
Hatiku teriris memandang kepergian Mira, mataku tiada berhenti meneteskan air mata. Ingin sekali aku berlari menyelematkannya, tapi apa dayaku. Aku hanya bisa memandang kepergian Mira yang diseret dengan kasar oleh Burhan. "Mira, kamu janji akan menemuiku, dan mengajaku keluar dari rumah ini, kamu harus kuat Mir," aku berkata dalam hatiku supaya tidak didengar oleh siapapun, aku mengusap air mataku dengan kasar, aku menatap kesemua gadis yang tengah bringas memakan hidangan yang telah disediakan. Aku tau, tidak semua gadis menelan makanan itu, ada beberapa gadis juga yang melepehnya. Tapi setiap aku mendekati mereka dan bertanya, mereka tidak ada yang menjawab sedikitpun. Itulah yang membuatku kesal. Aku juga merasa lapar, tapi aku tidak mau makan, mengingat cerita dari Mira, jika aku ingin melihat wujud yang asli dari makanan ini, aku harus berdo'a dan bersholawat. Tapi aku memang belum siap. Kalo seandainya aku tidak makan, makanan ini, aku harus makan apa untuk bisa bertahan sampai aku bisa keluar dari sini?
Wulan berusaha untuk menghubungi nomor Pak Kyai kenalan saudaranya itu, namun tidak pernah tersambung. Sudah berkali-kali Wulan mencobanya tetap saja hasilnya nihil. Adam memperhatikan Wulan yang terlihat menekuk wajahnya tersebut. Sambil menjereng handuk basahnya, Adam bertanya. "Kamu kenapa Nduk? Pagi-pagi sudah kusut seperti itu!"
"Aku kesel Mas, nomor Pak Kyai gak bisa dihubungi, bahkan 3 nomor yang diberikan Saudaraku, sudah aku coba semua, namun tetap saja gagal. Tak ada yang sambung, isinya suara operator semua."
"Ya sabar lah, namanya juga orang sibuk. Orang seperti Pak Kyai pasti banyak yang nyari. Bukan orang sembarangan koq. Ngomong-ngomong, hari ini kamu gak masak?"
"Hehehhe, maaf ya Mas, kan tadi bangunnya kesiangan, tukang sayur sudah lewat semua, aku tidak sempat belanja. Mmm, mumpung hari minggu, kamu juga libur, gimana kalo kita makan diluar aja! Jalan-jalan ke mall, mau gak Mas?"
"Mmmm,,, boleh juga, sekalian kamu mau belanja apa, keperluan kamu yang udah abis, dibeli sekalian. Siap-siap dulu sana!"
"Iya Mas, makasih yah!"
"Iya-iya."
Wulan tampak senang karena Adam mau diajak ke mall. Beberapa menit kemudian mereka pergi meninggalkan rumah langsung menuju mall di tengah-tengah kota K.
__ADS_1
Wulan dan Adam sudah berada di dalam mall. Mereka memilih untuk sarapan terlebih dahulu di solaria. Sambil menunggu pesanan datang, Wulan mencoba untuk menghubungi nomor Pak Kyai, lagi, tetapi hasilnya masih sama. Belum tersambung.
"Ya Alloh, susah banget yah ngubungin nomor orang penting!"
"Coba nanti lagi aja Nduk, hari ini kita senang-senang dulu aja, jangan memikirkan yang macam-macam yah." Kata Adam. Wulan kemudian memasukan hapenya kedalam tas. Mereka berdua memilih tempat duduk yang saling berhadapan untuk satu pasangan. Dibelakang Wulan, ada satu pasangan suami istri, yang tengah menanti pesanan mereka datang juga. Wulan mencuri dengar obrolan mereka.
"Bi, maafkan Umi, yah, karena Umi sempat berputus asa dengan do'a-do'a Umi."
"Iya gak papa Mi, yang penting kita terus berdo'a saja."
"Bi, gimana kalo kita cari orang pintar saja buat nyari Mira,"
"Abi, maksud Umi, kita minta tolong sama Pak Ustad aja, siapa tau Pak Ustad bisa bantu Bi."
"Pak Ustad yang seperti apa yang kamu maksud Mi? Dukun? Abi gak akan pernah setuju! Kamu kan tau hukumnya bagaimana, kenapa malah memberi saran yang membuat kita musyrik!"
