambang pintu untuk pulang.
"Akan aku begadang sampai selesai malam ini, besok akan aku antar kan gaunnya. Jangan khawatir." Sahut Misca tanpa membalikan badannya lagi meninggalkan apartemen Satria.
"Bagus." Sahut Satria.
Setelah kepergian Misca, Satria langsung meminta Gadis dan Arsyila untuk bersiap. Karena mereka akan langsung ke rumah Gadis.
"Mandilah bersama Arsyila, aku akan mengambil pakaian kalian di mobil. Tadi aku membelinya." Ucap Satria dan langsung di angguki Gadis.
Setelah hampir tiga puluh menit bersiap, kini Gadis pun telah siap.
"Cantik sekali, tapi dimana **********?." Ucap Satria saat Gadis baru keluar dari dalam kamar dengan penampilan segarnya, sementara Arsyila sudah bersamanya sejak tadi karena Gadis menyiapkannya lebih dulu barulah dirinya bersiap.
Dia baru menyadari jika Gadis tak mengenakan dalaman yang memang berdampingan dengan baju itu.
"Terlihat tua jika menambah **********." Ucap Gadis beralasan, padahal dia sendiri yang tak mau mengenakannya karena akan merusak keindahan dari baju simpel itu.
__ADS_1
"Tapi itu.."
"Sedikit doang Sayang, ayo berangkat." Ucap Gadis tanpa sadar menyebut kata sayang membuat Satria langsung membulatkan matanya tak percaya dengan kata keramat yang tak pernah Gadis itu ucapkan sebelumnya untuk dirinya.