Ilham terlihat marah, namun Ia masih bisa meredam emosinya. Ilham tidak habis pikir dengan Istrinya, yang mempunyai pemikiran seperti itu. Padahal istrinya orang yang taat beribadah dan tau agama. Fatma kemudian diam, Ia tidak berani melanjutkan percakapannya dengan suaminya. Ia takut jika suaminya tambah marah, dan menimbulkan keributan, sedangkan mereka sekarang berada di tempat umum.
__ADS_1
"Ya sudah Bi, Umi minta maaf yah," Umi Fatma mengelus punggung tangan suaminya. Wulan yang mendengar obrolan mereka, merasa penasaran dan ingin sekali Wulan menyela. Tapi rasanya itu tidak sopan. Selain Wulan yang tidak kenal dengan mereka, menyela percakapan orang juga tidak baik. Wulan akhirnya menahan perasaannya itu. Pesanan akhirnya datang mereka akhirnya makan terlebih dahulu sebelum pergi berbelanja.
Sementara Marsel dirumah tengah selesai sholat duha, dia juga berdo'a sangat khusyuk untuk Mawar. Marsel berharap Sang Khaliq mendengar do'anya, dan sampai ditelinga Mawar.
"Ya Alloh, yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Tunjukanlah dimana Mawar berada. Hanya kepadaMu lah, Hamba memohon, Hamba meminta semua petunjuk untuk menemukan Mawar."
Marsel kemudian berdzikir merapalkan kalimat-kalimat Alloh, sementara hatinya ia fokuskan untuk mencari Mawar. Pikirannya ia tujukan hanya untuk Sang Khaliq.
"Mawar, dimana kamu? Mawar dimana kamu? Apakah kamu bisa mendengar suara hatiku? Mawar, Mawar, dimana kamu?"
Di satu sisi, Mawar tengah selesai makan, makanan yang disajikan sama seperti sebelum-sebelumnya. Setelah itu Ndoro Kusuma dan Burhan pergi meninggalkan kamarnya. Tatapan Mawar kosong menghadap langit-langit kamarnya. Tiupan angin segar dari mulut Ndoro Kusuma masih mempengaruhi pikirannya. Setelah beberapa menit kemudian, Mawar tersadar kembali, Ia terduduk merasakan perutnya yang sakit, ingin sekali muntah tapi tak dapat Ia keluarkan. Mawar menyandarkan tubuhnya di kamar. Ia memejamkan kedua matanya, lalu ia mendengar sayup-sayup suara laki-laki memanggilnya. Ia tahu suara siapa itu.
"Mawar, kamu dimana? Mawar, kamu dimana?"
Mawar mencoba mencari sumber suara itu, Ia melirik kesana kemari, Ia mencoba mencari ditiap sudut. Tapi tak ada wujud dalam suara itu. Mawar kemudian menjawab sumber suara itu. "Kamukah Marsel? Sel... Tolong aku Sel, aku terjebak disini Sel!"
Marsel tersentak ketika mendapat jawaban dari Mawar, Ia membuka matanya dan seketika hilang kefokusannya. Marsel mencoba untuk memfokuskan kembali hati dan pikirannya, namun tidak berhasil.
__ADS_1
"Aargggghhh,, sial! Harusnya aku tidak boleh kaget. Harus tetap fokus!" Marsel menundukan kepalanya, dia sangat sedih karena usahanya tidak berhasil, tapi setidaknya dia masih ingat dengan jawaban yang diberikan Mawar kepadanya. Marsel bangkit dari silanya, Ia berjalan mondar-mandir sambil memikirkan kata-kata Mawar. "Benarkah tadi suara Mawar? Kalo memang benar, tadi Mawar berkata, Dia minta tolong, Dia terjebak disini," Marsel terdiam beberapa saat. "Berarti benar, Mawar itu Keselong! Aku harus segera menghubungi Wulan!"
Marsel segera mencari hapenya untuk menelpon Wulan. Sementara Mawar didalam kamarnya, dia menangis, karena sumber suara itu sudah hilang, padahal Mawar sudah sangat berharap dengan suara itu. "Sel, tolong aku, aku disini, di rumah Ndoro Kusuma. Tolong aku Sel...!"